
-Alina-
Sialan pria itu.
Pertahanan yang kuciptakan untuk melindungiku runtuh dan itu semua kesalahannya.
Aku tahu ada sesuatu terjadi ketika Perusahaan detektif itu menyebut "Investigasi Malam"
Dia pikir dia siapa? Dark Knight?
Saat ia merogoh sakunya barusan, cincin itu terlintas di benakku dan aku hampir melarikan diri keluar dari kafe. Satu pertunangan yang gagal sudah cukup untuk satu minggu dalam kehidupanku yang dramatis. Aku harus mencairkan suasana.
"Nona Simmons?"
Aku memandang Louis, "Maaf, apa kau bilang barusan?"
"Untuk rapat besok, apa anda mau memeriksa pidato anda?"
"Tentu, apakah kamu sudah menyiapkan gaunku?
"Itu akan di antar kerumah anda besok pagi-pagi sekali"
"Terima kasih, apa ada yang lain di jadwalku hari ini?"
"Tidak ada Nona, tapi anda ada janji makan malam."
Aku menaikkan alisku, "Dengan siapa?"
"Kieran Knight dari 'Knight Insurance', dia memeriksa ketersediaanmu padaku sebelumnya. Aku bertanya padamu dan kamu setuju ketika kamu sedang sibik mengirim email."
Jelas aku tidak mendengarkannya tadi
"Kirimi saya detailnya dan Anda bisa pulang untuk hari ini Louis. Sampai ketemu besok.
"Saya bisa membatalkannya jika anda mau".
Apa ekspresi ketakutanku menunjukkan keengananku?
"Tak apa-apa, aku bisa mengatasinya"
"Dia pergi dan aku mengambil tas dan naskah pidatoku, segera melangkah keluar dari kantor dan hari mulai menjelang sore."
Sebuah Mercedes Benz hitam berhenti di depan saya dan supir itu berkata, "Nona Simmons, Tuan Knight sedang menunggu Anda."
Dahiku berkerut, "Apa dia pikir aku tak mampu pergi sendiri kesana?"
"Tidak. Aku hanya tak ingin istriku tega melarikan diri dariku lagi," sahut Kieran sembari keluar dari pintu penumpang dan aku meliriknya.
Melihatnya dalam kemeja kasual dengan celana pendek adalah satu hal tetapi memiliki semua otot yang kuat dalam setelan jas hitam pas badan?
Apakah matahari tiba-tiba lebih hangat?
"Aku tidak lari darimu. Aku berjalan, menyetir, dan terbang pergi."
Matanya tampak gelap dan dia menggosok dahinya, "Kita punya waktu sebelum reservasi, mari kita pergi ke suatu tempat untuk berjalan-jalan."
Aku tidak mau, emosiku masih berantakan dan alasan kenapa aku pergi adalah untuk membuatnya pergi dari pikiranku. Tapi caranya memandangku, aku tak punya banyak pilihan.
Kenapa dia sangat bersikeras dengan sandiwara ini?
Dia mengambil tas dan naskahku lalu meletakkannya di kursi mobiln sebelum meraih tanganku dan berjalan di trotoar yang mulai dipenuhi oleh orang-orang yang sedang pulang kerja.
Rasanya aneh, kehangatan tangannya menyengat milikku. Mereka sangat cocok. Aku juga menyadari tidak adanya cincin dan aku memiliki perasaan campur aduk tentang itu. Aku akan memilah emosi itu nanti.
Dia mengangkat tanganku ke bibirnya dan mencium jariku masing-masing, "Aku tidak suka orang yang tidak bisa menepati kesepakatan mereka."
Darahku membeku, "Aku tak menyangka kau akan mengejar setiap orang yang melanggar kesepakatan."
Dia menatapku, "Setidaknya kau bisa mengucapkan selamat tinggal padaku." +
Aku memalingkan pandangan dari tatapan tajamnya, tidak mungkin aku akan melakukan itu bahkan jika aku harus melalui itu untuk kedua kalinya. Karena aku tahu aku tidak akan pergi jika aku melakukannya.
"Bayangkan betapa terkejutnya aku ketika aku terbangun di tempat tidur yang kosong dan Lucy mengatakan bahwa istriku pergi tanpaku." gumamnya dan aku mendengar sedikit nada terluka dalam nadanya.
Aku menarik tanganku dari gengamannya, terlalu nyata. Ini mulai berlebihan.
"Kau tak harus melakukan ini Kieran, serius. Ini terlalu berlebihan. Aku tak.. aku tak bisa melakukan ini. Apapun itu."
Kami berhenti berjalan di sudut dan dia menghela nafas, ibu jarinya menyentuh bibir bawahku, "Jika kamu ingin membatalkan kesepakatan, maka harus ada pinalti yang dikenakan."
Aku menelan ludahku, "Kita tidak pernah membahas ini."
"Aku tidak mengira kau akan mundur karena takut dan pergi."
"Kieran-"
"Tetap di sini, hanya untuk tiga hari. Aku tidak bisa memberimu banyak selain kehadiranku. Bebaskan dirimu bersamaku, Alina. Aku cukup menikmati kebahagiaan memiliki istri sementara. Rasanya aku bisa melarikan diri sementara. Jika ini berakhir, aku tidak akan mengganggumu lagi, kupegang kata-kataku."
Dia melingkarkan salah satu lengannya di pinggangku dan tangannya yang lain memegang daguku dengan lembut di tengah keramaian. Apa yang harus kukatakan?
"Kesepakatan kita masih berlaku?"
Dia mengangguk,"Tentu saja, Aku tak akan mencampuri kehidupanmu. Tapi hanya jika kau berjanji tak akan melarikan diri lagi."
Aku memikirkannya sesaat sebelum membiarkan senyuman merekah di wajahku, "Aku berjanji."
***
-Kieran-
Janji-janji, Aku bisa menepatinya selama Alina pun melakukannya. Secara teknis dia sudah melanggarnya, mengingat dia sudah menyuruh Scott untuk mencari tahu lebih banyak tentangku. Tapi aku bisa melupakan hal itu.
Hanya untuknya.
Kenapa aku berjuang begitu keras untuk mempertahankannya di sisiku?
"Terima kasih," Alina dengan senang hati mengambil gelas berisi sampanye dan meminumnya seperti air.
Aku menggenggam tangannya, "Kamu akan mabuk jika terus seperti ini sayang."
Dia tersenyum lebar dan menggelengkan kepalanya, melihat sekeliling mencari pelayan yang baru saja pergi beberapa detik yang lalu, "Aku berjanji tidak akan muntah di sepatumu lagi."
Janji lainnya.
Aku menarik tangannya dengan lembut, mendapatkan perhatian penuh, "Satu gelas terakhir dan kita pulang, oke?"
Dia mengernyitkan dahi dan mengerutkan bibir termanis yang pernah kulihat pada seorang wanita, "Kenapa kau melarangku minum, aku sudah cukup umur kok."
Aku terkekeh, dia pasti sudah mabuk. Aku membiarkan pelayan mengisi gelasnya dengan sampanye sebelum memberikan kartu kreditku padanya, "aku tahu kamu memang cukup umur, tapi aku tidak mau kamu mengalami sakit kepala karena mabuk besok. Ada rapat yang harus kamu hadiri."
Dia merajuk dan mengambil gelas, meminum alkoholnya dengan mantap. Pipinya memerah dan bibirnya basah karena gelembung. Pelayan menyerahkan kartu hitamku kembali dan aku merangkul tubuh Alina sangat dekat ketika kami keluar dari restoran.
Dinginnya udara menerpa kami lalu kubuka jasku dan memakaikan padanya. Dia menyandarkan kepalanya di dadaku, matanya tertutup, lalu kukeluarkan telponku. Rencanaku sepertinya selalu menguras energinya.
Kami harus menunda jalan-jalan dibawah bintang ke lain hari.
Harus dilaksanakan, Kau tak punya banyak waktu tersisa.
Tekadku membulat oleh karena pikiran itu. Pikirkan baik-baik Kieran, Wanita ini layak mendapatkan suami dan kehidupan yang mengagumkan. Sesuatu yang tak bisa kau berikan.
Aku menelpon supirku dan menaruh telpon kembali ke saku, terdengar Alina bergumam dalam mabuknya. +
"Kemana tuan?"
"Antarkan kami ke rumah Miss Simmon, Alamatnya yang diberikan Scott padamu tadi."
Dia mengangguk dan mulai melaju.
Alina memindahkan tangannya dan meletakkannya didadaku, "Kieran."
Aku menekan tombol untuk menaikkan pemisah antara pengemudi dan kursi penumpang. Aku tidak mau siapapun mendengar percakapan kami.
"Ya Sayang."
Dia mencium leherku dan aku menegang, "Wangimu enak."
"Wangimu juga enak Alina".
"Aku menyukai saat kau menjilat putingku."
Ya ampun..
"Kamu mabuk."
Dia memandangku, bola matanya berkilat dan tak fokus, "Aku memang mabuk, tapi aku tahu yang kusuka."
Dia mengalungkan tangannya di leherku dan mencium tepi bibirku seperti sedang menggodaku. Kemaluanku bergetar.
"Apa yang kau suka sayang?" Aku menariknya ke pelukanku, bokongnya menekan kemaluanku yang menegang. Aku mendesah.
Bibirnya berhenti di telingaku, "Aku suka saat kemaluanmu di dalamku dan memenuhinya."
Aku mulai terbiasa dengan Alina yang mabuk.
Kucium bibirnya dengan menggebu-gebu dan dia bergelayut erat padaku, bibirnya yang lapar melahap apapun yang dia bisa.
"Kita sudah sampai Tuan Knight," Supirku memberitahu lewat interkom dan Alina memposisikan bokongnya di celah celanaku.
Sialan.
Kubuka pintu mobil dan kurangkul tubunya, dia tidak seimbang dan kucoba menjaganya tetap tegak.
"Pelan-pelan," aku melingkarkan blazerku lebih erat padanya dan mengiringnya menaiki tangga.
Pintu terbuka dan Pria yang kukenal sebagai Wilson membuka pintu.
"Selamat datang di rumah, Nona. Dan Tuan ini?"
Aku baru membuka mulut untuk memperkenalkan diri, tetapi Alina memulainya duluan, "Wilson, ini Kieran, dia suamiku. Suamiku, ini Wilson, kepala pelayanku yang luar biasa."
Wilson menatap Alina dan aku, tetapi sebelum aku sempat menjelaskan, istriku muntah di lantai dan sepatuku.
Terlalu banyak janji.
***
-Alina-
Kieran istirahat di atas sofa di kamarku saat aku terbangun sekitar jam empat pagi. Dia mengenakan jubah mandi dan bermuka masam. Anehnya muka masam yang sexy.
Apa yang dia lakukan disini?
Dan kenapa dia kelihatan kesal walau sedang tidur?
Ku periksa pakaianku ternyata aku sudah berganti pakaian menjadi piyama sutraku yang berwarna putih. Nafasku tercium bau dan pikiranku kembali ke makan malam kami, sampanye, perjalanan pulang dan bayanganku muntah di ruang tamu.
Wilson yang malang.
Aku bangun pelan pelan dan berjalan ke kamar mandiku, mandi dengan cepat dan menggosok gigiku.
Aku mengambil jubah mandi dan mengikatnya disekitar pinggangku sebelum turun ke lantai bawah untuk mengambil segelas air dan beberapa aspirin.
Aku memasukkan beberapa pil ke dalam mulutku dan menelannya dengan air sebelum mendengar sebuah suara dari ruang tamu, "Nona?"
Wilson berjalan ke dapur dan aku tersenyum lemah, "Maaf atas kekacauan yang kubuat, aku sedikit mabuk."
Dia tertawa, rambutnya yang kelabu berantakan di kepalanya. Berbeda dari kebiasaannya yang rapi dan sopan. Ayahku mempekerjakannya ketika bank meledak. Wilson berusia beberapa tahun lebih tua dari ayahku dan dihormati di rumah kami.
Pelayan, tukang bersih, koki dan staf lain ada di bawah pengawasannya. Dia biasa mengurusku saat kedua orang tuaku sibuk dengan pekerjaan. Dia selalu ada untukku bahkan walau aku sedang sibuk dengan duniaku.
"Tidak apa-apa, pelayan telah mengurusnya."
Aku mengangguk, "Apa aku membangunkanmu?"
"Aku tak bisa tidur, anda baru saja memberitahuku bahwa pria dikamar anda sekarang adalah suamimu, apa itu betul?"
Omong kosongku yang kadang membuat bingung diriku sendiri, "Dia tidak melakukan apapun padaku Wilson."
"Aku tidak bilang dia melakukan sesuatu. Aku sudah menyingkirkan Connor tepat setelah anda pergi dan anda kembali dengan cepat bersama pria baru."
"Aku ada kesepakatan dengannya, hal yang kekanak-kanakan memang"
"Apa ayahmu tahu tentang ini?"
"Tidak, tentu saja tidak. Dia akan bertindak seperti ayah serigala dan mengurungku di kandang serigala."
"Berapa lama ini akan berlangsung?"
Aku menggigit bibirku, "Dua hari lagi."
Mengapa waktu cepat sekali berlalu?
"Aku tak harus menendangnya keluar nanti, kan?"
Aku tertawa , "Terimakasih atas kebaikanmu tapi tidak, kamu tidak akan perlu mengusir Kieran keluar."
"Kamu tertawa, itu pertanda baik."
Otot-otot di wajahku membeku dan bibirku menjadi rata, "Aku senang."
Dia terseyum dan berbalik pergi, "Anda memang bahagia, selamat malam Nona."
"Selamat malam Wilson."
Aku kembali ke kamarku dan merebahkan kepalaku di tempat tidur. Memandang Kieran yang terbaring di sofa.
Aku bahagia.
Hanya untuk dua hari ke depan Alina, berbahagialah bersamanya. Biarkan dia membuatmu bahagia.
Aku turun dari ranjangku dan Kieran beralih, matanya sedikit terbuka saat dia melihatku berjalan kearahnya.
"Alina?"
Dia bangkit dan menabrak bibirku ke bibirnya, mengambil semua yang aku bisa sebelum dongeng ini berakhir.
Aku menginginkannya, membutuhkannya dan tidak ada yang lain. Hanya sampai ini berakhir.