The CEO's Wife

The CEO's Wife
Chapter 12



- Alina -


Apa yang telah kulakuan hingga kumendapatkan suami yang mengagumkan ini?


Tidak bisakah dia kembali ke tingkah lakunya yang angkuh dan pemarah? Itu jauh lebih mudah untuk tidak menyukainya dan meninggalkannya.


Batas antara realitas dan khayalan telah menghilang berkat upaya ayahku untuk membuat kita menghabiskan waktu bersama.


Aku tidak bisa mengeluh. Sebenarnya aku harus mengakui, aku suka menghabiskan waktu bersama Kieran.


Setiap waktu aku bersamanya membuat hatiku bergetar dan aku tidak yakin berapa lama lagi aku mampu bertahan sebelum ia terlukiskan .


Aku bisa menahannya untuk satu hari. Aku bisa mengendalikan perasaanku hanya sampai hari ini berakhir.


Aku akan baik - baik saja.


Kita berdua akan baik baik saja.


Tapi ini sulit apalagi saat dia tetap terlihat mengagumkan dan menggoda bahkan saat tidak mengenakan jas. Kaos putih polos dengan lengan tergulung sampai siku dengan celana jeans robek.


Kieran menarik tanganku, kegembiraan di matanya terlihat menawan dibandingkan dengan tatapan manusia gua nya, "Ayo pergi."


Aku pusing karena jumlah adrenalin yang terpompa di nadiku saat kami menaiki satu demi satu wahana permainan. Bahkan Rumah Berhantu tidak memperlambat langkah kita.


Bajingan itu tersenyum seperti seekor singa ketika kami melangkah keluar dari rumah dan aku tahu jika senyum itu datang karena diriku yang memeluk dirinya seperti dia adalah segalanya bagiku. Aku tidak takut, itu murni karena kegembiraan.


Aku marah dan memukulnya di tulang rusuk, tapi dia tidak terganggu. Hanya saja itu berakhir dengan dia mencium tanganku yang mengepal untuk meredakan kemarahanku.


Kami bahkan belum ingin berhenti menaiki wahana tetapi kami putuskan untuk menenangkan saraf kami dengan melihat lihat barang di toko. Setidaknya itu adalah rencana awalku.


Kieran mengambil setiap barang yang kusentuh dan dibayar dengan kartu hitamnya. Seolah aku akan membutuhkan tiga puluh lima mainan mewah ketika aku memilikinya sebagai boneka beruang raksasaku.


Kami mampir ke toko gelang 'Pandora' sambil menunggu supir memuat barang-barang kami ke dalam mobil.


Aku mencengkeram lengannya, agar tidak menunjuk apapun atau dia akan membeli seluruh isi toko. Catatan, otot-ototnya sangat enak untuk di sentuh.


Secara tanpa sadar, hampir saja aku terpesona dengan gelang "Putri Duyung". Aku suka berenang dan lautan.


Aku tidak pernah mengerti mengapa Ariel tertarik dengan kehidupan di darat. Tidak ada geng di bawah air. Tidak ada orang yang ingin membahayakan keluarganya. Tidak ada yang namanya kecelakaan mobil. Dan bahkan hiu, pemangsa laut, tidak ada di mana pun berbahaya seperti manusia di darat.


"Siapa Putri favoritmu?" Kieran bertanya ketika aku mengamati begitu banyak gelang di pajangan kaca.


"Tak ada satupun. Aku suka kepribadian Tiana dan Rapunzel, tapi sepertinya aku selalu terpesona oleh ceritanya Ariel."


Dia sudah bersiap siap untuk membeli setiap gelang dari Puteri yang aku sebutkan tetapi aku mengambil tangannya dan mencium setiap buku buka jarinya seperti yang selalu dia lakukan padaku.


"Terima kasih, Kieran, untuk hari ini. Tapi aku akan menghargainya jika kartu hitammu berhenti muncul."


Dia terlihat sangat tidak puas dengan keputusanku tetapi menganggukkan kepalanya dan memeluk pinggangku dan membawaku keluar dari toko.


Telponnya berdering dan dia memeriksa pesan masuk, " Aku harap kau lapar".


"Sebenarnya kelaparan."


Dia terkekeh dan mencium keningku, "Bagus."


***


-Kieran-


Apakah dia benar-benar berpikir dia bisa masuk ke toko perhiasan dan keluar dengan tangan kosong bersamaku?


Aku mengirim pesan kepada supirku untuk kembali dan membeli sesuatu saat aku mengajak Alina ke Kastil Cinderella untuk makan siang.


Untuk pertahananku, aku menggunakan Kartu Diamond ku.


Kastilnya sudah penuh untuk malam ini tapi Lucy berhasil mengambil tempat terakhir Meja Royal kastil Cinderella. Ini hari terakhirku bersama Alina, akan kulakukan apapun untuk melihat senyumannya.


Perasaan takjub pada wajahnya ketika kami memasuki Aula Utama terlihat sangat cantik dan polos. Tidak ada yang lebih aku inginkan selain memeluknya dalam lenganku dan mencium nya sampai kehabisan napas. Tapi bahkan sebelum aku bisa menyelesaikan pikiran tersebut, para pelayan mengantar kami menaiki tangga spiral menuju ke ruang perjamuan di atas.


Itu sangat megah dan nyata secara keseluruhan. Rasanya seperti kami diangkut ke semacam istana, lengkungan batu, bendera abad pertengahan dan jendela kaca patri yang indah langsung menghadap ke Fantasyland. Seluruh aula dibersihkan, meninggalkan meja untuk dua orang di dekat jendela. Lilin romantis diletakkan di atas meja, menunggu kami.


Aku menoleh ke Alina, dia memiliki satu tangan menutupi mulutnya, yang lain mencengkeram tanganku dengan longgar. Matanya lebar, seperti kaca.


Aku mengulurkan tangan dan memeluk bahunya, "Alina."


Matanya berkedip padaku dan satu air mata jatuh di pipinya, "Maaf, ini sangat indah."


Kerja bagus Kieran. Sangat ingin membuatnya tersenyum.


Aku menyeka air matanya dengan jempolku, "Jangan menangis didepanku. Tugasku hari ini adalah membuatmu tertawa sampai kau mati rasa ingat?"


Dia tersenyum kecil dan mengangguk, "Terima kasih."


Aku nyengir, itu yang kubutuhkan.


Kami duduk untuk makan, musik Disney diputar di latar belakang, Ratuku duduk di depan ku.


Jantungku berdegup kencang dan aku meringis, menyesap anggur merahku.


Apa yang salah denganku?


"Apa kamu baik baik saja??" Tangannya yang lembut membelai tanganku dari seberang meja dan sakit di dadaku menghilang hampir seketika.


Aku menarik napas panjang dan tersenyum, "Aku baik baik saja."


Kami menghabiskan hidangan utama dan makanan penutup, dan aku mengangguk kepada pelayan. Mereka berlari pergi dan mempersiapkan kejutan dan sakit di dadaku mulai lagi.


Aku menelan ludah dengan susah, berharap agar perasaan mual ini menghilang.


Alina meneguk anggurnya dan memandang keluar jendela, wajahnya terlihat tenang.


Aku berdeham dan dia menoleh ke arahku, menatapku dengan tegas.


Sisi penuh semangat dirinya.


Aku mengambil tangan nya dan dia menatapku,"Apa ini? Aku hampir menghabiskan makanan ini sayang, kau menatapku seperti aku memilik sesuatu di balik bajuku."


Aku terkekeh dan mencondongkan badanku ke seberang meja, "Lucy berusaha keras untuk menyiapkan makan malam ini, aku berharap kau akan terkejut beberapa saat ke depan."


"Apa yang kau-"


Seluruh aula menjadi gelap, jendela-jendela menutup secara otomatis dan cahaya gemerlap memasuki ruangan.


Sepatu kaca di atas nampan, persis seperti di film. Kecuali disini sudah ada sepasang.


Aku tidak bisa melihat ekspresinya, tetapi dari heningnya suara, dia pasti menahan napas.


Ketika pelayan menghampiri kami, kedua cincin kawin perak kami di letakkan diatas bantal merah beludru di atas sepatu itu


Lucy mengambil cincin dari laci di kantor dan mnelepon tentang kejutan ini.


"Maafkan aku Kieran , cuma itu satu satuny cara agar mereka mau menerima pesanan tempat.


Aku menghela napas, "Cincinnya ada di dalam laci."


"Kamu menyimpannya? Kupikir kamu akan membuangnya ketika Alina pergi. Aku tidak tahu kamu adalah orang yang sentimental."


"Dia keluar dari kamar kecil, terima kasih Lucy."


Ini tidak nyata.


Adegan melamar dia lagi, tidak nyata.


Tetapi Aku menginginkannya


Jauh di lubuk hatiku yang dingin dan gelap, aku ingin ini nyata.


Aku berdiri dan ia mengubah posisi duduknya agar menghadapku. Aku berlutut, mengambil cincinnya dan melihat kedalam matanya.


Mereka terlihat kuat namun lembut,ada kesedihan di dalamnya.


"Alina sayang, aku belum lama mengenalmu tapi rasanya aku telah menantikan dirimu seumur hidupku. Aku tidak pandai berkata-kata, mengingat bagaimana kau selalu menganggapku sebagai manusia gua.


Aku tidak pernah menginginkan orang lain sama seperti aku menginginkanmu, tidak akan pernah membutuhkan apa pun selain dirimu. Kau adalah separuh jiwaku, ratu di kerajaan yang kesepian ini. Kau melengkapi aku dan ku ingin kau tahu betapa berartinya kau Nona Alina Simmons, maukah kau menikah denganku?"


Seluruh ruangan hening selain nada lembut 'Kiss the Girl' yang diputar di latar belakang. Para pelayan profesional menunggu dengan napas tertahan untuk jawabannya.


Dia memegang wajahku dengan tangannya, ibu jarinya membelai pipiku dengan perlahan sebelum menekankan bibirnya ke dahiku, "Tentu saja aku mau menikah denganmu."


Kegelisahan menguap dan kebahagiaan yang kurasakan tak seperti kebahagian lain.


Aku tahu pada akhirnya, aku tidak mungkin akan menjadi Raja nya tetapi dia akan selamanya menjadi Ratu ku.


***


- Alina -


Aku sudah melakukannya, aku memberikan seluruh diriku untuknya.


Dan aku tidak akan pernah memilikinya lagi.


Aku merasa sangat dingin dan ini bukan dari dinginnya malam.


Aku kelelahan dari semua pertunjukan, menaiki wahana dan berjalan-jalan tapi terutama dari emosi yang kacau pada hari ini.


Kami berdiri di keramaian, di depan kastil tempat kami menikmati makan siang yang mengagumkan, sebelum pertunjukan kembang api. Aku menikmati kedamaian di dalam pikiranku, mengetahui aku mencintai pria ini tapi tak akan pernah mau lagi melewati apa yang telah kulewati bersama Connor.


Aku mungkin mencintai seseorang lagi, tapi aku tidak ingin mengalami kesedihan karena patah hati.


Kieran berdiri di belakangku, memelukku, kehangatannya membuatku menggigil.


Cara dia mengucapkan setiap kata saat melamarku itu fantastis, penuh emosi tetapi tanpa mengatakan dia mencintaiku. Dia tidak memberiku firasat sama sekali.


Terasa pahit dan manis, bagaimana aku menginginkan dan tidak menginginkan dia untuk mencintaiku.


Tidak ada ikatan


"Apa itu terasa tidak nyaman?"


Aku hanyak bisa menebak bahwa yang dia bicarakan adalah tentang sepatu kristal Swarovski yang sedang aku kenakan.


Sepatunya terlihat cantik, cocok dengan putri Disney. Apa begini yang dirasakan Cinderella saat sepatu kaca di berikan padanya?


Karena ini adalah sebuah cerita dongeng kacau yang tidak aku butuhkan.


"Sebenarnya malah kebalikannya, "aku bergumam.


Kastil menjadi gelap, musik dimainkan, pegangan Kieran di sekitarku semakin menegang.


Animasi dimainkan di kastil dengan lagu-lagu Disney nostalgia. Mistis, ajaib, indah dan benar-benar romantis.


Dia menghujani ciuman di leher dan bahuku yang terbuka, tangannya berpaut dengan tanganku.


Merasakan


Mengingat


Cincin dan sepatu kaca hampir tak terasa karena aku terlena dalam kehangatannya, Menerima sepenuhnya bahwa cerita dongengku akan berakhir.


Apakah aku dapat menyimpannya bahkan setelah malam ini berakhir?


Kembang api itu meledak dalam tampilan yang megah dan Kieran membalikkanku untuk menghadapnya. Cahaya yang terpantul di matanya membuatnya tampak sangat tampan.


Dia tersenyum kecil, "Ini dia."


Hatiku terpilin, "Ya ini."


"Aku sangat menikmati waktuku bersamamu Alina."


"Aku juga."


"Calon suamimu nanti sungguh lelaki yang sangat beruntung."


Aku mengelus pipinya, "Aku bisa mengatakan hal yang sama untuk calon istrimu."


Dia tekekeh sambil menggelengkan kepalanya, "Terima kasih sayang dan sebelum kau mulai, semua yang aku berikan padamu adalah untuk kau miliki."


Aku menghela nafas yang menyakitkan, "Kau menyimpan cincin dari Hawaii."


Dia mengangkat bahu, "Sudah kubilang, kita memiliki perjanjian. Selain itu, kupikir itu sangat cocok untukmu."


Dia menggosokkan ibu jarinya di sekiling cincin di atas jariku dan dalam waktu detik itu juga, jantungku berdegub kencang.


Disana, di kegelapan matanya.


Sekilas kerentanan, sedikit kerinduan, sedikit cinta.


Pikiranku berputar dan paru-paruku berkontraksi.


Aku pasti telah salah.


Aku nyaris tidak mengenal pria ini, aku tidak mungkin bisa membaca seperti itu.


Sebelum kesadaranku datang kembali, dia menarikku, tangan di belakang kepalaku, memancing bibirnya untuk menciumku tanpa henti.


************


"Terima kasih banyak telah membaca buku Saya. Anda dapat melihat saluran YouTube saya. Saya juga ingin tahu apakah ada yang bisa membantuku dalam membuat komik. Saya ingin mengubah salah satu buku saya menjadi komik. Jadi, jika dapat membantu saya beri tahu saya di komentar. Dan bab berikutnya akan selesai dalam 2 hari. "