
- Alina -
Jika dia terlihat tidak sempurna, aku akan menginjak kakinya dengan sepatu hak tinggiku dan menampar wajahnya yang tak berekspresi itu.
Tapi, sial, dia benar benar terlihat menggoda.
Terutama ketika dia terlihat putus asa.
Agen Asuransi seperti apa yang terlihat begitu seksi? Oh iya, dia adalah CEO dari perusahaan tersebut.
Setelan jas hitam pas badan, rambutnya di sisir rapi ke belakang, wajah yang tajam dan badan seperti di pahat. Mata sialan itu, mereka tidak ada akhirnya.
Aku menggertakkan gigiku dan mencengkeram kemudi lebih kencang, jika saja aku tidak akan segera menikah.
Namun, jika memang pernikahan akan tetap lanjut.
Aku mengendarai Bugatti Veyron silver ku melalui pagar yang terbuka menuju rumah dan berhenti di depan pintu utama. Kemarahan terhadap tunanganku telah mengalihkan ketertarikan penuh gairah terhadap Tuan Knight dan aku siap untuk meledak sekarang!
Ban mobil berdecit ketika berhenti dan aku melompat keluar, sopirku berlari menuruni tangga dan masuk ke mobil untuk diparkir dalam garasi. Sepatu hak tinggi ku berdetak ketika menginjak batu dan aku bergegas menuju pintu utama. Pelayanku, Wilson, membukanya begitu aku mendekat, "Selamat datang ke rumah Nona, apakah ada yang bisa saya bawakan untuk anda?"
"Sebotol anggur merah akan sangat menyenangkan, terima kasih," Aku melanjutkan perjalanan melalui ruang keluarga yang mewah dan menaiki tangga besar menuju kamar tidur ku.
"Jikalau begitu saya harus menyiapkan dua gelas?" Tanya Wilson dan aku menghentikan langkahku.
Aku menoleh dan melihat ke arah tangga, dia masih berdiri di sebelah pintu, "Apa kau bercanda? Aku yang akan menghabiskan sebotol itu sendiri. Tuan Connor Anderson tidak akan mendapatkan setitik pun."
Saat aku mencapai kamar tidur dan membuka pintu, Connor, tunanganku menatap dari kegiatan berkemas yang sedang di lakukan. Matanya bersinar dengan kegembiraan sampai dia sadar dengan ekspresiku yang mematikan.
"Hai sayang, ada apa? "Dia bertanya dengan berhati hati dan aku membiarkan senyum suram muncul di wajahku.
"Ada apa? Coba tebak aku pergi ke mana hari ini? Tebak saja temen tercinta ku yang manis" Ejekku dan dia terlihat menelan ludah.
"Pasti terjadi sesuatu di tempat kerja kan? Aku hampir tidak pernah melihatmu semarah ini, aku sudah mengatakan padamu agar tidak pergi bekerja hari ini. Besok adalah hari besar kita dan kau perlu istirahat sebanyak mungkin sayang" Dia mengulurkan tangan untuk memegang bahuku tetapi aku mundur ke belakang dan melotot padanya.
"Aku tidak pergi bekerja hari ini. Aku pergi ke 'Knight Insurance Agency', penanggungjawab asuransi untuk semua mobilmu, apakah itu memberimu petunjuk?"
Matanya seolah olah mau keluar ketika dia menyadari apa yang aku bicarakan, "Apa? Untuk apa kau pergi ke sana? Katamu tadi kau minta di antar ke kantor?"
Aku menaikkan jariku, "Aku memang mengatakan begitu, aku tidak mengatakan kantor yang mana. Dan kau tidak berhak untuk mempertanyakan dan memutar kata-kataku ketika kamu ternyata orang yang berbohong padaku."
"Aku tidak pernah berbohong padamu Alina, aku mencintaimu, mengapa aku-"
"Kalau begitu jelaskan apa yang Tuan Knight telah katakan padaku. Berhutang? Berhubungan dengan geng? Mengklaim dari perusahaan asuransi untuk membayar hutangmu? Apa apaan ini?"
Lututnya tertekuk dan berlutut di atas lantai, suaranya mengecil dan terdengar putus asa, "Aku-aku minta maaf Alina, aku hanya memiliki sedikit urusan kerja dengan mereka. Bukan sesuatu yang besar. Hanya membantu mereka mencari tempat untuk melakukan pekerjaan dan mereka membayarku keuntungan yang besar dari komisi. Mereka memintaku untuk bekerja untuk mereka tetapi aku menolaknya Alina, aku tidak dapat melakukan itu terhadapmu, terhadap kita. Memang apa yang aku lakukan itu beresiko jika sampai di ketahui polisi, aku akan di ambil dari dirimu.
Aku bersumpah Alina aku tidak pernah bekerja untuk mereka, aku hanya mencari tempat untuk mereka sewa dan hanya itu saja. Mereka mulai menekanku untuk mencari tempat yang lebih besar dan aku tidak dapat memenuhi keinginan mereka, mereka berbenti membayarku sepenuhnya. Aku tidak mampu membayarnya, aku harus menutupinya darimu dan bunga hutang bertambah terus. Lalu aku teringat akan jumlah besar yang kita masukkan dalam asuransi mobil. Hanya itu satu satunya jalan, tidak mungkin kau akan setuju untuk menjual rumah-"
Tubuhku terbakar dengan kemarahan dan tanganku melayang ke arah pipinya bahkan sebelum aku berfikir untuk menghentikannya, tamparan itu menggema sepanjang ruangan,"Kau berpikir aku kesal karena masalah uang?!"
Dia tampak gemetar ketakutan sementara mataku menatap seperti belati padanya, suaraku membesar saat kemarahan menguasai, "Ayahku sedang di rumah sakit semua karena kebodohan dan kecelakaan yang kau buat! Dia terluka karena kamu dan ide bodohmu! Kamu menabraknya!"
Aku mencengkeram leher bajunya dan menggungcangnya seiring dengan air mata yang membanjiri mataku, bayangan tentang ayahku terbaring di tempat tidur rumah sakit, cedera dan patah tulang, hancur hatiku dan aku ingin menembak kepala bajingan ini.
"Maafkan aku sayang, aku tidak bermaksud begitu- aku bersumpah aku-" Dia memegang bahuku untuk menenangkanku dan berusaha menjauhkan diri dari cengkramanku.
Aku mengayunkan tinjuku ke wajahnya dan menendang area pusakanya, mendengarnya menangis kesakitan sebelum dirinya menahan pergelangan tanganku untuk menghentikan seranganku. Aku menepis tangannya, darahku mendidih saat dia mengelap darah yang keluar dari hidungnya dan menekan selangkangannya.
Matanya terlihat seolah olah memohon, "Alina tolonglah, aku membutuhkanmu, aku mencintaimu."
Air mata yang jatuh ke atas pipiku adalah air mata baru, menangisi cintaku yang telah musnah. Aku tidak akan bisa hidup dengan seseorang yang menyakiti ayahku. Apalagi menikahi seseorang yang bisa melakukan sesuatu seperti ini di belakangku. Kecelakaan atau tidak, kerusakan itu telah terjadi dan itu adalah keputusannya yang membuat ayahku terbaring di rumah sakit. Dia bahkan memiliki keberanian untuk berpura-pura bahwa itu bukanlah masalahnya.
Geng? Aku membenci semua orang yang berhubungan dengan mereka.
Aku menguatkan hati dan perasaanku, merasakan otot di hatiku mengepal menyakitkan."Ini sudah berakhir Connor, pernikahan ini dibatalkan. Aku tidak mau melihatmu lagi selamanya."
***
- Kieran -
Aku terbangun disamping seorang gadis dengan tubuh ramping tak berbusana dan mengerang. Baiklah, waktunya untuk pergi.
Aku memaksa diriku bangun, sinar matahari mengalir dengan cerah ke dalam kamar. Untuk kamar normal di hotel, ini relatif baik. Bagaimanapun ini terasa terlalu kecil untuk ukuranku.
Aku tiba di Hawaii tengah malam dan langsung pergi minum. Berharap untuk menenggelamkan semuanya disini sebelum menikmati sinar matahari di pagi hari.
Aku memungut pakaianku di lantai dan berpakaian, mendengar suara menguap wanita itu di bawah selimut, "Sudah mau pergi?"
Aku nyaris tidak berbasa basi kepadanya, "aku harus bertemu dengan seseorang."
Bohong, tapi apakah itu berarti? Gadis asing ini tidak mengenalku.
Aku menangkapnya menatapku di bar tadi malam dan aku mengambil kesempatan itu untuk melepas kepenatanku. Dan untuk melupakan si cantik yang telah menyerang kantorku.
Aku memaksa pikiranku untuk berkonsentrasi ke hal lainnya ketika aku merasakan gadis itu, yang bahkan namanya saja aku hampir tidak mengingatnya, melingkarkan lengannya di sekeliling pinggangku dan berbisik ke belakangku, "Tidak bisakah kau tinggal untuk satu ronde lagi? Atau mungkin bolehkah aku mengundangmu ke sini lagi nanti malam sebelum penerbanganku?"
Aku menyingkirkan tangannya dan berbalik untuk melihat dia. Dia memiliki ikal pirang pantai yang menutupi bahunya dan bibir nya masih bengkak dari semalaman bersanggama. Tapi itu adalah seks yang nikmat, aku merasa lega dan kosong.
"Aku tidak bisa, aku tidak melakukannya dua kali," Aku menjawab dengan dingin dan dia tertegun.
"Tapi kau bahkan memberiku hadiah! "Dia mengangkat tangannya dan memegang wadah emas lipstik Alina.
Aku menyipitkan mataku padanya dan merampas kembali darinya, "Apa kau menggeledah pakaianku? "
Dia mendengus dan melipat tangannya menutupi dirinya yang telanjang, "aku pikir kamu adalah orang romantis. Memberikan wanita sebuah Lipstik Edisi Terbatas, ternyata hanya tukang selingkuh sialan dan pembohong. Lalu apa lipstik ini? Ulang tahun cewemu? Anniversary?"
Tuhan yang baik, yang aku inginkan hanyalah istirahat sebentar.
"Semoga penerbanganmu menyenangkan," aku menjawab tanpa emosi sedikit pun dan pergi.
Aku membiarkan blazer hitamku menggantung di lenganku, matahari terasa hangat sekarang dengan sedikit angin dibandingkan dengan dingin nya tadi malam. Aku melihat sekali lagi melalui bahuku untuk memastikan gadis itu tidak mengejarku dan aku melambai untuk memanggil taksi.
Aku membiarkan sinar matahari dan pemandangan indah membanjiri pikiranku dan perasaanku. Segala ketegangan dan kesakitan yang telah bersarang di pikiranku sepertinya mengalir pergi dan aku menghirup udara asin dari pantai.
Cuaranya sempurna hari ini dan aku ingin bersantai di pantai untuk beristirahat.
Taksi itu mengantarku hingga ke pintu masuk hotel bintang lima yang akan aku tempati selama aku di sini. Aku membayar supir sebelum aku keluar dan mendengar decitan ban saat sebuah mobil berhenti secara tiba tiba di jarak yang tidak jauh.
Aston Martin Abu abu meraung dan sopir memanjat keluar, dengan cepat mengayunkan pintu penumpang hingga terbuka.
Sepatu hak tinggi wanita tersebut menginjak lantai marmer di area penurunan penumpang dan dia turun dari mobil. Sebotol Champagne di tangannya dihabiskan hingga tetes terakhir.
Aku melipat tanganku dan menahan ekspresiku dengan baik, sungguh suatu kejutan melihat dia disini.
Dia menyerahkan botolnya kepada supirnya, menaruh tangannya di pundak supir, atau menggunakannya sebagai penopang, aku tidak tahu.
"Beritahu Wilson agar memastikan Connor keluar dari rumahku paling lama sampai akhir minggu ini. Ini adalah bulan maduku seorang! " Dia berbisik kepada sopirnya dengan kasar dan aku menghembuskan udara.
Baiklah, dia sepertinya terlihat sudah tidak bertunangan lagi.
Dia melangkah ke depan dengan penuh percaya diri bahkan dengan sepatu hak tingginya yang berkilau dan dengan keadaan sedikit mabuk kearah lobi. Aku mengikutinya dari belakang dan tetap menjaga jarak aman darinya berjaga-jaga seandainya dia termasuk tipe yang melakukan kekerasan ketika mabuk. Dia meninggalkan supirnya di belakang dan menarik koper dengan bantuan bellboy.
Alina bersandar pada Meja Resepsionis untuk check-in dan aku berdiri di belakangnya, memerhatikan dirinya.
Dia menyerahkan identitas dirinya dan pemesanan kamarnya telah di konfirmasi oleh wanita di belakang meja, "Hai, aku telah memesan kamar suit untuk bulan maduku? Tetapi aku um-"
Resepsionis itu mendongak keatas kearahnya, "Oh kau pasti adalah Nyonya Anderson, kami belum mengharapkan kedatangan anda sampai hari esok-"
"INI adalah Nona Simmons untuk kau panggil, aku sudah tidak lagi bertunangan dan aku menolak untuk menikah saat itu. Tolong daftar kan aku ke kamar biasa, aku tidak memerlukan 'Honeymoon Suit' sialan, " Alina berbicara dengan cadel sambil berdiri dengan goyah.
Jelas sekali dia sudah lajang sekarang.
"Maafkan aku Nyonya Anderso- maksudku Nona Simmons, kamar kami penuh untuk hari ini. Kamar suit-mu baru tersediabesok, saat ini sedang ada yang menempatinya."
Tentu saja, olehku.
"Kau dengarkan aku ya-" dia memulai dan aku tidak bisa membiarkan dia merusak lobi hotel kesukaanku.
Aku maju dan memegang lengannya, "Sayang biar aku yang mengurus ini untukmu."
Alina melihat ke arahku, matanya yang berkaca kaca menatap jauh kedalam jiwaku yang gelap. Kedua alisnya berkerut dan dia mengangkat jari telunjuknya dan menepuk ujung jarinya ke hidungku.
"Aku mengenalmu kan?" Dia bergumam dan aku melingkarkan lenganku ke pinggangnya yang ramping.
Aku menoleh ke arah resepsionis dengan seyum lebar, "Maafkan aku tentang hal itu, temanku, Tuan Anderson, seharusnya memesan kamar suit atas nama Alina tetapi dia malah menggunakan namanya sendiri.”
"Tuan Knight, apakah kamu berhubungan dengan Nona Simmons?"
Aku memeluk Alina lebih erat ke badanku, menikmati hangat tubuhnya, "Nona Simmons adalah istriku. Tolong kenali dia seperti itu."
Mata resepsionis itu melebar dan dia segera membuat pengaturan sementara Alina tetap menatap ke arahku.
"Apa? " Aku memiringkan kepalaku dan dia menggerakkan tangannya berlari turun ke arah kancing kemejaku.
Aku menelan ludahku.
"Kau adalah lelaki tampan yang kemarin itu! Aku mengingatmu! "Dia menjerit dan aku mencondongkan tubuhku ke depan untuk berbisik di telinganya.
"Hentikan itu sayang, tubuh indahku tidak akan menjadi rahasia lagi jika kau tetap melakukan ini."
Alina tertawa sambil cegukan dan aku menariknya menjauh agar dapat melihat wajahnya yang berubah menjadi hijau seperti sedang sakit sebelum dia memuntahkan isi perutnya ke lantai marmer yang megah dan sepatu sepuluh ribu dollar ku.
Terlalu banyak berharap agar tidak merusak lobi.