The Handsome Doctor Is My Husband!

The Handsome Doctor Is My Husband!
18



Jason terus menerus menyuruh Calvin untuk menceraikan Tiffany. Hal tersebut membuat Calvin merasa frustasi. Ditambah lagi dengan keberadaan Tiffany yang masih tidak diketahui. Sementara itu, Tiffany bercerita tentang apa yang terjadi dengannya kepada Grace.


"Kamu tahukan kalau aku menikah kontrak?" ucap Grace.


"Iya, aku mengetahuinya." jawab Grace.


"Kamu tahu apa alasannya?" tanya Tiffany.


"Kenapa?" ucap Grace.


"Awalnya aku terpaksa menikah karena disuruh oleh ayahku. Namun seiring berjalannya waktu, aku mulai mencintai Calvin." jawab Tiffany.


Grace mendengarkan cerita Tiffany dengan sangat antusias. Namun setelah mendengar kelanjutannya, Grace merasa prihatin dengan hal yang menimpanya.


"Disaat aku mencintai Calvin, ayahku jutsru menyuruhku untuk bercerai dengannya." sambung Tiffany.


"Hah demi apa sih?! Kenapa dia menyuruhmu tiba-tiba bercerai?" ucap Grace.


"Karena dia mengetahui kalau aku menikah kontrak. Yang dia inginkan adalah menikah tanpa kontrak. Namun aku sudah menjelaskannya kalau sekarang kami benar-benar saling mencintai." ucap Tiffany.


"Bagaimana caranya kontrak tersebut bisa diketahui?" tanya Grace.


"Aku juga tidak tahu." ucap Tiffany.


Grace langsung mencurigai hal tersebut.


"Itu yang hal yang harus kamu cari tahu." ucap Grace.


Ketika mendengar kalau ada yang mencurigakan, Tiffany langsung memiliki semangat untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Setelah beberapa hari di rumah Grace, Tiffany merasa sudah saatnya dia untuk kembali ke kehidupannya. Ia tidak bisa terus menerus melarikan diri dari kenyataan.


Tiffany kembali kerumahnya pada saat malam hari, disaat itu terlihat Calvin sedang frustasi menunggu kehadiran Tiffany. Ketika mengetahui Tiffany pulang, Calvin dengan langsung memeluk Tiffany tanpa mengatakan apapun. Ia sangat senang begitu melihat Tiffany pulang kerumah.


"Maafkan aku." ucap Tiffany.


"Tidak apa-apa, terima kasih karena kamu masih kembali. Aku benar-benar takut kamu akan meninggalkan aku." sambung Calvin.


"Aku tidak akan meninggalkan kamu lagi." ucap Tiffany.


"Selama ini kamu tinggal dimana?" tanya Calvin.


"Selama ini aku menginap di rumah Grace. Namun, aku melarangnya untuk memberitahu siapapun." jawab Tiffany.


Malam itu menjadi malam yang mengharukan bagi mereka berdua. Di malam itu, Calvin menyampaikan kecurigaannya terhadap orang yang menjatuhkan SS Cosmetics dan Tiffany.


"Oiya Tiffany, selama kamu pergi, aku menyelidiki suatu hal. Namun belum ada hasil yang signifikan."


"Apa yang kamu curigai?"


"Aku curiga kalau ada orang disekitar kita yang memang sengaja ingin menjatuhkan kamu dan SS Cosmetics."


Begitu mendengar Calvin mengatakan hal tersebut, Tiffany langsung merasa yakin kalau memang ada orang yang sengaja menjatuhkan SS Cosmetics dan Tiffany.


"Sejujurnya, aku juga mencurigai hal yang sama." lanjut Tiffany.


"Namun siapa yang ingin menjatuhkanmu seperti ini?" ucap Calvin.


"Aku rasa orang ini dekat denganku." ucap Tiffany.


"Coba kamu pikirkan orang yang dekat denganmu." balas Calvin.


"Orang yang dekat denganku... Kamu." jawab Tiffany.


"Ehh, kok aku? Bukan aku orangnya serius." ucap Calvin.


"Hahaha... Iya aku tahu, aku hanya bercanda." jawab Tiffany.


"Sudahlah, mari kita bahas besok saja. Sekarang saatnya tidur." jawab Tiffany.


Keesokan paginya seperti biasa, Calvin menyiapkan sarapan untuk Tiffany, ketika Tiffany dan Calvin sedang sarapan. Tiba-tiba Jason datang kerumah mereka berdua dan lagi lagi membuat kegaduhan. Keberadaan Jason ini merupakan salah satu rencana Theo. Ia ingin memancing agar Tiffany keluar dari rumah dan melaksanakan rencananya.


"Bisa bisanya kalian makan dengan santai?! Aku tidak ingin tahu, pokoknya kalian harus bercerai." ucap Jason.


Jason terus menerus memaksa keduanya untuk bercerai.


"Kenapa ayah selalu memaksa aku sih?! Aku sudah bilang, kalau aku tidak ingin bercerai." jawab Tiffany.


Karena lelah berdebat dengan sang ayah, Tiffany akhirnya memutuskan untuk meninggalkan rumahnya sesaat. Namun pada saat ia berlari keluar, tiba-tiba muncul mobil dengan kecepatan tinggi. Calvin yang mengejar Tiffany pun melihat mobil tersebut. Ketika itu Calvin langsung berlari kearah Tiffany agar ia tidak terluka. Dan benar saja Tiffany akhirnya tidak terluka. Namun, Calvin yang terluka menggantikan Tiffany. Melihat kejadian itu, Tiffany langsung menangis histeris dan meminta bantuan orang yang berada disekitarnya.


"Tolong!! Tolong panggilkan dokter." ucap Tiffany ketika sampai di rumah sakit.


"Baik, ibu tenang saja, kamu akan menangani pasien dengan sangat baik."


Selama Calvin belum menyadarkan diri, Tiffany terus menerus menangis. Semenjak mendengar kondisi Calvin yang semakin membaik, ia merasa sudah agak tenang. Sambil menunggu Calvin sadar, ia membuat sketsa baju yang sangat bagus bagus. Yang merupakan hobinya. Lalu suatu ketika Jason datang untuk menjenguk Calvin, namun Tiffany sudah geram dengan sikap Jason, lalu ia pun akhirnya mengusir Jason. Disaat itu Jason memberikan penjelasan kepada Tiffany.


"Tiffany, maafkan aku." ucap Jason.


"Sudahlah." jawab Tiffany.


"Selama ini aku berpikir kalau kamu sebenarnya tidak mencintai Calvin, kamu terus mempertahankan pernikahan ini hanya karena kamu tidak ingin dirugikan. Karena aku membaca isi kontrak kalian." ucap Jason.


"Sebelumnya aku sudah sering menjelaskan tentang ini, namun kamu tidak pernah mendengarnya. Sudahlah, aku sudah sangat lelah membahas hal ini. Aku sangat tidak masalah jika kamu mau mengasingkan aku. Namun akan menjadi sebuah masalah jika kamu memaksa aku untuk bercerai darinya." sambung Tiffany.


"Tiffany, aku minta maaf. Apakah kamu mau memaafkan aku?" tanya Jason.


"Untuk sekarang aku masih belum bisa melupakan segala hal yang telah kamu lakukan kepada aku." jawab Tiffany.


"Maafkan aku Tiffany." ucap Jason.


Aku merasa ada yang tidak beres dengan semua yang menimpa Tiffany. Aku harus membantu menyelidiki kasus ini. batin Jason.


Setelah itu Tiffany kembali ke kamar rawat inap Calvin, ia menjaga Calvin selama berhari hari. Lalu di hari ketiga, akhirnya Calvin pun menyadarkan diri.


"Tiffany, apakah kamu baik baik saja?" ucap Calvin.


"Kenapa kamu malah mengkhawatirkan diriku? Yang terluka adalah kamu." jawab Tiffany.


"Aku tidak apa-apa. Bagaimana dengan kamu?" tanya Calvin.


"Aku juga tidak apa-apa, kamu banyak banyak beristirahatlah. Kamu harus pulih dengan cepat." jawab Tiffany.


"Baiklah. Oiya bagaimana dengan perkembangan kasus kamu?" tanya Calvin.


"Aku tidak sempat untuk menyelidiki itu. Yang aku pikirkan hanya lah kamu. Aku sangat sedih melihat kamu seperti ini." jawab Tiffany.


"Jangan khawatir, aku sungguh tidak apa-apa. Aku tidak suka melihatmu menangis, maka dari itu janganlah menangis." ucap Calvin.


Tidak lama dari itu, seorang dokter mendatangi ruang perawatan Calvin dan ingin memberikan suntikan pereda sakit untuk Calvin. Pada saat dokter itu ingin menyuntikan pereda nyeri, Calvin merasa ada yang tidak beres.


"Tunggu sebentar dok. Saya sangat ingin ke toilet."


"Ok, baiklah."


Ia berjalan menuju toilet dan melewati Tiffany, lalu Calvin membisikan sesuatu lepada Tiffany.


"Aku merasa ada yang tidak beres dengan dokter ini." ucap Calvin dengan berbisik.


"Hah?" jawab Tiffany.


Bersambung...