The Fairy And Human Princess

The Fairy And Human Princess
Jawaban#2



Pagi itu aku merasa sangat lega karena jawaban dari Titania. Titania juga berkata bahwa aku harus mempertahankan kesabaran dalam diriku.


"Mary, aku sangat bangga padamu karena kau bisa menyelesaikan ujian ini" katanya sambil berjalan mengantarkan aku kembali ke kamarku.


Aku tersenyum padanya.


"Terimakasih Titania, aku bahkan tidak menyangka bahwa itu adalah ujian" jawabku.


Dia tertawa lirih dan membelai rambut ku.


Tiba tiba, Rion menghampiri kami. Dia memberi hormat pada Titania.


"Rion memberi hormat pada Yang Mulia Ratu" hormatnya.


Titania menyentuh pundaknya dan dia berkata, bahwa jangan menggunakan bahasa yang terlalu formal saat diluar istana.


"Rion, kenapa kau kemari? Apakah ada masalah dengan urusan perdana menteri?" dia bertanya pada Rion dengan serius.


Rion menjawab bahwa tidak ada masalah apapun dan berkata bahwa dia ingin mengajakku berkeliling taman.


"Wah... Kenapa kau ingin mengajak Mary ku? Apa kau jangan jangan menyukai putriku?" kata Titania dengan tersenyum.


Aku terkejut mendengar perkataan Titania dan tidak menyangka dengan apa yang dikatakannya.


Sepertinya Rion juga terkejut mendengar perkataan Titania, wajahnya seketika memerah.


"R-ratu... Saya hanya ingin mengajak putri untuk... untuk berkeliling lingkungan istana saja" jawabnya dengan gugup.


Mendengar jawaban itu, Titania tertawa lirih dan pergi meninggalkan kami. Dia juga berkata supaya kamu bahagia.


Aku heran dengan perkataannya, aku menoleh kearah Rion. Dia terlihat aneh dan bahkan terlihat tersenyum senyum sendiri.


"Emmm... Rion? Apa kau baik baik saja?" tanyaku.


Dia tampak terkejut mendengar perkataan ku.


"Eh... Maaf putri saya baik baik saja, hanya saja apakah putri mau berkeliling bersama saya?" tanyanya padaku.


Aku mengerutkan keningku, aku bingung dengan sikapnya. Dia terlihat sangat gugup saat bertanya padaku.


"Haaah... Baiklah kalau begitu, tapi apa kau benar baik baik saja? Kau tampak sedikit pucat" kataku.


Dia mengangguk dan berkata bahwa ia baik baik saja, dia juga berterima kasih karena aku mau berkeliling bersama dirinya.


Kami pun berkeliling dari taman istana sampai bagian paling dalam istana yaitu ruang senjata.


Dia menjelaskan padaku satu persatu dari tempat yang kita kunjungi. Begitu juga saat kami berada didalam ruang senjata, dia juga menjelaskannya padaku.


"Dari semua senjata yang ada disini manakah yang paling anda sukai putri?" tanyanya secara tiba tiba.


Aku sedikit terkejut dengan pertanyaan itu, karena didalam sana lumayan gelap dan dingin.


"Aku.... Aku lebih suka.... senjata yang ini..." aku menjawab pertanyaan itu.


Aku merasa dingin oleh karena itu, aku berkata terbata bata.


"Putri, apa kau kedinginan? Maafkan saya karena mengajak anda kemari" katanya merasa bersalah.


Aku menggelengkan kepalaku dan berkata bahwa aku hanya merasa sedikit dingin saja.


Namun, dia tetap tampak khawatir padaku.


"Tenanglah putri, saya tidak akan membiarkan Anda kedinginan" katanya sambil melepaskan jas yang dipakainya.


Dia memakaikan jas itu padaku. Entah kenapa saat aku memakai jas itu, diriku merasa hangat dan nyaman.


"Apa putri sudah merasa hangat sekarang?" katanya.


Aku mengangguk, setelah itu dia langsung menggendong ku keluar ruangan.


Aku terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Rion.


Dia terdiam dan terus berjalan keluar sambil menggendong diriku.


"Putri, apakah tadi anda mengatakan sesuatu?" tanyanya.


Aku menggelengkan kepalaku dan mengucapkan terima kasih atas bantuan dari Rion. Setelah itu, aku menyuruhnya untuk menurunkan diriku.


"Ah... Maaf putri, saya bersikap lancang terhadap anda" katanya merasa bersalah.


Kami duduk di kursi tepat diluar ruangan itu, suasananya mendadak menjadi canggung dan kami tidak mengatakan satu patah katapun.


Untuk memecah kecanggungan, aku mencoba untuk bertanya kepadanya.


"Emm.... Rion kenapa kau sangat peduli padaku? Padahal aku hanya anak angkat dari sang Ratu Peri dan juga aku tidak memiliki sayap seperti kalian" kataku dengan nada lemah lembut.


Dia terperangah mendengar pertanyaannya dariku. Seketika wajahnya kembali memerah dan dengan gugup dia menjawab pertanyaan dariku.


"Saya.... Saya peduli kepada anda karena anda adalah putri Sang Ratu, tidak peduli apakah putri itu anak kandung atau angkat saya akan tetap peduli dan menghormati anda. Namun, tidak dapat disembunyikan bahwa anda memang tidak memiliki sayap. Tetapi, suatu saat nanti anda pasti akan memiliki sayap yang sangat indah" jelasnya dengan penuh perasaan.


Aku tidak menyangka bahwa dia akan berkata seperti itu dan anehnya aku merasa bahagia karena dia mengatakan hal itu padaku.


"Rion, apakah aku benar-benar bisa mendapatkan sayap yang indah" ucapku.


Dia mengangguk dan menengadahkan wajahnya keatas. Dia tersenyum sambil menatap langit.


"Putri, anda bukanlah seorang gadis peri yang cacat. Saya yakin pasti bahwa suatu saat nanti anda akan mendapatkan sayap yang indah dan mempesona seperti bintang" sambungnya.


Aku mendengar perkataan itu dan menundukkan kepalaku. Aku berfikir apakah diriku yang lemah nan buruk ini pantas mendapatkan sayap seindah itu.


Apakah aku yang seorang gadis manusia biasa ini pantas hidup berdampingan dengan para peri. Semakin aku memikirkan hal itu, semakin pula aku merasa terpuruk.


"Putri, kenapa anda menangis? Apa saya membuat anda tidak nyaman?" dia menoleh kearah ku dan berkata demikian.


Tanpa sadar aku meneteskan air mata dan membuat Rion khawatir serta merasa bersalah ini. Aku seketika dengan cepat menyeka air mataku.


"Oh... Tidak, aku hanya terharu mendengar perkataan darimu. Rion terimakasih karena kau mau menghibur diriku" kataku.


"Sudah seharusnya saya menghibur anda putri" jawabnya dengan tersenyum.


Aku tersenyum pahit dan berkata


"Rion, apakah jika aku sudah mendapatkan sayap milikku, aku dapat hidup denganmu dan peri yang lain? Apakah aku tetap bisa berada disini selamanya?" kataku dengan menundukkan kepalaku.


Dia nampak terkejut dan dengan cepat memegang pundakku. Dia berkata dengan suara sedikit keras padaku.


"Apa yang kau katakan putri! Anda adalah putri kami, tentu saja kau hidup dan bertumbuh disini. Kau juga berhak berada disini selama yang kau mau" katanya.


Mendengar perkataan itu aku merasa bahagia, aku pun memegang tangannya.


"Terimakasih Rion, aku hanya berharap jika suatu saat nanti kalau aku tidak ada, jagalah Titania untukku" ucapku.


Dia tiba tiba menarik tangannya dan menunduk.


"Putri, kenapa kau berkata seperti itu? Apakah anda akan pergi dari sini?" tanyanya dengan serius.


Aku menahan jawabanku dan berdiri, aku menoleh kearah Rion dan berkata


"Hmm siapa yang tau kan" kataku.


Setelah itu, aku beranjak menuju ke kamar dan meninggalkan dia disana. Seketika dia berdiri dan meneriakkan sesuatu padaku.


"Putri!!! Saya tidak akan membiarkan anda pergi begitu saja!! Saya akan mencari putri kemanapun anda pergi" katanya.


Mendengar itu, aku merasa sangat senang.


"Baiklah, kalau begitu kau harus berusaha untuk menemukan diriku" balasku.


Setelah itu, kami pergi untuk menyelesaikan urusannya masing-masing.