The CEO's Wife

The CEO's Wife
Chapter 2



-Alina-



"Apakah kamu serius akan melakukan ini?" Ayahku bertanya dengan suara parau, tubuhnya sudah lebih baik dari saat terakhir kali aku berkunjung.



Aku mengangguk dan meremas tangannya "aku tidak akan menikahi orang yang melakukan hal ilegal Ayah. Semua ini salahku, jika saja aku lebih memperhatikan apa yang dia lakukan, ayah tidak akan.. "



"Shh... berhenti menyalahkan dirimu Putriku. Itu Pilihan Connor sendiri untuk melakukannya, Ayah hanya berada di tempat dan waktu yang salah" Ayahku menenangkan dan menghapus air mata yang jatuh di pipiku.



Aku menghirup dan menarik nafas dalam, "aku yakin tentang ini Ayah. Aku tidak akan menikahinya. Seorang lelaki yang terlibat dengan geng mafia hanya akan membawa masalah. Aku tidak akan pernah menikahi seseorang yang berhubungan dengan hal ilegal itu. Aku kehilangan ibu karena mereka, aku tak mau kehilanganmu juga"



Dia menghela nafas dan aku membungkuk untuk memberikan ciuman di dahi nya, "Baiklah, berhentilah menangis sekarang. Kamu masih memiliki liburan untuk melarikan diri."



"Aku tidak bisa meninggalkanmu sendiri disini ayah, ayolah. Lagi pula, tidak ada bulan madu hanya untuk satu orang."



"Ini perintah dari ayahmu, pergi bersenang senanglah sebelum kamu kembali dan mengambil tanggung jawab perusahaan dari bahuku. Ayah akan menunggumu"



"Tapi ayah aku-"




"Pergilah sekarang, bersenang senanglah."



Aku bergerak di ranjangku, seprai lembut menarikku dari pertemuan terakhir dengan ayahku di rumah sakit.



"Putri tidur akhirnya bangun" Suara yang dalam dan terdengar familiar memasuki telinga dan membuat mataku terbuka lebar.



Sinar mentari Hawaii menyorot mataku dan aku menarik selimut hingga menutupi kepalaku untuk menghalangi sinar matahari yang menyakitkan.



Aku memeriksa tubuhku dan menyadari bahwa pakaianku sudah diganti.



Sialan.



Aku langsung terduduk. menatap pria sexy yang berdiri di dekat jendela, sedang memandangi pantai yang cantik dan laut tak bertepi.



Alisnya terangkat, "apa? tidak terima kasih?"



"Apa yang sudah kau lakukan padaku?!" Aku hampir berteriak dan dia memandangku.



"Aku tidak melakukan apapun padamu. Malah kamulah yang melakukan segalanya"



"Apa artinya itu?" tiba-tiba muncul rasa sakit kepala yang menyerang hebat



Dia menghela napas dan berjalan ke arahku, mulutku hampir kering melihat pemandangan ini.



Dia mengenakan kaus polkadot hitam, lengannya digulung sampai siku, dengan celana pendek berwarna coklat khaki. Kancing teratasnya terbuka dan perasaan yang kuat muncul untuk menyentuh dadanya.



Penampilan sederhana tapi tak pernah melihat seseksi ini.



Tuan Knight berbaring diatasku, membuatku mundur seiring bibirnya yang hanya beberapa inci dariku.



Wangi maskulinnya melingkupiku dan aku merasa pusing.



Dia menyeringai dan pipiku memerah, apa yang dia mau?



Dia menjangkau meja di sebelah tempat tidur, mengambil segelas air dan 2 butir aspirin.



"ini," dia menyerahkan air minum dan meletakkan kedua pil tersebut di telapak tanganku.



Aku terbelalak memandang lelaki sexy dan buas ini sesaat, lalu memasukkan kedua pil tersebut ke mulutku dan menelannya.



"kau belum menjawabku", aku mengingatkannya saat dia perlahan meninggalkanku sendiri di kamarnya.



Ini pasti kamar Honeymoon Suite. Mengingat hamparan ruangan yang luas.



aku menyingkarkan selimut dan turun dari ranjang mengikutinya meninggalkan kamar menuju ruang depan. Terlihat sederhana namun membuatku merasa seperti di rumah dibanding dengan rumahku sendiri.



Nada berpasir dan krem ​​yang hangat membuat segalanya lebih nyaman daripada sebelumnya. Percikan cahaya pastel biru dan hijau menerangi interior dan saya benar-benar merasa nyaman di sini.



Nyaman.



Wangi dari ayam dan waffles membuat mulutku yang kering menjadi berair dan perutku berbunyi, tidak senang karena aku membiarkannya kosong lama sekali.



Aku menuju kamar mandi dan terkejut melihat cermin.



Kantung mataku kelihatan sekali dan mataku terlihat kering dan lelah.



gaun merah mudaku sudah berganti dengan blus putih casual dan celana jeans pendek.



Yang membuatku kembali bertanya. apa yang sudah dia lakukan padaku?



Aku menggosok gigiku dan membersihkan tubuhku. Menyisir rambutku dan mencoba menghilangkan kusutnya.



Aku memoles bedak di wajahku dan kembali ke ruang tamu, melihat Tuan Knight menaruh dua piring sarapan di meja makan.



Dia melihatku dan menatapku sesaat sebelum menarik kursi untukku " duduklah"



Aku menggigit bibir bawahku dan duduk, membiarkannya mendorong kursiku.



Dia berjalan ke sisi lain dan kemudian duduk. "Sekarang, mengenai pertanyaanmu"



Aku memegang garpu dan sendokku, memotong daging ayam, menggigit daging yang lembut dan dibumbui dengan baik.



"aku tidak berhubungan badan denganmu jika itu yang kamu khawatirkan. Aku memilih melakukanya ketika kedua pihak setuju dan semalam bukanlah salah satunya"



Aku terbatuk dan mengambil teh untuk meminumnya, "Sepertinya kamu sering terlibat dalam aktivitas malam."



Senyum kecil muncul di wajah kakunya dan aku pun tersenyum, dia memiliki sepasang lesung pipi yang nampak samar. Aku penasaran bagaimana rupanya ketika dia benar-benar tersenyum.



"Ya, itu caraku untuk melepas kepenatan."



Aku menggigit sepotong waffle lagi ke dalam mulutku, "Siapa yang menggantikan bajuku?"




Aku mengerutkan bibirku, "Kamu dermawan sekali. Meskipun pergi liburan dengan bossku sebenarnya bukan ide bagus untukku."



Dia meneguk kopi hitamnya "Ini tidak seperti liburan untukmu?"



Aku berhenti mengunyah dan memandangnya, aku terdiam menunggu dia mengungkapkan pemikirannya.



Aku kesulitan menelan, selera makanku sirna seiring perubahan topik pembicaraan.



"ayo katakan padaku apa yang kamu ketahui" aku menantangnya dan alisnya terangkat, sebelum dia kembali berwajah dingin.



"kemarin kamu mabuk ketika tiba di lobi, mengoceh tentang mengusir Connor dari rumahmu. Lalu kamu mengoceh tentang tidak lagi menjadi nyonya Anderson. Jadi kupikir pertunangannya dibatalkan dan ini seharusnya bulan madumu. Tentunya, ini cuma perkiraan" Dia menghabiskan kopinya dan mengunci pandangannya padaku.



Tatapan matanya yang dalam, aku bisa tenggelam didalamnya.



Aku berkedip dan meletakkan peralatan makanku, "Baiklah kalau begitu, anda benar sekali".



Dia menyeringai, senyuman tulus dari wajah tampannya, "Itu tidak menyenangkan bukan?"



"Maksudmu menyenangkan apa?"



"Jelaskan padaku Alina, Kau memutuskan pertunangan karena apa? Uang? Pengkhianatan?"



Aku menarik nafas dalam, melihat dia juga meletakkan garpu dan pisaunya. Sepertinya interogasi dimulai.



Aku maju, menyandarkan sikuku di tepi piring, "aku meyakinkanmu tuan Knight, ada yang lebih berat daripada kebohongan sepele dan keuangan"



Dia meraih tanganku dan menempelkan tanganku ke bibirnya, "Kieran baik-baik saja."



Kulitku terasa terbakar oleh gerakannya dan aku menarik tanganku. Apa yang salah denganku?



aku berdeham, "Aku akan memanggilmu sesuai keinginanku."



Seringainya muncul lagi, seringai nakal, "Oh akan kupastikan itu"



Aku seperti berhenti bernafas dan segera kuminum tehku, melegakan rasa kering di mulutku.



Dia mengambil garpunya dan melanjutkan makan, "Lalu hal apa yang lebih berat sayang? Pasti hal yang besar sampai harus membatalkan pernikahan sehari sebelum bukan?"



Aku memegang cangkir tehku lebih kencang dan meletakkan nya di nampan, " aku pikir ini bukan urusanmu"



"ironis, melihat sebagaimana kau adalah istriku sekarang"



Pegangan cangkir porselen terlepas dari jariku dan pecahannya menggores tanganku. Air teh berhamburan dari jariku ke alas meja putih. Kieran menatapku dengan ekspresi tak terbaca sebelum meninggalkan meja.



Aku siapanya sekarang?



Dia kembali dengan kotak p3k dan menarik tanganku, membuatku mengikutinya, "itu mungkin hal terakhir yang kuharapkan darimu ketika kukatakan padamu bahwa kita sudah menikah"



Dia membiarkan air dari keran dapur membersihkan lukaku dan aku mengambil kesempatan untuk mengagumi ketampanannya. Bahkan rasa sakit di jariku tak bisa menghentikan ketertarikanku padanya.



Dia memiliki rahang terbagus yang pernah kulihat. Rambut hitamnya tertata dengan pomade. Dan aku ingin menyelipkan jariku di rambutnya. Aku ingin jadi orang yang mengacak-acak kesempurnaannya itu.



"Kamu sepertinya tidak terpengaruh, selain dari luka di jarimu. Aku merasa sebenarnya kau menyukai jadi istriku"



"Hentikan leluconmu tuan Knight, ini tidak lucu."



Dia berbalik menatapku, jarak yang dekat membuat tubuhku menggila akan sentuhannya. Tapi aku tetap diam, aku tidak akan membiarkannya berfikir dia bisa mempermainkanku.



"Secara teknis kita tidak menikah, tapi setiap pegawai di hotel ini mungkin berpikir kita menikah" Dia menutup keran air dan mengambil handuk lembut untuk mengeringkan tanganku.



Dia mengarahkan kami ke ruang keluarga. Mengambil kotak p3k ketika kami melewati meja makan dan duduk di sofa putih.



Dia mengambil krim antiseptik dan mengoleskannya di lukaku.



"Kenapa para pegawai berfikir kita sudah menikah?" tanyaku dan senyum kecilnya kembali muncul



"Kamu tak bisa menghadapi resepsionis dengan kondisimu dan semua kamar sudah terisi kemarin. Jadi aku mengatakan diriku sebagai suami barumu. Dengan begitu, kamu bisa beristirahat di suite ku dan tak ada yang akan memberikan tatapan kotor padamu. Penyelamatan yang manis bukan?"



Aku menarik tanganku ketika dia mau menutupnya dengan perban "Apa yang kau inginkan dariku? Apa yang kau dapat dari ini..ini semua?"



Lesung pipinya semakin dalam dan kalau aku tidak sedang duduk, lututku akan lemas.



"Aku tidak mendapatkan apapun. Aku hanya berpikir menyenangkan jika ada yang menemani di liburanku, sepertinya kamu pun akan menyukainya", Dia menggulung rambutku dijarinya sebelum menyelipkannya ke belakang telingaku.



"Aku baik baik saja Tuan Knight. Dan kalau aku benar, kamar ini adalah milikku per hari ini, kau boleh meninggalkanku setelah kau selesai sarapan," Aku menatapnya dan berdiri, kulitku berdesir karena sentuhan halusnya.



Dia melingkarkan tangannya di pergelangan tanganku dan mengunci tatapannya, "Aku tahu hal terakhir yang kau butuhkan saat ini adalah membatasi seseorang masuk kedalam masalah pribadimu. Aku mengerti, aku yakin kau butuh seseorang untuk berada disampingmu melewati bulan madu yang seharusnya.



Aku mungiin bukan pacar atau teman pengganti yang ideal, tapi aku pendamping yang baik. Aku yakin aku akan membantu menghilangkan pikiran tentang mantanmu. Lagipula aku cukup menyukai ditemani olehmu"



Aku menaikkan alisku padanya, penasaran kenapa dia peduli padaku. Kami hampir tak mengenal sama sekali.



Tapi sekali lagi, aku tidak merasa terganggu atau tidak nyaman dengannya disini. Aku malah merasa tenang. Ah entahlah.



"Apa ini sejenis proposal bisnis?" tanyaku dan dia tersenyum.



Dengan nada yang dalam.



"Jika itu bisa meyakinkanmu supaya aku bisa menjadi pengganti tunanganmu atau menemanimu, tentu ya ini adalah proposal bisnis."



Aku tidak bisa menahan senyum bodoh yang menyeringai di wajahku, "Kesepakatan bisnis selama liburan sebenarnya bukan liburan. Aku lebih suka perjanjian sederhana antara dua pihak yang setuju"



Aku mengukurkan tanganku untuk berjabat, dan dia tersenyum, mengulurkan tangannya dan berbisik padaku, "aku menantikan menghabiskan waktu denganmu Alina"



Aku merasa kepercayaan diriku turun karena kedekatan dan kata katanya tapi berhasil menjawab tegas "aku juga Kieran"