The Fairy And Human Princess

The Fairy And Human Princess
Perasaan Sang Putri#2



Dia melangkah agak menjauh dariku.


"Kalian semua yang ada di sini dengarkan aku! Siapapun yang menggangu putri Mary akan aku penjarakan dipenjara bawah kastil peri hitam! Apa kalian mengerti!" teriaknya sambil mengibaskan tangannya.


Seketika itu juga semua orang yang ada di sana terdiam seribu bahasa. Namun, berbeda dengan ku. Aku merasa bahwa diriku malah merasa semakin lemah.


"Maaf mengapa pangeran Nico berkata demikian? Apakah aku dimata mu adalah seorang gadis yang lemah dan tidak mampu mengatasi masalahku sendiri?" kataku sambil menundukkan kepala.


Dia tampak terkejut mendengar perkataan ku. Tapi, aku tidaklah selah mengatakan itu. Karena, bagaimanapun juga aku harus mandiri dan tidak boleh merepotkan orang lain.


"Putri maafkan saya karena telah membuat putri merasa tidak nyaman. Namun, saya hanya ingin membantu anda dan saya tidak bermaksud apa apa" jawabnya sambil memegang tanganku.


Aku kaget dengan apa yang dilakukannya.


Dengan refleks aku langsung mengibaskan tanganku. Aku bergerser agak menjauh darinya.


"Mohon pangeran jaga sikapmu! Lebih baik kita akhiri saja masalah ini dan jika ada yang ingin membuat perhitungan denganku, maka aku siap bertemu kapanpun!" kataku dengan tegas.


Setelah aku mengatakan itu, guru Leon memukul mejanya. Dia terlihat sedikit marah dengan keributan yang terjadi dikelas.


"Kalian diamlah!!! Duduk ditempat masing-masing! Jika tidak menuruti perkataan ku, segera keluar!" katanya dengan nada marah.


Tiba tiba semuanya duduk ditempat masing masing. Sedangkan, aku bingung harus duduk dimana. Aku menoleh ke kanan dan kiri sebagai tanda bahwa diriku sedang kebingungan.


"Huh...putri silahkan duduk disana" kata guru Leon dengan menunjuk kearah bangku dekat jendela.


Aku tanpa basa basi lagi langsung berjalan dan duduk disana.


Aku menyimak dengan seksama dan mencatat hal penting. Aku sangat suka tentang para peri seperti ini.


Kriing! Kriing! Kriing!!!


Bel berbunyi dan pelajaran hari ini telah selesai. Aku merapikan buku dan catatanku. Aku bergegas untuk kembali ke kamarku. Sebenarnya aku ingin belajar lebih dalam lagi tentang pelajaran yang diajarkan tadi.


Tapi sepertinya tidak semudah yang aku bayangkan itu. Saat aku hendak meninggalkan kelas ada seseorang yang menghampiri ku.


"Tunggu putri! Saya adalah pengikut tuan Nico, tuan Nico berkata mau bertemu dengan anda ditaman istana setelah ini. Apa putri bersedia?" katanya memohon padaku.


Aku melihatnya lekat lekat, dia memiliki sayap hijau bagaikan rumput muda, rambutnya juga berwarna sedikit hijau, matanya berwarna seperti embun air.


"Ooh...ada apa dia ingin bertemu denganku? Jika aku bersedia apa kau bisa menjamin dia tidak akan berbuat apa apa padaku?" kataku datar dan berjalan meninggalkannya.


Dia tiba tiba menghadang ku dan berkata bahwa ia akan menjamin bahwa Nico tidak akan macam macam denganku.


Setelah mendengar perkataannya, akhirnya aku bersedia bertemu dengan Nico.


"Baiklah...aku bersedia tapi, aku ingin meletakkan buku dulu" kataku.


"Terimakasih putri, saya akan pergi memberitahukannya pada pangeran" sahutnya.


Dia pun pergi bertemu Nico sedangkan, aku pergi ke kamar meletakkan buku. Sebenarnya aku agak tidak nyaman karena, diganggu terus-terusan.


"haduh...kenapa aku menjadi kerepotan sendiri sih. Padahal aku hanya ingin hidup bahagia dan sederhana saja. Tapi, tak aku sangka malah berubah drastis seperti ini" gumamku.