The Fairy And Human Princess

The Fairy And Human Princess
Jawaban #1



Setelah aku bertemu dengan Nico, akupun kembali ke kamarku. Saat berjalan aku merasa bahwa ada yang mengikuti diriku.


Aku seketika terhenti dan menoleh kebelakang.


"Eh? S-siapa disana! Tunjukkan dirimu dan jangan menakuti ku!" aku berteriak untuk memastikan bahwa memang ada orang yang mengikuti diriku.


Sreek sreek sreek....


Sepertinya dia bersembunyi di balik semak-semak. Aku hendak menghampiri semak semak itu, tapi saat aku sampai disana tidak ada apa apa.


"Aneh... Kenapa kosong? Padahal aku tadi mendengar ada orang di sini" kataku keheranan.


Tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundak ku. Setelah aku menoleh kebelakang ternyata itu adalah pelayan.


"Putri... Sedang apa anda disini? Saya diperintahkan oleh Ratu untuk menjemput putri" katanya.


"Ha? O-oh begitu ya.... Kalau begitu kenapa Titania menyuruhmu untuk menjemput ku? Apa ada masalah?" kataku menahan keterkejutan akibat dari kedatangan pelayan itu.


Pelayan tadi tidak menjawab pertanyaan yang aku berikan. Namun, saat ditengah jalan dia mengatakan sesuatu.


"Putri, apakah anda bisa menghadapi sikap Lia yang sekarang ini?" tanyanya.


Aku terkejut dengan pertanyaan yang diajukan oleh si pelayan. Aku berfikir kenapa dia bisa tau sikap Lia yang akhir akhir ini berubah drastis padaku.


"K-kau kenapa tiba tiba menanyakan hal ini padaku? Apa kau tau apa sebab dari sikap Lia padaku akhir akhir ini?" tanyaku.


Aku tadinya bertanya hanya untuk memastikan saja sikap Lia padaku. Tapi, si pelayan itu tidak menjawab pertanyaan yang aku berikan.


Setelah itu, dia mengatakan sesuatu lagi.


"Putri... Yang Mulia Ratu ingin bertemu dengan anda. Harap putri untuk menjaga sikap" katanya.


Aku bingung dengan perkataan si pelayan. Sebenarnya apa yang dimaksud oleh si pelayan ini?


Kenapa perkataan dari mulutnya itu membuat aku sangat bingung?. Aku terus berfikir tentang perkataannya barusan.


"Silahkan putri..." ucapnya mempersilahkan ku menemui Titania.


Setelah mengantarkan ku menemui Titania, dia langsung beranjak pergi.


"T-tunggu... Aku ingin tau apa yang terjadi pada Lia!" kataku berusaha untuk menghentikan si pelayan.


"Putri akan tau pada masanya, kalau begitu saya permisi dulu" jawabnya dan pergi.


Aku mendengar perkataan itu dan membuat diriku semakin bingung dengan sikap Lia.


Aku berfikir untuk bertanya kepada Titania namun, seperti dia sedang memiliki suasana hati yang buruk.


"Mary! Masuklah" perintahnya pada ku.


"B-baiklah... Kenapa kau mencari ku Titania? Apakah ada masalah yang harus aku hadapi?" tanyaku padanya.


Dia melirik tajam kearah ku, seketika itu juga diriku merasa tertekan dan membeku didalam es.


"Aku hanya ingin mengatakan satu hal padamu! Yaitu.... Apakah kau benar benar tidak merasa sedih karena Lia mengabaikan dirimu?" dia bertanya padaku dengan nada yang sangat serius.


Ternyata dia ingin membahas masalah sikap Lia padaku.


"Emmm... Kebetulan sekali, aku juga ingin menanyakan kenapa Lia mengabaikan ku?" kataku.


Titania mengerutkan keningnya dan terus menatap diriku.


"Mary!! Apa kau bisa menjawab pertanyaan dariku terlebih dahulu! Kau jangan membalas pertanyaan dengan pertanyaan!" katanya dengan tegas.


Aku terperangah dan tidak bisa berkata apa-apa.


Aku dengan lembut menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Titania untuk ku.


Tetapi, Mary juga tidak sedih karenanya. Mohon Yang Mulia Ratu untuk tenang dan jangan menghukum Mary" jawabku dengan lembut dan penuh hormat kepadanya.


Dia menghela nafasnya dan kembali menatap diriku.


Dia bertanya padaku tentang kebenaran dari perkataan yang aku katakan. Aku menjawabnya dengan tenang dan berkata bahwa aku sama sekali tidak marah serta sedih karenanya.


"Pelayan!! Panggil pelayan Lia kemari! Suruh dia menemui diriku!" perintahnya pada salah satu pelayan.


"Maaf Yang Mulia Ratu... Kenapa anda memanggil Lia?" tanyaku padanya dengan berhati hati.


Dia berjalan menghampiri diriku dan membisikkan sesuatu di telinga ku.


"Kau akan mengetahui semuanya" bisiknya.


Aku bertambah bingung dengan perkataan darinya. Setelah itu, Lia datang menghadap Titania.


"Pelayan Lia memberi hormat kepada Ratu..." hormatnya.


"Hmph... Lia apa kau tau sikapmu akhir akhir ini sangat tidak sopan kepada Putri?" kata Titania pada Lia.


Lia berlutut dihadapan Titania dan dengan pasrah dia mengatakan sesuatu.


"Mohon ampun Ratu.... Saya sadar sikap saya pada putri sangat tidak sopan. Harap Ratu menghukum saya" jawabnya.


Mendengar pengakuan dari Lia, aku merasa tidak tega kepadanya. Aku memohon pada Titania untuk tidak menghukum Lia.


"Titania... Kau tidak perlu menghukum Lia! Jika kau ingin menghukum dirinya maka, hukumlah aku saja!" mohon ku padanya.


Titania tersenyum padaku dan dia mengatakan apakah aku benar benar sanggup menggantikan Lia untuk menerima hukuman.


"A-aku sanggup untuk menerimanya!! Tapi kau lepaskanlah Lia untukku" pintaku padanya.


"Hmph... Baiklah kalau begitu! Pelayan bawa satu cambuk Milikku kemari!" katanya.


Saat pelayan yang membawa cambuk itu datang dan menyerahkan cambuknya pada Titania, tiba tiba Lia berdiri dan berkata satu hal yang membuat semua peri di sana terdiam.


"Tunggu nyonya Ratu!! Mohon nyoya jangan menghukum Mary. Mary terlalu lemah untuk menerima hukuman dari anda, biarkan saya saja yang menerimanya" kata Lia.


Aku terkejut dengan perkataan yang Lia katakan. Aku marah kenapa hanya karena aku lemah jadi bisa diperlakukan seenaknya saja.


"Apa yang kau lakukan Lia! Kenapa kau terus menganggap ku lemah dan tak berdaya!! Aku sanggup menerima hukuman ini untukmu dan kau jangan menghalangi ku" kataku.


Lia hanya diam mendengar perkataan dariku. Sementara itu, Titania sudah merentangkan cambuk miliknya itu.


"Apa kalian hanya akan berdebat di sini! Aku yang menentukan siapa yang menerima hukumannya! Mary aku memilih dirimu untuk menerimanya" ucap Titania.


Lia nampak terkejut dengan perkataan Titania, sedangkan aku hanya bisa pasrah untuk menerima hukumannya.


"Ratu tunggu!! Bukankah saya yang membuat kesalahan ini! Jadi hukumlah saya!" ucap Lia.


"Hmph! Beraninya kau membantah perintah ku!" katanya.


Titania mengangkat cambuknya, aku berfikir dia ingin mencambuk diriku dengan keras. Tapi, alangkah terkejutnya aku saat itu.


"Pfft...hahaha.... Apa kalian benar benar berfikir aku sanggup melakukan ini? Tenanglah aku hanya bercanda dan aku ingin menguji kesabaran kalian. Ternyata Lia ini walaupun di tau aku sedang menguji kesabaran Mary, tetap saja dia terbawa suasana" kata Titania.


Semua orang disana tertawa dan aku sangat bingung dengan apa yang terjadi. Wah wah apa yang terjadi? Kenapa aku seperti sedang dijadikan bahan candaan?.


"Aduh Mary... Kau menampakkan wajah yang sangat lucu. Sebenarnya kami sudah pernah berkata akan menguji dirimu kan?" tanyanya.


"Benar! Oh apakah ini semua bagian dari ujian? Kau berniat menguji kesabaran diriku dengan cara membuat Lia mengabaikan ku dan setelah itu kau ingin mencambuk dirinya" ucap ku.


Akhirnya aku mengerti apa alasan Lia mengabaikan ku selama ini.


Titania mengangguk dan berkata bahwa aku telah lulus ujian pertama, dan aku sudah di akui bahwa diriku memiliki kesabaran yang kuat.