THE PERFECT MY BILLIONAIRE

THE PERFECT MY BILLIONAIRE
Episode 9



***


“Good morning” teriak Raymond, dengan cepat menghentikan langkahnya ketika melihat semuanya tengah siap dengan pakaian kerjanya.


“Morning” jawab Alvaro dingin, masih seperti Alvaro yang biasanya, kini sedang sibuk berkutik dengan sepatu yang akan ia kenakan.


“Morning my brother” jawab Alvin dan Kevin, dengan tersenyum dan tertawa, sangat bertolak belakang dengan Alvaro.


“Apa aku sedang berada di Villa orang lain? mengapa sangat berbeda? oh pasti semalam aku sudah salah masuk Villa” ucap Raymond.


“Kau tidak salah masuk Villa, 2 anak manja ini sepertinya sudah diberi petunjuk hidup haha” ucap Alvaro tertawa, membuat Raymond, Alvin, dan Kevin terpanga melihat Alvaro tertawa.


“Kau sudah ada perubahan kak Alvaro, kak aku tidak bisa masuk kantor bisakah kau membantuku untuk menggantikan rapat penting dengan klien dari perusahaan F.E?” ucap Raymond, yang sudah bersiap untuk pergi.


“Memangnya kau mau kemana?”


“Aku ada urusan, tolong gantiin rapat itu dan awasin Alvin untuk tidak pulang malam” ucap Raymond, mulai mengemudi mobil Lamborghini orange miliknya.



***


“Permisi mba, saya mau beli tespack abis hamilin anak orang soalnya” ucap Rymond dengan senyum jail nya.


“Mau tespack seperti apa ya, ini ada yang Rp. 6000-Rp 12.000”


“Mba, apa tidak ada yang lebih mahal? Saya beli yang Rp 1.000.000 dong mba”


“Maaf, untuk harga tespack itu tidak ada yang semahal itu”


“Yaudah saya beli 20 tespack mba, mba tolong tidak usah kaget yah dan cepat siapkan karena wanita yang saya hamili sudah ada di sebelah sana” ucap Raymond tangannya menunjuk ke arah Lexa yang sedang berdiri sendirian.


“Hallo Lexa” sapa Raymond.


“Kenapa kamu ada disini, dan kenapa kamu tau namaku” tanya Lexa, Lexa mencoba berbicara dengan setenang mungkin, agar Raymond tidak mencurigai dirinya.


“Aku ingin mengajak kamu makan siang di Villa ku, aku mohon setelah itu aku tidak akan mengganggumu lagi” kata Raymond dengn nada memohon.


Lexa berpikir untuk ajakan Raymond, jika dia ikut dengan Raymond maka Lexa akan teringat kejadiannya denga Raymond, tetapi jika Lexa tidak ikut dengan Raymond, dia akan selalu mengganggu Lexa dan besar kemungkinan suatu saat Raymond akan mengetahui bahwa anak yang sedang dikandungnya adalah anak dia.


“Baiklah, aku akan ikut denganmu hanya untuk kali ini” kata Lexa dengan tersenyum, tersenyum untuk menang.


***


“Makanlah yang banyak karena sepertinya kau kehilangan berat badan” ucap Raymond, yang berhasil membuat Lexa tersedak makanannya, “Berhati-hati lah, mengapa kau sampai tersedak seperti itu?” ucap Raymond, tangannya kini membantu Lexa untuk memberikn minumannya.


“Aku butuh toilet!” batin Lexa.


“Raymond, bolehkah aku pakai toiletmu” kata Lexa dengan ragu, karena sejujurnya Lexa tidak ingin melakukan apapun selain makan dan pulang.


“Of course, toilet nya berada dikamar aku, kami berempat mempunyai toilet masing-masing jadi kau pakai toiletku saja, kau pun mungin sudah tau tempatnya dimana” jelas Raymond yang direspon dengan senyuman oleh Lexa, setelahnya Lexa pergi menuju kamar Raymond, ada rasa ragu di hatinya tetapi keadaan mendesak dirinya untuk pergi ke tempat yang tidak ingin dia kunjungi.


“Sial, shower pun tidak berfungsi untung ada tissue” ucap Lexa tanpa menyimpan kecurigaan sedikitpun, setelah selesai Lexa kembali ke meja makan.


“Ray, tadi tidak aku bersihkan toiletnya karena shower pun tidak berfungsi” kata Lexa, duduk dan mulai melahap makanannya.


“Tidak apa, aku akan memeriksanya kau tunggu disini sebentar” ucap Raymond yang hanya direspon dengan anggukan, Raymond dengan cepat pergi ke toilet.


“Ini bagaimana menggunakannya, ah aku lupa menanyakannya search google mungkin ada” dengan cepat Raymond mencari cara menggunakan tespack, “Ketemu!” ucap Raymond yang kini mulai melakukan pengecekan dengan air yang ada di toilet bekas Lexa, terdengar jorok memang tetapi Raymond tidak punya cara lain untuk mengetahui kebenarannya.


“Dua garis biru, tadi di google itu tandananya positive hamil, jadi Lexa benar-benar mengandung anakku” batin Raymond, terduduk lemah di bathup, “Aku akan menjadi seorang ayah di usia mudaku” batin Raymond, kini mulai bangkit dan berjalan menemui Lexa.


“Lexa, aku sudah memeriksanya dan apapun itu aku harus tanggung jawab terhadapmu” ucap Raymond lirih.


“Apa maksudmu?” kata Lexa, ucapannya tidak bisa diungkapkan dengan lancar.


“Dengar, kemasi barang baranmu dan tinggallah di Villa ini, aku tidak akan membiarkanmu membesarkan dia seorang diri” jelas Raymond dengan yakin.


“Kau mengetahuinya, bagaimana kau mengetahuinya?”


“Ya, sebenarnya aku sengaca menaruh obat untuk mempermudah buang air kecil di makananmu, dan aku merusak saluran airnya, sehingga aku bisa mengeceknya sendiri apakah kau benar-benar hamil atau tidak dan ternyata dugaanku bena, kau sedang mengandung anakku kumohon kau dengarkan saranku demi bayi yang sedang kau kandung” jelas Raymond.


“Dengan tinggal di Vill nya, aku bisa sekaligus memata-matai Raymond, lagipula Raymond hanya peduli dengan anaknya, jadi itu tidak akan menimbulkan masalah besar” batin Lexa, lagi-lagi mempertimbangkan saran Raymond.


“Baiklah aku akan pulang dan mengemasi barang-barangku untuk tinggal disini” ucap Lexa tersenyum, lebih tepatnya fake smile.


***


Jangan lupa Vote & Comment


Terimakasih