
Aku berjalan memasuki pintu kamar mandi, didalamnya terdapat berbagai macam peralatan mandi, ruangannya bersih dan bak mandinya penuh dengan air yang harum.
"Wah...memang benar benar istana! Kamar mandinya saja sebesar ini. Haduh....aku terlihat kecil dan seperti barang yang tampak usang di sini"
kataku dengan menggelengkan kepalaku.
Baru pertama kalinya aku merasa seperti ini.
Tanpa basa basi lagi, aku langsung membasuh tubuhku.
Setelah selesai, aku mengambil pakaian yang akan dipakai serta memakainya.
"Menyegarkan sekali....aku seperti hidup kembali" kataku.
Aku berjalan keluar kamar mandi, alangkah terkejutnya diriku ketika melihat ada banyak pelayan yang sedang menungguku.
"Putri, gaun anda sudah siap" kata salah satu pelayan yang memegang gaun.
"Putri, apakah putri membutuhkan riasan? Saya bisa merias anda" kata seorang pelayan lagi yang memegang alat perias.
"Putri, apa anda merasa lelah? Saya bisa memijat tubuh anda" kata salah seorang pelayan yang memegang beberapa krim untuk terapi.
Aku terkejut dan bingung harus berkata apa untuk membalas perkataan mereka. Aku bahkan tidak tahu harus berekspresi seperti apa.
"Emm...kalian tidak perlu melakukan ini" kataku canggung.
Mereka mengangguk.
"Putri jika anda menolak, kami tidak bisa membantah lagi.
Namun, Yang Mulia Ratu memerintahkan kami untuk melayani anda dengan baik.
Mohon Putri menerima kebaikan Ratu" salah satu pelayan memohon dengan sangat tulus padaku.
"Eh? Baiklah kalau begitu" kataku pasrah.
Mereka melakukan tugasnya dan setelah selesai mereka pun pergi.
Setelah itu, aku pergi menemui Lia. Dia ada di dapur sedang membantu pelayan lain bersih bersih.
Lia menoleh, dia mendengar apa yang aku katakan. Tapi, anehnya dia seperti mengabaikan ku.
Aku heran kenapa Lia menjadi dingin kapadaku.
Apa kau punya salah? Apakah aku sudah membuat Lia marah?
Atau aku memang sudah tidak dipedulikan oleh Lia lagi?.
Pertanyaan seperti itu terus bermunculan di pikiranku.
Hatiku sangat gelisah, sedih, dan sakit melihat Lia mengabaikan ku.
"Tidak boleh berfikir seperti itu! Lia tidak mungkin mengabaikan ku dan aku harus tetap tenang" pikirku untuk menenangkan diri.
Aku pun berjalan mendekati Lia dan meraih tangannya.
"Lia, apakah aku boleh membantumu?" tanyaku dengan lembut padanya.
Tiba-tiba dia melepaskan tangannya dari genggamanku. Aku terkejut dan sedih namun, lagi lagi berusaha untuk tetap tenang.
"Maaf putri, ini adalah pekerjaan pelayan. Anda itu putri Yang Mulia Ratu, saya tidak boleh membiarkan mengerjakan tugas seperti ini" katanya sambil berjalan menjauhi ku.
Aku menundukkan kepalaku sambil menahan kesedihan.
"Oh begitu ya, kalau begitu Lia apa malam ini kau mau menemaniku belajar saja?" kataku sambil tersenyum dengan terpaksa.
Dia berhenti dan sekilas melirik kearah ku.
"Maaf nona saya memang ditugaskan untuk mendampingi sebagai pelayan anda tapi, anda akan diajari oleh guru yang dipilih Yang Mulia Ratu. Jadi, semoga anda bisa belajar dengan baik" katanya.
Dia pun pergi dan menghilang di sebalik dinding.
Lia dia kenapa? Apakah karena aku terlalu lemah sehingga dia tidak mau mendampingi aku lagi seperti sebelumnya? pikirku dalam hati sambil menahan air mata.
Aku menghadapkan wajahku keatas dan aku pun berjalan kembali menuju kamarku. Aku tidak boleh sampai menangis dan aku harus berusaha untuk menjadi lebih kuat supaya Lia mau bersamaku lagi.