
- Kieran -
Bahkan malam tak dapat meredupkan cahayanya.
Kulit putihnya seperti bercahaya, warna perak dingin matanya bagai merkuri cair dan sentuhannya hangat.
Ssetidaknya ini sudah terpenuhi, berjalan dibawah bintang bersamanya.
Rasanya nyaris menyakitkan, meninggalkan kenyamanan ranjangnya setelah memuaskan kebutuhan kami selama 2 jam. Tapi aku ingin melakukan ini dan ia terlihat bersedia.
"Mungkin sudah bertahun-tahun sejak aku masuk ke taman. Apalagi mengitari perkebunan," Dia meremas tanganku dan aku menyimpan sentuhan tersebut dalam ingatanku.
"Kenapa begitu? "
Dia sedikit menegang dan aku mendekatkan tangannya ke bibirku, mencium setiap buku jemari dengan lembut, "Aku minta maaf. Seharusnya aku tidak mencari tahu."
Pandangannya beralih kepadaku, kelembutan yang terkandung didalamnya sangat luar biasa.
Perkataan Lucy menggema di kepalaku.
Dia sama rapuhnya denganmu.
"Aku merindukan ini, udara malam yang dingin dan bintang-bintang. Bentangan langit malam sangat menentramkan," bisiknya.
Dia melihat ke atas langit, matanya berkilauan dengan air mata yang hampir tumpah.
Aku ingin memeluknya, memberitahunya aku ada di sini untuknya. Tapi aku tidak bisa, waktuku hanya tinggal sehari.
Tanganku menelusuri setiap helai rambutnya dan dia menatapku, terlihat begitu rapuh.
"Kau bisa menceritakan apa pun kepadaku, tahu? Aku yakin itu termasuk tugas suami," aku meyakinkannya, lalu mendaratkan ciuman di dahinya.
Dia terkikik pelan, "Kau yakin belum pernah mengambil peran ini sebelumnya? Sepertinya kau memerankannya dengan sangat baik."
Tidak. Aku tidak melakukannya dengan baik.
Kami lanjut berjalan, "Aku cukup yakin sebelum ini aku belum pernah menjadi suami siapa pun."
"Kau rukun dengan ayahku, padahal serangan verbalnya ditujukan langsung kepadamu."
"Aku selalu berhadapan dengan orang yang sulit, sayang."
"Itu bagian darimu yang tidak ingin kuketahui, bukan?"
Tatapannya menembusku, dan aku tahu maksudnya. Alasan kenapa kami tidak bisa berkomitmen satu sama lain adalah, kami dipisahkan oleh gelapnya masa lalu kami.
Begitu menusuk, di tempat yang tepat.
Seseorang yang tidak dicintai sepertiku tidak akan pernah bisa bersamanya.
"Ada beberapa hal yang lebih baik dibiarkan tak terungkap, bukan begitu?"
Dia mengangguk, "Setuju."
Kami mengitari bagian samping rumah besar tersebut dan akhirnya kuputuskan untuk menanyainya, "Kenapa kau pergi?"
"Maaf?"
"Kenapa kau meninggalkan Hawaii?"
Kenapa kau meninggalkan aku?
Dia memalingkan wajah dan menatap langit, "Aku tidak melihat alasan untuk tinggal."
"Kita memiliki kesepakatan."
"Aku memiliki perusahaan dan rapat yang harus dihadiri."
"Kau bisa mengatakannya padaku."
"Lalu apa, Kieran? Apa kau bersanggama dengan gadis lain selagi menungguku kembali ke surga temporer kita? Atau kau menyusulku dan mengambil posisimu yang menakutkan itu, sebagai suami palsuku?"
"Alina-"
Dia menarik napas dalam untuk menstabilkan diri, lalu menjauh, "Maaf. Tekanan akibat memiliki perusahaan mulai terasa berat bagiku."
Ini jelas bukan karena perusahaan.
+
Kerapuhannya terlihat jelas di hadapanku. Aku tidak bisa melangkah maju sebab dia pasti akan menjauh. Aku bisa menunggu tapi dia akan mendorongku agar menjauh.
Dia gadis yang sama dengan gadis yang pernah mengamuk di kantorku dan berpidato di hadapan banyak anggota perusahaan.
Gadis berapi-api dan percaya diri yang hanya tampak hancur di hadapanku tanpa ia menyadarinya.
Sudah berapa lama dia berpura-pura seperti ini?
Aku mengulurkan tangan kepadanya dan dia menatapnya dengan cemas sebelum balas menatapku. Aku menunggu hampir semenit sebelum akhirnya dia menerima uluran tanganku.
aku menekankan bibirku pada punggung tangannya, "Asal kamu tahu. Pertama, aku tidak suka perselingkuhan. Kedua, aku akan menemanimu kembali ke rapat dan memberimu ruang dan waktu sebanyak yang kamu perlukan jika kamu tidak ingin terlihat kita bersama. Tetapi mawar itu, aku tetap harus memberinya kepadamu, itu tugasku untuk mendukung istriku."
Sekilas harapan muncul di bola mata peraknya, dan dia melepas tanganku, kemudian merangkulku.
Dadaku mendadak sesak dan membuatku sulit bernafas. Itu bukan dari kekuatan pelukannya. Itu mencekikku hanya dengan memikirkan perpisahan kita.
"Terima kasih, sayang."
Aku memeluknya dengan erat, menyimpan memori tubuhnya. Dua buah teka-teki.
Satu hari lagi Kieran, satu hari lagi.
Ketika dia menarik diri, dia tampak tenang, santai.
dia meletakkan tangannya di dadaku, bermain dengan kancing di bajuku, "Dan supaya kau tahu, aku menikmati waktu saat kau di sisiku sepanjang rapat. Enam jam obrolan bisnis dalam sepatu hak empat inci sungguh menguras tenagaku."
Hatiku menghangat. +
"Senang bisa melayanimu."
Sekarang aku tahu kenapa dia memelukku sangat erat waktu rapat tadi.
Aku menggandeng tangannya dan mulai berjalan pulang ke rumah, "Ayo pulang, Putri Tidurku membutuhkan tidur cantiknya."
Dia tertawa pelan dan binar di matanya kembali terlihat.
Itu dia. Tetaplah tersenyum, Sayang.
***
-Alina-
Sudah cukup waktu untuk tidur cantik. Saat aku mendudukkan bokongku, Kieran segera memelukku.
Ciumannya begitu lembut dan penuh dengan rencana, merasakan, dan menggairahkan bibirku. Tangannya menyusup ke dalam gaun tidurku dan meninggalkan jejak panas di kulitku.
Aku kehabisan napas saat bibirnya akhirnya meninggalkan bibirku, beranjak ke leherku, menggigit dan menghisap diriku. Menandai diriku sebagai miliknya.
Dia menarik gaun tidurku ke atas kepala dan aku membantunya melepas kemeja. Dia mengklaim bibirku dan memijat buah dadaku dari balik kain dengan tangannya yang besar sebelum melepas braku. +
Mulutnya menjepit keras putingku, aku hampir berteriak.
Oh Tuhan, pria ini adalah dosa.
Satu tangannya turun ke pusarku dan akhirnya mencapai inti kewanitaanku yang sudah menunggu.
"Kieran-"
Dia mendongak untuk menatapku, "Ada apa, Sayang?"
"Kumohon-"
Si idiot terkekeh, "Apa yang kamu inginkan dariku?"
Jemarinya merayap turun ke lipatanku yang basah, memainkan klitorisku.
Tatapannya saja bisa membakarku, apa lagi cumbuannya.
Aku mendorongnya, tetapi dia memegang tanganku, memasukkan jemariku ke mulutnya sementara tangannya yang satu lagi masuk ke kewanitaanku.
Eranganku segera teredam oleh ciumannya, jemarinya menekuk dan mendesak masuk lebih dalam. Dinding-dinding kewanitaanku mengencang, otot-ototku menegang, dan aku pun mencapai puncak saat tangannya mendesakku lagi.
Kuteriakkan namanya dan aku dikelilingi gelombang kenikmatan. Saat dia menarik jemarinya, gundukan di celananya terlihat sangat mengeras di balik resletingnya.
Giliranku.
Jemariku menyusuri dadanya, merasakan kemaskulinannya dari balik celana jinsnya.
Matanya membara begitu intens, dia membiarkan aku melepas ikat pinggangnya, kemudian membuka ritsleting celananya.
Aku mendorongnya pelan, mengubah posisi sambil melepas celananya. Celana dalam maupun celana jinsnya bergabung dengan tumpukan pakaian di lantai.
Aku meraih kejantanannya yang berkedut-kedut dan dia mengerang saat tubuh kami bersentuhan.
"Sial- Alina-'
Aku menyeringai dan mengusap lembut gundukannya yang memanjang sempurna, menjilat ujungnya dengan menggoda sebelum turun ke atasnya.
Dia mengerang ke ruang kosong di kamarku sementara kedua tangannya tersemat di rambutku, membimbing gerakanku untuk menambah kenikmatannya. Aku menjumpai setiap desakannya, merasakan kepala kejantanannya di pangkal tenggorokanku seiring setiap desakan.
"Sialan," gumamnya dan menarikku kembali, bibirnya bertemu dengan kegilaanku.
Dia meraih nakas dan membuka lacinya, buru-buru merobek kondom dan memakainya.
Benakku tak bisa berpikir gara-gara ciumannya dan aku mengerang saat merasakan kejantanannya mendesak, memasukiku.
Dia mengerang saat memasukiku dengan lebih kencang dan lebih cepat, sampai ke pangkalnya. Napas tersengal-sengal dan panas kami semakin menghangatkan ruangan seiring setiap desakan.
Dia memegang wajahku dalam tangannya, namun tidak mengurangi irama gerakannya. "Datanglah untukku, Alina."
Tubuhku seperti langsung mematuhinya, jeritanku teredam bibirnya. Tubuhku bergetar saat dilanda orgasme yang begitu hebat, dan dia mengerang rendah, kejantanannya berdenyut-denyut di dalamku karena pelepasannya sendiri.
Aku mendengar Kieran mendesah puas saat bibir kami berpisah. Dia menatapku dan aku menatap matanya, melihat gairah yang liar berkelebat di bola matanya. Aku menyodorkan badan dan mendaratkan ciuman di dahinya sebelum bergeser untuk berguling dari atasnya. Dia meraih pinggulku sebelum aku berhasil beranjak, tatapan matanya mendadak keras.
"Sepertinya aku ketagihan dirimu, Sayang," katanya sambil menghembuskan napas berat.
Jantungku berdegup kencang di telinga, "Kecanduan adalah kondisi yang serius."
Dia terduduk, aku bergetar nikmat karena miliknya masih berada di dalamku. "Itu keadaan yang berbahaya."
"Terlalu banyak adalah hal yang tidak baik untukmu, kieran."
"Sudah terlalu jauh untuk aku berhenti."
"Kita harus."
"Belum, kita masih punya sehari. Izinkan aku berada di dalammu sehari lagi. Berikan dirimu sepenuhnya kepadaku dan aku akan mengembalikannya secara utuh begitu waktu kita habis."
Mudah diucapkan daripada dilakukan.
Tatapan hangatnya serta aroma maskulinnya menguasai pikiran rasionalku dan aku pun memajukan badan ke arahnya, membiarkan dia memilikiku.
***
- Kieran -
Tidak ada yang terasa lebih baik daripada bangun di sebelahnya.
Tidak ada.
Tubuhnya menempel ke tubuhku, membuatku merasa penuh, puas. Seolah aku tidak membutuhkan yang lain lagi kalau dia berada dalam pelukanku.
Bagaimana bisa aku tidur tanpanya lagi?
Kami sarapan, kemudian mengecek e-mail di iPad masing-masing saat Wilson menghampiriku, "Anda mau kopi atau teh, Tuan Knight?"
"Berikan dia secangkir kopi hitam," sahut Alina, tanpa mengalihkan perhatian dari pekerjaannya.
Aku tersenyum, lalu mengangguk, "Yang hitam saja, terima kasih, Wilson."
Aku meletakkan iPadku dan mengamatinya mengetik heboh menggunakan keyboard terpisah dengan wajah tanpa ekspresi.
"Apa ayahmu masih tidur?"
Dia menggeleng, "Kegiatannya sendiri masih banyak. Rupanya dia sudah menyusun jadwal acara selama dirawat di rumah sakit. Sesuatu soal menikmati kebebasannya begitu dokter mengizinkannya keluar "
Alina tersenyum, aku juga.
Aku akan selalu berterima kasih kepada Alexander karena mengajak Alina. Energi kuat tetapi anggun Alina memberi binar yang unik dalam hidupku.
Aku akan menikmati setiap kebersamaan kami, hari terakhir kami.
Dan di sinilah kami bekerja.
Ini tidak boleh dibiarkan.
Wilson meletakkan kopi hitamku dan aku segera menghabiskannya sebelum meraih tangan Alina.
Mata Penasarannya memandang ke atas, "Ke mana kita akan pergi?"
"Disneyland."
"Apa?!"
Aku menyeringai dan menariknya dari kursinya, dia mengenakan atasan putih, berpotongan pendek, dengan celana jins berpinggang kasual.
Hari yang sempurna untuk dilewatkan di tempat paling membahagiakan di Bumi.
Mercedes hitamku diparkir di depan dan kami segera menaikinya.
Aku menyuruh sopir mengantar kami ke tujuan. Satu lenganku melingkari pinggang Alina dan aku mendaratkan ciuman ke pelipisnya, merasakan tubuhnya menyandar kepadaku.
Aku menekan nomor Lucy dan memintanya membeli tiket untuk kami sehingga kami bisa segera memasuki taman.
Setelah aku menutup telepon, Alina menatapku dengan ganjil.
"Ada apa? Kamu tidak suka Disneyland?"
Dia terkikik dan memeluk lenganku, meletakkan kepalanya di pundakku, "Aku tidak menyangka kau sangat spontan."
"Hanya untukmu, dan itu bahkan belum semuanya."
"Aku tidak yakin diriku menginginkan yang lebih."
"Kau memberikanku dirimu seutuhnya, Alina. Sebagai seorang pengusaha, itu sudah termasuk dalam perjanjian bagiku untuk memberikan diriku juga padamu. Kukira kau akan menertawainya saat semua berakhir."
Setelah itu Alina terdiam dan aku penasaran apakah dia tertidur. Tetapi kalau ditilik dari cara lengan kemejaku menjadi basah oleh air matanya yang hangat, mustahil dia tidur.