The Handsome Doctor Is My Husband!

The Handsome Doctor Is My Husband!
21



Tiffany dan Calvin pun sangat kebingungan saat mencari solusi yang terbaik untuk mereka berdua. Namun, tiba tiba Calvin menemukan sebuah ide.


"Oiya, bagaimana kalau kita hanya terpisah selama 2 minggu?" tanya Calvin.


"Hah? Apa maksud kamu?" jawab Tiffany.


"Sepertinya aku bisa meminta izin cuti bekerja kepada rumah sakit selama 3 minggu. Namun, selebihnya cuti tahunan ku bakal habis." ucap Calvin.


"Ohh... Aku mengerti. Akan sangat baik jika seperti itu. Bagaimana kalau kamu coba cara itu?" tanya Tiffany.


"Kamu tenang saja, besok begitu aku datang ke rumah sakit, aku akan segera menanyakan hal tersebut. Aku akan mengabari kamu secepatnya." ucap Calvin.


Keesokan harinya, ketika Calvin sampai di rumah sakit, ia segera menanyakan perihal dirinya yang ingin meminta cuti.


"Permisi." ucap Calvin


"Iya, ada apa Calvin?" jawab atasan Calvin.


"Pak, saya ingin izin untuk cuti selama 3 minggu." ucap Calvin.


"Lama sekali, kenapa kamu mau cuti selama itu?" tanya Edbert.


Calvin pun menjelaskan kepada atasannya, Pak Edbert.


"Begini pak, saya ada urusan pribadi yang mengharuskan saya untuk menghabiskan cuti tahunan saya." jawab Calvin.


"Kalau saya boleh tau, urusan apa?" tanya Pak Edbert.


"Saya ingin menenami istri saya untuk bekerja di luar negeri selama 3 minggu, hanya 3 minggu saja." jawab Calvin.


“Hmm… Baiklah, saya akan coba pikirkan ya. Karena 3 minggu bukanlah waktu yang singkat.” ucap Pak Edbert.


Ketika Calvin sedang asik bekerja, ia tiba-tiba dipanggil ke ruangan Pak Edbert. Disaat itu ia bergegas ke ruangan Pak Edbert dan sesampainya di ruangan itu Calvin mendapatkan hal yang ia inginkan.


“Ada apa bapak mencari saya? Apa ada hubungannya dengan cuti yang saya ajukan?” tanya Calvin.


“Iya, ini berhubungan dengan cuti yang kamu ajukan.” ucap Pak Edbert.


“Bagaimana hasilnya pak?” tanya Calvin.


“Kamu boleh cuti, namun tidak bisa selama 3 minggu.” ucap Pak Edbert.


“Lalu berapa lama saya bisa cuti?” tanya Calvin.


“Kamu hanya bisa cuti selama 2 minggu, karena 3 minggu bukanlah waktu yang singkat.” jawab Pak Edbert.


“Baiklah pak, terima kasih atas usahanya.” ucap Calvin.


“Iya sama-sama. Kamu bisa kembali bekerja.” ucap Pak Edbert.


Ketika mendengar kabar tersebut, Calvin langsung terpikirkan untuk memberitahu Tiffany. Namun, ia juga ingin membohongi Tiffany terlebih dahulu. Disaat itu Calvin tidak langsung menelpon Tiffany karena menurutnya lebih baik kalau dibicarakan secara langsung.


“Tiffany, tadi aku sudah berbicara dengan atasan aku mengenai cuti.” ucap Calvin


“Bagaimana, apa katanya? Apakah kamu boleh cuti?” jawab Tiffany.


“Hmm… Katanya…” ucap Calvin.


Mendengar nada bicara Calvin, Tiffany merasa kalau Calvin tidak mendapatkan izin untuk cuti.


“Tidak bisa ya? Tidak apa-apa. Aku akan terus mengabari kamu selama di New York.” ucap Tiffany.


“Siapa bilang aku tidak bisa menemani kamu?” jawab Calvin.


“Hah? Maksud kamu?” ucap Tiffany.


“Ha ha ha… Aku bisa menemani kamu ke New York. Namun, tidak bisa selama 3 minggu.” jawab Calvin.


“Jadi kamu bisa menenami aku berapa lama?” tanya Tiffany.


“Aku cuma bisa mengambil cuti selama 2 minggu, katanya 3 minggu bukanlah waktu yang singkat.” jawab Calvin.


“Baiklah, 2 minggu juga sudah cukup. Aku sangat senang sekarang.” ucap Tiffany.


Mendengar hal itu, Tiffany benar-benar merasa sangat senang. Mereka juga langsung bergegas menyiapkan koper untuk berangkat ke New York. Walaupun Calvin akan berangkat pada minggu ke tiga setelah Tiffany berangkat.


“Hati-hati ya Tiffany… Jangan lupa mengabari aku terus. Tunggu aku, aku akan segera kesana menemani kamu.” ucap Calvin.


“Baiklah, kamu harus datang ya. Aku akan menunggu kamu.” ucap Tiffany.


----- 2 Minggu Kemudian -----


Seharusnya Calvin bersiap siap untuk menemui Tiffany yang berada di New York. Namun, ternyata ibu Calvin sakit. Hal tersebut membuat Calvin tidak bisa menyiapkan baju baju yang akan dia bawa ke New York. Disaat itu, Calvin juga langsung memberitahu Tiffany melalui ponselnya.


“Tiffany, sepertinya aku tidak bisa ke New York.” ucap Calvin.


“Ibu aku sedang sakit, sepertinya ia membutuhkan aku untuk berada didekatnya selama beberapa waktu ini.” jawab Calvin.


“Apakah ibu baik baik saja? Aku tidak bisa menemuinya.” tanya Tiffany.


“Kamu tidak perlu khawatir, kamu fokus saja sama pekerjaan kamu.” ucap Calvin.


“Baiklah, sampaikan salam aku ke ibu ya.” ucap Tiffany.


“Iya… Maafkan aku tidak bisa menemani kamu di New York.” jawab Calvin.


“Tidak apa-apa, aku sungguh tidak apa-apa. Semoga ibu cepat sembuh ya.” ucap Tiffany.


Ditengah kesibukan merancang baju untuk acara besar, Tiffany juga membuatkan setelan yang sangat cocok untuk Calvin. Ia juga mengirimnya ke Jakarta.


Dari: Tiffany.


Untuk: Calvin ku tercinta.


Calvin, aku membuatkan setelan ini khusus untuk kamu. Aku rasa ini akan sangat bagus kalau kamu yang pakai. Aku sungguh kangen sekali dengan kamu. Sebentar lagi kita akan bertemu, dan disaat itu aku ingin melihat kamu menggunakan jas yang aku berikan ini. Jangan lupa pakai jas ini ya.


2 Minggu Kemudian....


Waktu pameran baju sudah semakin dekat, karena itu Mandy sebagai orang yang menyelenggarakan acara tersebut bertanya kepada Tiffany tentang proses pakaian yang dibuatnya.


“How far has the process of making your clothes come?” tanya Mandy.


“Sejauh mana proses pembuatan pakaian Anda?” tanya Mandy.


“This is done, just check again.” jawab Tiffany.


“Ini sudah selesai, tinggal periksa lagi.” jawab Tiffany.


Tiba-tiba seorang wanita masuk ke ruangan Tiffany dan mengatakan kalau ada yang ingin bertemu dengannya.


“hello miss, out there someone wants to meet you.” ucap Bella.


“halo nona, di luar sana ada yang ingin bertemu denganmu.” ucap Bella.


“oh, who it is?” tanya Tiffany.


“oh, siapa itu?” tanya Tiffany.


“I don't know, but he's a man.” ucap Bella.


“Saya tidak tahu, tapi dia seorang laki laki.” ucap Bella.


“all right, just come in.” jawab Tiffany.


“baiklah, masuk saja.” Jawab Tiffany.


Orang yang datang tersebut adalah Calvin. Ketika melihat Calvin, Tiffany langsung berlari dan memeluk Calvin. Ia sangat rindu dengan Calvin.


“Calvin…” ucap Tiffany.


Calvin hanya bisa tertawa kecil melihat reaksi Tiffany.


“Kenapa kamu tiba-tiba berada disini?” tanya Tiffany.


“Memangnya tidak boleh?” ucap Calvin.


“Boleh tentu saja boleh, tapi bukankah kamu bilang ibu sedang sakit?” tanya Tiffany.


“Kemarin ibu sudah mendingan, jadi aku pergi untuk menemui kamu. Dan lihatlah apa yang aku pakai.” jawab Calvin.


“Calvin... Kamu memakai setelan yang aku berikan.” ucap Tiffany.


“Iya…” jawab Calvin.


“Apakah kamu menyukai setelan ini?” tanya Tiffany.


“Tentu saja, jika tidak suka tidak mungkin aku memakainya sekarang. Ini merupakan setelan paling bagus yang aku miliki.” ucap Calvin.


“Hari ini aku sangat senang, kamu tiba-tiba datang kesini tanpa memberitahu aku. Lalu kamu menggunakan setelan yang aku buat sendiri. Aku sangat senang, terima kasih Calvin.” ucap Tiffany.


“Iya, aku takut jika meninggalkan kamu sendiri lama-lama. Aku takut jika kamu diambil oleh orang lain.” ucap Calvin.


“Ha ha ha… Aku tidak akan meninggalkan kamu. Mengapa kamu tidak mempercayai aku?” tanya Tiffany.


“Ha ha ha… Aku hanya bercanda. Aku mempercayai kamu. Sudahlah, kamu lanjutkan saja pekerjaan kamu. Aku akan menunggu disini sampai kamu selesai.” ucap Calvin.


Bersambung...