The Fairy And Human Princess

The Fairy And Human Princess
Perasaan Sang Putri#3



Setelah meletakkan buku, aku bergegas untuk menemui Nico. Namun, ditengah perjalanan aku di hadang oleh seorang peri. Dia itu ternyata adalah teman dari peri yang mengejekku di kelas.


"Berhenti!! Apa kau peri tanpa sayap yang berani melawan teman ku?" tanyanya.


Dia bertanya padaku seolah hendak memakan diriku. Tapi, aku tidak takut sama sekali dengannya.


"Hmph..ada urusan apa kau menghadang ku! Memangnya kenapa jika aku melawan, apa kau tau aku melawannya karena membela diriku sendiri" jawabku dengan tegas.


Dia terlihat kesal dan hendak menampar diriku. Tapi, sesuatu yang tidak terduga menghampiri ku.


"Apa yang kau lakukan pada putri!!! Apa kau tau memukul putri ratu hukumannya adalah mati? Apalagi kau memukul di dalam lingkungan istana!" kata Rion.


Ternyata yang datang adalah Rion, dia langsung menangkap tangannya.


Si peri tadi tampak ketakutan melihat kedatangan Rion. Saking takutnya, dia sampai pucat dan bersimpuh di lantai.


"M-maafkan saya....t-tuan Rion, saya tidak...tidak bermaksud untuk mencelakai putri" ucapnya sambil gemetar ketakutan.


"Pergilah!! Jangan sampai aku melihat mu lagi, kalau tidak aku akan mematahkan sayap mu!" sahut Rion.


Peri itu pun lari tunggang langgang mendengar perkataan Rion. Aku juga sempat berfikir bahwa Rion ternyata lumayan menyeramkan juga.


"Anu... terimakasih sudah membantu ku, tapi aku tidak perlu bantuan mu" kataku dan melangkah mundur perlahan.


Dia menoleh ke arahku dan berjalan mendekati ku.


"Putri, apa kau takut padaku? Aku akan pergi jika putri tidak suka padaku" balasnya.


Aku merasa bersalah telah membuat dia berkata seperti itu. Aku pun memberanikan diri untuk mendekatinya.


"T-tidak kok, aku tidak membencimu. Malah sebaliknya, aku menyukai mu" kataku padanya.


Aku mengatakan itu karena, aku memang menyukainya sebagai teman. Tapi, diriku tidak tahu apa yang sedang ia pikirkan sekarang.


"P-putri...apa kau benar-benar menyukai ku?" dia bertanya padaku dengan ekspresi wajah yang memerah.


"Tentu!" aku menjawab pertanyaan itu dengan penuh keyakinan.


Namun, entah kenapa dia sepertinya salah mengira maksudku.


Aku melangkah hendak melewatinya namun, dia lagi lagi menahan ku. Kali ini dia bertingkah agak aneh daripada sebelumnya.


"A-anda mau kemana putri? A-apakah saya boleh mengantarkan anda?" ucapnya dengan gugup.


"Ini....aku hanya ingin ke taman istana kok. Tidak perlu kau mengantarkan aku" jawabku.


Dia nampak kecewa dengan jawaban ku. Setelah itu, dia memutuskan untuk berpamitan dengan ku.


"Ya ampun...kenapa setiap hari sikapnya aneh sekali" keluhku.


Aku sudah sampai di taman istana, tempat ini adalah tempat pertama yang aku datangi saat itu.


Nampak dari kejauhan ada seorang peri. Mungkin saja, itu adalah Nico.


"Halo, apa putri menunggu lama disini?" tanyanya padaku.


Dia menyembunyikan tangannya kebelakang.


"Tidak juga, oh ya apayang ada dibelakang mu?" tanyaku padanya.


Dia tersenyum melihat wajahku. Dia tiba tiba berjongkok di depanku.


"Putri, ini adalah bunga mawar merah untukmu sebagai tanda maaf dariku. Apakah putri mau menerima maafku?" dia bertanya padaku dengan penuh perasaan.


Mendengar perkataan itu aku bingung mau berkata apa.


"Aduh...kau memberiku terlalu banyak bunga. Untuk apa kau meminta maaf?" kataku.


Dia berkata bahwa ia meminta maaf atas sikapnya saat dikelas tadi.


"Emmm....tapi aku tidak bisa menerima bunga sebanyak itu" jawabku.


Mendengar perkataanku, dia mengambil satu tangkai bunga mawar dan memberinya padaku. Aku pikir jika hanya satu tangkai saja tidak masalah.


"Baiklah, kalau begitu terimakasih" kataku.


Setelah aku menerima tangkai bunga itu, dia langsung membuang bunga yang lain. Tapi, aku kenapa merasa bahwa ada yang mengintai diriku.