The Handsome Doctor Is My Husband!

The Handsome Doctor Is My Husband!
14



Sudah sangat kesal dengan Alexa, Tiffany pun segera berdiri dan meninggalkan restoran tersebut, dan masuk ke dalam mobil. Melihat Tiffany pergi, Calvin juga langsung berdiri dan mengejar Tiffany. Namun, Alexa tetap mengikuti mereka berdua sampai masuk ke dalam mobil mereka berdua. Tiffany yang sudah sangat kesal pun tidak bisa berbicara apapun lagi.


"Sudah, tidak apa-apa. Kita biarkan saja dia ikut dengan kita. Aku tidak akan meninggalkan kamu." ucap Calvin secara berbisik untuk menenangkan kemarahan Tiffany.


Mendengar perkataan Calvin, Tiffany akhirnya berpikir bahwa Alexa bukanlah tandingannya.


"Kamu ingin makan dimana?" tanya Calvin kepada Tiffany.


"Aku mau makan di Jack's Food saja." ucap Tiffany.


"Baiklah. Pakailah sabuk pengamanmu." jawab Calvin.


Selama diperjalanan menuju restoran, Alexa terus menerus mengajak Calvin yang sedang mengendarai mobil untuk berbicara dengannya. Tiffany merasa geram dengan sikap Alexa yang terus menerus mengganggu suaminya.


"Bisakah kamu duduk dengan tenang?" tanya Tiffany.


"Apa salah aku? Aku hanya bertanya." jawab Alexa.


"Kamu itu sangat mengganggu, kalau dia sampai kelihangan fokus gimana? Kamu mau bertanggung jawab?" ucap Tiffany.


Alexa akhirnya hanya bisa menuruti kemauan Tiffany. Karena bosan diperjalanan, Alexa tiba-tiba tertidur pulas. Kemudian, mereka bertiga telah sampai di restoran tersebut. Namun, karena Tiffany melihat Alexa tidur dengan pulas, ia berpikir untuk lebih baik tidak membangunkannya agar Tiffany dan Calvin memiliki waktu berdua. Mereka berdua meninggalkan Alexa sendirian dimobil yang sedang tertidur pulas. Namun pada saat ia bangun, ia tidak melihat Tiffany dan Calvin didalam mobil tersebut.


Di dalam restoran tersebut Calvin sedang memikirkan bagaimana caranya bisa mengajak Tiffany keluar dihari ulang tahun nya tanpa mencurigakan.


"Hmm... Tiffany, hari minggu apakah kamu ada waktu?" tanya Calvin.


"Iya, memangnya kenapa?" ucap Tiffany.


"Teman-teman aku ingin mengadakan reuni lagi, sekaligus ingin meminta maaf kepada kita. Apakah kamu ada mau menenami aku?" tanya Calvin.


"Tentu saja, aku tentu saja akan datang. Aku akan membuat mereka menyesal atas apa yang telah mereka lakukan kepada kamu." jawab Tiffany.


"Baiklah, lakukanlah apa yang kamu ingin lakukan." ucap Calvin.


Setelah mereka selesai makan siang, mereka berdua harus kembali bekerja. Ketika Calvin membuka mobil, dan masuk kedalam mobil. Di dalam mobil, terlihat Alexa sedang menangis karena ditinggal. Melihat hal itu, ia langsung keluar dari mobil. Tiffany merasa langsung puas melihat Alexa yang menangis karena dirinya.


"Hahaha, kamu lihatkan tadi? Itu lucu sekali, aku sangat puas." ucap Tiffany.


"Tidak boleh seperti itu." sambung Calvin.


"Tapi itu lucu sekali, hahaha."


"Sudah, sudah. Tidak baik seperti itu." ucap Calvin.


Selama diperjalanan Tiffany berpikir kalau mereka masih kurang mengenal satu sama lain. Maka dari itu, Tiffany berinisiatif untuk menceritakan kehidupannya pada masa lalu. Ia menceritakan kalau dirinya sewaktu kecil tidak pernah didengar bahkan dianggap oleh keluarganya sendiri. Ia selalu dipaksa untuk melakukan semuanya sendiri dan harus sesuai dengan apa yang diinginkan ayahnya. Kalau tidak, Tiffany akan dimarahi habis-habisan. Makanya, sekarang Tiffany sangat berusaha untuk membuat projek Universe berjalan dengan lancar, kalau tidak, ia akan diasingkan dari keluarganya sendiri. Namun, kalau ia berhasil, ia akan mendapatkan perhatian dari ayahnya.


Mendengar masa kecil Tiffany, Calvin justru sangat prihatin. Semenjak kecil ternyata Tiffany sudah dipaksa untuk bisa melakukan segalanya. Sampai akhirnya Tiffany tidak bisa mengembangkan hobi yang dia miliki, yaitu menggambar.


Keesokan harinya, mereka berdua bertemu dengan Jason, karena Jason ingin makan bersama dengan mereka berdua. Disaat sedang menunggu makanan, Jason bertanya kepada mereka berdua.


"Hmm... Aku ingin bertanya. Kapan kalian akan memiliki seorang anak?" tanya Jason.


"Kami sedang tidak memikirkan hal itu, jadi ayah tidak usah terlalu memikirkannya juga." jawab Tiffany.


"Apa kamu bilang?! Kamu belum memikirkan hal itu?" ucap Jason.


"Ayah, ayah tenang saja. Kami akan segera mempertimbangkan perihal ini. Jadi ayah tidak perlu terlalu khawatir." jawab Calvin.


"Benar ya. Aku akan menunggu kabar baik dari kalian. Ayo mari kita makan, jangan sampai dingin." ucap Jason.


Sekarang Tiffany yang dibuat terkejut oleh jawaban Calvin.


Pada saat ingin kembali ke rumah, Tiffany akhirnya mempertanyakan maksud perkataan Calvin.


"Mengapa tadi kamu ngomong seperti itu ke ayah? Apakah itu serius?" tanya Tiffany.


"Aku tidak sedang bercanda saat ngomong itu. Lalu bagaimana dengan kamu?" ucap Calvin.


"Hah maksudnya?"


"Apakah kamu serius tidak memikirkan hal itu sekarang?" ucap Calvin.


"Tentu saja, selama ini aku melihat kalau kamu belum siap. Jadi aku tidak terlalu memikirkan hal itu lagi." jawab Tiffany.


Calvin pun menghela nafas sedalam dalamnya.


"Namun ternyata kamu memikirkan hal itu. Maka aku akan mempertimbangkannya kembali." ucap Tiffany.


"Baiklah. Oiya, besok jangan lupa untuk acara reuni aku. Tidak usah berdandan terlalu cantik." ucap Calvin.


"Kenapa?"


"Aku takut mereka akan terpesona dengan kecantikanmu. Berdandan biasa saja." jawab Calvin.


Keesokan harinya, Tiffany berulang tahun. Ia sangat menantikan Calvin mengucapkan selamat ulang tahun untuk dirinya. Ia memancing Calvin untuk mengingat hari ini merupakan hari ulang tahunnya.


"Calvin, apakah kamu ingat hari ini hari apa?" tanya Tiffany.


"Hari ini... Ohh, hari ini aku ada acara reuni. Kenapa kamu tiba-tiba bertanya seperti itu?" jawab Calvin.


"Tidak apa-apa, aku hanya merasa sepertinya hari ini, hari penting. Namun aku sendiri juga tidak tahu hari ini ada apa." ucap Tiffany.


Hingga malam Calvin tidak mengucapkan hal yang ingin ia dengar tersebut. Kemudian, pada malam hari Tiffany berdandan dengan sangat cantik. Ia memilih warna make up yang membuatnya terlihat bersinar, serta pakaian yang sangat mengagumkan. Begitu Calvin melihat istrinya keluar dari kamar, ia langsung terpesona dengan kecantikan istrinya.


"Wahh... Kenapa kamu berdandan dengan sangat cantik hari ini?"


"Hahaha, tidak apa-apa. Memangnya tidak boleh?" tanya Tiffany.


"Bagaimana kalau mereka semua terpesona denganmu. Awas saja kalau kamu meninggalkan aku karena penih memilih salah satu dari teman aku." ucap Calvin.


"Sudahlah, aku tidak akan meninggalkan kamu. Ayo kita berangkat sekarang." ucap Tiffany.


Calvin membawa Tiffany ke sebuah restoran yang sudah di desain secara romantis oleh dirinya. Mereka berdua disambut oleh pegawai di restoran tersebut. Tiffany sangat terkejut dengan kejutan yang disiapkan Calvin, ia benar-benar berpikir kalau Calvin tidak mengingat hari ulang tahunnya. Kemudian, Tiffany berjalan dengan anggun diatas karpet yang sudah digelar menuju meja makannya. Pada saat itulah, Calvin mengucapkan selamat ulang tahun untuk Tiffany sambil memberikan buket bunga mawar yang sangat besar.


Bersambung...