The Handsome Doctor Is My Husband!

The Handsome Doctor Is My Husband!
9



"Sebenarnya, hari ini aku melihat dirimu dimarahi di rumah sakit saat sedang bertugas, maka dari itu aku meminta izin kepada atasan mu untuk membawa kamu pergi." jawab Tiffany dengan spontan


"Apa? Kau meminta izin pada atasan ku?" tanya Calvin.


Tiffany yang merasa bersalah pun akhirnya mengucapkan kata maaf.


"Aku minta maaf, maafkan aku. Namun tadi aku juga sudah bertanya kepada James tentang jadwal pekerjaanmu. Dan kulihat tidak ada pekerjaan yang penting." ucap Tiffany.


"Aku memiliki pekerjaan yang penting itu tidak bisa diputuskan olehmu, itu hanya bisa diputuskan olehku. Aku harap kau mengerti dengan apa yang ku katakan. Oiya terakhir, aku harap kau juga tidak terlalu mencampuri urusan pekerjaanku dan kehidupanku." jawab Calvin.


Tiffany mendengarkan Calvin dan menepati perjanjian yang tertera dikontraknya. Dan tiba-tiba mereka mau tak mau meledak. Keduanya bisa dibilang mulai marah lagi.


"Kamu makukan ini juga demi mencapai tujuanmu sendiri." ucap Calvin.


"Apa tujuanku? Memangnya kamu tau apa tentangku?" balas Tiffany.


"Melahirkan anak, sekarang aku bertanya. Apakah kamu mencintai aku?" tanya Calvin dengan serius.


"Apakah ada hubungannya dengan melahirkan anak? Menurutku tidak ada." jawab Tiffany.


Melihat nada keras kepala dan kuat Tiffany, sikap keras kepala Calvin juga menoleh, dan dengan marah menyetujui permintaan Tiffany untuk memiliki anak.


"Menurutku, ini harus berhubungan dengan cinta. Kamu tidak bisa melahirkan anak jika tidak cinta dengan suamimu. Aku harap kamu bisa menghormatiku sebagai suamimu."


"Baiklah." jawab Tiffany.


"Tiffany, apakah kamu sangat menginginkan seorang anak?" tanya Calvin.


"Ya, aku sangat menginginkannya." jawab Tiffany.


"Baik, aku akan membantumu mengabulkannya. Namun dengan satu syarat, yaitu kamu tidak boleh melarikan diri. Setuju?" ucap Calvin.


“Baiklah, bukan hal yang sulit.” jawab Tiffany.


Saat mereka sudah sampai disebuah kamar, Tiffany mulai merasa gugup dan takut sehingga ia melarikan diri, serta ia juga membujuk dirinya sendiri beberapa kali, tetapi dia tetap merasa gugup dan takut.


Keesokan harinya, Tiffany menemui Grace untuk berkonsultasi lagi. Namun Grace sendiri bingung dengan kondisi rumah tangga mereka.


"Hmm. Bagaimana jika kita menanyakan masalah ini kepada orang lain?" tanya Grace kepada Tiffany.


Namun, tiba-tiba Christ datang ke ruangan Tiffany. Tetapi Tiffany tidak memberitahu Christ karena ia merasa Christ tidak bisa diandalkan dalam dunia percintaan. Selain Tiffany yang bercerita, nampaknya Grace juga menceritakan hubungannya dengan Arthur. Hubungan mereka memang masih biasa aja dan tidak ada yang spesial. Namun, sepertinya Grace mulai menyukai Arthur, entah dari kapan.


"Kak Tiffany, aku juga ingin bertanya. Apakah Arthur sudah memiliki seorang pacar?" tanya Grace.


Mendengar pertanyaan itu Tiffany langsung mengetahui perasaan Grace.


"Astaga, apa kamu menyukai Arthur?" tanya Tiffany.


"Aku tidak tahu ap yang sedang aku rasakan, namun sekarang aku berharap ia tidak memiliki seorang pacar." jawab Grace.


"Setahuku dia sudah putus dengan mantannya." ucap Tiffany.


Mendengar hal tersebut, hati Grace langsung merasa lega karena itu berarti, ia memiliki peluang untuk dekat dengan Arthur. Tetapi, pada saat jam makan siang, Grace melihat sesuatu yang menyakitkan hatinya. Ia melihat Arthur sedang makan berdua bersama seorang wanita, yang ternyata adalah mantan pacarnya. Grace hanya bisa memandangi Arthur dari jarak jauh.


Di dapur bersih, Grace yang sedang membuat kopi tiba-tuba dikagetkan dengan munculnya Arthur. Dan tanpa sengaja, kopi tersebut tumpah mengenai baju Arthur.


"Astaga, maafkan aku pak." ucap Grace dengan penuh kebingungan.


"Tidak apa-apa." jawab Arthur.


Tiffany dan Calvin datang ke tempat yang disepakati dengan There, yang merupakan mantan pacar Arthur. Sekarang, There merupakan orang yang sangat penting untuk SS group. Tiffany dan Calvin yang bertemu lagi pun merasa sedikit malu, tetapi mereka harus memalsukan pertunjukan itu lagi untuk tujuan kontrak pernikahan. There ternyata sudah menunggu Tiffany dan Calvin didepan rumahnya.


"Kak There." panggil Tiffany.


"Ehh Tiffany. Ini siapa?"


"Ohh, perkenalkan ini suamiku, Calvin." jawab Tiffany.


"Kalian benar-benar cocok sekali. Oiya, kita sudah lama tidak foto bersama." ucap There.


"Benar sekali." jawab Tiffany.


Lalu There mengirim foto mereka bertiga ke Arthur. Saat mengetahui itu, Arthur langsung menyadari ada yang tidak beres, dan buru-buru menelepon untuk mempertanyakan niat There. Arthur memutuskan untuk datang sendiri, dan There menutup telepon. Ketika Arthur tiba, There mengisi gelas semua orang dengan jus jeruk. There bertanya tentang bagaimana caranya mereka berkenalan, dan keduanya mulai bertingkah seperti pasangan yang penuh kasih lagi.


"Bagaimana caranya kalian bisa saling kenal?" tanya There.


"Tentu saja karena takdir." jawab Tiffany.


"Betul, namun kami memiliki teman yang sama." lanjut Calvin.


"Apa yang kamu sukai dari Tiffany?" tanya There.


"Aku menyukai sifatnya yang blak-blakkan, terkadang dia menakutkan, dan terkadang sulit dikendalikan." jawab Calvin.


Di saat ini, Arthur yang sedang duduk, diam-diam memanggil There untuk pergi, Arthur ingin berbicara secara pribadi. Arthur mempertanyakan niat There yang sebenarnya.


"There, apa yang sedang kamu lakukan?"


"Apakah kamu tidak mengetahuinya? Cobalah berpikir." jawab There.


"Aku tidak ingin berpikir. Beritahu aku sekarang." ucap Arthur.


There menebak pikiran Arthur, Arthur hanya memikirkan Tiffany di dalam hatinya, tidak peduli siapa pasangannya sekarang. There, yang sangat pendendam, menyarankan agar Arthur tidak jatuh cinta pada Tiffany lagi, jika tidak, dia akan memberi tahu Tiffany tentang orang yang Arthur sukai sebenarnya, yaitu Tiffany.


"Arthur, pada saat kita berpacaran, aku mengetahui siapa yang sebenarnya kamu cintai. Orang tersebut adalah Tiffany, kamu mencintai orang yang tidak bisa kamu miliki. Alasan kamu membatalkan pernikahan pada 7 tahun yang lalu juga karena Tiffany. Apakah kamu tidak sadar?" ucap There.


Arthur hanya bisa terdiam sambil menyangkal hal tersebut di dalam hatinya.


"Kamu harus bisa melupakan Tiffany, dan berusaha untuk menyukai ku lagi, kalau tidak aku akan memberitahu Tiffany tentang orang yang kamu sukai sebenarnya." ancam There.


Perselisihan keduanya terdengar jelas oleh Calvin yang sedang berjalan untuk ke toilet saat ini. Mengetahui kebenarannya, Calvin benar-benar menyadari bahwa Arthur yang berada di depannya adalah saingan cintanya. Calvin memutuskan untuk menyimpannya di dalam hatinya, Calvin juga menyuruh Tiffany agar meninggalkan rumah tersebut secara tersirat.


"Tiffany, bukankah kamu bilang tadi perutmu sakit?"


"Perutku?" ucap Tiffany dengan nada bingung.


"Iya, perutmu tidak baik-baik sajakan?". lanjut Calvin.


"Ahhh iya, perutku terasa sakit sekali." jawab Tiffany.


"Kak Arthur dan Kak There, bolehkah kami pulang terlebih dahulu? Tiffany sangat membutuhkan waktu untuk beristirahat." tanya Calvin.


"Silahkan, mari aku antarkan." ucap There.


Bersambung...