The CEO's Wife

The CEO's Wife
Chapter 6



- Kieran -



Aku penasaran bagaimana Connor dapat menyembunyikan aktifitas geng nya dari Alina selama tiga bulan sedangkan Aku bahkan tidak mampu melakukannya untuk beberapa jam saja.



Cara dia memandangku cukup jelas bahwa dia tahu aku menyembunyikan sesuatu dilenganku dan aku menjadi semakin gugup. Aku bertanya begitu banyak pada Lucy untuk membantu mendapatkan cincin pernikahan



Dia menyarankanku membuat ini romantis untuk Alina, walaupun ini hanya pura-pura. Katanya satu pertunangan yang gagal sudah cukup bagi seorang wanita untuk diterima dalam seminggu dan aku seharusnya mempersiapkan sesuatu yang spesial untuknya.



Aku membuang ide itu awalnya, namun pada akhirnya hatiku memutuskan, tidak bisa hanya memasangkan cincin di jarinya dan menandai bahwa dia adalah milikku untuk beberapa hari ini. Aku tidak akan melakukan itu kepadanya saat aku tahu dibalik semua keganasannya, ia adalah seorang wanita yang ingin dicintai.



Aku tidak bisa memberikan itu padanya, jadi aku memberikan hal kedua terbaik. Yaitu sebuah malam romantis untuk dikenang.



Kami menyusuri pantai yang tenang, sesekali terdengar suara anak-anak dan orang tuanya dan juga ada beberapa pasangan, sempurna. Matahari yang sedang terbenam memberikan warna pink dan ungu lembut melintasi langit dan Aku mengayunkan hak tinggi Alina di tanganku, dan tangan lainnya memegang tangan Alina.



Ini aneh, cara tangannya memegangku seperti sudah ditakdirkan disana. Aku belum pernah merasa sepenuh ini.



"Kamu terlihat aneh Kieran, Aku tidak terbiasa dengan kamu yang sangat pendiam. Setidaknya mendenguslah seperti biasa atau lakukan sesuatu", Alina berhenti berjalan dan aku harus menghadapi kecantikannya.



Itu tidak adil jika aku menginginkan dirinya namun aku tidak mampu untuk mencintainya. Sinar matahari mencium kulitnya yang lembut dan Aku menjangkau untuk membelai pipinya, "Aku bukan manusia gua Alina, Aku tidak mendengus."



Dia mengejek, "Kau akan terkejut mengetahui seberapa sering kau melakukannya."



Aku tersenyum dan mendengar dia berhenti bernafas untuk beberapa saat. Ini terasa tidak biasa, otot wajahku yang tidak digunakan meregang menjadi sebuah senyum lebar.



"Ada hal yang ingin aku tanyakan padamu sayang."



Dia menelan ludah, sudah mengantisipasi yang terburuk, "Apakah kamu seorang pengedar obat?"



Aku tertawa dan bahkan itu terdengar aneh bagiku, "Satu-satunya obat yang aku punya dan candu adalah kamu Alina."



Matanya membelalak dan kata-kata ku terasa berat di perut ku seperti batu. Dari mana kata-kata ini berasal?



Aku berdeham, berharap untuk meredakan situasi tegang, "Sebagai suami palsumu tentunya. Aku kadang terlalu menjiwai karakter, aku minta maaf."



Dia tersenyum kecil namun tidak pada matanya, "Tidak apa-apa, kamu melakukannya dengan baik."



Aku memegang wajahnya dalam tanganku dan menyentuh bibirku pada dahinya, aku merasakan dia sedikit gemetar, "Kembali ke pertanyaanku, Ada hal yang ingin aku tanyakan padamu."



Dia mengangguk dan menunggu dengan sabar sementara Aku mendapatkan akalku kembali, Aku bisa tersesat dalam tatapanya dan tidak pernah kembali ke permukaan. Aku menarik kotak beludru kecil dari kantong blazerku dan membukanya.



Nafas terengah keluar dari bibir manisnya dan aku berlutut di atas pasir di depannya, "Alina Simmons, maukah kamu menerima aku, Kieran Knight, sebagai suami palsumu untuk empat hari ke depan dan apapun itu yang masih tersisa dari bulan madu palsu kita?"



Dia memandangku seperti aku memiliki mata ketiga dan Aku tidak bisa menahan dan tersenyum kembali.



"Kieran kamu tidak perlu begini," Dia memegang tanganku dan mencoba menarikku berdiri, itu hanya membuatku semakin keras kepala.




Aku menahan posisiku dan dia menyerah untuk mengangkatku.



"Aku menunggumu sayang."



Bibirnya gemetar, membuat aku bertanya kembali pada diri sendiri. Apakah ini terlalu berlebihan untuknya?



"Kamu tidak perlu melakukannya jika kamu tidak mau. Aku hanya pikir ini terlihat bagus dalam permainan yang kita lakukan. Jadi pria seperti Nigel akan berhenti bermunculan di depan mu", Aku bercanda, berharap ini dapat mengurangi ketegangan di pundaknya.



Itu tidak berhasil, tetapi dia memaksakan sebuah senyuman dan akhirnya mengangguk, "Baiklah, hanya sampai semua ini berakhir."



Itu tidak nyata, tapi hatiku yang tanpa emosi terasa seperti melonjak melintasi alam semesta.



Aku berdiri dan menyelipkan cincin di jari manisnya sebagai tanda dia milikku. Cincin itu membalut jarinya dan Dia melihat kearahku dengan pandangan gemerlap yang cocok dengan permata pada cincin itu.



Aku memegang wajahnya dan membungkuk untuk mencium bibirnya. Dia merespon dengan sungguh-sungguh namun aku tahu dia menahan diri



Mungkin dia menyimpannya untuk nanti.



Aku menarik diri dan dia terhuyung tidak stabil. Aku memegang pinggangnya dan memeluknya, agar tubuhku dapat menahannya.



"Aku memiliki kejutan lain untukmu."



Jika matanya lebih lebar lagi, dia bisa menjadi seekor burung hantu.



Aku membawanya ke sebuah rumah pribadi kecil yang aku sewa dan dia terlihat lebih nyaman dari beberapa menit yang lalu.



Ini melegakanku, melihat bagaimana dia menjadi tenang secara drastis hanya dengan perubahan sederhana di sekelilingnya.



"Aku serius Kieran, kamu tidak harus melakukan ini. Ini hanya jangka pendek, kamu tidak seharusnya- kita tidak seharusnya-"



Dia berhenti mengoceh ketika mata kami bertemu dan aku mendekatinya, memegang tangannya dalam genggamanku, "Aku ingin melakukannya. Aku tahu kamu telah melalui banyak hal dan kamu tidak ingin membaginya denganku. Tetapi di sini, Aku akan mengangkat semua kekhawatiran itu darimu. Hanya untuk empat hari ke depan, biarkan aku menjadi suamimu."



Aku tidak pernah tahu mulutku dapat membuat kata-kata seperti itu. Ini membuatku takut. Menakuti Kieran Knight yang biasanya tidak berperasaan.



Suara hatiku telah mengambil alih tubuhku dan aku tidak menyadari perubahan itu.



Dia menarik diri dan melihat sekeliling kami. "Walau demikian ini gila. Kamu tahu itu kan?"



Aku mengangguk pelan, tidak merasa menjadi dirku sama sekali. Mengapa aku begitu baik padanya? Mengapa aku memperlihatkan kepedulian untuk seorang wanita? Mengapa aku mendengarkan Lucy?



Mengapa aku sangat menikmati kebersamaan dengan Alina?



"Ayolah, jangan bilang kamu tidak pernah terpikir untuk melakukan sex di tempat terbuka?" Aku mencoba meyakinkan dia dan diriku sejauh ini untuk kebutuhan duniawi



Seandainya hatiku akan berhenti menjadi hidup.



Dia berhenti mengagumi pemandangan dan melihat kembali padaku, "Semua ini hanya untuk sex?"



Aku kembali menjangkaunya dan melingkarkan lenganku pada pinggangnya, menurunkan kepalaku ke lehernya yang sensitif, "Sex yang mengagumkan."



Dia memberikan akses untuk lehernya seperti yang dia lakukan di pantai dan Aku menandainya dengan senang. Mencium dan menggigit leher nya yang lembut, desahan nya yang sensual memenuhi ruangan.



Aku mengangkatnya dan membawanya ke ranjang, membaringkan dia dengan lembut.



Aku bangun dan melepas tirai dari penyangganya. Membuat tirai menjuntai dan melindungi kami dari dunia.



Untuk saat ini dan empat hari ke depan, hanya Alina dan Aku.




- Alina -



Dia berbohong. Aku dapat melihatnya dari matanya. Aneh bagaimana aku bisa tahu dia tidak berkata jujur padahal kami baru berkenalan beberapa hari ini.



Cara dia memandangku saat dia melamar palsu adalah sebuah indikator jelas bagiku.



Kami tidak dapat melanjutkannya.



Hal yang sudah kita jalani ini mulai mendalam dan jika kita melanjutkannya lebih dalam dari sebelumnya, layaknya perahu akan terbalik dan meninggalkan kita berdua tenggelam didalam kegelapan terdalam.



Jadi aku harus pergi. Meninggalkan pria telanjang yang tampan di sampingku dan membiarkan dia berada di kapal agar kapal tetap mengapung. Paling tidak salah satu dari kami harus selamat.



Dia menarikku mendekat padanya, wajahnya terbaring tepat di atas dadaku, "Istirahatlah sayangku."



Suaranya sangat serak dikarenakan aktifitas sex tadi, membuat aku merinding.



Aku memainkan tanganku di rambut kacaunya yang sexy, "Sampai kapan kamu berencana tinggal di sini Kieran?"



Dia mengerang dan menatapku sejenak sebelum meringkuk payudaraku, "Apa maksudmu? "



"Sebelumnya kamu tahu aku di sini untuk bulan madu, berapa lama renncanamu tinggal di sini?"



Dia mengela nafas, nafas hangatnya melintasi putingku, "Hanya untuk akhir pekan."



Jantungku tersentak, "Mengapa kau tetap disini?"



"Kamu terlihat membutuhkan seseorang di sini, aku menawarkan diri. Semua orang akan melakukannya demi sex yang sangat mengagumkan darimu.



Aku bisa merasakan kekasaran dalam nadanya, seolah dia terpaksa mengucapkan kata-kata itu keluar dari mulutnya. Dia tidak bermaksud semua itu. Setidaknya akhir dari kalimatnya.



"Kamu terdengar seperti manusia gua yang kekurangan sex"



Dia tertawa kecil, badannya bergetar dengan suaranya yang dalam, "Mungkin, hanya saja tidak di bagian kekurangan sex."



Aku tersenyum dan membiarkan kehangatannya mengunci hatiku yang dingin untuk beberapa jam, "Selamat malam Kieran."



"Selamat malam istriku."



Aku tidak berani menyentuhnya lagi setelah itu. Garis batas mulai buram, antara fantasi dan kenyataan.



Dunia pelarian kecil yang kami buat menjadi terlalu nyata dan emosiku tidak menentu. Aku tidak suka diriku yang mampu membaca ekspresi Kieran, mengerti setiap ucapan dan perubahan suasana hatinya.



Kami tidak mengetahui satu sama lain seperti itu. Dan aku tidak ingin mempelajarinya lebih lanjut.



Aku tetap di ranjang dengannya selama sejam atau dua jam, tersadar penuh. Menunggu dia tertidur lelap sehingga aku dapat meninggalkannya.



Meninggalkan untuk selamanya.



Aku mengangkat lengannya dan bergeliut keluar dari dekapannya, tubuhku benar - benar membenci ide untuk pergi. Menginginkan kehangatannya menyarungi dan menutupiku dalam kehampaan.



Tapi pikiranku sangat kuat, seperti seharusnya.



Dia bergerak dalam tidurnya dan Aku terhenti, melihat kebawah kearah wajah damainya. Kepuasan akan nafsu yang dia miliki dari tubuhku.



Hatiku semakin sakit saat aku menyelinap dan mengambil bajuku di lantai. Aku berpakaian dengan cepat dan membuat sedikit bayangan. Angin dari laut menyapu wajahku dan aku merasa lebih baik, seperti alam mengatakan padaku semua akan baik-baik saja.



Meski air mata mengalir di wajahku.




Mengapa hatiku hancur saat memikirkan untuk meninggalkannya?



Aku kembali ke ranjang dan membungkuk kepadanya, mencium pipinya. Berhati-hati agar air mataku tidak mengenainya.



"Maafkan aku sayang," Aku memutar lepas cincin di jariku dan meletakkan nya diatas meja kecil samping ranjang.



Aku berpaling dan berjalan sampai aku menemukan Limo dari tadi malam, malam paling romantis yang pernah aku alami.



"Nyonya Knight, ini masih pagi buta. Apakah Tuan Knight ikut? Supir itu bertanya.



Aku menggelengkan kepala, "Bawa aku kembali ke hotel, ada bisnis yang harus aku hadiri. Tolong kembali jemput Tuan Knight saat matahari terbit."



Aku menelepon selama perjalanan menuju hotel. Meminta Wilson untuk memesan tiket pesawatku dan memberitahukan perusahaan bahwa aku akan datang lebih awal untuk memulai pekerjaan lebih awal.



Aku perlu agar pikiranku tidak memikirkan Kieran sama sekali



Ruangan kosong dan terasa sepi dibandingkan pagi kemarin.



Aku memasukkan pakaianku ke dalam koper dan hendak pergi ketika Lucy muncul di depan pintu.



"Nona Simmons, kau akan pergi ke suatu tempat?"



Aku memainkan pegangan koper,"Ada masalah yang harus kuurus dirumah. Tolong beritahu Tuan Knight bahwa aku akan pergi, ok? Dia bisa tetap tinggal disini karena aku sudah memesannya."



"Mengapa nona, Tuan tidak akan senang mengetahui kau pergi tanpa berpamitan."



Aku terdiam dan mengambil nafas panjang, "Aku yakin dia akan mengerti, lagipula menurutku ini bukan masalah untuknya. Aku bersenang-senang, Kami bersenang-senang. Saatnya kembali ke realita."



"Apakah anda yakin ingin melakukan ini?"



Suaranya menggema di kepalaku dan terdengar mirip ayahku.



Apakah aku benar-benar ingin pergi?



Meninggalkan sentuhan Kieran, belaian lembutnya, pelukan hangat dan ciumannya yang bergairah?



Semuanya terlalu nyata, sesuatu yang tidak pernah aku harapkan.



Harapan dapat membunuh



"Aku yakin."