The CEO's Wife

The CEO's Wife
Chapter 7



- Kieran -



Alina pergi.



Seharusnya aku menyadarinya. Saat bibirnya ragu-ragu walau hanya sesaat.



Terbangun seorang diri setelah percintaan semalam yang harusnya memuaskanku. Aku tidak pernah suka menjadi seseorang yang tinggal dan berisiko ketahuan.



Tapi saat aku merasakan kedinginan dan kekosongan di sisiku, dinginnya es merasuk dalam hatiku dan membekukannya.



Bagiku jauh lebih baik menjadi mati rasa daripada apa yang kurasakan saat ini. Kesakitan di dadaku yang tidak bisa disembuhkan oleh aspirin ataupun uang.



Aku pergi setelah Lucy memberitahuku bahwa Alina telah pulang. Tidak ada lagi alasan bagiku untuk tetap tinggal di sini. Selain itu, seluruh ruangan ini mengingatkanku padanya.



Kantorku dulu menjadi tempat hiburan bagiku, penjara untukku dimana aku bebas berbuat sesuka hati.



Itulah sebenarnya apa yang aku butuhkan.



Aku menekan tombol di atas meja dan tirainya menghalangi cahaya matahari yang mencoba menerobos. Dinding ku berubah dan segera aku berada dalam ruang kedap suara. Ruangan begitu gelap, segelap jiwaku sekarang dan membiarkan keheningan memenuhiku.



Lalu terdengar suara mendesing, sasaran terbang melintasi ruangan. Segera kuraih pistol dari holsterku dan dengan sabar menanti saat yang tepat untuk menembak. Aku mengambil pistol di belakangku dan menembak sasaran yang akhirnya berhenti bergerak.



Tirai terangkat dan papan sasaran tertembak dengan tepat.



Hal itu masih belum bisa meredakan kekacauan yang ada padaku. Sejak kedua orang tuaku meninggal, aku hanya fokus membangun perusahaan dan melindungi diriku sendiri. Bertahan dan menyerang saat dibutuhkan.



Aku bersandar di kursi kulit newahku dan menatap pemandangan kota. Selama bertahun-tahun aku kebal dari faktor eksternal dan disinilah aku, terpukul dan terluka karena hubungan palsu.



Kumainkan kotak lipstik magnet dan cincin perak Alina yang berada di sakuku, tak seharusnya ku simpan ini semua. Cincin perak di jariku terasa begitu berat dan membebani, seakan meminta untuk segera dilepaskan dan menyuruhku berhenti hidup di dunia khayalan. Aku belum menemukan kekuatan atau keyakinan untuk melepasnya dulu.



Sedikit waktu lagi



"Tuan Knight, Tuan Anderson datang untuk menemui anda," Lucy mengabari melalui interkom dan sikap profesionalku untuk sesaat menggantikan rasa sakit menyebalkan di dadaku.



"Apa dia sudah membuat janji?"



"Ya untuk jam 10 pagi."



Kulirik jam tangan Rolexku, 9.58 Pagi.



"Suruh dia masuk dua menit lagi."



Kuminum kopi hitamku, mengernyit oleh rasa pahitnya. Apa kopiku selalu sepahit ini? Atau indra perasaku berubah menjadi lemah?



Jarum jam menuju ke angka 10 dan aku bangkit dari kursiku.



"Tuan Anderson akan segera masuk, Tuan Knight," panggil Lucy lagi dan aku menyimpan cincin dan lipstik Alina ke dalam saku jasku.



Pintu mahoniku berderit saat terbuka dan masuklah Connor, dia tampak seperti orang yang telah kehilangan uang jutaan dolar.



"Tuan Anderson, ada yang bisa kubantu?" tanyaku sambil duduk di sofa.



Dia berdiri dengan canggung, penampilannya begitu kusut dengan dasi berantakan dan sebuah luka di bibirnya.



"Kenapa kau memberitahunya?" Dia menyemburkan amarahnya.



Kutatap dia," Tentang apa?"


+



"Kenapa kau memberitahu Alina tentang hubunganku dengan para geng itu? Ini tidak ada hubungannya denganmu."



"Dia adalah tunanganmu Tuan Anderson, aku tidak percaya kau menyembunyikan sesuatu darinya."



Dia mencengkram kerah jasku, "Kau menghancurkan kesempatanku dengannya, brengsek! Aku hampir mendapatkannya! Sedikit lagi aku akan menikahi dan menguasai seluruh warisannya tapi kau mengacaukan semuanya seperti seorang idiot!"



Aku mendorongnya dan bangkit," Aku tidak berhutang penjelasan padamu, kau bilang padaku bahwa tunanganmu tahu tentang ini jadi saat dia datang kemari untuk menagih dan tidak tahu apapun, aku memberitahunya."



Seringai menjijikkan muncul diwajahnya, "Kau memberitahunya? Seperti kau sudah memasukkan kemaluanmu didalamnya?"



Otot rahangku mengeras, "Aku tidak mencampurkan urusan pribadi dengan bisnis."



"Kau menyalahkan kecelakaan mobilku pada geng tempatku bekerja!"



"Itu kenyataannya, anda sengaja membuat mereka menghancurkan mobil anda untuk klaim asuransinya."



"Tidak seorang pun tahu tapi kau ikut campur dalam urusanku. Kenapa? Kau takut tidak bisa memenuhi hidup mewahmu setelah membayar tagihan klaim itu?"



"Kau melanggar ketentuan dalam kontrak kita, Tuan Anderson, kuminta kau pergi."



"Seperti Alina meninggalkanmu?"



Darahku mendidih, "Apa katamu?"



"Aku tahu kemana kau dan dia pergi, Knight, aku sedikit tahu tentang Alina. Dia begitu berpengalaman. Dia tidak bisa berkomitmen, sebelum kau bisa menaklukkannya."



"Aku tidak mencampuradukkan masalah pribadi dengan bisnis, Tuan Anderson. Keluar."



"Bagaimana dia saat bersamamu? Dingin dan menjaga jarak? Dia punya cara untuk menarikmu agar menginginkan lebih. Lalu, sekali dia mendapatkanmu, dia akan lari dan meninggalkanmu dalam debu. Seperti yang sudah dia lakukan padaku."



Lucy menahan agar pintu tetap terbuka, sepertinya dia tahu aku hampir murka, "Terima kasih sudah berkunjung, aku akan meminta Lucy mengirim tagihan akhirmu melalui cek sebab Nona Simmons tidak mengambilnya saat berada di sini."



Dia terkekeh sambil berjalan menuju pintu tapi dia berhenti sebelum benar-benar keluar dari kantorku, "Dia hebat dalam bercinta, bukan? Lekuk tubuh dan kewanitaannya yang rapat-"



Aku nyaris saja meninju wajah pria itu jika saja temanku, Scott, tidak segera datang melerai, "Dia terlalu banyak bicara, bukan?"



Dengan cepat pihak keamanan muncul dan menyeret Connor keluar menuju lift pribadi yang mengarah ke belakang gedung.



Aku mendengus dan menepis tangan Scott, dengan terburu-buru Lucy menghampiriku dengan membawa beberapa aspirin, "Apa yang membuatmu datang kemari, Bro?"



Aku duduk di balik meja kerjaku dan dia duduk di hadapanku, "Kita mendapat klien baru hari ini, dia meminta untuk memeriksa latar belakang seseorang."



Alisku mengernyit, "Jadi? Biar dia sendiri yang melakukannya.''



Scott menyeringai," Oh, tentu sudah kusarankan seperti itu tapi dia meminta kami untuk mencari tahu tentangmu."



Tenggorokanku hampir tercekat, "Aku?"



"Kau mabuk akhir-akhir ini?"



Alina.



Seulas senyum muncul di bibirku, "Oke, jangan kecewakan dia."



***



-Alina-



Persiapan untuk pengalihan jabatanku hampir selesai. Hanya tinggal pertemuan dewan dan beberapa rapat yang telah diatur ayah atas namaku.



Dia selalu berlebihan jika berkaitan tentang aku. Padahal ini bukanlah perkara besar tapi aku membiarkan ayah melakukannya, aku tetaplah gadis kecilnya.



"Saya telah mengirimkan undangan resmi kepada para tamu yang akan mengikuti rapat, Nona Simmons. Nama-nama itu telah disetujui oleh ayah Anda saat Anda sedang berlibur," jelas Louis, asisten pribadiku. Aku hanya mengangguk.



"Baiklah, bisakah kau memberikanku data proposal anggaran belanja untuk tahun depan?"



"Data keseluruhan atau tiap departemen?"



"Dua-duanya."




Semua materi presentasi kuperiksa dengan seksama sambil berjalan menuju ruang rapat bersama Louis dan direksiku.



Rapat berjalan lancar dengan pengenalan pada pimpinan dari negara lain serta perhitungan dan data-data yang membuat setiap orang tertarik.




Gelas anggur bodoh itu segera kusingkirkan dan meminum langsung anggur itu dari botolnya. Kenikmatan anggur ini seolah akan membunuhku.



Aku duduk pada kursi santai yang terdapat di balkon sambil memandang bulan, relung hatiku bagaikan ditusuk-tusuk jarum.



Saat ini aku benci kesunyian ini. Menenggelamkan pikiranku dan menarik semua sisi gelapku ke permukaan. Mengacaukan kepalaku yang berantakan serta meninggalkan lubang menganga di dadaku.



Ponselku berbunyi dan segera kuraih dari atas meja, "Halo?"



"Nona Simmons, kami memiliki informasi yang anda minta mengenai Tuan Knight."



"Tentu, biar aku mendengarnya."



"Masa lalunya agak sulit untuk diselidiki tapi kami tahu bahwa beliau eksekutif presiden dari perusahaan Asuransi Knight dan beliau adalah anak tunggal."



"Hanya itu yang kau ketahui?"



"Saya tidak yakin apakah ini pantas tapi dia memiliki sederet teman wanita yang saya yakin Anda tahu apa maksud saya."



"Aku sudah mengetahui hal itu."



Tapi kenapa rasanya begitu menyakitkan? Mungkin aku adalah salah satu dari sederet perempuan-perempuan itu.



"Tapi dia juga mengatakan bahwa dia masih belum selesai dengan salah satu wanita itu."



"Apa maksudnya?"



"Maksudnya aku masih belum selesai denganmu, Alina, kita masih memiliki waktu tiga hari lagi," tiba-tiba suara Kieran terdengar dan aku merasakan nafasku tercekat.



"Kieran?"



Suara kekehan rendahnya membuatku merinding, "Bagus, kau mengingatku. Kuharap aku bisa bertemu denganmu besok, bersinar, segar, dan merona karena sisa percintaan panas kita semalam."



Jantungku serasa hampir meledak dan aku tidak yakin apakah ini karena gugup atau karena senang, "Besok aku harus bekerja-"



"Aku akan datang."




"Tidak bisa."



"Aku akan menculikmu."



"Kau tak akan bisa."



"Kawanku seorang detektif, Alina. Kau tak akan bisa lepas dari jangkauanku."



"Itu terdengar seperti omong kosong penguntit."



"Pukul 8 pagi di kafe depan kantorku, tidurlah yang nyeyak sayangku. Mimpikan aku."



Dia mematikan telepon dan aku menatap telponku, ternganga.



Apa yang sedang terjadi?



***



-Kieran-



Pagi tak bisa datang lebih cepat. Bayangan tentang tubuhnya berbaring di ranjang dengan kecantikan polosnya yang mengagumkan dari wajahnya cukup membuatku bergairah.



"Kenapa kau sangat ingin melakukan ini? Seperti tidak ada wanita lain untuk dimainkan saja," Scott menenggak habis milky macchiato miliknya. Aku hanya bisa memutar bola mataku.



"Aku tidak main-main dengannya, kami memiliki sebuah perjanjian dan dia melanggarnya. Aku selalu memenuhi syarat dan ketentuan dalam kontrak." Kusesap kopi hitamku sambil memandang ke arah kaca, menanti Alina muncul.



Dia pasti datang, kan?



"Bro, kau dipermainkan dan dia bahkan bukan kekasihmu."



Kutatap Scott dengan tajam," Dia adalah istriku selama tiga hari ke depan. Pergilah, kau hanya akan membuatnya takut."



Scott tertawa namun berdiri bersiap pergi,"Ya ampun, dari apa yang kubaca mengenai dia, dia adalah salah satu harimau yang menakutkan."



Sebelum aku membalas ucapan Scott, pintu masuk berbunyi dan aku bisa mencium aroma bunga dari tubuhnya yang manis dihembus angin.



Scott bersiul, "Kau mendapatkan satu dari yang terbaik, bolehkah aku memilikinya setelah garansimu berakhir?"



"Tidak. Kau tidak akan bisa memiliku dan aku bukan alat elektronik yang memiliki garansi. Dasar detektif sialan. Aku tidak akan pernah menyewamu lagi," serang Alina dan ia duduk berseberangan denganku.



Ya Tuhan, dia sungguh luar biasa.



"Patut dicoba, apakah kau akan menyiksanya? Aku mendukungmu, Tuan Putri," Scoot bergumam and senyum licik muncul di wajah Alina.



"Jangan khawatir, akan kulakukan."



Aku tercekat dan menatap Scott dengan tajam sedangkan Scott hanya menyeringai bodoh dan meninggalkan kami berdua.



Alina memesan English Breakfast untuk dirinya dan menyerahkan buku menu kembali pada pelayan. Hari ini dia menggunakan gaun hitam selutut dengan rompi putih panjang dan sepasang sepatu hak tinggi. Sempurna.



"Apa yang kau inginkan, Tuan Knight?" selanya. Suaranya terdengar bergetar.



Apakah dia baru menangis?



Kuraih sesuatu dari sakuku, "Aku punya sesuatu untukmu."


+



Dia menghentikanku sebelum aku sempat mengeluarkannya, "Simpanlah, aku tidak menginginkannya. Itu berlebihan untukku."



Kusimpan kembali lipstik di tanganku, "Kumohon jangan menolaknya. Terlihat sangat luar biasa saat kau menggunakannya."



Bibirnya bergetar, "Terima kasih untuk segalanya tapi aku-"



"Untuk apa?"



"Maksudnya?"



"Untuk apa berterima kasih padaku?"



Alina menelan ludahnya dan matanya memandangku, "Terima kasih untuk waktu yang kau habiskan bersamaku walaupun sebenarnya kau tidak harus melakukannya."



Teh pesanannya tiba dan pelayan segera pergi. Kuraih tangan Alina, "Dan?"



Matanya memandang tangan kami dan aku meremas tangannya erat sebelum dia sempat melepasnya, "Dan untuk malam itu."



Kucondongkan badanku ke depan, membalas tatapannya, "Dan?"



"Dan untuk sarapannya."



Aku tersenyum dan menariknya mendekatiku, "Dan?"



"Dan untuk snorkeling bersamaku."



Aku menggelengkan kepalaku dan membiarkan tanganku yang lain memegang pipinya, "Dan?"



Bibir kami nyaris bersentuhan, begitu dekat. Tapi aku masih ingin mendengar ia mengatakannya.



"Dan untuk bercinta denganku."



Aku menyatukan bibirku pada bibirnya dan meluapkan semua rasa haus serta frustasiku.



Aku menginginkannya, membutuhkannya dan tidak ada yang lain.