
Kazuya kembali kedalam gedung dengan helaan nafas, beban di pundaknya terasa semakin berat. Ia termenung, untuk pertama kalinya tidak tahu harus melakukan apa dalam sebuah kasus.
"Tuan Kazuya? Saya mengira anda mau menyerah tadi. "
Tuan Akihiro menatap pengacaranya itu sinis, tak lagi percaya dengan kinerja Kazuya.
"Aku tidak bilang akan menyerah, tuan Akihiro. Kasusmu sudah mencapai hari terakhir, aku hanya perlu bertahan sampai *putusan akhir dan kasusmu dianggap selesai. "
*putusan akhir: putusan hakim yang menyatakan bahwa sang terdakwa bersalah atau tidak*
Tuan Akihiro terkekeh.
"Apa ada yang salah? Tuan Akihiro?"
"Bukan seperti itu, saya hanya merasa lucu."
"Lucu bagaimana ? "
"Saya seperti melihat orang yang berusaha mencari jarum di tumpukan jerami. "
"Jarum... ditumpukan jerami... ? Maksudmu? "
Tuan Akihiro tidak mempedulikan pertanyaan Kazuya, ia melangkah masuk ke ruang sidang dan meninggalkan pengacaranya dibelakang. Kazuya yang belum mengerti, masih tak bergeming setelah mendengar kalimat itu.
"Tu-tunggu tuan Akihiro! Apa maksudmu?! "
"Apapun yang kau lakukan,tuan Kazuya. Hari ini.... tidak ada yang bisa, memberi putusan akhir untuk kasusku."
Kazuya masih terdiam,sama sekali tak mengerti apa yang dikatakan kliennya barusan.
"PENGACARA!! SILAHKAN MASUK KE RUANG SIDANG!"
"B-baik! "
Panggilan itu membuyarkan pikiran Kazuya, menyesali waktu yang dihabiskannya dengan lamunan.
Dalam ruang sidang, tuan Akihiro sudah duduk manis di kursi yang ada ditengah ruangan, kursi untuk terdakwa. Sedangkan Kazuya sudah berdiri di belakang sebuah meja. Meja yang disediakan untuk pengacara. Sedangkan meja kosong dikanan Kazuya adalah meja untuk pihak prosekutor*.
Prosekutor :orang yang bertugas untuk membuktikan kesalahan terdakwa dalam proses sidang, lawan dari pengacara. *
"Ah, anda.. Pengacara tuan Akihiro kan? "
Sang hakim memanggil Kazuya, ia menjawab dengan anggukan.
"I-iya, yang mulia hakim. Saya.. Kazuya, pengacara tuan Akihiro. "
Kazuya memperkenalkan dirinya dengan ragu-ragu, menyadari sesuatu yang aneh.
"Permisi... Yang mulia? "
"Ada apa? "
"Apakah... hakim yang sebelumnya menangani kasus ini, sedang berhalangan? Kenapa anda menggantikan posisinya?"
Sang hakim melotot tajam kearah Kazuya, tatapannya tidak menunjukkan ekspresi senang.
"Ah, jadi begini, tuan Kazuya. Hakim yang sebelumnya bertanggung jawab sedang sakit, jadi aku menggantikannya."
Sang hakim menjawab, Kazuya tidak percaya sedikitpun.
"Tapi,di sidang kemarin dia masih baik-baik saja."
"Dia sebenarnya sedang sakit keras tuan Kazuya, penyakitnya itu mudah kambuh."
"Penyakit apa? Dia tidak terlihat sedang sakit. Kenapa dia diganti tiba-tiba begitu? "
"Apakah anda sebegitu tidak tolerannya terhadap penyakit seseorang? Bukankah saya sudah bilang? Dia sedang sakit. "
"Sakit apa yang anda maksud, yang mulia. Saya tidak akan berhenti bertanya sebelum--.. "
"Melawan kalimat seorang hakim itu tidak baik loh, tuan Kazuya."
Kalimat itu memotong percakapan panas diantara Sang hakim dan pengacara. Keduanya memutar kepala mereka ke asal suara yang ternyata berasal dari tuan Akihiro.
"Kalau tidak sopan begitu, anda bisa dikenakan contempt of court* loh.. "
Contempt of court: pelanggaran karena sikap tidak hormat terhadap pengadilan dan para petugasnya dalam bentuk perilaku yang menentang*
Tuan Akihiro melanjutkan kalimatnya, Kazuya terdiam. Apa yang diucapkan kliennya barusan memang benar. Jika dia terus-terusan melawan, maka contempt of court pastinya bukan sesuatu yang tidak mungkin.
"Maafkan saya, yang mulia hakim. "
Kazuya membungkuk, ekspresi Sang hakim masih kesal.
"Aku benar-benar bingung, bagaimana orang tidak beretika sepertimu bisa mendapat lisensi untuk menjadi pengacara profesional. "
"Saya benar-benar minta maaf. "
"Maaf, saya terlambat. "
Lagi-lagi, seseorang memotong percakapan sang hakim dengan Kazuya. Keduanya menghadap ke suara yang ternyata berasal dari seorang laki-laki paruh baya.
"Maafkan saya, yang mulia hakim,saya terlambat."
Laki-laki itu menunduk meminta maaf, sang hakim hanya menggeleng.
"Tidak apa-apa tuan, silahkan ke meja anda. "
Laki-laki itu mengangkat kepalanya dan berjalan ke meja prosekutor, Kazuya yang melihat hal itu kaget bukan main. Semua hal di sidang hari ini tampak sangat salah.
"Tu-tunggu! Maafkan saya lancang! Tapi... Anda siapa?.. "
"Ah, Anda pengacara tuan Akihiro ya? Perkenalkan, saya Kyouchiro. Prosekutor pada sidang hari ini. "
Mata Kazuya terbelalak, tidak mempercayai apa yang ia dengar.
"Tunggu! Dimana prosekutor yang kemarin menangani kasus ini?! Kenapa dia juga tiba-tiba diganti seperti itu?!"
"Ah,namamu Kazuya, kan? Jadi begini tuan Kazuya..... "
Laki-laki tersebut menggantung kalimatnya, Kazuya menunggu tak sabar.
"Sebenarnya prosekutor yang menangani kasus ini sedang mengalami sakit keras, jadi aku menggantikannya.. "
"Alasan macam apa itu?! Itu sama persis dengan yang mulia hakim barusan!! "
"Ah, tuan Kazuya.. Memangnya yang boleh sakit keras hanya satu orang ya? "
"Kau pasti bercanda!! Ini pembohongan publik, Tuan Kyouchiro!!"
Kazuya membentak, lelaki bernama Kyouchiro itu hanya mengangkat bahunya sambil menggeleng, memanas-manasi Kazuya.
Sang hakim memanggil Kazuya, terpaksa sang pengacara harus diam sebelum contempt of court menjadi takdirnya pada sidang hari ini.
"Baiklah, jika semua masalah sudah diselesaikan, mari kita mulai sidang hari ini! "
Palu keadilan diketuk, tanda sidang sudah dimulai. Kazuya melihat foto sang adik, berdoa demi keberuntungannya pada sidang kali ini.
*Kazuya point of view*
Aku meletakkan kembali foto Nana dalam saku jas, bersiap untuk menangani kasus paling aneh dalam sejarahku menjadi seorang pengacara.
"Prosekutor Kyouchiro, silahkan pernyataan pembuka nya. "
"Terima kasih yang mulia hakim, seperti yang kita tau.. Hari ini adalah hari ketiga dari kasus terdakwa, Tuan akihiro. "
"Oh, hari ini hari terakhir ya? Aku tidak tau itu. "
'Bagaimana kau bisa tidak tau?! Dasar hakim gadungan!! '
Pikirku kasar sambil berkomat-kamit.
"Iya, yang mulia. Hari ini adalah hari terakhir, meskipun begitu, kita ada sedikit masalah. "
"Apa itu? "
"Data yang diberikan pada saya.. Tidak lengkap.. "
"Apa?! "
Celotehku panik, benar-benar tidak bisa dipercaya.
"Bagaimana bisa kau tidak punya data lengkapnya?! Tuan Kyouchiro! "
"Tenang dulu, tuan Kazuya. Saya hanya bilang 'tidak lengkap', saya tetap punya sebagian datanya. "
"Tolong beritahu yang mulia hakim serta juri-juri terhormat yang ada disini, data apa yang Anda punya? "
"Saya punya.. Data sidang pertama. "
Aku membenamkan kepalaku dikedua tangan, belum mulai sidang saja kepalaku rasanya sudah sakit. Tapi.. aku menyadari sesuatu yang salah.
'Kenapa..Tidak ada juri yang protes tentang ini?... '
"Tuan Kyouchiro. Bisa jelaskan kenapa anda hanya punya data sidang pertama? "
"Maaf yang mulia hakim, sepertinya prosekutor yang sebelumnya lupa memberikannya pada saya."
"Hm.. Kalau begitu mau tidak mau kita harus mengulang lanjutan skenario dari sidang pertama."
"APA!? "
Lagi-lagi, celotehku panik. Lagipula, Mengulang isi dari sidang kedua!? Apa-apaan ini?! Buang-buang waktu untuk hal percuma..
Seorang prosekutor mengulur waktu demi terdakwa yang tidak diragukan lagi bersalah, menunda-nunda kemenangannya yang sudah didepan mata.
'Prosekutor apa dia itu?.. '
Aku memperhatikan Kyouchiro , mata kami bertemu, ia tersenyum sinis.
"Ada apa tuan Kazuya? Bukannya ini menguntungkan anda?"
"Bukan masalah menguntungkan siapa, tuan Kyouchiro... Hanya saja.. "
"Hanya saja ?? "
"........ "
Aku tak bisa sembarangan bicara didepan prosekutor ini, dia bukan lawan yang bisa ku anggap enteng. Dia tau tuan Akihiro bersalah, itu sudah pasti. Pertanyaannya adalah, 'kenapa dia malah melinduginya?'
"Tidak apa-apa, tuan Kyouchiro. Silahkan lanjutkan. "
"Kalau semua bentuk keberatan sudah hilang, mari kita mulai reka ulang skenario pada sidang hari kedua. Reka ulang, dimulai!! "
Palu hakim diketuk, pikiranku mulai melayang. Kepalaku rasanya berkunang, semua tampak kabur.
'A-apa yang harus kulakukan... ? Mereka terus-terusan mengulur waktu, kalau begini...'
Aku menatap tuan akihiro, senyum sumringah nya membuatku kesal.
'disini.. yang tau kebenaran pada malam itu, hanya aku dan pelakunya sendiri. Akihiro. '
Tanganku menapak pada meja, menopang badanku yang rasanya mau tumbang.
'Aku harus bisa menunjukkan kebenaran ini ... untuk dilihat semua orang. Aku--... harus bisa-....'
'tapi... '
Tu-tunggu, suara...apa ini..?
'Apa kau yakin kau mau terus berusaha?'
Kenapa ada... Suara ini.. Dipikiranku.. ?
'bukankah ada pilihan yang lebih bagus ?'
Suara siapa ini... Kenapa dia terus berbicara.. ?
'Kita bisa saja berbohong... dan memenangkan kasus ini dengan mudah.'
Apa ini.. Suaraku?
'Kita tinggal menutupi kebenarannya, dan menerima kemenangan.'
Kenapa.. Aku berpikir seperti ini..
'Dengan semua kebohongan ini...'
Aku tidak mau mendengar suara ini, Aku lebih kuat dari ini.
'Dengan semua kepalsuan ini..'
Aku...harus bisa.. Aku harus...
'Bukankah lebih baik.. Menyerah saja?'
aku--... tidak bisa...
'Jangan bertindak bodoh, menyerahlah. '
Aku... Minta maaf...