
Sesampainya dikamar aku meraih sebuah buku di rak. Aku duduk di kursi dan membaca bukunya, buku itu yang berjudul 'Sejarah Para Peri dan Manusia' itu berisi kisah tentang seorang pahlawan yang membuat perjanjian dengan peri.
Isi dari perjanjian itu ialah perdamaian untuk para manusia dan peri, karena zaman dahulu keduanya saling berperang.
Manusia menangkap peri sebagai budak jadi mereka punya keinginan memberontak tapi, perselisihan itu diredam oleh perjanjian pahlawan.
"Buku ini sangat membantu! Aku bisa memahami para peri" kataku sambil menutup buku yang bersampul emas putih itu.
Tok tok tok...
"Siapa? Ada apa mencari ku?" kataku meletakkan buku itu dan berjalan membukakan pintu.
"Putri, kelas akan segera dimulai dimohon putri untuk menghadirinya!" kata orang di sebalik pintu.
"Oh! Benar!, Tapi, siapa kau dan aku tidak pernah melihatmu? Apa kau orang suruhan Titania?" balasku.
Dia menggelengkan kepalanya dan memberikan ku dua buah buku sejarah.
"Putri, saya adalah guru para peri. Ratu tidak menyuruh saya untuk menjemput anda tapi, saya harus menjemput anda karena siswa yang lain sudah hadir" katanya.
"Oh baiklah, maaf sudah merepotkan mu. Oh ya guru siapa namamu?" kataku sambil berjalan mengikutinya dari belakang.
Dia seketika berhenti dan menoleh ke arahku.
"Putri panggil saya Leon, itulah nama saya" sahutnya dan melanjutkan jalannya.
Hmm kenapa nama ini sangat familiar untukku? Apa aku pernah mendengarnya? Tapi dimana?
Banyak pertanyaan yang muncul saat mendengar nama itu.
Kraak!
Pintunya terbuka dan terlihat di dalamnya ada beberapa peri seumuran ku.
"Semua pelajaran akan dimulai harap duduk dengan tenang! Putri silahkan pilih tempat duduk mu!" katanya mempersilahkan ku.
Ada tujuh meja panjang dengan satu meja sepuluh bangku. Aku berjalan dari satu baris meja ke baris meja lain.
Aku sudah memilih tempat dudukku tapi, salah satu dari mereka mengejekku.
"Hoi! Siapa yang mengizinkan mu duduk di situ! Itu adalah tempat untuk pangeran Nico! Apa kau tidak tau ha? Dasar peri tanpa sayap!" katanya sambil tertawa dan diikuti tawa murid lain.
Aku mengepalkan tangan dan mencoba untuk sabar serta menjawabnya dengan tenang.
"Oh... Jadi menurutmu apa aku harus duduk dilantai?" kataku dengan nada meremehkan.
Sebenarnya aku tau peri itu tidak bisa melihat makhluk lain merangkak kasihan dilantai seperti itu.
"Kamu!!! Apa kau pikir aku tidak berani membiarkanmu duduk dilantai!" sambungnya.
"Oh benarkah?... Apakah kau benar benar tega berbuat seperti itu padanya!" kata seseorang dibelakang ku.
Aku terkejut dan menoleh kebelakang, seketika semua peri ramai.
"Siapa kau? Apa kau datang juga untuk mengejekku?" kataku dengan tegas.
Dia tersenyum, aku melihat peri itu. Dia bersayap hitam berkilau dengan mata biru tua yang terasa dingin.
"Oh apakah ini tuan putri bunga emas yang dirumorkan itu?" sambungnya.
"Benar pangeran" kata peri bersayap hijau disampingnya.
"Pangeran? Apa kau pangeran yang dikatakan olehnya! Apa rumor yang kau katakan itu!" kataku.
"Halo salam kenal putri, saya adalah pangeran peri hitam ke dua nama saya Nico. Saya mendengar putri sedang menjadi pembicaraan utama para peri loh" katanya sambil berjalan mendekati ku.
Aku berjalan kebelakang dan aku agak takut dengan sorot matanya itu. Tapi, aku sudah tidak bisa mundur lagi karena ada meja.
"Eh a-apa maksudmu! Menjauhlah!" kataku geram.
"Heh...apa putri tidak suka dengan ku? Kalau anda tidak suka tidak apa apa kok, saya kemari untuk membantu putri" jawabnya.
Dia akhirnya menjauh dariku, sementara aku bingung dengan apa yang terjadi. Aku berfikir apa yang akan dia lakukan.