The Handsome Doctor Is My Husband!

The Handsome Doctor Is My Husband!
15



Calvin membawa Tiffany ke sebuah restoran yang sudah di desain secara romantis oleh dirinya. Mereka berdua disambut oleh pegawai di restoran tersebut. Tiffany sangat terkejut dengan kejutan yang disiapkan Calvin, ia benar-benar berpikir kalau Calvin tidak mengingat hari ulang tahunnya. Kemudian, Tiffany berjalan dengan anggun diatas karpet yang sudah digelar menuju meja makannya. Pada saat itulah, Calvin mengucapkan selamat ulang tahun untuk Tiffany sambil memberikan buket bunga mawar yang sangat besar.


"Selamat ulang tahun istriku." ucap Calvin.


"Aku pikir kamu benar-benar lupa kalau hari ini adalah hari ulang tahunku." sambung Tiffany.


"Bagaimana aku bisa melupakannya. Hari ini merupakan hari penting bagimu, yang berarti juga hari penting bagiku." jawab Calvin.


Mendengar Calvin berkata seperti itu, Tiffany tidak sanggup menahan perasaan bahagianya. Ia hanya bisa tersenyum.


"Bagaimana, kamu suka sama ini semua?" tanya Calvin.


"Aku menyukainya, kenapa kamu bisa merencanakan ini semua?" jawab Tiffany.


"Karena aku menyukai kamu." jawab Calvin.


"..."


Tiffany tidak bisa berkata apapun setelah mendengar perkataan Calvin. Setelah itu Calvin menyatakan perasaannya kepada Tiffany secara serius.


"Tiffany, aku ingin membicarakan hal serius kepada kamu." ucap Calvin.


"Kenapa?" jawab Tiffany.


Calvin merasa sangat tegang dan takut.


"Selama ini, aku mencintai kamu dengan tulus. Aku menyayangi kamu, aku tidak rela melihat kamu terluka secara fisik dan batin. Sekarang aku juga rela jika kamu ternyata menyukai orang lain dan ingin meninggalkan aku, aku tidak apa-apa jika kamu tidak bersamaku asalkan kamu bahagia." ucap Calvin.


"Calvin..."


"Tiffany, apakah kamu mau menjalani hubungan dengan aku tanpa kontrak?" sambung Calvin.


Tiffany bingung mengapa Calvin masih tidak bisa merasakan ketulusan hatinya.


"Calvin... Apakah kamu masih tidak tahu perasaan aku yang sebenarnya?" tanya Tiffany.


"Belum, bisakah kamu memberitahu aku dengan serius?" ucap Calvin.


"Aku juga menyukai kamu. Aku sudah mengatakan ini berkali-kali. Namun, mengapa kamu tidak pernah percaya." jawab Tiffany.


"Karena aku merasa kamu hanya ingin mencapai tujuan kamu. Pada saat pertama kami kamu mengatakan kalau kamu menyukai aku, aku melihat ketidak jujuran. Maka dari itu, aku meragukan perkataan kamu. Aku baru merasakan ketulusan kamu saat terakhir kali kamu mengatakan kalau kamu menyukai aku." ucap Calvin.


"Pada awalnya aku memang tidak memiliki rasa kepada kamu, aku hanya tertarik kepadamu. Namun seiring berjalannya waktu, perasaan itu tumbuh menjadi sebuah cinta." ucap Tiffany.


Calvin mengeluarkan sepasang cincin yang sudah ia beli.


"Jadi... Apakah kamu mau memulai hubungan dengan aku tanpa kontrak apapun?" tanya Calvin.


"Tentu saja. Aku akan terus mencintai kamu." jawab Tiffany.


"Apakah kamu mau memakai cincin ini?" tanya Calvin.


"Tentu, pakaikan lah." jawab Tiffany.


"Terima kasih Tiffany." ucap Calvin.


"Aku juga ingin berterima kasih kepada kamu karena telah memberikan aku kesempatan untuk menyatakan perasaan dan merasakan hal romantis seperti ini." sambung Tiffany.


"Hahaha, aku sekarang sudah sangat lega karena sudah menyatakan perasaan ini, dan untungnya perasaan ini juga terbalas." ucap Calvin.


"Hahaha. Aku sekarang sangat malu. Sudahlah." sambung Tiffany.


Setelah makanan yang mereka pesan sudah sampai, mereka akhirnya makan. Lalu saat sudah selesai makan, mereka memutuskan untuk pulang. Kemudian, di dalam mobil Calvin sudah menyiapkan kejutan lainnya. Dan ia menyuruh Tiffany untuk membuka laci mobil. Begitu melihat isinya, Tiffany langsung terkejut.


"Tiffany, bukalah laci itu."


"Calvin... Kamu..."


"Kamu adalah orang yang membantu aku mengerjakan PR?! Orang yang membantu aku belajar?" tanya Tiffany.


"Iya." ucap Calvin sambil bersenyum.


"Kenapa waktu itu kamu meninggalkan aku tanpa alasan? Aku sungguh sangat sedih." ucap Tiffany.


"Lihat kembali laci itu."


Tiffany menemukan sebuah surat yang berisi tentang kabar kalau Calvin harus pindah keluar kota. Begitu menemukannya, Tiffany langsung membaca isi surat tersebut.


"Pertama-tama, aku sangat berterima kasih kepada kamu karena sudah mau menjadi teman aku selama beberapa waktu kemarin. Aku sangat senang memiliki teman seperti kamu.


Kedua, aku ingin mengumumkan kalau aku akan pindah keluar kota karena urusan keluarga.


Ketiga, aku harap kita bisa bertemu dan saling mengenal saat sudah dewasa, kamu jangan pernah sampai melupakan aku ya.


Calvin... Mengapa kamu tidak memberikan surat ini?" ucap Tiffany.


"Karena pada saat itu ternyata keluarga aku memajukan tanggal perpindahan kita. Makanya kamu tidak bisa menerima surat ini." jawab Calvin.


"Aku sangat sedih saat mengetahui teman aku pergi tanpa meninggalkan sebuah alasan apapun." ucap Tiffany.


"Tiffany, apakah kamu tahu apa alasan aku menikahi kamu?" tanya Calvin.


"Kenapa?"


"Karena waktu itu aku mengetahui kalau kamu adalah teman masa kecilku. Semenjak kita terpisah, aku sering memikirkan kamu. Aku ingin mengetahui kondisi kamu. Namun, tidak bisa karena aku tidak mengetahui apapun tentang kamu." jawab Calvin.


"Jadi, sejak awal kita bertemu, kamu sudah mengetahui kalau kita teman masa kecil?" tanya Tiffany.


"Sudah."


"Mengapa kamu tidak memberi tahu aku sejak awal?" tanya Tiffany.


"Karena aku belum memiliki bukti kalau kita teman lama. Apakah kamu terkejut mengetahui ini semua?" ucap Calvin.


"Aku sangat terkejut. Kita berarti memang berjodoh sejak kecil." ucap Tiffany.


"Benar." sambung Calvin.


Karena lelah melewati hari yang penuh kejutan, mereka berdua akhirnya pulang ke rumahnya. Sesampainya dirumah dan ingin tidur, Calvin seperti biasa membuatkan segelas susu untuk Tiffany. Dan pada saat Calvin ingin meninggalkan kamar Tiffany, Tiffany justru meminta Calvin untuk tidur bersamanya. Calvin pun menyetujui permintaan Tiffany.


"Calvin, bisakah kamu tidur bersama aku malam ini?" tanya Tiffany.


"Tentu saja bisa, ayo tidur." jawab Calvin.


"Ini adalah kedua kalinya kita tidur bersama. Oiya, besok kamu bisa mengambil cuti lagi tidak?" tanya Tiffany.


"Memangnya kenapa?" ucap Calvin.


"Aku ingin kita pergi berkencan." jawab Tiffany.


"Sepertinya besok aku tidak bisa, kita cari waktu lain saja ya." ucap Calvin.


"Baiklah. Kalau tidak, nanti hari sabtu dan minggu kita pergi berlibur saja selama 2 hari, ke Bandung atau ke puncak." ucap Tiffany.


"Aku akan ikut kemanapun kamu pergi. Sekarang saatnya untuk tidur, besok kamu harus kembali bekerja." ucap Calvin.


"Baiklah."


Keesokan harinya seperti biasa Calvin menyiapkan sarapan untuk mereka berdua sebelum berangkat bekerja. Setelah itu, Calvin mengantarkan Tiffany ke kantornya. Pada saat perjalanan, Tiffany memberitahu ke Calvin kalau sepertinya minggu ini, merupakan minggu yang sangat menyibukkan dirinya. Ia harus mencari model untuk produknya dan menentukan tanggal untuk meluncurkan produknya.


Bersambung...