
Setelah itu, aku masuk kedalam kamar dan ternyata Lia ada didalam kamarku. Aku bertanya padanya kenapa dirinya ada di dalam kamarku.
Dia menjelaskan bahwa dirinya ada didalam kamarku karena dia ingin bertemu denganku.
"Putri, bagaimana keadaan anda?" tanyanya padaku sambil berjalan kearah ku.
"Aku baik baik saja Lia, kenapa kau menanyakan hal ini padaku?" aku balik bertanya padanya.
"Saya datang kemari karena saya merasa bersalah sudah membohongi anda" jelasnya.
Dia pun menarik kursi dan mempersilahkan ku duduk. Dia juga mengambil beberapa kue dan menyeduh teh.
"Silahkan dinikmati putri" katanya.
"Terimakasih Lia, oh ya ngomong ngomong kenapa kau begitu merasa bersalah? Padahal aku sama sekali tidak marah ataupun sedih" kataku sambil meminum tehnya.
Dengan penuh hormat dia menjawab nya.
"Putri, bukankah saya sudah mengatakannya, saya juga sangat berterima kasih kepada anda karena putri tidak marah kepada saya" katanya padaku sambil tersenyum manis.
Aku juga membalas senyuman itu, namun tiba tiba badanku merasa tidak enak.
"Uhuk uhuk uhuk... Maaf ya Lia, badanku sedikit tidak enak" kataku.
"Putri apakah anda sakit? Saya akan memanggil dokter kemari" ucapnya dengan khawatir.
Aku menggeleng dan berkata bahwa diriku hanya sedikit kelelahan saja. Namun, dia tetap tampak khawatir padaku.
"Kalau begitu sebaliknya putri istirahat saja dan jangan biarkan badan anda kelelahan lagi" katanya.
Aku mengangguk dan beranjak keatas tempat tidur. Aku berbaring dan Lia mengambil selimut untukku.
"Putri selamat beristirahat, saya ada sedikit urusan yang harus diselesaikan dan nanti saya akan kemari lagi" ucapnya dan setelah itu dia pergi.
Entah kenapa aku merasa tidak nyaman dan seperti ada yang aneh dalam diriku. Aku berusaha untuk melupakan perasaan itu dan lekas tertidur.
Saat aku tidur, aku bermimpi bahwa aku berada di rumah lamaku. Disana aku juga bertemu dengan seorang gadis yang tidak jelas mukanya, ia mengenakan pakaian serba putih dan bermahkota.
"Eh... Kenapa aku ada disini? Apakah ini nyata?" gumamku bingung.
"Ini adalah alam bawah sadar milikmu" kata gadis misterius itu.
Aku terkejut dan melangkah mundur.
"Siapa kau! Kenapa kau bisa ada dalam mimpiku dan juga aku tidak pernah melihatmu sebelumnya" kataku.
Dia terdiam beberapa saat kemudian, tersenyum dan menjawab pertanyaan dariku dengan lembut.
"Kenapa kau tidak mengenali wajah ku Mary, padahal aku sangat bahagia bisa bertemu denganmu. Ternyata kau sudah menjadi gadis dewasa sekarang" jelasnya.
Aku merasa bingung dan heran dengan apa yang dikatakannya itu. Aku mengerutkan keningku dan berfikir.
"Maaf tapi aku benar-benar tidak tau siapa kau dan apakah kita pernah bertemu sebelumnya? Mengapa kau nampak sangat mengenaliku?" tanyaku.
Dia terdiam dan tiba tiba bayangan alam bawah sadar milikku berubah, yang semula dari rumah lamaku sekarang menjadi berada di sebuah taman yang indah.
Aku tidak pernah melihat taman itu, tapi anehnya aku merasa sangat familiar terhadapnya.
"Kau akan segera mengetahui semuanya, Mary" jawabnya.
Aku bertambah bingung dengan jawabannya itu. Tiba tiba, ada seorang anak kecil yang mirip denganku berlarian ditaman itu. Disana juga ada seorang wanita dengan rambut pirang panjang dan bermata emas. Terdapat juga satu orang pelayan wanita yang mirip dengan Lia.
"Siapa anak kecil itu? Dan siapa wanita yang ada disana? Kenapa aku merasa sangat familiar dengan mereka?" kataku.
"Anak kecil itu adalah kau dan wanita itu adalah ibumu yang asli, kau merasa sangat familiar karena mereka adalah keluarga mu" jelasnya padaku.
Aku tambah tidak mengerti apa maksud dari perkataan gadis misterius itu. Kepalaku sakit memikirkan semua hal ini.
Kemudian, dia berkata lagi dan setelah itu pergi.
"Mary, jika saatnya sudah tiba kau akan mengetahui semuanya. Kau temui lah Titania dan katakan padanya untuk membawamu kelembah Aurora saat malam bintang keseribu" katanya.
"Malam bintang keseribu? Apa itu? Dan juga lembah Aurora? Sebenarnya apa maksudmu!" tanyaku dengan bingung.
Namun, dia tidak menjawab pertanyaan dariku dan langsung pergi.
Setelah itu, aku pun terbangun dengan terkejut.
"Huh... Ternyata hanya mimpi, tapi kenapa bisa begitu nyata. Apakah ini adalah suatu pertanda untukku?" gumamku.
"Fiuh... Sudahlah, daripada memikirkan hal itu lebih baik aku lanjut istirahat saja" sambung ku.
Namun, tiba tiba ada suara orang yang mengetuk pintu kamarku. Saat itu juga aku tidak jadi melanjutkan tidurku lagi.
Tok tok tok...
"Mary, apakah aku ada di dalam?" teriak seseorang dibalik pintu.
Suara itu terdengar seperti suara milik Titania, setelah itu aku segera berjalan dan membukakan pintu.
"Ada apa? kenapa kau kemari Titania?" kataku.
Dia menjawab bahwa ia datang kemari karena mendengar kabar jika aku sakit. Dia juga membawa seorang dokter yang tampak hebat dan ahli kemari hanya untuk memeriksa kondisi tubuhku.
"Kau berbaringlah dulu dan biarkan dokter ini mengobati dirimu. Haduh.... kenapa kau bisa sampai sakit, apa kau tau betapa paniknya aku saat mendengar kau sakit" keluhnya padaku.
Aku melihat raut wajahnya dan tampak sekali bahwa ia memang khawatir padaku. Dia juga tampak sangat sedih seakan aku akan pergi meninggalkannya.
"Kau jangan sedih, aku hanya kelelahan sedikit kok. Lagi pula ini pasti bisa disembuhkan dengan cepat kan" kataku untuk menenangkan dirinya.
Setelah dokter selesai memeriksa, ia pun memberikan obat untukku. Dokter juga berpesan supaya aku tidak kelelahan lagi.
Aku dan Titania berterima kasih kepada dokter yang telah memeriksa kondisi tubuhku, setelah itu dia pun pergi.
"Kenapa kau bisa kelelahan Mary? Apakah kau melakukan aktivitas yang berlebihan?" tanyanya padaku.
Dia mengelus rambutku sambil tersenyum.
"Emm aku hanya melakukan beberapa aktivitas hari ini, namun yang paling membuat aku lelah mungkin saat aku mengunjungi ruangan senjata" jelasku.
Titania mengerutkan keningnya dan secara tiba tiba dia memanggil Rion untuk menghadap padanya.