
-Kieran-
Aku pikir aku tidak punya hati. Tapi tadi malam jelas membuktikan aku salah.
Saat aku melihat Alina menangis dalam tidurnya, dadaku terasa sakit. Orang mungkin bilang ini menyakitiku melihatnya dalam keadaan rapuh begitu.
Kenapa begitu?
Aku pernah merasakan hal itu sebelumnya.
Aku melihat banyak perempuan menangis selama ini, kebanyakan saat aku menolak mereka tanpa mengedipkan mata. Tapi aku tidak merasakan apapun.
Kalau begitu, kenapa itu berbeda dengan Alina?
Aku tersentuh entah bagaimana, melihat bagaimana sikapnya yang biasa dan sengit menjadi tidak berarti apa-apa selain menangis kacau dalam tidurnya.
Apa yang sebenarnya terjadi pada wanita cantik ini?
Terlebih lagi, Kenapa aku peduli?
Dia mengambil potongan melon dari mangkuk buahnya dan memasukkan nya ke mulut, menatap jauh ke laut biru. Matahari bersinar terik namun pantai Waikiki tetap penuh, seolah olah sinar matahari tak mengganggu kesenangan orang.
Kami duduk dibawah payung besar di stand penjual buah, menikmati keteduhannya sebelum lanjut jalan.
"Kamu memuntahkan isi perutmu di depan lobi kemarin. Sepatuku terkena muntahan dan para staff harus mengevakuasi seluruh area dari bau busuk," Aku menyebutkan itu begituu saja dan dia tersedak buahnya.
Aku tertawa ringan, membiarkan perasaan yang tak kupahami meresapiku. Aku sedikit merasa ringan.
Dia memukul tanganku, "Aku tidak! Jangan bohong padaku!"
Pipinya memerah dan aku tersenyum, Ya Tuhan Dia cantik sekali.
Kau bisa menanyakannya di resepsionis kalau mau, ingat untuk memberitahu mereka bahwa kau menolak untuk percaya apa yang dikatakan suamimu," Aku mengambil potongan semangka dari mangkuknya dan memakannya.
Dia menatapku dan berteriak "Sial, belum juga satu hari dan aku sudah terkenal di hotel ini"
Aku mengangkat satu alisku,"ini sering terjadi padamu?"
Dia menatapku dan memutar kedua bola matanya, "Aku memiliki temperamen yang....hmm... sangat unik"
"Maksudmu mudah marah?"
Dia melepaskan pegangannya dariku dan aku menangkap pergelangannya, mencium jarinya. "Tenang sayangku."
Aku pernah mengatasi orang-orang dari mafia, bukan berarti aku mencium jari mereka juga. tapi gerak refleks yang cepat dan pertahanan diri adalah kebiasaan yang alami. Sebaiknya Alina tidak perlu tahu.
Wajahnya memerah sekarang ini dan aku merasa dadaku berkembang. Melihat reaksinya terhadap sentuhanku sangat menyenangkan.
Aku penasaran bagaimana dia akan merespon saat aku menciumnya tanpa henti dan masuk jauh didalam dirinya-
"Aku mulai berfikir kau didekatku hanya ingin mengangguku", Dia menarik tangannya dan lanjut memakan buah nya.
"Bukannya itu tujuan utama dari seorang suami?"
"Kau jelas jelas tidak memenuhi syarat suami"
"Kamu hanya belum mengenalku dengan baik saja."
"Siapa bilang aku ingin mengenalmu?"
Aku mengelus jariku di pipi merahnya, "Kalau kau mengenal aku yang sebenarnya, kau pasti akan kabur dariku sayang"
Dia menatapku, penasaran lalu mencondongkan badannya. Jarak yang dekat memisahkan bibir kami yang kelaparan.
"maka sebaiknya aku tak perlu mengenal dirimu yang sesungguhnya. Untuk sekarang, Aku hanya ingin suami pengganti yang baik sampai bulan maduku resmi berakhir" Bisiknya, dan Bulu matanya bergerak sexy seiring tatapannya padaku.
Ini sesuatu yang bisa kulakukan. Hanya dua pribadi yang menginginkan pendamping untuk menghilangkan kepenatan dari realita. Tak ada komitmen, tak ada harapan, tak ada tanggung jawab. Tak ada hubungan dan paling utama tak ada ikatan perasaan.
Jadi ketika kumemegang wajahanya dan mencium bibir manisnya, kenapa aku merasa aku akan kesulitan memegang kesepakatan kami?
***
-Alina-
Aku tidak tahu apa kesepakatan orang ini. Tetapi aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak terlibat.
Ciumannya lembut, sangat lembut. Aku tahu seberapa besar dia mengendalikannya dan dia hanya memberikan sedikit rasa cintanya.
Kalau kami bisa menyebutnya begitu.
Caranya mengingatkanku tentang mengenal dia yang sesungguhnya. Dia tidak perlu mengulanginya. Setelah minggu ini, semuanya akan kembali normal
Aku akan pulang ke rumah, belajar mengurus perusahaanku dan menghabiskan waktu dengan ayahku. Hidup akan manis dan mudah.
Dan sekarang, Aku memiliki suami sexy yang sedang menanggalkan kaosnya dan celananya, hanya tinggal celana renangnya dan tengkurap di pasir.
Ototnya bergerak dan dia menatapku, "Bisa tolong bantu aku oles minyak?"
Apa dia harus bertanya? Aku sedang mencari minyak di tasku tepat sebelum dia menyelesaikan kalimatnya.
Connor juga bugar tapi tidak memiliki otot yang menyerupai milik Kieran.
Aku mengeluarkan minyak secukupnya di tanganku dan memijatkan itu di punggungnya.
Ya Tuhan
Dia terasa menakjubkan.
Aku mengusap otot-otot punggungnya, meratakan minyak di kulitnya. Aku menyelipkan tanganku ke lengannya, tanpa malu-malu meremas daging yang kencang.
"Apa yang akan terjadi dengan Connor?" tanyanya tiba tiba dan Aku menyerap pertanyaannya.
"Apakah itu penting?"
Dia mengangkat bahu, "Aku berpikir kamu tidak akan suka melihat dia tetap berkeliaran saat kamu kembali."
"Dia tak akan, Wilson akan memastikan itu."
Dahiku berkerut, "Ya kepala pelayanku, bagaimana kau tahu itu?"
Ia bergeser dan menggunakan sikunya untuk menopangnya, "Ketidaktahuan adalah kebahagiaan sayang."
"Aku mulai bertanya-tanya seberapa banyak kau tahu tentangku."
"Cukup untuk menjadi suami penggantimu," dia mencari dalam tas dan mengeluarkan beberapa tabir surya.
Dia duduk dan menggapai tanganku, menarikku ke pangkuannya.
Jika saja aku tidak terganggu dengan tubuhnya yang sialan itu, aku akan kesal pada kenyataan kalau dia lebih tau tentang kehidupanku daripada yang aku kira.
Dia mengusapkan tabir surya pada bagian tubuhku yang terbuka. Meskipun itu hanya lengan, kaki, dan leherku, tubuhku terasa seperti terbakar. dan itu pasti bukan dari matahari.
Syarafku berdenyut kegirangan karena sentuhan lembutnya dan aku merinding. Dia menatap mataku dan menarik lengan kaosku. Cukup sampai dia bisa menyentuhkan bibirnya ke bahuku yang terbuka.
Kay tak perlu tahu banyak Tuan Knight, Kau bahkan tak perlu berpura pura menjadi suami pengganti. Pendamping yang hebat saja sudah cukup untuk seminggu bulan madu palsu.
"Tentang itu, aku ingin bertanya mengapa kau memutuskan bulan madu yang singkat. Banyak yang memiliki setidaknya satu atau dua bulan untuk menikmati kegembiraan baru mereka, bukan karena menghakimi atau apa pun," dia meringkuk di dekatku, mengubur wajahnya di lekuk leherku.
aku memiringkan kepalaku ke sisi yang lain, membiarkannya menghirup kulit sensitifku, "aku punya pekerjaan yang harus kukerjakan, aku tidak memiliki waktu senyaman itu."
"Kamu tidak terlihat seperti seorang maniak kerja."
Ciuman ringan dari leher ke pipiku, aku terlena. Tapi aku tak akan mengatakan padanya alasan kenapa aku merencanakan bulan madu yang pendek karena kondisi ayahku.
Aku tak bisa meninggalkannya terluka dan lemah kepada gangster bodoh itu. Jika aku tak melenyapkan Connor dari kehidupan kami, Ayahku akan berada dalam bahaya. Dan aku tak bisa menghadapinya setelah kehilangan ibuku.
Jika Connor pintar, dia akan pergi, pergi jauh dariku dan apapun yang keluargaku tinggalkan.
"Tunjukkan seberapa banyak kau benar-benar mengenalku," Aku berbisik ketika ciumannya berhenti di sisi bibirku.
"Jangan mengganggu perhatianku Alina, kau tidak akan menginginkan itu."
Aku mendorong tubuhku menjauh darinya, aku perlu menjernihkan kepalaku dan dia tidak membantu.
"Aku tak akan, Jadi saranku kita tetap seperti ini. Keadaan seimbang. Aku tak akan mencampuri urusanmu demikian juga sebaliknya. Bisakah kau seperti itu Tuan Knight?"
Tatapannya menembusku dan aku merasa terbuka di hadapannya, apakah ini ide yang bagus?
"Sebagai Tuan Knight, aku tidak membuat janji, tetapi sebagai Kieran aku bisa."
Aku berdiri dan merapikan rambut dengan tanganku, kepalaku panas karena duduk dibawah matahari, "Kalau begitu berjanjilah Kieran"
***
-Kieran-
Aku mengacaukannya, bukan ?
Dia meninggalkan pantai dan aku sendirian. Aaku duduk disana dan tenggelam dalam matahari dengan begitu banyak pikiran.
Aku tidak pernah merasa sendirian sebelumnya, tetapi begitu dia pergi, aku merasakan ruang kosong yang memuakkan di dalam diriku. Alarm di kepalaku menjadi gila, menyuruhku untuk membatalkan misi dan pergi dari pulau ini seperti dicintai setelah aku minum diakhir pekan dan tidur dengan orang asing.
Bagaimana aku bisa menghabiskan sepanjang hari untuk memastikan Alina baik-baik saja setelah dia pingsan di lobi hotel?
Sudah hampir malam, matahari terbenam dan Lucy memberitahuku bahwa Alina belum meninggalkan kolam renang. Dia sudah di sana selama setidaknya tiga jam dan aku harus menahan keinginan untuk pergi dan memeriksanya.
Alina dalam pakaian renang? aku tidak berpikir bagian bawahku bisa menahannya.
Aku sudah membilas pasir dan panas di tubuhku dan memakai kaos hitam dengan celana senada. Kuharap aku memiliki kesempatan membawa Alina keluar jalan-jalan melihat matahari terbenam sebelum makan malam romantis.
Aku menghembuskan nafas tidak sabar dan menatap ke arah balkon yang menghadap ke laut. Aku gelisah dengan tabung emas, membuka dan menutup kotak lipstik magnetik.
Ayo Alina, kembalilah.
Pintu kamar terbuka dan aku berputar untuk melihat Alina di ambang pintu, kimono tembus pandang menutupi bikini ditubuhnya.
Rambutnya berntakan dan mata merahnya menunjukkan dia sudah menangis berjam-jam.
Oh astaga
Aku menaruh kembali lipstick itu ke sakuku dan segera menghampirinya. Mengambil dan menjatuhkan handuk yang dia gunakan untuk mengeringkan rambutnya dan mencium bibirnya dengan bibirku.
Dia terkesiap dengan kontak tiba tiba, panas dari tubuhku menyetrum tubuh dinginnya. Aku melingkarkan lenganku ke pinggangnya dan menarik tubuhnya kearahku, merasakan lengannya melingkari leherku.
Dia menciumku kembali dengan keganasan yang mengamuk, seolah-olah mencurahkan semua emosi ke dalamnya. Jika aku bisa menghilangkan kesedihan dan amarahnya, maka aku akan menciumnya setiap saat aku bisa.
Aku melepaskan bibirku dari bibirnya yang montok dan membuntuti ciuman di lehernya, mengisap, menarik dan menggigit dagingnya yang lembut. Dia mengerang ke telingaku dan bagian bawahku bergerak dengan antisipasi.
"Apa yang kau inginkan sayang?" aku menggeram rendah dan dia menggigil.
Dia memegang wajahku dan mendorongku ke belakang untuk menatapku dengan benar, "Aku ingin kau menutup pintu sebelum kita menjadi skandal."
Aku menyeringai dan mengangkatnya, kakinya melilit di pinggangku. Pintu tertutup dan aku menguncinya sebelum mencium dirinya.
Aku terhuyung-huyung ke kamar, bibir kami tidak pernah terpisah.
Aku membaringkannya di tempat tidur yang besar, memandangi betapa polosnya dia diatas tempat tidur. Aku berlutut di hadapannya dan dia menggerakkan jarinya di dadaku, menyadari bahwa dia sudah melepaskan plester di jarinya dan sedang membuka kancing bajuku.
Aku meraih tangannya dan melihat lukanya, masih terbuka tapi paling tidak sudah tak berdarah lagi.
"Ini basah ketika aku pergi berenang," dia mendorong kemeja itu dari pundakku dan aku membiarkannya meluncur ke bawah lenganku.
Aku menciumnya lagi selagi dia sibuk dengan celanaku. Tangannya bergetar dan aku menatap matanya, dia terlihat lelah dan hancur.
Aku berbaring dan mendekatkan bibirku ke keningnya, dan tahu jika kutanyakan "ada apa?" dia akan terdiam lagi. Meninggalkanku sendiri tenggelam dalam pikiranku.
Dia sepertinya menghargaiku karena tak banyak bertanya. Dari tatapan matanya, dia hanya ingin menghindar dan mengalihkan pikirannya. Sejenis keliaran yang dia harapkan dapat kuberikan.
Aku akan memberikannya.
Untuk malam ini, aku akan mengganti semua kesedihannya dengan hasrat liar.