The CEO's Wife

The CEO's Wife
Chapter 4



Alina



Spreinya terasa hangat, lebih nyaman. Aku menggeser tanganku di atas permukaan otot dan kulit.



Terlalu nyaman untukku hingga tidak terpikir dengan siapa aku tidur.



"Aku mulai berpikir kau telah merencanakan untuk memilikiku di ranjangmu," Aku dengar suara Kieran melalui tidur samarku dan aku mengintipnya.



Saat itu gelap gulita, hanya sinar bulan yang menerangi ruangan.



Aku melihat jam di dinding sudah pukul 3:20 pagi.



Aku bisa melihat bayangan dirinya di sampingku dan aku meraih pipinya untuk ku usap, "Mungkin benar, Itulah sebabnya aku pakai bikini."



Dia terkekeh dan lengannya di pinggangku menarikku lebih dekat, "Aku memang menikmati menelanjangimu."



Seringai muncul di bibirku dan aku mencium tanda yang aku buat di lehernya dari kegiatan intim beberapa jam yang lalu.



"Aku ragu itu merupakan bagian terbaik dari malam mu," tanganku membuat sentuhan pada dadanya yang sudah melengkung rendah.



"Kau meruntuhkan pertahananku Alina," Dia berbisik dengan cukup berbahaya dan aku bisa melihat kegelapan di matanya seperti membungkusku dan menarik lebih dalam tanpa harapan untuk bisa kabur



Tapi apakah itu penting?



Saat aku keluar dari kolam, aku hanya punya satu pikiran yaitu untuk melepaskan diriku dan melupakan siapa diriku sebenarnya untuk sisa akhir pekan ini.



Itu dia, bila Kieran bisa menjaga tetap pada batasnya dan berhenti untuk ikut campur masalah pribadiku.



"Kau memberiku terlalu banyak pujian Kieran. Aku yakin kau bisa menjaga perjanjian kita tapi juga bisa membiarkan sisi liarmu keluar," Aku mendorong diriku untuk menungganginya saat aku meraih miliknya di tanganku.



Dia mengerang di bawah sentuhanku dan dia meraih payudaraku dengan tangan besarnya seolah dia menjadi gila.



Aku membelai penisnya yang kesakitan itu dengan pelan dan dia berusaha melawan dengan pinggulnya, dia membuatku jatuh di atas dadanya. Dia melahap bibirku saat kami bersentuhan dan aku merasakan ujung penisnya masuk kedalamku.



Sial, apa aku sudah sebasah itu?



Dia sepertinya sudah bisa membaca pikiranku saat dia menyeringai, "Seperti yang kamu tahu, Aku menyukai cara tubuhmu meresponku."



Aku menciumnya dengan kasar, saat merasakan wajahku memerah karena perkataannya, "Cukup setubuhi aku saja."



Dia tidak perlu diberitahu dua kali, dia mengeluarkan kondom dan memasang pada penisnya sebelum dia memasukkannya ke dalam diriku. Perasaan senang berkecamuk di dalam tubuhku.



Dia terasa sangat nikmat.



Dia memasukkan payudara kiri ku ke dalam mulut dan memijat payudaraku yang lain dengan tangannya yang terampil. Aku mengangkat pinggulku dan mendorongnya ke bawah, memunculkan erangan dari kami berdua.



Aku menungganginya lebih keras, lebih cepat, matanya fokus pada mataku saat dia menusukkan miliknya yang panjang padaku, menyeimbangi ritme gerakanku.



Setiap pengendalian yang kumiliki ku salurkan pada jariku saat dinding ku mencengkeram kemaluannya dan mengirimku ke klimaks kenikmatan.



Kieran mengangkat tanganku dari dadanya dan aku menyadari ada tanda merah di tempat aku mencengkeramnya.



"Oh Tuhanku maafkan aku-" Aku terhenti saat dia mencium jari - jariku dengan lembut, lalu telapak tanganku.



Dia membalik tubuh kami, tubuhnya berada di atasku dan kedua lenganku ditahan ke ranjang, "Jangan minta maaf, aku belum selesai denganmu."



Antisipasi muncul pada punggungku dan bagian di antara kakiku dipenuhi kehangatan.



Suami palsu atau bukan, Ia adalah pecinta terbaik.



Dia membawa jarinya turun ke klitorisku, menjentik pelan dengan gerakan berputar di sana. Menyiksaku hingga kenikmatan sempurna.



Erangan liar ku teredam oleh kekuatan dan kendali bibirnya, lidahnya mengecap rongga mulutku ketika jari-jarinya masuk ke dalam ku dan membawaku ke ketinggian yang baru.



Sebelum aku jatuh, dia mengeluarkan jarinya dariku dan memposisikan miliknya yang panjang dan berdenyut-denyut di areaku, ia melesak dengan penuh nafsu dan gairah.



Dia melesak dengan cepat dan dalam. Dengan dorongan terakhir, dia menyatukan bibirnya ke bibirku, erangan kenikmatan kami memenuhi ruangan.



Dia menarik diri, seringaian puas muncul di wajahnya saat dia mengusap punggungku dan membelai poni yang menutupi wajahku. "Apakah aku melebihi harapanmu?"



Ruangan terasa lebih panas dan rasanya aku akan terbakar, "Ekspektasi ku tidak terlalu tinggi."



Dia tertawa dan mengetuk dahiku, mendorong tubuhnya dan berbaring di sampingku. Dia membuang kondom yang sudah terisi dan menarik selimut agar menutupi tubuh kami, lengannya melingkari pinggangku.



Dia lalu mencium ujung hidungku, "Selamat malam sayangku."



Jantungku berdebar kencang dan aku menyelipkan kepalaku ke bawah dagunya untuk menyembunyikan emosiku yang sedang kacau, "Selamat Malam Kieran."



***



- Kieran -



Aku tidak pernah untuk yang kedua.



Kata kunci di sini tidak pernah.



Apapun yang terjadi semalam harusnya tidak terjadi.



Tetapi itu telah terjadi. Meskipun jika aku memiliki kewarasan dan kontrol penuh pada diriku, aku tidak berpikir bahwa aku bisa menghentikannya.



Anehnya aku tidak menyesalinya. Tidak sedikit pun.



Terbangun di samping bidadari, rambut cokelatnya yang keluar di samping kepalanya dan tubuh halus setelah-sex nya hampir berkilau karena matahari.



Kata cantik tak lagi mampu mendeskripsikannya.



Jadi aku melakukan sesuatu yang sangat bodoh.



Aku membuat sarapan di tempat tidur. +



Dari apa yang terlihat, Alina menawarkan waktunya. Untuk menikmati Liburan ini. Dan semalam adalah salah satu misi pertama dari dalam dirinya untuk keluar dari area pertahanan yang dia buat untuk dirinya sendiri.



Untuk bercinta denganku.



Aku merasa seperti diperalat, tapi itu tidak berarti aku tidak menikmati persenggamaan kami. Selain itu, dia juga sangat jelas tentang perjanjian kami. Kami adalah pasangan palsu selama seminggu. Itulah yang terjadi.



Peringatkan dirimu Kieran, mungkin kau akan percaya pada dirimu ada dimana nanti.



Aku mengaduk telur di panci, menyalakan dan mematikan api kompor pada interval tertentu agar tidak kelewat matang. Meski tidak pandai masak tetapi aku menguasai telur orak-arik terkenal Gordon Ramsey.



Aku mengambil dua potong roti panggang dan menaruhnya di piring. Aku mengaduk creme fraiche ke dalam telur, kemudian menuangnya di masing-masing piring yang ada di atas meja.




Selimutnya terjatuh ke pinggangnya, payudara yang bulat dan indah, lalu ia mengusap matanya yang lelah.



Milikku tersentak dan dia melihat ke arahku, dia mengambil selimut perlahan untuk menutupi dirinya, "Selamat Pagi."



Pikiranku kosong, jadi aku hanya merespon dengan helaan nafas. Aku tidak suka bahwa aku sangat terpengaruh oleh pemandangan indah di pagi hari ini.



Jangan terlalu terikat atau kamu akan terlalu penasaran ini demi kebaikanmu.



"Seseorang sedang tidak dalam suasana hati yang baik," dia bergumam dan membungkuskan selimut ke sekeliling tubuhnya, mengambil kemejaku yang tergeletak di lantai. Dia dengan cepat memakai bajunya dan pergi ke kamar mandi.



Aku menaruh piring di atas tempat tidur sementara aku mengeluarkan meja lipat dari lemari dan mengaturnya di tempat tidur. Dengan hati-hati aku meletakkan satu piring di setiap meja kemudian Alina keluar dari kamar mandi, sudah mandi dan memakai kemejaku kemarin.



Perempuan ini bisa membuatku meledak dan dia bahkan tidak tahu kalau dia penyebabnya.



Kemejaku yang terlalu besar hingga menutupi pantat montoknya.



"Matanya ke atas sini sayangku, hanya karena aku melakukan sex denganmu bukan berarti kamu bisa bebas mengintip," dia mengomeliku dan aku menyeringai, menggelengkan kepala.



Sangat bersemangat.



Aku mengulurkan tangan untuk menggandengnya dan dia menyambutnya, membiarkanku membawanya kembali ke tempat tidur. Dia duduk dengan cepat dan mengambil roti dan telur lalu melahapnya.



Apakah aneh jika aku merasa gugup? Apakah dia menyukai apa yang sudah kubuat?



Dia makan dengan tenang dan aku tidak tahu apa yang dia pikirkan sampai dia menelan yang terakhir.



"Aku bersumpah sarapan di sini semakin hari semakin baik," komentarnya dan aku tersenyum seperti orang idiot



"Senang mendengarnya."



Dia menatapku dan menunjuk ke piring yang kosong lalu kembali padaku, "Kau yang membuat ini, bukan?"



Aku mengangkat bahu dan menggigit roti panggang ku, sial ini benar-benar enak.



Dia tetap diam untuk waktu yang lama dan aku menahan keinginan untuk bertanya apa yang salah. Aku menghabiskan makanan dan membersihkan piring-piring, "Maukah kamu menyimpan mejanya sayang?"



Dia mengangguk cepat lalu pergi untuk menyimpannya.



Aku meletakkan piring-piring di wastafel dan kembali ke kamar, melihat Alina memandang ke luar jendela.



"Apa yang ingin kau lakukan hari ini istriku tercinta?" Tanyaku bergurau, berharap menurunkan ketegangan yang kulihat membebaninya.



Dia menggigit bibirnya saat menoleh padaku, "Snorkeling."



Alisku terangkat, "Sungguh? aku tidak mengira kau seorang petualang."



"Dan aku pikir kamu cukup mengenalku."



Aku harus mengepal tanganku agar tidak menelpon Scott, teman lama sekaligus kolegaku dari Private Investigation Agency, untuk menyelidiki gadis ini.



Aku hanya membaca sekilas tentangnya saat aku menyelidiki kasus Connor dengan gengnya. Dia adalah pewaris Bank Internasional besar dan ayahnya akan segera pensiun. Karena kejadian di Lobi Hotel, aku meminta Lucy untuk mencari tahu siapa Wilson itu dan mengetahui bahwa dia adalah Kepala Pelayan sekaligus Pengurus rumah tangganya. Rupanya dia sudah lama berkerja di keluarga itu.



Selain itu, aku tidak terlalu tahu mengenai dirinya. Meskipun aku ingin, hanya dengan satu pesan aku dapat mempelajari semua hal tentang dirinya. Tapi aku tidak akan melanggar perjanjian yang sudah kami sepakati.



"Aku akan meminta Lucy untuk membuatkan janji dengan Instruktur Snorkeling," jawabku.



"Tidak perlu, Aku sudah mengaturnya kemarin."



"Sejak kapan?"



"Di kolam renang, ada seorang pria di sana dan dia mengobrol denganku. Ternyata dia melakukan sesi snorkeling di sini dan aku pikir itu akan menyenangkan."



Ada perasaan tidak enak yang muncul di dadaku,"Yang kamu pikir menyenangkan, tentang snorkeling atau dia?"




Dia menggembungkan pipinya, "Kurasa keduanya, dia tidak percaya bahwa aku sudah menikah dan sedang bulan madu disini. Sangat lucu bagaimana dia mengira aku sedang berusaha keras untuk menggodanya."



Lucu?



"Kamu?"



Dia mengerutkan dahi, "Maaf?"



"Apakah kamu berusaha keras menggodanya?"



"Tidak, aku sudah bilang padamu sayang, kita akan bermain dengan kesepakatan ini sampai kita pergi. Aku tidak ingin ada drama lagi dalam kehidupanku."



"Tapi kamu setuju untuk pergi snorkeling."



"Aku tetap akan mendaftar untuk sesi hari ini meski dia tidak menawarkannya."



Aku berjalan ke arahnya dan meraih tangannya, "Aku bisa membuatkan janji dengan orang lain."



"Apakah kamu cemburu Kieran?"



Aku belum pernah merasa cemburu sebelumnya.



"Aku hanya tidak suka kamu setuju dengan tawaran orang asing."



Dia menarik tangannya, "Lucu, kedengarannya sangat familiar."



Dasar gadis bodoh.



Ketika aku masih diam dia melanjutkan, "Aku tidak akan membatalkannya, selain itu aku katakan padanya bahwa suamiku akan ikut. Dia baik-baik saja dengan itu."



Aku menegakkan badan dan melawan keinginan untuk menahan kemauannya. "Ganti pakaian, kita akan tunjukkan padanya, seperti apa pernikahan itu."



Dia menatapku, "Kita tidak tahu seperti apa pernikahan itu."



"Kalau begitu kita akan memalsukannya, itu yang seharusnya kita lakukan, kan?"



Ada semacam kekosongan di matanya sebelum menghilang dan berganti dengan sebuah perisai dingin, "Ayo kita coba kemampuan akting kita nanti."



Dia pergi untuk berganti dan aku menggertakkan gigiku.



Aku pastilah seorang aktor yang luar biasa karena dapat sangat menjiwai karakter yang sedang kuperankan.