The Fairy And Human Princess

The Fairy And Human Princess
Aku adalah putri yang terbuang#1



Saat ini aku adalah putri di Istana Kekaisaran. Aku putri ke tiga dari Ratu Kaisar sebelumnya.


Tubuhku yang lemah dan wajahku yang buruk, menjadikan ku sebagai bahan penindasan bagi para saudara ku. Dipukul, dimaki-maki, dan dicela itu sudah menjadi makanan sehari-hari ku.


Suatu hari di musim salju yang sangat dingin, hawa dingin yang kuat bagaikan menusuk kulit ku.


"Hey Mary!!!, kau diminta oleh ibu untuk pergi ke hutan mencari kayu bakar" ucap kakak kedua ku yaitu Diana. "Tapi, diluar udaranya sangatlah dingin" jawabku.


"Apa kau bilang!, kau berani membantah perintah ku!, aku adalah kakak mu dan seharusnya kau menuruti perintah ku" ujarnya.


"Ingatlah kau itu putri yang sudah di abaikan. Kau itu lemah dan buruk rupa, jadi seharusnya kau menjadi pelayan saja! hahaha" lanjutnya.


Aku tidak bisa membantah kata kata nya, jadi mau tidak mau aku harus pergi ke hutan. Aku mengambil jaket ku dan pergi mengumpulkan kayu bakar. "Bagus!!!, pergilah kau serangga parasit dan jangan kembali lagi" ucapnya saat aku hendak melewati dirinya.


"Kakak, kalau begitu adik pergi dulu" kataku pura pura tidak tahu.


"Huh... akhirnya aku sampai juga. Kalau begitu harus cepat mengumpulkan kayu bakar" kataku penuh semangat.


Dua jam setelah aku mengumpulkan kayu bakar, tiba tiba di dekat semak semak terdengar suara raungan hewan buas.


Goarrr!!!


Hewan itu menampakkan dirinya, ternyata itu adalah kawanan harimau yang sedang mencari mangsa. Mereka tampak sangat kelaparan.


"Aaaa!!!, kalian jangan mendekat!, Menjauhlah dariku!" ucapku terkejut dan ketakutan.


Aku pun berlari dan berteriak meminta tolong sambil berusaha untuk menghindari serangan mereka.


Aku berlari sejauh dan secepat mungkin, namun aku terlalu lemah jadi aku tidak bisa melarikan diri dari kawanan harimau itu.


"K-kaki ku sakit sekali, aku sudah tidak bisa berlari lagi" kataku sambil terengah engah.


Kawanan harimau itu berhasil memojokkan ku, mereka semakin mendekat. Mereka nampak seperti ingin menerkam ku.


"Kalian menjauhlah!, atau aku akan memukul kalian!" kataku sambil memegang tongkat kayu yang ada di belakang ku.


Goarr!!


"J-jangan makan aku. Aku tidak boleh mati di sini" kataku sambil meringis menahan sakit akibat serangan salah satu harimau.


Namun, hawa dingin yang sangat kuat membuat ku tidak bisa menahannya lagi. Aku sudah tidak bisa menggerakkan tubuhku lagi, "A-ku tidak boleh berakhir, harus pulang dan mengantarkan kayu bakar untuk ibuku supaya bisa mendapatkan kasih sayang dari ibu" kataku dengan tekad yang kuat.


Tapi, takdir berkata lain. Aku jatuh tak sadarkan diri, "hangat sekali, namun juga sangat dingin. Ah... apakah aku sudah mati?" pikirku pasrah.


Setelah itu pun aku tersadar serta melihat kesekitar. Namun anehnya, aku masih berada di tempat semula.


"Eh? kenapa aku masih ada disini?, bukankah seharusnya aku sudah dimakan oleh harimau itu?, kenapa lukaku juga sembuh?" aku bertanya tanya pada diriku sendiri yang mengalami ke anehan itu. Kemudian aku pergi mengambil kayu bakar yang sudah aku kumpulkan, hari semakin siang aku pun sampai di rumah. Aku masuk ke dapur dan meletakkan kayu nya di sana.


"Oh putri anda dari mana saja seharian ini?, saya sangat mengkhawatirkan anda!" ucap pelayan yang bernama Lia, dia adalah satu satunya orang yang peduli padaku. "Maaf Lia aku sudah membuat mu khawatir, aku pergi kehutan mencari kayu bakar" kataku.


"Hahaha, apakah kau Mary!, sudah lama aku tidak bertemu dengan mu. Apa kau lupa dengan kakakmu ini?" tanya Alice dia adalah kakak tertua ku.


"Mana mungkin aku melupakan mu kakak" jawabku dengan senyum yang terpaksa.


"Baguslah, Tapi aku tidak suka kau memanggilku seperti itu. Panggil aku putri pertama!" sahutnya.


"Kenapa ?" tanyaku.


"Kau tanya kenapa?, itu karena aku merasa jijik dengan mu. Ckckck, apa kau masih tidak menyadari bahwa kau itu sangat buruk rupa" katanya dengan sombong.


Aku yang mendengar perkataan itu hanya bisa tersenyum dan menahan air mata, karena aku sadar bahwa diriku memang sangat buruk dan lemah. Kakakku pun pergi, Lia berkata padaku bahwa aku harus tetap sabar dan aku menjawab nya dengan senyuman.