
Malam hari pun tiba, Titania mengajakku untuk berdandan mempersiapkan diri. Walaupun sebelumnya dia berkata bahwa aku tidak perlu khawatir namun, diriku masih tidak pantas untuk berada di istana yang begitu indah itu. "Apakah aku benar benar pantas menjadi putri mu? Aku merasa bahwa kau sebaiknya mencari orang lain saja yang lebih baik dari ku" kataku pada Titania sambil berjalan menuju ke dalam sebuah ruangan yang tak lain adalah ruang rias. Titania tiba tiba berhenti dan dia mengelus kepalaku. "Aku tidak menginginkan orang lain dan aku berharap kau tidak menyesali keputusan mu untuk menjadi putriku" katanya tersenyum manis padaku. Aku hanya menundukkan kepala sampai masuk dalam ruangan rias itu. Setelah itu, aku duduk di kursi rias. Titania membisikkan suatu kata pada perias dan tampak sang perias tersenyum sambil mengangguk dengan hormat. Sebenarnya aku melihat tingkah laku mereka tapi, karena merasa diriku harus menghormati mereka jadi aku hanya berdiam diri duduk di kursi. "Mary, setelah selesai aku harap kau bisa bahagia selamanya" katanya dengan tiba-tiba dan tersenyum. Aku menoleh ke arah nya dan tampak heran dengan kata-kata nya. "Um.. kenapa kau berkata seperti itu?, Tentu saja aku akan bahagia" jawabku. Dia tidak menjawab pertanyaan ku dan langsung pergi keluar ruangan. Kenapa dia mengabaikan ku?, Aku berfikir seperti itu. "Yang mulia putri, saya akan mulai merias anda. Mohon anda menutup mata sebentar" kata perias. "Eh, baiklah. Kakak perias kenapa Titania berkata seperti itu?" Tanyaku. Sang perias itu hanya tersenyum dan terdiam. Sesaat kemudian dia selesai merias wajah ku, namun aku masih belum boleh membuka mata. Dia memakaikan gaun yang dipilihkan oleh Titania sebelumnya. "Putri, tugas saya sudah selesai. Harap putri bahagia selamanya" katanya. Dia juga memperbolehkan ku membuka mata dan melihat diriku di cermin. Setelah itu, dia pergi menemui Titania. "Wah! A-apakah ini aku atau siapa? Kenapa cantik dan anggun sekali? Apa ini cermin sihir?" Kataku begitu melihat diriku dalam cermin. Aku tak menyangka diriku yang dulunya lemah dan buruk rupa bisa berubah menjadi gadis dengan rambut pirang, kulit putih halus, dan bermata biru seperti ini. Aku membalikkan badan dan melihat keseluruhan tubuh ku. Namun, ini adalah diriku sendiri. "Waw! Apa aku sedang bermimpi?" Kataku takjub melihatnya.
Tok Tok Tok...
Aku mendengar seseorang mengetuk pintu "Siapa? Masuk saja!" Kataku.
Pintu terbuka dan ternyata itu adalah Titania. Dia membawakan seikat bunga berwarna emas yang sangat cantik padaku.
Dia tersenyum dan mendekati ku, "Mary, kau adalah putri kesayangan ku, jadi kau harus berjanji untuk bahagia selamanya" katanya.
Aku mengangguk dan mengikuti Titania menuju ke ruang perjamuan yang digunakan untuk pengobatan ku. Lorong istana yang di penuhi dengan lukisan lukisan peri yang cantik dan tampan, barang barang yang tertata rapi, serta tembok yang terbuat dari emas dan lantai yang terbuat dari kaca yang begitu indah sehingga tampak dibawahnya ada sebuah ruangan rapat untuk para petinggi istana. Melihat itu semua merasa bahwa diriku ini tidak ada apa apanya dengan istana itu. Indah, anggun, mewah, dan rapi itu adalah ungkapan yang muncul pada benakku. Saking kagumnya diriku pada istana sampai membuat kakiku tersandung dan hampir saja terjatuh. Untung saja tubuhku dengan cepat di tangkap oleh Titania. "Ya ampun, sepertinya kau terlalu gugup sampai tersandung" katanya sambil tertawa lirih. Aku malu dengan apa yang terjadi dan hanya bisa menyembunyikannya saja. "Tenanglah Mary, mereka tidak akan bisa menyakitimu kok" lanjutnya. Aku pun mengangguk dan melanjutkan berjalan mengikuti Titania.