
- Alina -
Pria dan Insting alfa mereka, benar-benar membuatku muak.
Aku tahu, Kieran tidak mencintaiku. Tapi sebagai suami gadungan, dia memainkan perannya dengan sangat baik.
Sarapan di ranjang, cemburu dengan pria lain yang bicara denganku, menjadi sangat protektif dan sex yang luar biasa.
Dia melakukannya dengan sangat baik.
Aku tidak.
Pada titik ini aku tidak bisa membedakan mana yang nyata dan tidak. Tiap kali dia mengatakan atau melakukan sesuatu yang manis atau sedikit menyenangkan aku harus mengingatkan diriku bahwa semua ini hanya akting belaka.
Tidak ada satupun yang nyata.
Aku berkata pada diriku sendiri untuk menikmatinya, tapi sekarang aku takut, bahkan aku tidak ingin semua ini berakhir. Ini sungguh menakutiku.
Harapan membuatku takut.
Karena harapan diciptakan untuk dihancurkan tanpa ada kesempatan untuk mewujudkannya.
Itulah kenapa orang menyebutnya harapan.
Kupikir Connor adalah Laki laki yang hebat, baik dan lembut. Bahkan saat bercinta. Tapi siapa yang tau dia seorang laki-laki yang licik dengan segudang hal yang melanggar hukum? Meminjam uang ayahku, menghancurkan semuanya dan pada akhirnya ayahku yang menanggung akibatnya.
Jadi saat Kieran tampil mempesona dengan celana khaki dan singlet hitam, aku harus menahan emosi dan tidak mengharapkan apa pun.
Dia melakukan ini untuk bersenang senang, hanya sebuah permainan.
Pantai Maulaka sangat terang dan cerah, airnya jernih dan biru. Pria yang berdiri disampingku melingkarkan lengannya di pinggangku, bibirnya menekan puncak kepalaku, "Aku harap kau mengenakan sesuatu yang sopan di dalam."
Aku mengejek, "Apakah itu yang kau pikirkan sepanjang jalan kemari Kieran?"
Dia mengangkat bahu dan memiringkan daguku agar memandangnya, "Tentu saja tidak, aku sedang berpikir apakah aku bisa membantumu melepaskan terusan ini sebelum berenang dengan para penyu."
Kulitku merinding karena ucapannya tapi aku menatapnya tajam dan menantang, "Aku bisa melakukannya sendiri, terimakasih atas niat baikmu."
Kami melihat Nigel mendekat dan berlari ke arah kami seperti penjaga pantai tampan dari "Baywatch"
Pelukan Kieran menjadi lebih erat tapi aku terus menatap Nigel dan aku berusaha meredam perasaan senang yang kurasakan karena kelakuan suami gadunganku.
Dia peduli padamu! Dia cemburu pada pria lain karenamu!
Ya benar sekali.
Nigel memegang pipiku dan melayangkan ciuman ringan layaknya seorang teman. "Halo Alina cantik. Kau lebih berkilau dari matahari hari ini."
Aku menatapnya, "Apa kemarin aku begitu suram?"
Dia tertawa kecil, "Astaga tidak, kau punya selera humor yang baik. Jadi ini pasti suami yang membiarkanmu berenang sendirian di kolam?"
Kieran menggeram seperti manusia gua lalu berlagak menjadi sopan dan menjabat tangan Nigel, "Dia tidak mengizinkanku melihatnya saat memakai bikini, katanya aku tak akan bisa melepas tanganku darinya. Dia membuktikannya saat dia kembali ke kamar suite kami dalam tubuhnya yang basah kuyup."
Wajahku terbakar dan aku melihat gejolak diantara kedua pria ini, "Kieran, ini temanku juga instruktur selam untuk hari ini, Nigel Hale. Nigel ini adalah suamiku, Kieran Knight."
Mereka melepaskan tangan mereka dari jabat tangan yang erat dan Nigel berpaling ke arahku dengan senyum lebar.
"Aku tidak menyangka wanita secantik dirimu cepat sekali untuk menikah. Tapi kau tidak mengenakan cincin jadi kupikir kau belum menikah. Aku minta maaf karena tidak percaya padamu," Dia mengambil tanganku dan menciumnya.
Aku bisa mencium aroma kemarahan Kieran dan sekilas menatapnya. Matanya dipenuhi rasa cemburu dan Nigel memberinya tatapan bercanda.
Apakah pria selalu kekanak-kanakan seperti ini?
"Kita tidak menggunakan cincin saat beraktifitas di air. Kita tidak mau kehilangannya khususnya saat melakukan hal yang tidak penting," Kieran menjawab dengan ketus.
Nigel bahkan tidak memandangnya.
"Kalau begitu ayo, Penyu-penyu itu tak akan menunggu kita," Nigel melepaskan tanganku dan Kieran meletakkan lengannya di bahuku.
Ini akan menjadi hari yang berat.
***
- Kieran -
Kebahagiaan yang terpancar dari mata Alina saat melihat penyu berenang meluruhkan amarah dan rasa cemburuku pada Nigel.
Senyumnya sungguh berharga.
Darimana asal kalimat ini?
Dia sangat cantik dari semua sisi, bahkan Nigel juga bisa melihatnya. Kelembutan didepan dan kekuatan yang tersembunyi dibelakangnya.
Aku tak akan mengatakan aku mencintainya. Aku tak memiliki kemampuan untuk mencintai.
Meskipun, sangat senang melihatnya begitu lepas tanpa beban di laut.
Cincin pernikahan.
jika kami harus menjalani pernikahan ini selama empat hari kedepan, maka hal ini harus segera di tangani.
Sebentar saja ia tidak dalam pandanganku, sembarang pria mendekatinya. Itu tak akan terjadi lagi.
Itu seperti pemikiran pria primitif.
Aku meraih gelas birku dan menenggaknya, Alina mengangkat alisnya padaku.
"Jika aku tahu kau sangat membenci air aku akan menyarankan kegiatan lain. Tapi seperti yang kau bisa lihat kita dikelilingi oleh pantai dan laut yang luas, kau tidak bisa menghindarinya selamanya," Dia memakan fish dan chips dan menyeruput koktailnya seolah tak ada yang mengganggunya.
Aku mengambil nafas dalam, sejenak terpukau oleh kesempurnaannya, dia bahkan tak berusaha untuk mendapatkannya, "Aku menikmatinya Alina, meski Nigel seorang penggoda dan menggodamu setiap kali ada kesempatan."
Aku mengiris daging steikku dengan kasar dan makan dalam potongan besar. Aku sangat kelaparan.
Aku menjadi semakin mirip manusia primitif daripada yang kupikirkan.
Dia mengatupkan bibirnya supaya berhenti tersenyum, "Jika aku tidak mengerti dirimu, aku pikir kau benar-benar cumburu pada Nigel yang tampan."
Aku menelan, "Kau benar-benar berdikir dia tampan?"
Dia mengangkat bahunya, "Pirang bergelombang, Mata biru yang cerah, model Abercrombie dengan tubuh six packnya. Jika dia bukan pria tampan lalu aku tak tahu lagi."
"Aku pikir tidak seharusnya seorang istri memberi komentar dengan bebas tentang pria lain didepan suaminya."
"Aku bukan istri pada umumnya yang dapat kau jumpai dimana-mana, Kieran. Kau harus tau itu."
Aku meraih tangannya, membalikkan telapak tangannya dan menggambar lingkaran di pergelangan tangannya. "Aku tahu. Kenyataannya aku juga tau cara membuatmu meneriakkan namaku dan membuatmu melupakan hal lain dalam jarak ruang tamu ke kamar tidur."
Wajahnya memerah dan aku tau dia sedang mengingat tentang semalam.
Aku bangun dari dudukku dan berdiri di belakangnya, memijat bahunya sembari mengagumi payudara-nya dari sudut pandangku. Bikini pilihannya hari ini adalah terusan yang seksi dan aku tidak sabar hingga kami berdua lagi.
Aku membungkuk dan berbisik ke telinganya, "Aku harap kau bersiap untuk apa yang telah kusiapkan untukmu malam ini sayang. Aku bisa meyakinkanmu ini bukan hal biasa yang kamu lakuakn dan lihat bagaimana kau akan menghadapi ini."
Ketegangan kembali ke bahunya dan aku mendaratkan sebuah ciuman ke bahu kirinya.
"Kemana tepatnya kita akan menghadapi ini Kieran?"
"Melewati puncak kenikmatan dan di dalam ombak nafsu dan gairah."
***
-Alina-
Aku selalu mampu mengontrol diri.
Bila sesuatu terjadi tidak sesuai dengan keinginanku, aku akan berimprovisasi dan menyatukannya dengan caraku.
Karena jika aku melewatkan kesempatan, maka akan terjadi sesuatu yang bodoh dan sial seperti masalah ayahku yang terluka. Dan kehilangan ibu sudah cukup bagiku, matipun aku tetap akan melindungi ayahku.
Mendengar kata rayuan Kieran di telingaku dan membayangan hal nakal membuat tubuhku terbakar. Tapi detak jantungku yang liar mengirimkan sinyal ke otakku.
Semua ini hanya akting Alina, jangan biarkan pria dominan Kieran mendapatkanmu.
"Siap untuk pergi?" Suaranya yang dalam menembus pikiranku dan aku berputar ke belakang. Gaun biruku mengikuti gerakan dan aku telah tertahan oleh tatapannya.
Dia mengenakan setelan biru, mungkin saja untuk memadankan gaunku. Didalamnya dia memakai kemeja berwarna merah marun yang indah dan kontras warna itu membuatku terpesona. Dia benar-benar tampan, membuat orang pangling.
"Apa rencanamu Tuan Knight?" Dia menggenggam tanganku dan mengarahkanku ke lift.
"Tuan Knight? itu panggilan baru."
"Menghindari pertanyaanku, bertele-tele dan memberikanku tatapan aneh. Kuharap kau tak akan membatalkan rencanamu bersamaku dan kembali ke kota."
"Aku jamin sayang, meninggalkanmu adalah hal terakhir yang aku pikirkan."
Perasaan aneh timbul dan aku menatap Kieran saat kami memasuki Lift.
Dia menatap mataku dan mengusap pipiku dengan lembut, "Aku ingin bertanya ada apa, tapi kau mungkin akan berlari ke kolam renang lagi dan mengabaikanku."
Kami tiba di lobi dan dia menuntunku ke limosin yang sudah terparkir. Dia membuka pintu dan aku masuk ke mobil, Kieran duduk disampingku.
Dia meraih tanganku kedalam genggamannya lagi dan mengarahkannya ke bibirnya, mencium tiap jariku yang aku perhatikan ini telah menjadi kebiasaannya. Berapa banyak wanita yang telah luluh pada sikap manisnya?
"Kau tak pernah lagi memakai lipstik sejak kau mengunjungi kantorku. Apa kau hanya berdandan untuk orang lain?"
Ada kepahitan dalam nada suaranya, atau mungkin itu hanya imajinasiku saja. Aku tak bisa memberitahunya lagi dan peringatan di kepalaku mulai berubah menjadi sakit kepala. Aku kehilangan lipstik yang dirancang khusus ayah untukku. Dia meminta perusahaan kosmetik untuk membuat warna dan formula khusus untukku sebagai hadiah pertunangan.
Bagi orang lain mungkin biasa saja, tapi kami berdua tahu. Ibuku selalu punya sebuah ungkapan karena obsesinya terhadap warna lipstik, "Jadilah berani seperti lipstikmu."
Oleh karena itu ayahku membuat merah gelap yang menawan untukku. Dan entah bagaimana aku telah menghilangkannya. Aku harus menghubungi perusahaan kosmetik lagi untuk membuatkan yang lain. Hanya saja itu tak akan pernah sama dengan yang diberikan ayahku.
"Aku tidak menggunakan lipstik lagi, itu akan sangat mengganggu dan lengket khususnya saat kau mencium tunangan yang salah." Aku melihat keluar jendela mobil limo dan merasakan Kieran meletakkan tangannya di pahaku.
aku akan berubah jadi abu kalau dia terus menyentuhku.
"Sayang sekali, warna itu terlihat menawan di bibirmu."
Aku berpaling padanya, berpikir apakah dia sedang meledekku. Aku tidak dalam suasana hati yang bagus untuk sebuah ejekan.
"Terima kasih atas pujianmu Tuan Knight"
Kami tiba di restoran pinggir pantai. sangat indah dan megah. Kieran meraih tanganku dan pelayannya menuntun kami ke meja bercahaya lilin di geladak. Air yang menerpa di bawah dan aroma laut yang menyerbu penciumanku.
Kieran membantuku duduk. Makan malam disajikan dan berakhir dengan cepat sedangkan suamiku menjaga obrolan kami tetap ringan. Dia tidak lagi menyelidikiku dan bersikap baik dan lembut. Walaupun sebenarnya aku lebih suka dia mengatakan sesuatu yang menggangguku sehingga membuatku lebih mudah untuk meninggalkannya.
Oh tidak, apakah aku sudah takut pada hari perpisahan kita?
"Kau kelihatan tidak sehat Alina, Aku bisa membatalkan rencana kita malam ini dan kembali ke hotel." Kieran menelan sisa anggurnya dan aku melihat sedikit kegugupan dimatanya.
Apa yang membuatnya gugup?
"Aku baik-baik saja, mari lanjutkan apa yang sudah kau rencanakan malam ini sayang."
Dia menatap mataku dan dia segera tahu kalau aku juga menatapnya.