
"Sebenarnya, hari ini aku melihat dirimu dimarahi di rumah sakit saat sedang bertugas, maka dari itu aku meminta izin kepada atasan mu untuk membawa kamu pergi." jawab Tiffany dengan spontan
"Apa? Kau meminta izin pada atasan ku?" tanya Calvin.
Tiffany yang merasa bersalah pun akhirnya mengucapkan kata maaf.
"Aku minta maaf, maafkan aku. Namun tadi aku juga sudah bertanya kepada James tentang jadwal pekerjaanmu. Dan kulihat tidak ada pekerjaan yang penting." ucap Tiffany.
"Aku memiliki pekerjaan yang penting itu tidak bisa diputuskan olehmu, itu hanya bisa diputuskan olehku. Aku harap kau mengerti dengan apa yang ku katakan. Oiya terakhir, aku harap kau juga tidak terlalu mencampuri urusan pekerjaanku dan kehidupanku." jawab Calvin.
Tiffany mendengarkan Calvin dan menepati perjanjian yang tertera dikontraknya. Dan tiba-tiba mereka mau tak mau meledak. Keduanya bisa dibilang mulai marah lagi.
"Kamu makukan ini juga demi mencapai tujuanmu sendiri." ucap Calvin.
"Apa tujuanku? Memangnya kamu tau apa tentangku?" balas Tiffany.
"Melahirkan anak, sekarang aku bertanya. Apakah kamu mencintai aku?" tanya Calvin dengan serius.
"Apakah ada hubungannya dengan melahirkan anak? Menurutku tidak ada." jawab Tiffany.
Melihat nada keras kepala dan kuat Tiffany, sikap keras kepala Calvin juga menoleh, dan dengan marah menyetujui permintaan Tiffany untuk memiliki anak.
"Menurutku, ini harus berhubungan dengan cinta. Kamu tidak bisa melahirkan anak jika tidak cinta dengan suamimu. Aku harap kamu bisa menghormatiku sebagai suamimu."
"Baiklah." jawab Tiffany.
"Tiffany, apakah kamu sangat menginginkan seorang anak?" tanya Calvin.
"Ya, aku sangat menginginkannya." jawab Tiffany.
"Baik, aku akan membantumu mengabulkannya. Namun dengan satu syarat, yaitu kamu tidak boleh melarikan diri. Setuju?" ucap Calvin.
“Baiklah, bukan hal yang sulit.” jawab Tiffany.
Saat mereka sudah sampai disebuah kamar, Tiffany mulai merasa gugup dan takut sehingga ia melarikan diri, serta ia juga membujuk dirinya sendiri beberapa kali, tetapi dia tetap merasa gugup dan takut.
Keesokan harinya, Tiffany menemui Grace untuk berkonsultasi lagi. Namun Grace sendiri bingung dengan kondisi rumah tangga mereka.
"Hmm. Bagaimana jika kita menanyakan masalah ini kepada orang lain?" tanya Grace kepada Tiffany.
Namun, tiba-tiba Christ datang ke ruangan Tiffany. Tetapi Tiffany tidak memberitahu Christ karena ia merasa Christ tidak bisa diandalkan dalam dunia percintaan. Selain Tiffany yang bercerita, nampaknya Grace juga menceritakan hubungannya dengan Arthur. Hubungan mereka memang masih biasa aja dan tidak ada yang spesial. Namun, sepertinya Grace mulai menyukai Arthur, entah dari kapan.
"Kak Tiffany, aku juga ingin bertanya. Apakah Arthur sudah memiliki seorang pacar?" tanya Grace.
Mendengar pertanyaan itu Tiffany langsung mengetahui perasaan Grace.
"Astaga, apa kamu menyukI Arthur?" tanya Tiffany.
"Aku tidak tahu ap yang sedang aku rasakan, namun sekarang aku berharap ia tidak memiliki seorang pacar." jawab Grace.
"Setahuku dia sudah putus dengan mantannya." ucap Tiffany.
Mendengar hal tersebut, hati Grace langsung merasa lega karena itu berarti, ia memiliki peluang untuk dekat dengan Arthur. Tetapi, pada saat jam makan siang, Grace melihat sesuatu yang menyakitkan hatinya. Ia melihat Arthur sedang makan berdua bersama seorang wanita, yang ternyata adalah mantan pacarnya. Grace hanya bisa memandangi Arthur dari jarak jauh.
"Astaga, maafkan aku pak." ucap Grace dengan penuh kebingungan.
"Tidak apa-apa." jawab Arthur.
Karena merasa tidak enak, Grace akhirnya membantu Arthur membersihkan pakaiannya. Dan pada saat itulah mereka memiliki momen berdua. Arthur melihat cara Grace yang dengan lembut membersihkan pakaiannya, dan saat itu ia menatap Grace dengan tatapan mata yang berbinar-binar.
Calvin dan Tiffany berbaring di ranjang yang sama. Tiffany memandang wajah Calvin dengan serius.
"Kamu tidak tidur?" tanya Calvin.
"Perut aku masih sakit. Bagaimana kau bisa tidur." jawab Tiffany.
"Kamu melihatku seperti itu, bagaimana kamu bisa tidur?" ucap Calvin.
"Kalau begitu kamu bacakan buku saja. Disitu, ada sebuah buku, ambillah." ucap Tiffany.
Saat ingin mengambil buku tersebut, Calvin secara tidak sengaja menemukan kalau Tiffany bahkan menyiapkan panduan tentang anak bayi yang baru lahir. Calvin pun bingung dan akhirnya bertanya kepada Tiffany. Saat ditanya, Tiffany hanya menjelaskan bahwa hidup dengan kesepian sangat menyedihkan.
"Mengapa kamu sangat menginginkan seorang anak? Bukankah merepotkan memiliki seorang anak?" tanya Calvin.
"Sebenarnya aku sangat menyukai anak kecil, aku ingin rumah ini menjadi ramai, aku ingin memiliki kehangatan di rumah ini. Hidup sendiri adalah hal yang menyedihkan, lalu tidak ada yang bisa ku khawatirkan juga." jawab Tiffany.
"Lalu mengapa harus aku?" tanya Calvin.
"Karena aku menyukaimu." jawab Tiffany.
Calvin yang mendengar jawaban Tiffany itu pun langsung terkejut, siapa sangka Tiffany akan menjawab seperti itu. Keesokan harinya Calvin menyiapkan sarapan dan ingin berdiskusi dengan Tiffany. Calvin masih menyangkal semua jawaban yang pernah diberikan oleh Tiffany. Calvin pun meminta Tiffany untuk memikirkan hubungannya, ia merasa hubungannya ini terlalu dalam.
"Tiffany, seperti kita harus membuat batasan dalam hubungan ini." ucap Calvin.
"Mengapa tiba-tiba?" tanya Tiffany.
"Dalam pernikahan ini, kita memiliki tujuan yang sangat bertolak belakang. Karena itu aku berpikir kalau kita harus membuat batasan." jawab Calvin.
Tiffany yang mendengar perkataan Calvin pun langsung merasa bingung. Ia merasa tidak melakukan sebuah kesalahan, ia hanya mengungkapkan isi hatinya.
apa ada yang salah dengan perkataanku? batin Tiffany.
"Mengapa harus membuat batasan, bagaimana kalau ada yang curiga tentang hubungan kita? Kalau aku tidak berhasil mengeluarkan produk ini, maka aku akan diasingkan dari keluarga aku. Apakah kamu mau melihatku terasingkan dari keluarga itu? Semua usaha yang aku lakukan juga akan sia-sia. Maka dari itu, aku ingin membuktikan kepada mereka, kalau mereka bukanlah siapa-siapa." ucap Tiffany dengan tegas.
Setelah menyampaikan hal itu, Tiffany pun langsung bergegas meinggalkan Calvin dan pergi ke toilet dengan alasan ingin bersiap-siap. Saat ditoilet, Tiffany kembali memikirkan kesalahannya, ia sangat berpikir keras untuk mencari tahu apa kesalahannya. Namun Tiffany merasa kalau Calvin menganggapnya berbohong. Tiffany merasa Calvin tidak mempercayai ucapannya 'Karena aku menyukaimu'. Semenjak itu, Tiffany berjanji dengan dirinya sendiri untuk menunjukkan perasaannya itu kepada Calvin.
Malam harinya, Calvin memasuki rumah yang dihuninya, namun ternyata, Arthur sedang berkunjung ke rumah yang ditempati oleh Tiffany dan Calvin. Calvin pun merasa cemburu, ia secara tersirat mengusir Arthur dari rumahnya.
"Tiffany, bukankah ini sudah larut? Kamu bilang tadi ingin beristirahat kan?" ucap Calvin.
Arthur yang mendengar perkataan Calvin pun langsung secara sadar berpamitan dengan Tiffany. Setelah Arthur meninggalkan rumah Tiffany, Calvin langsung masuk ke kamarnya untuk beristirahat, ia tidak mengatakan apapun lagi kepada Tiffany karena sudah cemburu. Calvin tidak bisa tidur karena masih memikirkan istrinya bersenang-senang dengan pria lain. Apalagi, Calvin mengetahui perasaan Arthur yang sebenarnya kepada Tiffany.
Bersambung...