
- Kieran -
Waktu memiliki cara yang unik dalam menunjukkan pada kita apa yang sangat penting bagi kita.
Dan itu sangat menyebalkan.
Karena saat aku duduk di meja untuk makan malam bersama Alina dan ayahnya, aku tahu aku tidak akan pernah makan malam keluarga seakrab ini lagi.
Aku akan kembali menghadapi makan malam tak berarti bersama wanita dan check in di hotel untuk bercinta lalu pulang meninggalkannya di pagi buta.
Akankah aku bahkan ingin tidur dengan wanita lain setelah aku dan Alina berpisah?
"Jadi apa rencanamu setelah kau selesai bermain dengan putriku?" Tuan Simmons bertanya dan Alina tersedak anggur merahnya.
Aku melirik pada Alina dan menyerahkan serbet padanya. Ekspresiku tetap sama saat Tuan Simmons menunggu jawabanku.
Aku mungkin akan melanjutkan jadwal kerjaku. Tidak banyak hal yang dapat kulakukan diluar itu. Alina telah menjadi teman yang baik sepanjang minggu, aku tidak akan melupakan waktu yang ku miliki bersamanya," aku meneguk anggur yang penuh rasa, membiarkannya mengalihkan detak jantungku.
"Aku yakin kau akan melakukannya. Kau tidak berniat untuk melanjutkan hubungan ini dengan putriku?"
"Ayah!" seru Alina marah dan aku meletakkan gelasku di meja.
"Mungkin jika kami dipertemukan lagi di masa depan, kurasa untuk sekarang ini kami belum siap untuk ke jenjang yang lebih serius. Apakah aku benar, Alina?" Aku mengalihkan perhatianku padanya dan dia mengerjap beberapa kali sebelum menegakkan tubuhnya.
Pertahanannya bangkit.
"Dia benar ayah. Lagipula aku memilikimu untuk menghabiskan waktu luang bersama," dia menghabiskan anggurnya dan ayahnya menggeleng kepala.
"Aku tidak akan punya cucu dalam waktu dekat jika kau terus bersamaku Alina. Aku yakin Kieran dapat membantu kekuranganku akan cucu."
Dia tersedak lagi dan sebuah senyuman kecil terselip di wajahku, "Apakah kau baik-baik saja sayang?"
Dia memelototiku dan merampas serbet kedua dariku, menyeka bibirnya.
Tuhan tahu betapa aku ingin merasakan bibir itu lagi.
"Aku senang dokter sudah mengijinkanmu pulang dari rumah sakit tapi aku ragu apakah mereka lupa memeriksa ayah waras atau tidak." Alina menggerutu dan mengisi kembali gelasnya.
"Perempuan ini lebih kolot dari aku nak, aku bersumpah dia bahkan tidak tahu keberadaan anak-anak sampai beberapa tahun lalu ketika ibunya menyuruhnya untuk menikah," Tuan Simmons memutar bola matanya dan memasukkan potongan daging lain ke mulutnya.
Ibu Alina? aku tidak pernah mendengar kabar apapun tentangnya.
"Ibu tidak pernah memaksaku untuk mempunyai anak atau menikah. Kau membayangkan cerita dongeng bahagia di kepalamu tapi aku bukan putrimu yang biasa ayah. Aku seorang ratu," Alina meminum anggurnya dan menuangkan lagi ke dalam gelasnya.
Aku menaikkan alis, dia seorang Ratu. Dan dia juga hampir mabuk.
"Alina, Sayang, berhentilah menenggak alkoholmu seperti itu. Aku ingin berbicara denganmu, bukan versi mabukmu yang gila," ayahnya menarik botol anggur dan dia menatapnya.
"Aku tidak akan menikah dengan Kieran ayah, atau melahirkan anak-anaknya. Komitmen itu menyebalkan dan aku tidak mau merindukannya setiap harinya, setiap jam, dengan wajah bodohnya di kepalaku berulang-ulang. Connor dulu baik padaku ayah, aku berpikir itu cukup. Ternyata tidak, tidak ada yang pernah cukup. Aku tidak punya cukup waktu, tidak denganmu, tidak dengan Kieran dan tidak dengan ibu. Aku tidak ingin ditinggalkan dengan patah hati lagi ayah kumohon," matanya menyala-nyala saat dia menatap gelas anggur.
Udaranya tenang dan luar biasa tidak nyaman. Untuk orang luar.
+
Tapi sebagai seorang pria yang keras hati yang menghabiskan waktu hampir seminggu dengannya, aku tidak terganggu. Aku tahu dia membutuhkan dukungan bahkan sebelum aku bertemu dengannya di Hawaii. Aku ingin ada untuknya, dia tidak akan membiarkanku. Apa yang bisa kulakukan?
Tuan Simmons mengejek, "Kau sangat serius tentang ini ketika kau berkata kau tidak mau hal yang serius. Dan tidak ada orang yang sempurna Alina, Aku yakin kau telah menyakiti Kieran entah dimana sepanjang minggu ini dengan segala penolakanmu.
Aku memandangnya, rasa ingin tahu muncul di nadiku, "Apakah dia selalu seperti itu?"
Dia mengangguk, "Dia tidak menerima orang dengan mudah Kieran. Kau tamu pertama yang kami punya setelah Connor. Kau sungguh beruntung."
"Kau tahu aku masih disini, hanya karena aku sedikit mabuk bukan berarti aku tidak bisa berkomunikasi seperti manusia normal," Alina mendorong gelas kosongnya dan bermain dengan jari-jarinya.
Gerakan gugup sederhana membuatku merasa sehampa jari manisnya.
Adakah cara bagiku untuk memperbaikinya?
"Ya, aku senang dia tidak menendangku keluar dari sini. Ini adalah kemenangan besar bagiku," aku menatap matanya yang berkilau dengan emosi tak terucapkan.
Aku nyaris tidak pernah mendengar detak arlojiku, tetapi malam ini, aku bisa mendengar setiap detik berlalu. Itu menghantuiku.
Aku membantu membersihkan piring dari meja makan dan Wilson hampir memenggal kepalaku ketika aku memaksa membantu. Dia bersikeras agar membiarkan pembantu mencuci piring, jadi aku menyerah.
Kami bertiga kemudian pergi ke ruang tamu untuk menonton film tetapi akhirnya menonton Master Chef. Alina tertidur di sofa saat bercanda dengan ayahnya mengenai mentega dan minyak. Dia bersandar di bahuku, lengannya melingkari pinggangku. Aku menyibakkan rambutnya dari wajahnya dan dia meringkuk, mengencangkan cengkeramannya padaku.
"Dia menyukaimu Kieran, aku senang dia menyukaimu," Tuan Simmons melanjutkan menatap koki mengocok putih telur dengan gula dan aku mencium ujung kepala Alina.
"Aku tidak sebaik pria yang kau kira."
"Seorang pria yang bisa mengakui kalau dia bukanlah seorang kesatria berbaju besi yang bersinar dan siapa yang tidak membuat janji-janji yang tidak bisa ditepati sudah cukup baik untuk putriku. Tidak bermaksud menyindir."
"Aku yakin Connor melewati tes itu tapi dia ternyata berubah menjadi mengerikan."
"Nah, dia membuat Alina jatuh cinta dengan gagasan tentang dia. Dia bukan orang yang baik, menurutku. Tapi kau tahu bagaimana Alina ketika dia benar-benar keras kepala dengan sesuatu. Dia tidak bisa melihat hal negatif dan itu mengapa dia begitu keras padamu. "
"Aki tidak akan melanjutkan ini dengannya Tuan Simmons. Kami ada perjanjian yang saling menguntungkan dan aku tak bisa menjanjikannya kehidupan seperti kelinci dan pelangi. Aku sudah melewati banyak hal yang akan menghalangiku untuk mencintainya selayaknya."
"Ya Tuhan, panggil aku Alexander, Tuan Simmons sangat berlebihan. Dan supaya kau tahu, dia membenci pelangi. Beri dia waktu, dia akan sadar. Untukmu, di sisi lain, kau peduli padanya. Kau sudah jujur denganku tentang niatmu, sudah saatnya kau jujur dengan hati nuranimu sendiri. "
Jantungku berdegup kencang, seolah-olah ayah Alina mengakui kehadirannya, "Aku tidak bisa memberinya cukup."
"Itu akan lebih dari apa yang bisa kuberikan padanya. Alasan satu-satunya dokter membiarkanku pulang karena dia ingin aku menghabiskan waktu berkualitas dengan keluargaku sebelum aku pergi. Seperti yang kukatakan Kieran, waktuku tidak banyak lagi. Bisa dibilang aku putus asa akan seseorang untuk menjaganya, tapi aku tahu seorang pria yang baik ketika aku melihatnya. Dia akan hancur ketika aku tiada, aku hanya berharap kau akan ada untuknya."
Dia beralih menatap layar dan aku menghela nafas berat.
Janji. Dapatkah aku menepatinya? Aku berkata pada Alina aku tidak akan pernah mengganggunya lagi saat minggu kami habis. Tengah malam tinggal beberapa menit saja untuk hari kedua terakhir kami.
Aku melihat pada ayahnya, ekspresi kelelahan berjuang untuk hidupnya sekarang tenang damai. Pasrah terhadap apa yang akan terjadi.
Jadi aku membuat kesepakatan dengan iblis di hatiku memberontak melawan pemikiran untuk tinggal dengan gadis dipelukanku, "Aku akan coba."
***
- Alina -
Pantainya hangat dan cerah, angin asin mengalir melalui rambutku dan membawa aroma cologne Kieran dengannya.
Aku meremas lengan ayahku sedikit lebih kencang, masih tidak yakin mengapa dia memaksa berjalan-jalan dengan kami berdua ketika dia tidak memiliki tenaga untuk berdiri lebih dari beberapa menit dalam satu waktu.
Ayahku terkekeh, "Ya Tuhan Alina, kau menempel terus hari ini."
Aku menyelipkan kepalaku pada lehernya, merasakan tatapan Kieran membakar hingga punggungku. Terasa aneh, berbeda.
Kieran sedang berbaring di sofa ketika aku bangun pagi ini. Cara dia melihatku, aku tidak tahu apa yang kurasakan. Aku hanya tahu ada sesuatu terjadi dan aku tidak yakin jika aku bisa menerimanya.
Tidak setelah hatiku memutuskan untuk berlari di depan otakku dan mengambil masalah ke tangannya sendiri.
"Mengapa kamu membawa kami ke sini, Ayah? Kieran memiliki pekerjaan yang harus dilakukan dan aku merindukan hari pertamaku di bank."
"Bulan madumu belum selesai sayangku. Dan dari yang kulihat, kalau aku tidak turun tangan, aku tak akan melihat cucu seumur hidupku."
Aku menggembungkan pipiku dan melepaskan nafas menyebalkan. Akan sangat sulit untuk meninggalkan Kieran ketika semua ini selesai.
"Sudah kubilang, aku akan menghabiskan waktuku bersamamu."
Ayahku berhenti berjalan dan menatapku, sekilas terlihat keringat di keningnya dari jalan pendek. Dia melihat ke belakang dimana Kieran berdiri dan menunjuk ke arah kami berdua, "Dia terdengar sepertimu, dalam penyangkalan."
"Ayah-"
Auman speedboat membuat kami berbalik dan ayahku menepuk tanganku sebelum melepaskan, "Kendaraanku sudah disini. Kalian berdua baik-baik, ya?"
Wilson melambai pada kami dari keamanan kapal itu dan aku terengah-engah. Setelah ayahku memanjat, mereka melaju, meninggalkanku dengan Kieran yang sangat tampan.
Aku hampir bisa merasakan panasnya dari belakangku, kehadirannya yang membuat nyaman.
Dia melingkarkan lengannya padaku, menekan bibirnya ke leherku.
Aku merinding bahkan dengan panasnya matahari.
"Maafkan tentang ayahku."
Dia menggelengkan kepalanya, "Tidak apa."
Bibirnya menelusuri hingga telingaku, kemudian turun ke leher dan bahuku yang terbuka, "Sepertinya aku tidak pernah merasa cukup akan dirimu."
Aku meletakkan tanganku diatas tangannya, merasakan tubuhku jatuh pingsan sesaat karenanya, "Kau dan aku berdua."
"Ayahmu akan kecewa jika kita tidak berhasil."
Senyuman kecil yang kupunya sedikit goyah dan dia mencium pipiku, menekanku sedikit lebih kencang padanya, "Kieran, kita punya kesepakatan."
"Aku tahu dan aku akan manfaatkan sebaik-baiknya. "
Dia menggendongku dan sebelum aku bisa mencerna apa yang sedang dia lakukan, dia berlari lurus menuju air dan melemparkan kami berdua kedalam ombak.
Aku tergagap dan berdiri di perairan dangkal, menyeka wajahku dengan kedua tanganku. Kieran tertawa terbahak bahak tak jauh dariku, tubuhnya pun basah kuyup.
Aku tidak bisa menahan senyum bahkan dalam keadaan basah kuyup. Tawanya yang rendah namun ringan hatinya, aku tidak pernah bosan.
Aku pun tertawa, memercikkan air ke wajahnya, mendengarnya tersedak dan tertawa bersamaan.
Aku menggandakan tawaku dan dia menembakkanku tatapan mata nakal yang mematikan. Aku berlari dengan gila di pantai, merasakannya dekat dibelakangku. Saat tubuhku meninggalkan tekanan air, aku berlari dan dia mengejar.
Aku berbalik sesaat dan menjerit ketika dia menangkapku. Kami jatuh ke pasir, tubuhnya membungkusku dan menerima sebagian besar dampaknya.
Kami berbaring sekitar satu menit, membiarkan nafas kami kembali normal. Aku mengangkat kepalaku dari dadanya dan terdiam. Mata hitamnya kelihatan bercahaya, sangat indah.
Aku mengulurkan tangan dan menepuk pipinya yang tak bernoda, melihatnya merapat pada sentuhanku.
"Apa kau baik-baik saja?"
Aku mengangguk dan dia mengernyit ringan sebelum mengangkat tubuhnya dari pasir sambil tetap memelukku dengan satu lengannya.
Dia duduk dan memposisikanku duduk di atas nya.
Sama seperti di Hawaii.
Dia mengambil tanganku dan menekan bibirnya ke telapak tanganku, "Lihat, itu tidak begitu sulit kan?"
Aku tersenyum, membiarkan ciumannya mendesir di kulitku.
Berhenti jatuh cinta padanya Alina.
Aku menelusuri garis bibirnya, merasakan jantungku berdenyut menyakitkan ketika pikiranku menghafal bentuk bibirnya.
Tatapannya bertemu dengan tatapanku dan aku menahannya. Segalanya, aku akan melakukan segalanya untuk melihat cahaya itu di kedua matanya.
Dia menyandarkan keningnya di keningku, "Satu hari lagi, aku akan membuatmu tersenyum untuk satu hari lagi."
Dan dia menciumku seakan tidak ada hari esok.