The Handsome Doctor Is My Husband!

The Handsome Doctor Is My Husband!
11



Arthur yang mendengar perkataan Calvin pun langsung secara sadar berpamitan dengan Tiffany. Setelah Arthur meninggalkan rumah Tiffany, Calvin langsung masuk ke kamarnya untuk beristirahat, ia tidak mengatakan apapun lagi kepada Tiffany karena sudah cemburu. Calvin tidak bisa tidur karena masih memikirkan istrinya bersenang-senang dengan pria lain. Apalagi, Calvin mengetahui perasaan Arthur yang sebenarnya kepada Tiffany.


Selama beberapa hari mereka tidak berkomunikasi, karena kecemburuan itu. Namun, Tiffany berinisiatif untuk memulai pembicaraan pada saat sedang sarapan.


"Ada apa dengan dirimu?" tanya Tiffany.


"Tidak apa-apa." jawab Calvin.


Namun, sepertinya Tiffany menyadari Calvin kurang menyukai kalau dirinya berdua bersama Arthur.


"Apakah ada hubungannya dengan Arthur?" tanya Tiffany.


"Apakah kamu tidak merasa kalau kalian terlalu dekat?" ucap Calvin.


"Hah? Apa yang kamu maksud? Aku dan dia hanya sebatas adik dan kakak." jawab Tiffany.


"Namun, kalian tidak ada hubungan darah apapun karena katamu dia diadopsi kan? Jadi seperti tidak menutup kemungkinan kalau dia menyukaimu." balas Calvin.


"Itu tidak mungkin terjadi." sambung Tiffany.


Tiffany menyadari sesuatu, yaitu Calvin yang sedang cemburu. Ia sangat bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


Apakah dia cemburu?


Apakah dia menyukaiku? batin Tiffany.


Secara spontan, Tiffany menanyakan hal tersebut.


"Ekhem, apakah kamu cemburu?" ucap Tiffany dengan malu.


Dirumah sakit, Calvin bertanya kepada James, seperti apa orang jatuh cinta. Dan James menjelaskan apa yang ia ketahui.


"James, seperti apa orang jatuh cinta?" tanya Calvin.


"Ha ha ha... Kamu tidak mengerti tentang cinta? Bahkan setelah kamu menikah? balas James.


"Cepat beritahu aku, seperti apa orang yang sedang jatuh cinta?" ucap Calvin.


"Baiklah. Pertama, kamu selalu memikirkan orang tersebut. Kedua, perasaan jatuh cinta dapat membuat seseorang mudah cemburu jika orang yang disukai tampak lebi dekat dengan yang lain. Ketiga, kamu merasa nyaman dan aman saat ada didekatnya..." jawab James.


James menjelaskan banyak sekali ciri-ciri orang jatuh cinta.


"Ok, baiklah." jawab Calvin.


Ia sangat terkejut mengetahui dirinya yang begitu menyukai Tiffany. Di hari yang sama, Tiffany juga menanyakan hal serupa kepada Grace yang sekarang menjadi teman ceritanya.


“Apakah kamu pernah berpacaran?” tanya Grace.


“Tentu saja.” jawab Tiffany.


“Berapa kali kamu berpacaran?” ucap Grace.


“Hmmm… 1 setengah.” ucap Tiffany.


“Kenapa bisa satu setengah?!” sambung Grace.


“Yang setengah itu kami berpacaran namun aku lebih memanfaatkannya, jadi tidak bisa disebut berpacaran. Lalu yang satunya itu beneran berpacaran.”


“Ok, baiklah. Setidaknya kamu pernah berpacaran dengan benar. Diusia berapa kamu pacaran?” tanya Grace.


“Seingetku umur 7 atau 8 SD.” jawab Tiffany.


Setelah itu Grace memberikan pencerahan sampai Tiffany menyadari kalau dia menyukai Calvin. Kedua orang itu saling suka tanpa ada yang mengungkapkannya dengan serius.


Saat mereka sedang bersantai dirumah, Alexa tiba-tiba datang dengan kondisi dirinya mabuk, ia memarahi Tiffany karena sudah menikah dengan Calvin. Alexa terus melantur semua ucapannya sangatlah tidak jelas. Tiffany yang tidak kuat dengan sikap Alexa pun akhirnya menelpon ayah Alexa, William.


Dikamarnya masing-masing, mereka berdua berpikir bagaimana caranya mengungkapkan perasaannya. Tiffany yang berpikir keras selama beberapa saat pun akhirnya menemukan sebuah ide yang akan dilakukan. Tiffany akan menjadi ibu rumah tangga yang baik untuk Calvin sekaligus wanita karir. Ia merasa dirinya bisa melakukan itu. Tiffany langsung mencari guru masak, ia ingin memasak untuk Calvin.


Disisi lain, Calvin sampai sekarang masih bingung tentang apa yang harus dilakukan untuk mengungkapkan perasaannya. Namun, tiba-tiba Calvin kepikiran ulang tahun Tiffany yang sebentar lagi akan tiba. Calvin ingin menyatakan cinta kepada Tiffany di hari itu. Calvin segera menghubungi sebuah restoran mewah dan membuat reservasi pada hari ulang tahun Tiffany. Keesokan harinya, Calvin juga mencari hadiah untuk Tiffany. Ia ingin membelikan cincin untuknya.


Keesokan harinya, Calvin pulang ke rumah pada jam biasanya. Namun, sudah tercium aroma makanan yang sangat lezat, dan ternyata makanan tersebut dibuat oleh Tiffany. Selama seharian ternyata Tiffany belajar memasak.


"Calvin, kamu sudah pulang? Lihatlah, ini semua aku yang buat." ucap Tiffany.


"Kamu membuatnya?"


"Iya, cobalah. Memang masih kurang sempurna, tetapi aku usahakan agar bisa membuat makanan yang lebi enak nantinya, aku akan terus belajar untuk kamu." jawab Tiffany.


Calvin pun mencicipi makanan yang dibuat oleh Tiffany. Namun, rasanya memang masih belum sempurna, masih ada yang terlalu asin dan tawar.


"Hmm, lumayan. Tidak seburuk itu." ucap Calvin.


Tiffany langsung tersenyum mendengar pujian tersebut.


"Hari ini mengapa kamu tiba-tiba masak?" tanya Calvin dengan nada lembut


"Karena aku menyukaimu." jawab Tiffany dengan suara kecil namun masih dapat didengar oleh Calvin.


Setelah mendengar ucapan Tiffany, Calvin pun sangat kesal. Ia merasa kalau Tiffany bisa dengan mudah mengatakan cinta tanpa mengetahui arti cinta yang sebenarnya.


"Tiffany, bisakah kau hentikan semua ini?" ucap Calvin.


"Apa yang harus ku hentikan?" jawab Tiffany.


"Aku sudah cukup lelah dengan ucapanmu, kamu selalu saja mengatakan cinta, cinta dan cinta. Apakah kamu mengetahui arti cinta yang sesungguhnya?" ucap Calvin.


"..." tidak ada jawaban dari Tiffany.


Tiffany yang awalnya merasa bahagia, sekarang ia merasa sangat kecewa dengan Calvin. Ia telah memberikan semua yang terbaik untuknya, namun hal tersebut tidak dihargai oleh Calvin.


"Kamu sadar tidak, kamu hanya memanfaatkan kata cinta untuk kepentingan dirimu sendiri. Kamu sangat egois." ucap Calvin.


"Apa kamu bilang. Aku egois? Apakah kamu tidak berkaca? Sekarang aku tanya, apakah kamu pernah memikirkan perasaan aku?" jawab Tiffany dengan kesal.


"Tentu saja." sambung Calvin.


"Aku juga sudah cukup lelah, setiap hari harus memikirkan hubungan kita, setiap hari bekerja keras, setiap hari harus membuat progress dalam rumah tangga ini. Apakah kamu pernah memikirkan usaha ku?" ucap Tiffany.


"Tiffany, bukankah lebih baik sekarang kita berpisah? Ini sangat melelahkan untuk kita berdua."


"Setelah apa yang telah aku lakukan, kamu sekarang meminta kita untuk berpisah? Pernahkah kamu memikirkan diriku? Hari ini aku sangat lelah, aku sangat berusaha membuat makanan yang enak, karena aku tau kamu menyukai masakan rumahan. Namun, aku sangat merasa tidak dihargai oleh mu." ucap Tiffany sambil menangis.


Tiffany sangat terluka karena merasa tidak dihargai oleh pria yang ia cintai, sehingga ia tidak bisa menahan air matanya.


"Tadi kamu meminta untuk bercerai?" tanya Tiffany.


"Itu yang terbaik untuk kita sekarang. Aku rasa hanya ada dua pilihan sekarang." jawab Calvin.


"Apa? Pilihan apa yang kamu maksud?"


"Pertama, kita mengakhiri segalanya dengan perceraian atau yang kedua, kita hapuskan kontrak pernikahan?" ucap Calvin.


Tiffany sudah benar-benar tidak tahu harus melakukan apa lagi. Ia merasa, semua yang ia lakukan selalu berdampak buruk bagi orang lain.


"Pilihan mana yang kamu inginkan? Aku akan mengikuti keputusan apapun yang kamu ambil." jawab Tiffany.


"Apakah bisa kita berdua menghilangkan kontrak yang telah kita buat?" tanya Calvin.


Bersambung...