
Keesokan harinya, Calvin merasakan seseorang bergerak mendekati dirinya untuk membangunkan Tiffany, karena itu ia sengaja berpura-pura tidur, sehingga karyawan dapat melihat penampilan mesra keduanya. Saat mereka ingin berjalan ke pintu keluar, Calvin menawarkan agar Tiffany datang ke rumah sakit untuk sarapan bersamanya.
"Tiffany, apakah kamu mau makan bersamaku di rumah sakit?" tanya Calvin.
"Iya boleh." jawab Tiffany sambil menyembunyikan perasaan gembiranya.
Ketika semua orang melihat penampilan Tiffany, kebanyakan dari mereka langsung membicarakannya. Namun, ada juga dari mereka yang langsung menanyakan hubungan mereka.
"Halo Dokter Calvin, ingin sarapan yaa." ucap salah satu rekan Calvin.
"Iyaa" jawab Calvin.
"Ini adalah adikmu ya?" tanya rekan Calvin.
"Bukan... bukan. Ini adalah istriku." jawab Calvin.
Tiffany mendengar itupun langsung menyapa rekan kerja Calvin.
"Hah?! Dokter Calvin sudah menikah?" ucap rekan kerja Calvin.
"Iya." jawab Calvin.
Lalu, mereka mencari meja untuk makan bersama. Saat makan bersama, Calvin menjelaskan kalau dia melepas cincin kawin hanya untuk kenyamanan operasi.
"Oiya, aku ingin menjelaskan sesuatu, pada saat operasi, seluruh dokter diharapkan melepaskan segala perhiasan yang dipakai, termasuk cincin. Namun, jika tidak ada jadwal operasi, aku akan memakai cincin ini." ucap Calvin sambil menunjukkan jari manisnya, dan terlihat Calvin memakai cincin pernikahannya.
"Maafkan aku, aku tidak memaksamu untuk terus memakainya, hanya saja aku takut orang lain akan mencurigai pernikahan kita." jawab Tiffany.
"Ok, baiklah."
Setelah makan, Calvin mengajak Tiffany untuk mengelilingi rumah sakit, banyak teman teman Calvin yang menanyakan hal serupa seperti yang ditanyakan oleh rekan kerja Calvin di kantin rumah sakit. Sekarang ia memegang tangan Tiffany, dan tidak segan-segan untuk memperkenalkan Tiffany kepada rekan-rekannya di rumah sakit.
Tiffany mengucapkan selamat tinggal kepada Calvin, karena Tiffany ingin datang ke bangsal William untuk menjenguknya. Tapi Alexa tiba-tiba muncul dan langsung berbicara dengan nada marah kepada Tiffany.
"Mengapa kamu ada disini?!" tanya Alexa.
"Tentu saja dia datang menjenguk ayah." jawab William.
Akhirnya Tiffany dan Wiiam manjutkan pembicaraannya. Setelah selesai berbicara, Alexa buru-buru menarik keluar Tiffany. Saat ini, Tiffany menatap Alexa yang kesal dan dengan sengaja memperlihatkan cincin kawin antara dirinya dan Calvin.
Siang harinya, Alexa datang ke kantor Calvin dan sengaja ingin memperdekatkan diri dengan Calvin. Alexa datang sambil membawakan bunga mawar untuk Calvin. Melihat hal tersebut, James membantu Calvin untuk meninggalkan Alexa. Melihat rencananya sendiri gagal, Alexa pergi dengan marah. Namun, James merasa kalau Alexa adalah perempuan yang menarik.
Sesampainya di rumah, Tiffany sudah menyiapkan rencana untuk menggoda Calvin. Ia akan menggunakan keterampilan memasak untuk mengunci hati Calvin. Setelah meminum sup yang disiapkan khusus oleh Tiffany, Calvin cukup puas. Melihat Calvin meminum sup tersebut, Tiffany langsing bergegas mandi dan sengaja meninggalkan handuknya. Lalu Tiffany meminta Calvin datang ke kamar mandi untuk membawakannya handuk.
"Suamiku.. Tolong bawakan handuk untukku." teriak Tiffany dari kanar mandi.
"Baiklah, sebentar."
Calvin masih menahan segala godaan, dan ia menggunakan tiang untuk mengantarkan handuknya. Saat kembali ke kamar tidur, Calvin merasakan detak jantungnya semakin cepat, dan ia merasa kepanasan. Melihat mangkuk sup kosong di atas meja, Tiffany tahu kalau strateginya berhasil, dan dengan cepat memulai tahap "godaan". Tidak hanya rangsangan verbal, tetapi juga kontak fisik dan isyarat mata, Calvin akhirnya tidak tahan. Ia meletakkan Tiffany di tempat tidur.
Calvin perlahan mendekati Tiffany. Melihat Calvin yang mimisan, Tiffany langsung menghela nafas.
Calvin langsung mengerti apa yang terjadi dengan dirinya. Ia sangat marah dengan Tiffany. Siap untuk berdiskusi serius dengan Tiffany.
"Kita harus bicara tentang ini." ucap Calvin dengan tegas.
Setelah Calvin menenangkan dirinya, Ia akhirnya mulai berbicara kepada Tiffany.
"Jadi, kamu menikah denganku, hanya demi bisa dengan sah melahirkan anak?" tanya Calvin.
Calvin mendapatkan jawaban dari Tiffany hanya dengan cara melihat raut wajahnya, meskipun Tiffany tidak menjawab pertanyaan Calvin, tetapi Calvin sudah mengetahui jawabannya.
"Mengapa harus aku?" tanya Calvin.
"Kamu adalah pria berbakat, keren, tampan, pintar, baik. Tentu saja harus kamu. Kamu juga tidak perlu khawatir, aku tidak akan merepotkanmu jika memiliki anak. Hubungan kita juga tidak akan lebih dari 1 tahun." jawab Tiffany.
"Kamu... sungguh ini yang kamu pikirkan? Kamu sangat tidak ingin ayah dari anak itu tetap bersama kalian?" tanya Calvin.
Dan Calvin mendengar Tiffany berkata bahwa dia bersedia memiliki anak dan tidak membutuhkan Calvin untuk bertanggung jawab.
"Aku merasa bisa membesarkan anakku dengan baik, aku memiliki finansial yang sangat bagus, aku juga bisa memberikan seluruh kasih sayangku untuknya. Jadi aku rasa, haruskah anakku memiliki seorang ayah?" ucap Tiffany.
"Tiffany.. ini bukan tentang harus atau tidak harus." balas Calvin
"Calvin, kamu lihatlah aku, aku adalah wanita yang keren. Jika aku menikahi orang lain, pasti sudah berhasil sejak awal."
"Apa kamu bilang?? Orang lain?? Jadi, jika diriku tidak ada, kamu akan mencari orang lain untuk menjalankan rencana mu??" tanya Calvin.
"Apakah tidak boleh?" Tiffany menjawab dengan nada yang sangat polos.
"Tidak boleh." balas Calvin dengan nada geram.
Mendengar rencana Tiffany. Calvin mengetahui bahwa dia telah menjadi "alat peraih kesuksesan" Tiffany. Dua orang dengan emosi yang tidak baik dan memiliki perbedaan pendapat itu pun mulai bertengkar.
"Kamu tidak bisa seenaknya seperti itu, orang yang dewasa saja masih kesulitan untuk membesarkan anak. Apalagi kamu yang masih kekanak-kanakan san konyol." ucap Calvin
Ia mulai tidak bisa mengontrol emosi yang ada di dalam dirinya. Disaat yang bersamaan, Tiffany juga mulai berkoar-koar.
"Apa?! Kekanak-kanakan dan konyol? Kenapa kamu bisa tahu aku tidak dewasa? Memangnya kamu pernah melihatnya? Seenaknya saja mengatakanku tidak dewasa. Memang kamu sedewasa apa?" jawab Tiffany tidak ingin kalah.
"Setidaknya aku memiliki prinsip 'anak adalah hasil dari kedua orang dewasa yang saling mencintai.' Sedangkan kita tidak. Jadi aku tidak akan melahirkan anak denganmu." balas Calvin.
Setelah menyampaikan hal itu, Calvin meninggalkan rumah Jason. Akhirnya pulang ke rumahnya sendiri. Keluarga Calvin sangat bingung sejak dia melihat Calvin pulang di tengah malam.
"Calvin... Ada apa kamu malam-malam datang kesini?" tanya ibu Calvin.
"Aku hanya rindu dengan rumah ini. Hari ini aku sangat lelah karena melakukan operasi, jadi aku ingin beristirahat." jawab Calvin.
Seluruh anggota keluarganya sangat bingung dengan keberadaan Calvin yang tiba-tiba datang ke rumahnya. Ibunya berpikir kalau Calvin dan Tiffany sedang bertengkar, namun karena tidak ingin membuat ibunya khawatir, Calvin menyangkal kalimat itu. Calvin mengatakan kalau mereka tidak bertengkar.
Bersambung...