
Hari semakin malam jamuan pun selesai, kemudian aku diantar oleh Titania menuju ke kamar. Saat telah sampai aku sangat terkejut.
"Titania, kenapa kita berada di ruangan yang besar lagi? Katanya kau ingin mengantarkan ku ke kamar" kataku heran.
Dia tersenyum dan membuka pintu ruangan itu.
"Apa kau tidak suka Mary. Ini adalah kamar yang aku siapkan untukmu dan kau tidak usah sungkan menerimanya, anggap saja sebagai kamar sendiri" katanya dengan tulus dan tersenyum padaku.
"Apa tidak ada kamar yang lebih kecil untukku?" Kataku.
Jika ada kamar kecil walaupun itu sudah usang sekalipun aku akan memakainya, daripada di kamar yang besarnya sama seperti satu aula pesta yang besar.
"Aduh...Mary, kau itu putri dari Ratu peri jadi sudah seharusnya diperlakukan dengan sepesial" katanya sambil tertawa lirih.
Hatiku merasa tidak enak menerimanya tapi, juga tidak tega menolaknya. Aku sangat kebingungan, bagaimana diriku harus memilih?.
"Aku mengerti tapi, aku lebih suka jika ada kamar yang lebih kecil. Karena kamar ini terlalu besar untukku sendiri" kataku membujuk Titania.
Dia menggeleng kan kepalanya,
"Siapa yang berkata kau akan tinggal di kamar ini sendiri" dia berkata sambil mengangkat tangannya dan menunjuk salah satu sudut ruangan itu.
Secara tiba tiba, muncul seseorang di sana. "Mary, dia adalah orang yang akan menemanimu di sini" katanya lagi.
Aku terperangah melihat seseorang itu. "Lia! Kau juga datang ya. Terimakasih Titania" kataku gembira.
"Putri! Huhu... Saya kira anda sudah... tapi untung saja saya bisa bertemu dengan anda lagi" kata Lia terharu dan senang.
Aku memeluk tubuh Lia dan berkata padanya bahwa diriku masih bisa selamat karena ada Titania yang menolongku.
"Mary, kau sudah lelah jadi tidurlah dulu. Lia mulai sekarang kau adalah pelayan sang putri peri dan juga harus mematuhi semua perintah nya. Oh ya, Mary kau panggil aku Ibu, itupun kalau kau mau" katanya dengan tersenyum dan pergi meninggalkan kami.
Mungkin aku akan mempertimbangkan panggilan itu.
Alangkah beruntungnya aku masih bisa selamat dari kematian, apalagi diriku juga bertemu dengan orang yang tidak aku duga sebelumnya. Memikirkan hal itu membuat aku merasa sangat bahagia sampai sampai tertidur pulas.
Keesokan harinya Lia membangunkan ku, dia ternyata sudah menyiapkan sarapan untukku.
"Putri bangunlah sarapan sudah siap" katanya sambil membuka pintu dan membawa makanan.
Aku terbangun dan melihat setumpuk makanan yang terlihat mahal itu.
"Wah..kenapa banyak sekali, Lia ini terlihat sangat mahal bagaimana jika nanti ada yang mengira kau..." Kataku khawatir.
Lia menggeleng kan kepalanya dan mengambil semangkuk sup buah dan memberinya padaku.
"Putri, tidak usah khawatir. Ratu peri mengijinkan saya untuk memasak di dapur" jawabnya.
"HM...kalau begitu aku tidak akan khawatir. Aku mau makan dulu ya" kataku berusaha untuk tenang.
Setelah selesai, Lia menyiapkan air mandi untukku dan akupun pergi mandi.
"Lia, aku mandi dulu ya dan sampai nanti" kataku pergi menuju kamar mandi.
Diperjalanan aku tidak sengaja menabrak Rion.
"Aduh, m-maaf aku tidak sengaja" kataku dengan takut.
"Tak apa putri, saya juga tidak memperhatikan jalan dengan baik" katanya sambil melihat kearah ku.
Aku juga melihat kearahnya dan seketika kami berdua saling bertatapan.
"Indah indah sekali matamu" ucapku dengan jujur.
Namun, setelah mendengar perkataan dari ku Rion terkejut, wajahnya memerah, dan langsung berpamitan pergi. Aku bingung dengan tingkah lakunya tapi, diriku tidak terlalu menghiraukannya.