The Fairy And Human Princess

The Fairy And Human Princess
Putri dan Ratu peri #1



Saat ayah ingin memukul Lia, secepat kilat aku menghalanginya. Saat itu, aku berfikir diriku yang lemah ini mungkin akan berakhir. Namun, setidaknya diriku masih sempat melindungi orang yang aku sayangi.


PLAK!!


Pukulan ayah mendarat tepat dikapalaku, aku terpental dan membentur Kedinding. "P-putri, bertahanlah!.. saya akan membawa anda ketabib"ucap Lia yang nampak sangat khawatir padaku.


Lia menangis dengan kesedihan yang mendalam, dia dengan lembut meletakkan kepalaku di pangkuannya.


Pyarr!!


Ayahku merebut dan membanting alat sihir yang akan digunakan Lia untuk memanggil tabib.


"Sudahlah!!, kau tidak perlu memanggil tabib untuknya. Anak ini sangat lemah dia tidak mungkin bisa bertahan!" kata ayahku membentak Lia."Tidak!, putri pasti bisa bertahan. Saya harus cepat membawanya ke tabib!" jawabnya.


"Terserah kau pelayan!!, tapi aku tidak mengizinkan mu dan anak ini masuk ke wilayah kekaisaran lagi!" bentak ayah ku dengan menampar Lia.


Ayahku sangat sombong, angkuh, dan sangat acuh tak acuh terhadap ku. Lia menangis dengan histeris melihatku berlumuran darah.


"Lia, tak usah membawaku ke tabib. Aku tidak apa-apa, jangan sedih ini hanya perlu istirahat sebentar" ucapku untuk menenangkan dirinya.


Aku sangat lemas, tak berdaya, namun diriku masih bisa tersenyum untuk terakhir kalinya.


"Putri, anda tidak boleh berkata seperti itu. huhu..."


"Lia, aku tidak mengizinkan mu untuk bersedih. aku tidak akan pergi jauh, hanya saja tubuh ku sangat lelah dan harus istirahat" kataku dengan senyum tipis.


"Ayah, aku mohon padamu untuk tidak menyakiti Lia lagi. Jika tidak, aku akan membalas dendam untuknya" pintaku pada ayah.


"Aku tidak peduli dengan pelayan itu, aku tidak mau mengurusnya lagi" katanya dengan sombong dan pergi begitu saja.


"Huhu.... putri bertahanlah...jangan tinggalkan saya sendiri. putri harus kuat!" katanya.


Aku mengulurkan tangan dan mengelus rambutnya untuk terakhir kali. "Lia tenanglah, aku lelah dan ingin tidur. Apakah Lia mau membacakan dongeng peri untuk ku seperti saat aku masih kecil?" pintaku.


Aku teringat saat diriku masih kecil saat aku ingin tidur dia selalu membacakan dongeng peri untuk ku.


Mungkin, bisa mendengar nya sekali lagi pasti bisa membuatku bahagia.


"Putri, saya akan membacakan nya. Tapi, anda harus bertahan!" katanya dengan berurai air mata dan sambil menyeka darah yang keluar dari kepala ku. Dia mulai membacakannya dan aku mendengarkan nya sampai selesai. Dongeng yang diceritakan itu tentang seorang Ratu Peri yang jatuh dalam kesedihan kerena kehilangan putri kesayangannya tapi, seiring berjalannya waktu ratu itu mendapatkan kebahagiaan nya lagi. "Lia, dongeng mu benar benar bagus. Andai saja cerita itu benar, aku akan mendapatkan banyak kebahagiaan dan membagikannya untuk mu" " Terimakasih putri, sekarang anda harus bertahan" dia menggendong ku ke atas ranjang.


Dia berlari mencari tabib, sedangkan aku hanya bisa berbaring. "Benar, Lia selalu berusaha untuk membahagiakan dan menjaga ku. Jadi, aku juga harus bisa membahagiakan dirinya. Namun, apa yang harus aku lakukan untuk nya?" gumamku.


Aku melihat melalui jendela kecil yang ada di dalam kamar ku. Tiba tiba seekor kupu-kupu terbang menuju ke arahku "cantik, cantik sekali. Kupu-kupu itu pasti bahagia dengan kecantikan nya, dia juga bisa terbang dengan bebas. Sayapnya seperti air laut yang menenangkan" kataku sambil melihat kearah kupu kupu itu.