The Handsome Doctor Is My Husband!

The Handsome Doctor Is My Husband!
12



Tiffany sangat terluka karena merasa tidak dihargai oleh pria yang ia cintai, sehingga ia tidak bisa menahan air matanya.


"Tadi kamu meminta untuk bercerai?" tanya Tiffany.


"Itu yang terbaik untuk kita sekarang. Aku rasa hanya ada dua pilihan sekarang." jawab Calvin.


"Apa? Pilihan apa yang kamu maksud?"


Tiffany sudah benar-benar tidak tahu harus melakukan apa lagi. Ia merasa, semua yang ia lakukan selalu berdampak buruk bagi orang lain.


"Pilihan mana yang kamu inginkan? Aku akan mengikuti keputusan apapun yang kamu ambil." jawab Tiffany.


"Apakah bisa kita berdua menghilangkan kontrak yang telah kita buat?" tanya Calvin.


“Maksud kamu?" tanya Tiffany.


Ucapan Calvin membuat dirinya sangat kebingungan, ia masih tidak bisa berpikir positif karena takut hal tersebut memiliki arti yang berbeda dari apa yang dia pikirkan. Mereka berdua menjalani sebuah hubungan tanpa memahami satu sama lain. Keduanya juga tidak mengetahui harus menjalankan hubungan ini bagaimana.


"Terkadang aku merasa kita tidak bisa mempertahankan hubungan ini, namun setalah ku pikirkan, bercerai bukanlah satu-satunya cara untuk mengakhiri hubungan ini." ucap Calvin.


"Calvin, apakah kamu mengetahui salah satu hal penting dalam sebuah hubungan?" ucap Tiffany.


"Apa?" jawab Calvin.


"Kepercayaan. Untuk apa kita mengakhiri kontrak dan menjadi sepasang suami istri kalau kamu masih belum bisa mempercayai aku." ucap Tiffany yang sudah sangat lelah membahas hal ini dengan Calvin.


"Maafkan aku karena masih belum bisa mempercayai kamu. Entah mengapa aku sulit menerima ucapanmu yang mengatakan kamu mempunyai perasaan yang sama denganku." ucap Calvin.


Sampai saat ini, Calvin belum menjawab pertanyaan Tiffany tentang pilihan apa yang ia ingin kan. Kemudian tanpa banyak basa-basi, Tiffany kembali menanyakan hal tersebut. Ia menekankan pada dirinya sendiri untuk tidak berlarut-larut dalam kesedihan kalau ternyata pilihan Calvin tidak sesaui dengan apa yang dia inginkan.


"Apa yang kamu pilih? Aku akan mengikuti keputusanmu." tanya Tiffany.


"Aku ingin mencoba memperbaiki hubungan denganmu, aku masih ingin bersama denganmu." jawab Calvin.


"Untuk apa kita mengakhiri kontrak dan menjadi sepasang suami istri kalau kamu masih belum bisa mempercayai aku." ucap Tiffany sambil meninggalkan Calvin.


Tiffany yang sudah sangat lelah menanggapi Calvin pun akhirnya pergi dari rumahnya, dan selama 2 hari mereka tidak bertemu. Tiffany lebih memilih untuk bermalam di hotel. Sampai akhirnya Tiffany pulang kerumah mereka berdua. Begitu membuka pintu rumah, Tiffany melihat keadaan rumah yang seperti biasanya. Namun, ia tidak melihat adanya Calvin. Jam sudah menunjukkan pukul 11.00 dan Calvin baru sampai dirumah. Calvin sangat kelelahan bekerja, ia menyibukan dirinya agar dapat melupakan masalah yang sedang dihadapi. Tiffany dengan sengaja memunggu Calvin pulang kerumah, karena ayahnya meminta dibuatkan acara makan malam bersama. Tiffany pun akhirnya membuka pembicaraan secara profesional.


"Calvin, apakah hari sabtu kamu ada waktu?" ucap Tiffany.


"Memangnya ada apa?" jawab Calvin.


"Ayah ingin kita makan bersama dengannya. Apakah kamu bisa?" tanya Tiffany.


"Tentu saja bisa."


Mereka saling menatap dalam diam. Calvin sebenarnya sangat ingin membahas kesalahpahaman yang kemarin terjadi, namun ia sangat bingung harus memulai darimana. Ia takut nantinya mereka akan ribut lagi.


"Tiffany." ucap Calvin.


"Hah iya kenapa?" jawab Tiffany.


"Bisakah aku mempercayai dirimu? Sekarang aku sangat ingin mempercayai kamu, namun aku takut itu mengecewakan." ucap Calvin.


"Aku akan membuktikannya kepada kamu, kalau aku benar-benar menyukai kamu. Apakah kamu tetap mau mempercayai aku atau tidak, itu adalah keputusan yang harus kamu pilih." jawab Tiffany.


"Aku akan mempercayai kamu. Tiffany, apakah kamu mau hubungan kita menjadi lebih baik?" tanya Calvin.


"Aku ingin, tapi bukankah ini terlalu sulit?" jawab Tiffany.


Sampai sekarang nereka berdua masih tidur di kamar yang terpisah. Namun, mereka berdua tidak bisa tidur hingga jam 1.00. Calvin yang mengetahui Tiffany memiliki insomnia, dengan peka langsung menyiapkan segelas susu hangat dan mengantarkannya ke kamar Tiffany. Dan benar saja, Tiffany masih belum tidur. Melihat hal itu, Calvin langsung memberikan segelas susu hangat yang sudah ia siapkan.


"Tiffany, ini aku menyiapkan segelas susu untukmu, minumlah."


"Baik, terima kasih." ucap Tiffany.


Saat Calvin ingin meninggalkan kamar Tiffany, Tiffany justru meminta Calvin untuk menemaninya sampai ia tertidur, dengan sikapnya yang seolah tidak terjadi apapun kemarin.


"Calvin, bisakah kamu menemani aku sampai aku tidur?" tanya Tiffany.


Calvin tidak bisa menjawab 'tidak' disaat seperti itu.


"Bisa. Sekarang kamu harus tidur, tidurlah dengan nyenyak dan mimpi yang indah." ucap Calvin.


"Baiklah. Terima kasih. Oiya, apakah kamu bisa mengambil cuti untuk besok?" ucap Tiffany.


"Bisa, ada apa?" tanya Calvin.


"Aku ingin mengajak kamu ke suatu tempat."


"Baiklah, sekarang kamu tidur."


Setelah menemani Tiffany hingga tertidur, Calvin tidak langsung meninggalkan kamar Tiffany. Ia mengelilingi kamar Tiffany, dan menemukan ada beberapa buku yang sudah penuh dengan sketsa-sketsa sebuah baju yang sangat bagus. Calvin secara diam diam juga memfotokan gambar tersebut. Setelah melihat gambar-gambar tersebut, Calvin meninggalkan kamar Tiffany dan segera menuju kamarnya untuk beristirahat. Ia sekarang merasa tenang karena kesalahpahaman yang terjadi beberapa hari yang lalu sudah mulai teratasi dengan perlahan.


Keesokan harinya, Tiffany mengajak Calvin ke suatu tempat yang ia maksud, dan tempat tersebut adalah tempat perbelanjaan. Tiffany merasa kalau Calvin masih kekurangan banyak barang-barang dalam kegiatan sehari-hari.


"Kenapa kita ke supermarket?" tanya Calvin.


"Shutt... Sekarang kamu belilah barang-barang yang belum kita miliki dirumah."


Mereka berdua berkeliling seperti pasangan suami istri bahagia pada umumnya, mereka juga meributkan hal-hal kecil yang sangat lucu.


"Aku ingin keripik singkong ini." ucap Tiffany.


"Tidak boleh." jawab Calvin.


"Aku ingin sekali." ucap Tiffany.


"Itu sangat tidak sehat untuk kesehatan." ucap Calvin.


Namun Tiffany secara diam-diam tetap mengambil


"Tiffany, jangan ambil keripik itu." ucap Calvin.


Tiffany terus menerus merengek menginginkan keripik tersebut. Namun, Calvin membujuknya.


"Begini saja, bagaimana jika nanti aku masakan makanan yang sangat lezat sebagai pengganti keripik itu?" ucap Calvin.


"Benar yaa. Awas saja kalau kamu berbohong. Kamu tidak boleh memberikan harapan palsu." jawab Tiffany.


"Iyaa."


Setelah itu Calvin juga meminta izin kepada Tiffany, untuk berkunjung ke rumah keluarganya sebentar karena ada barang yang ingin ia ambil. Kemudian, setelah berbelanja mereka berdua langsung menuju rumah Calvin dan keluarganya. Sesampainya dirumah keluarga Calvin, Tiffany disambut dengan sangat hangat oleh anggotak keluarga Calvin yang merupakan anggota keluarganya juga. Calvin meninggalkan Tiffany sebentar untuk mengambil barang miliknya. Namun, bukannya menemukan barang yang ia cari, Calvin justru menemukan gantungan kunci bintang laut yang diberikan oleh Tiffany pada saat masih kecil. Sekarang, hanya Calvin yang mengingat fakta kalau mereka dulu cukup dekat.


Bersambung...