The CEO's Wife

The CEO's Wife
Chapter 13



- Kieran -


Satu bulan sejak berakhirnya perjanjian kami.


Empat minggu tanpanya.


Sungguh tidak kusangka, ternyata aku masih hidup. Rasa sakit di hatiku belum juga hilang sejak peristiwa kembang api terakhir itu.


Dan detik demi detik dari Rolexku menghantuiku hanya untuk mengingatkanku semua waktu yang terlewat tanpanya.


Kekayaan ternyata tidak menjamin kebahagiaan. Bahagia itu ada saat kita mampu membeli setiap hal yang dapat membuat seseorang berbinar gembira.


Jadi, apa gunanya semua harta itu jika aku tidak memiliki wanita yang kucintai?


Uang tidak dapat membeli wanitaku itu, tidak dapat membeli cinta, tidak dapat membeli waktu.


Dan aku lebih memilih untuk memiliki semuanya itu daripada uang.


Terdengar suara ketukan di pintu dan segera kusimpan kembali lipstik itu pada kantongku. "Masuk."


Lucy mengintip ke dalam kantor. "Scott ada di sini."


Aku mendengus dan kembali merebahkan diriku pada kursi kulit besar. "Biarkan dia masuk."


Scott masuk dan melayangkan tinjunya padaku.


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanyaku sambil membalas sapaan tinjunya. Scott duduk berseberangan denganku.


"Memangnya tidak boleh bertemu sahabatku saat kerja?"


Aku mengernyit. "Kau sedang kekurangan klien, kah?"


"Sebaliknya. Sejujurnya aku punya kabar untukmu."


"Tentang apa?"


Sebelum menjawab pertanyaanku, perhatiannya teralihkan ke tanganku yang sedang memainkan cincin pernikahan.


"Kamu masih belum melupakannya, ya?"


Aku mengerang, kepalaku berdenyut hebat. Kukeluarkan aspirin dan memasukkannya kedalam mulutku dan menelannya dengan air.


"Langsung saja, Scott," tukasku sambil membanting gelas air yang baru saja ku minum ke atas meja.


"Ada kabar tentang ayahmu."


Dahiku berkerut. "Ayahku sudah meninggal."


"Itulah kenapa aku berada di sini. Rumor tentang ayahmu masih saja beredar. Tidak seorang pun tahu penyebabnya."


"Dia hanya seorang pengusaha yang meninggal dalam sebuah kecelakaan dengan istrinya, apalagi yang perlu dibicarakan?"


"Hanya ingin mengajakmu berpikir, Bro. Aku tidak tahu bagaimana kronologi para geng saat itu. Tapi jika ayahmu tiba-tiba terlibat di dalamnya, bisa saja namamu juga ikut terseret pada kasus itu."


"Aku bisa mengurus diriku sendiri," gerutuku sambil menahan sakit kepala yang tiba-tiba menyerangku.


Pil-pil bodoh itu tidak bisa bekerja dengan cepat.


"Kau terlihat sangat kacau."


"Terimakasih."


"Tak sabar menungguku pergi dari sini dan meninggalkanmu seorang diri, huh?"


Sekilas kuanggukkan kepalaku dan untuk beberapa saat dia hanya menatapku lalu menggelengkan kepalanya. Tak lama kemudian dia beranjak pergi.


"Sebenarnya aku tidak ingin mengatakannya, tapi kau yang memaksaku untuk melakukannya," gumamnya sesampai di pintu keluar.


"Tidak ada yang memaksamu, jadi tutup mulutmu."


"Kau mencintainya, Kieran Knight. Berhentilah berfikir bahwa kau tidak bisa mencintainya karena pernah memiliki masa lalu yang kelam. Bagaimanapun, seorang pendosa masih tetap memiliki hati."


"Ironis sekali karena kau satu-satunya yang memberiku nasihat semacam itu."


"Percaya atau tidak, hanya aku satu-satunya yang punya nyali untuk mengatakan ini padamu. Jadi, aku bisa sedikit mengurangi beban Lucy agar tidak mendengar kata-kata kasar dari bocah yang sudah dirawatnya sejak kecil ini."


Aku sangat membenci Scott.


Kugertakkan gigiku, aku harus menembak sesuatu atau aku akan meledak. "Bagaimana dengan Connor?"


"Tetap menjengkelkan seperti biasa. Kenapa kau peduli? Apa kau khawatir dia akan mencari Alina?"


"Bisakah kau berhenti menyebut nama itu?"


"Ya, jika itu membuatmu merasa lebih baik. Apa kau ingin aku membantumu untuk mencari tahu tentang dia? Maksudku, anggap saja aku ini temannya."


Aku menatapnya tajam, "Kamu pernah bertemu dengannya."


"Kieran-si manusia gua-yang posesif. Apa-kau-ingin-gadis-cantik-Kieran-si manusia gua?" Dia mengejekku dengan nada menjengkelkan.


Kuabaikan dia dan mulai membuka email, apapun untuk mengalihkan perhatianku dari amarah.


"Ngomong-ngomong, cincin yang bagus. Cocok untukmu," komentarnya dan langsung segera menghilang di balik pintu.


Kupijit pelipisku untuk menghilangkan rasa sakit di kepalaku. Sesaat kemudian terdengar sebuah ketukan.


Lucy mengintip, raut wajahnya muram. "Anda dibutuhkan segera."


***


- Alina -


Empat minggu berlalu sejak perjanjian kita berakhir. Empat minggu penuh dengan wajah Kieran di kepalaku, setiap jam, setiap menit.


Sejak perpisahan itu, rasa sakit memenuhi hatiku, menyiksaku dengan sangat.


Dia menetapi ucapannya, tidak akan pernah kembali untuk menggangguku atau bahkan muncul di hadapanku.


Aku hidup tapi sekarat di dalam.


Bekerja menjadi rutinitas wajibku. Rapat, kumpulan proposal, dan para klien datang terus menerus. Tapi tidak masalah, kadang aku menikmatinya. Itu semua dapat membantuku mengalihkan pikiran dan perasaanku pada seseorang.


"Wilson menelpon, Nona Simmons. Di jaringan 1," Louis menyampaikan melalui interkom. Jantungku berdegup kencang.


Wilson tidak pernah menghubungi kantor kecuali situasi darurat.


Tanganku meraih telpon dan segera menekan angka 1. "Dimana ayah?"


Wilson berdeham, "Tuan Simmons di rumah sakit. Dan keadaan tidak terlihat baik."


Louis segera membawaku ke mobil dan menyetir tanpa banyak bicara. Mungkin saat ini wajahku sudah terlihat sangat mengerikan.


Wilson menghampiri kami dan meletakkan tangannya di bahuku, wajahnya terlihat putus asa. "Tuan sedang mencari album foto keluarga Anda saat beliau mulai kesulitan bernafas. Setibanya di rumah sakit, dokter yang merawat Tuan mengatakan bahwa hidup Tuan tidak akan lama lagi."


Lututku gemetar. "Apa yang sedang mereka lakukan sekarang?"


"Melakukan pemeriksaan, memastikan Tuan dalam kondisi senyaman mungkin."


Tubuhku ambruk tapi sepasang lengan yang kuat lebih dulu menangkapku dan segera membawaku ke dalam pelukannya. Aroma cologne memenuhi penciumanku dan aku begitu mengenalnya. Dia Kieran...


Tapi itu tidak cukup untuk menghapuskan kesedihan yang tengah kurasakan.


Kieran berbicara dengan Wilson tapi aku sama sekali tidak memahami apa yang mereka ucapkan. Genggamanku pada kerah jas Kieran adalah satu-satunya cara untuk membuatku tetap sadar.


"Aku ingin menemui Ayah," bisikku.


Wilson masih tetap berbicara tapi Kieran menundukkan kepalanya untuk mendengarkanku, "Apa yang kau katakan?"


"Aku ingin melihat ayahku, kumohon." Suaraku begitu lirih dan lemah. Air mata terus mengaliri pipiku.


Kieran memapahku dan membawaku ke dalam ruangan, kedua dokter dan para perawat meninggalkan ruangan untuk memberikan kami sedikit privasi.


Ayahku terlihat lemah dan tak berdaya. Kerutan-kerutan di wajahnya semakin jelas dan dia terlihat jauh lebih lemah dari sebelumnya.


Kieran membantuku duduk di samping tempat tidur ayah. Kuraih tangan ayahku dan menggenggamnya. Matanya seperti memandang ke arahku. "Linda?"


Hatiku hancur, "Ayah, ini aku, Alina."


Sebuah senyum lemah menghiasi wajahnya. "Ah, Alina, maaf, Sayang. Kadang kau terlihat sangat mirip dengan ibumu. Mungkin ini saatnya aku pergi."


"Sudahlah ayah, jangan bercanda seperti itu," Aku terisak, air mata mengaburkan pandanganku dan aku hampir rubuh di sana.


Ayah meremas tanganku. Aku menunduk dan memberikan sebuah kecupan di dahi ayahku. "Oh Tuhan, bahkan di saat menjelang kematian ayahmu, kau mengumpat."


"Jika aku tidak mengumpat maka aku bukan lagi anakmu."


"Kau benar-benar terdengar seperti ibumu. Ayah penasaran apa yang akan dia katakan saat Ayah bertemu dengannya lagi."


"Ibu akan marah karena Ayah telah membuat Ibu menunggu begitu lama. Tapi tidak masalah, aku bahagia Ayah ada di sini denganku dan aku ingin ayah tetap tinggal."


Ayahku tertawa lemah. Lalu membelai rambutku, matanya melihat ke arah lain, tidak lagi fokus. "Menurutku dia akan tetap secantik dulu."


Hatiku begitu ngilu. "Tentu ayah."


Dia menghembuskan nafasnya pelan, lalu memejamkan matanya. "Ayah sangat lelah, Sayang. Mau kah kau tetap berbicara untuk Ayah?"


Kupejamkan mataku dan membiarkan airmataku mengalir sebelum kembali memandangnya. "Aku menyayangimu, Ayah."


Setitik air mataku membasahi wajahnya dan dia menepuk tanganku. "Ayah juga menyayangimu, Alina."


***


- Kieran -



Saat terakhir Alexander menghembuskan napasnya, Alina tidak lagi meneteskan air mata. Tidak setitik pun.


Wajahnya terlihat begitu dingin dan masih tampak tidak mempercayai semua ini. Dia memelukku seakan-akan hanya akulah satu-satunya cahaya dalam kegelapannya saat ini. Dan aku merasa tidak pantas diperlakukan seperti itu.


Pria gelap tanpa hati sepertiku, menjadi cahaya untuk wanita ini.


Pemakaman berjalan sesuai rencana dan aku tetap berada di samping Alina seperti yang sudah kujanjikan pada ayahnya. Setidaknya aku sudah berusaha.


Kami berada di mobil untuk kembali pulang ke rumah Alina setelah pemakaman berakhir. Kupeluk Alina di kursi penumpang sambil menepuk-nepuk punggungnya yang tengah memelukku seperti bayi koala. Wilson menyetir dalam diam dan Alina semakin mengeratkan pelukannya padaku.


"Kau tidak harus menemaniku, aku baik-baik saja," bisiknya parau.


"Aku tahu, aku hanya ingin memelukmu."


"Kau tidak harus melakukannya."


"Tapi aku mau."


dia menghela nafas dan merebahkan kepalanya di dadaku, menutup mata bengkaknya, "Terimakasih."


Aku merasakan jantungku berdebar kembali.


Setibanya di mansion Alina, aku segera menggendongnya. Kepalanya terselip di dadaku karena dia tertidur. Kurebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Lalu menyelimutinya, membelai pipinya dan mendaratkan sebuah kecupan di dahinya.


Sesuatu menggelora di dalamku, kebutuhan familiar yang kurasakan saat di Hawaii. Kebutuhan untuk melindungi dan menjaga wanita ini.


Apakah aku sudah siap untuk berkomitmen?


Aku sudah mencari tahu tentang Alina. Sejak perjanjian kami berakhir, itu artinya aku bisa mencari tahu lebih dalam tentangnya. Scott menemukan bahwa ibu Alina meninggal di tangan mafia yang disebabkan oleh transaksi luar dan berakhir dengan jeritan. Itulah kenapa Alina begitu marah pada Connor ketika dia tahu lelaki itu terlibat dengan sebuah geng. Dan itu juga yang menyebabkan Alina begitu melindungi ayahnya. Dia berusaha menyembunyikan ayahnya dari publik, tidak ingin seorang pun tahu tentang kecelakaan dan apa yang terjadi pada ayahnya.


Akankah aku membawanya ke dalam bahaya?


Aku tidak terlibat dalam kasus ilegal ataupun dunia mafia. Tapi ada beberapa musuh yang kami temui dalam perusahaan detektif dan terkadang mereka mencariku di perusahaan asuransiku. Para anggota geng yang bodoh semakin hari semakin pintar dan kritis setiap harinya. Entah bagaimana, mereka dapat mengetahui siapa aku dan dimana bisa menemuiku.


Apakah Alina akan tetap bersamaku jika dia mengetahui semuanya?


Aku menuruni anak tangga dan Wilson tengah menunggu di pintu, dengan tatapan yang tidak mengenakkan. "Apakah perlu saya panggilkan taksi, Tuan?"


"Sebaliknya bisakah ambilkan aku whiskey? Ini sungguh hari yang panjang."


Dia mengangguk dan segera mengambil sebotol minuman beralkohol dan dua gelas batu dari lemari. Disajikannya semua itu diatas meja. Kemudian dituangnya sedikit anggur pada setiap gelas. Diberikannya satu padaku dan kami bersulang.


Cukup ampuh untuk menenangkan kegugupan dan rasa sakit di kepalaku.


"Apakah Anda akan tetap tinggal?" tanyanya. Aku hanya bisa mengangkat bahu.


"Entahlah, aku tidak ingin diusir sama seperti Connor."


Dia terkekeh. "Ya, itu benar, itu pengalaman yang kurang mengenakkan."


Aku meminum beberapa teguk lagi. "Apakah menurutmu Alina akan marah jika tahu aku terlibat dengan hal-hal berbau mafia?"


Matanya terbelalak tapi tetap berusaha menelan anggur di dalam mulutnya. "Menurut saya, tergantung. Nona begitu tegas dengan segala hal yang berkaitan dengan geng karena orang tuanya. Apakah Anda juga terlibat dengan hal semacam itu?"


"Tidak juga, beberapa geng menggunakan jasa detektif kami. Aku tidak berhubungan langsung dengan mereka, kecuali mereka mencariku. Dan selanjutnya mereka akan berurusan dengan pihak yang berwenang."


"Aku tidak peduli bagaimana urusannya dengan Tuan Knight, tetap saja masih bahaya. Kau bermain dengan api. Bisakah kau menjaga Alina? Dalam keadaan seperti itu, jika suatu hari terjadi sesuatu, apa kau pikir bisa melindunginya?"


Kutuangkan kembali whiski ke dalam gelasku dan memberinya sebuah senyuman sedih.


Keputusan dan janji.