
Siapa sangka di pagi hari, Calvin benar-benar menyibukkan dirinya dalam pekerjaan rumah, ia membersihkan seluruh rumah tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Semua orang bingung, dan mereka bertanya kepada Calvin tentang apa yang sebenarnya terjadi. Namun, diantara mereka bertiga, ibu Calvin, bibi Calvin, dan adiknya, tidak ada yang berani menanyakan tentang apa yang sebenarnya terjadi.
"Camille, coba kamu tanya ke Calvin." perintah bibinya.
"Iya Camille, coba kamu tanyakan, siapa tahu dia mau memberitahu." lanjut ibunya.
Camille pun tidak bisa membantah perintah dua wanita itu, dan akhirnya ia menghampiri Calvin dan menanyakan tentang apa yang terjadi sebenarnya.
"Kakak, kamu sedang bertengkar dengan Tiffany ya?" tanya Camille.
"Tidak."
"Maaf telah mengganggu." jawa Camille.
Tiba-tiba, Tiffany datang ke rumah Calvin dengan membawa sekantong besar hadiah dan menyapanya dengan senyuman. Tiffany tidak berperang tanpa persiapan. Setelah membuka kotak kado, semua terkejut dengan isinya.
"Tiffany, apa maksud ini?" tanya ibu Calvin.
"Ini adalah perlengkapan bayi, bu. Aku ingin memberikan ini kepada temanku yang baru melahirkan seorang anak." jawab Tiffany dengan sopan.
Tiffany mempengaruhi ibu Calvin dengan tindakan dan kata-kata. Dia ingin menggunakan tekanan orang tuanya untuk memaksa Calvin mematuhinya.
"Buu... Lihat dehh. Lucu banget kan, kaos kaki yang mungil, lucu sekali." ucap Tiffany.
Tetapi Calvin juga punya rencana untuk membujuk ibunya sendiri dengan kata-kata. Ibu Calvin yang benar-benar tidak mengerti situasinya, tidak akan ikut serta juga dalam huru-hara ini.
"Tapi bu, bukankah kalo ibu memiliki cucu, nantinya ibu akan sulit bermain dengan teman-teman ibu?" sambung Calvin.
TiffanY, telah kalah dalam semua pertempuran dalam keluarga Calvin. Melihat senyum kemenangan Calvin, Tiffany tidak menyerah dalam masalah ini. Dia mendatangi kamar ibu Calvin, Tiffany diam-diam berkomunikasi dengan ibu Calvin.
"Tiffany. Kamu serius dengan masalah ini?" tanya ibu Calvin.
"Kenapa bu?"
"Apakah Calvin sungguh tidak mau memiliki anak?" tanyanya.
"Hmm... aku juga masih tidak mengerti alasannya." jawab Tiffany.
Nyatanya Ibu Calvin benar-benar menginginkan seorang cucu di dalam hatinya, tetapi pada saat ini, ibunya hanya ingin menjaga harga dirinya anak laki-lakinya itu. Tiffany mengatakan pada mertuanya sendiri kalau Calvin yang tidak menginginkan anak. Ibu Calvin, yang mendengarnya pun terkejut dan khawatir di dalam hatinya, dengan cepat ia membuat ramuan yang bagus untuk anaknya. Karena tekanan ibunya, Calvin harus meminum semuanya.
Malam harinya, Calvin dan Tiffany sedang duduk di kamar, tapi Calvin masih dengan keras kepala menolak hal yang Tiffany inginkan. Sampai akhirnya Tiffany tidur di kasur Calvin, yang membuat Calvin harus tidur dilantai. Kondisi rumah tangga mereka masih sangat kurang baik.
Keesokan harinya, Tiffany kembali bekerja seperti biasa. Ia mengobservasi tempat yang akan digunakan untuk konferensi pers. Ia akan mengeluarkan produk yang selama ini mmerupakan impiannya. Namun, Tiffany adalah orang yang cerdas. Ia mampu mengetahui siapa saja yang akan merusak acaranya.
“Pak Justin, bisakah kamu duduk dibawah sofa ini?” tanya Tiffany
Waduh, berbahaya sekali ini. Namun , aku tidak bisa menolaknya. Batin Justin.
Persis diatas sofa yang akan menjadi tempat duduk Tiffany, terdapat semuah lampu sorot yang sengaja dipasang secara asal-asalan agar dapat melukai Tiffany. Namun, rencana buruknya itu digagalkan oleh kecerdasan yang dimiliki oleh Tiffany. Baru saja duduk selama 2 menit, lampu sorot itu semakin terlihat ingin menimpa orang yang ada dibawahnya. Dan Pak Justin semakin merasa ketakutan hingga akhirnya ia berdiri disaat lampu sorot itu jatuh. Untungnya ia berdiri diwaktu yang tepat.
“Lihat kan lampu sorotnya jatuh? Untuk selanjutnya tolong lebih diperhatikan ya keamanannya.” Perintah Tiffany.
Tiffany dan Grace berdiri di dalam ruang kerja Tiffany, Tiffany terus memandangi orang di depannya, bahkan bertanya kepada Grace apakah ia pernah jatuh cinta. Ternyata Tiffany sedang mencari orang agar bisa memberinya solusi.
"Apakah kamu pernah jatuh cinta?" tanya Tiffany.
"Pernah." jawab Grace dengan nada bingung.
"Ok, aku meminta kepadamu untuk mendengarkan setiap kalimat yang keluar dari mulut ku." ucap Tiffany.
"Baik." jawab Grace.
"Aku mempunyai seorang teman, dia sangat menginginkan seorang anak, karena itu dia mencari seorang pria yang sangat dia sukai untuk menikah dengannya." cerita Tiffany.
"Lalu apa yang terjadi?" tanya Grace.
"Namun setelah menikah, kedua orang itu menjalani hari seperti layaknya orang yang belum memiliki pasangan, mereka bahkan tidak pernah tidur satu ranjang bersama. Karena itu, temanku mencoba untuk maju, tapi sayangnya, ia selalu gagal. Menurutmu, pria ini yang bermasalah atau temanku?" sambung Tiffany.
Meskipun Tiffany bercerita tanpa menyebut nama, Grace menduga bahwa yang dibicarakan Tiffany adalah ceritanya sendiri. Grace, yang telah membaca novel yang tak terhitung jumlahnya, dengan cepat memberikan solusi untuk Tiffany.
"Jadi, kamu dan Dokter Calvin menikah demi hal ini?" tanya Grace.
"Bukan... Sudah ku bilang ini cerita temanku." jawab Tiffany.
"Hmmm. Baiklah, menurutku temanmu ini sangat mirip dengan dirimu, jadi suruh temanmu untuk mengeluarkan sisi kharismanya sebanyak 200%." jawab Grace.
Ngomong-ngomong, Grace mengeluarkan serangkaian koleksi novel untuk referensi bacaan Tiffany. Saat ini, Tiffany hanya bisa menjadi mendengar dan mengikuti rencana di buku. Di buku tersebut, Tiffany disuruh mengenakan kostum yang mendominasi, dan datang ke rumah sakit, tetapi siapa yang tahu bahwa pasien Calvin mengalami komplikasi setelah operasi. Keluarga pasien tersebut, menuduh Calvin.
"Kalian seorang dokter palsu, ya?!" teriak keluarga pasien sambil menangis.
Melihat Calvin yang dimarahi di depan umum, Tiffany langsung ingin membantu membantah hal yang tidak benar, tetapi dihentikan oleh James di sampingnya.
"Kamu mau kemana? Jika kamu kesana, kamu justru akan memperumit keadaan." ucap James.
Tiffany mendengar itupun, hanya bisa terdiam melihat suaminya itu dimarahi. Semuanya bisa terjadi, namun itu salah satu tuduhan sebagai dokter. Mendengar ini, Tiffany harus melepaskan amarahnya. Calvin berdiri sendirian di depan jendela, tetapi Tiffany tiba-tiba muncul dan membawa Calvin ke taman hiburan.
"Calvin, apakah kamu ada waktu luang?" tanya Tiffany.
"Tidak ada." jawab Calvin.
Namun, begitu mendengar penolakan dari Calvin, Tiffany pun langsung menarik tangan Calvin dan membawanya ke mobil.
Untuk membuat Calvin bahagia, Tiffany mengajak Calvin memainkan semua jenis fasilitas hiburan. Calvin akhirnya tersenyum, melihat wajah Tiffany, Calvin sekali lagi teringat kenangan masa kecilnya bersama Tiffany. Setelah seharian bermain, Calvin dan Tiffany sedang duduk di sebuah restoran. Tiffany secara tidak sengaja mengungkapkan bahwa dia telah meminta cuti kepada atasan Calvin.
"Setelah bermain seharian, kita hanya mendapatkan boneka kecil ini." ucap Tiffany.
"Kenapa kamu membawa aku ke tempat ini?" tanya Calvin.
Bersambung...