Tears of Hope

Tears of Hope
arc 14 : back stabbing



Sudah beberapa hari berlalu sejak kematian sang kakak, namun keadaan nana tidak pernah membaik sejak itu. Ia memang sudah dibawa pulang dari rumah sakit, tapi begitu banyaknya barang Kazuya di rumah malah membuat batinnya semakin sesak.


Kring... Kring...


Telepon rumah berbunyi, nana yang masih tiduran itu bahkan tidak repot- repot untuk bangun dan mengangkatnya.


Kring... Kring..


Bunyi telepon itu tidak berhenti, tapi nana masih tidak bergeming dari kasurnya.


Kring... Kring..


Suara panggilan itu tampak seperti tak akan pernah berhenti, siapapun yang berada di seberang panggilan itu pasti memiliki determinasi tinggi.


Klak...


"Halo? Nana? "


Bunyi panggilan berhenti, sekarang telepon memasuki mode tinggalkan pesan. Yang menelpon ternyata adalah dua sahabat nana ,yaitu ling-ling dan chizu.


"Halo nana? Ini aku, chizu. Bagaimana keadaanmu setelah pulang dari rumah sakit?... Apa kau tidak apa-apa? "


Nana tidak mempedulikan panggilan itu, semua yang chizu barusan katakan seperti masuk dari satu telinga dan keluar dari telinga lain.


"Aku sudah mendengar beritanya.. Aku.. Benar-benar berduka untukmu. Kak Kazuya adalah orang yang baik. Dia tidak pantas mati seperti itu.. "


Nana menggeliat mendengarkan chizu, risih mendegar kata-kata duka mengenai kematian kazuya.


"Aku menunggu kedatanganmu disekolah na, kami kesepian tanpamu disini. Hah? Sebentar--.. Ling-ling ingin bicara denganmu. "


"Halo, na? Bagaimana keadaanmu? Apa kau membaik? Apa yang kau rasakan? "


Tidak biasanya ling-ling jadi emosional seperti itu, apa yang terjadi padanya?


"aku masih penasaran na, kapan kau akan kembali bersekolah? Sudah hampir 1 minggu sejak kau dilarikan kerumah sakit  dan sampai sekarang kau belum masuk juga."


Memang sejak nana dilarikan ke rumah sakit, Chizu dan ling-ling terus menjenguk nana tiap harinya, tidak lupa  memberikan nana catatan serta tugas-tugas dari sekolah. Hal itu mereka lakukan tanpa berkomentar apapun, awalnya nana kira mereka melakukan itu atas dasar kasihan. Tapi ternyata, nana salah besar.


"Kakakmu yang meminta kami untuk membawakan semua catatan itu. Tapi karena dia sudah tidak ada--.... "


Mendengar kalimat itu,mata nana terbuka lebar. Sama sekali tak mengira apa yang dikatakan ling-ling barusan.


"Ling--!! Ma-maaf na! Kami harus pergi! "


Pip... Pip... Pip...


Telepon itu dimatikan, nana terdiam di kasurnya, kehilangan kata-kata.


"Kak--... Hik... Bahkan setelah kau pergi... Hiks... Ka-kau masih... "


Air matanya mengalir, membasahi jas sang kakak yang ia peluk sedari tadi. Tangisan nana mulai menjadi-jadi, semua kalimat yang diucapkannya mulai tak bisa didengar.


"Hiks.... Huwa..... Ka-kak.... Hiks... Kakakk..... "


Nana memeluk jas hitam sang kakak erat-erat, bagi nana, semua barang kazuya sekarang lebih penting dari nyawanya sendiri.


"Kak-- hiks... ma... maaf...."


Nana tidak melanjutkan kalimatnya, tapi tangisan itu terdengar makin kencang.


"Ma-... maaf...."


Nana mendorong tubuhnya ke ujung kasur, menurunkan kedua kakinya dan mulai berjalan keluar kamar.


"maaf....  maaf...."


Ia masih memeluk barang-barang sang kakak dengan erat, jas hitam kazuya, dasi merahnya , bahkan nametag kebanggan kazuya, semua ada di tangan nana.


"Kak.... nana--.... hiks...."


Nana menuruni tangga, tatapannya tertuju pada barang-barang diruang tengah.


"Kakak... ma-maaf.... ta-tapi...."


Nana menyeret kakinya yang sudah terasa berat, menjatuhkan jas serta nametag sang kakak. Ia mulai menarik sebuah kursi dan meletakannya tepat dibawah kipas angin.


Nana mengaitkan dasi merah kazuya pada kipas angin tersebut, ia mulai membuat simpul dan membentuk sebuah lubang besar yang cukup untuk mengalungi lehernya.


"Nana mau ketempat kakak..."


"Tunggu nana ya, kak.."


Nana mulai mengalungi lehernya dengan dasi tersebut, ia menutup matanya dan menjatuhkan kursi itu.


Untuk sesaat sepertinya nana bisa merasakan secercah cahaya yang begitu hangat, apakah itu tuhan?  Atau itu akhirat? Atau.... apa itu kazuya ?...





"Na."


"Kalau kau menyerah sekarang, bukankah kematianku jadi sia-sia saja ?"


"K...kak.... ! Kakak !!!"


"Katanya kau ingin menjadi seperti kakak. Kenapa kau malah kesini ?"


"Aku tidak mengajarkanmu untuk mudah menyerah bukan?"


"Ta-tapi... nana.... nana-- hiks... !!"


"Tapi apa...?"


"Tapi.... nana butuh kakak ! Nana tidak bisa sendirian !!"


"......"


"Nana baru sadar ! Selama ini nana selalu butuh kakak ! Nana tidak bisa apa-apa sendirian! Nana cuma anak kecil ! Anak kecil kan tidak bisa apa-apa !!"


Nana bisa merasakan air matanya jatuh, entah sudah berapa kali ia menangisi kematian sang kakak.


"......"


"K-kak !! Jawab kak !! Nana tau nana bodoh ! Suka bikin repot kakak ! Tapi kalau nana ikut kakak nanti ! Nana janji !! Nana gabakal ngerepotin kakak lagi !"


"Justru karena aku tidak mau kau kesini."


"Ta.. Tapi! Kenapa?! kak!! "


"... aku akan membantumu kembali. Tapi, jangan pernah kesini lagi, kau mengerti? "


"KAK!! TUNGGU!! KAKAKK!! "





"-na... "


"Na!! "


"NANA!! "


Nana dibangunkan dengan teriakan kencang, ia membuka matanya perlahan dan mulai bisa melihat sekelilingnya.


"K-kak... Eichi..? "


"SYUKURLAH KAU BAIK-BAIK SAJA!"


Wajah eichi adalah hal pertama yang dilihatnya, ia pun mulai sadar kalau ia tidak lagi berada di rumahnya.


"Kak... Eichi... Ini... Dimana..? "


"Kau dirumah sakit."


Nana menatap eichi, tak ingat bagaimana ia bisa sampai kesini.


"Kok... nana bisa disini..? Lalu.. Kakak dimana..? Barusan nana masih ngobrol sama kakak..."


Eichi mengerjapkan matanya beberapa kali untuk bisa mengerti apa yang nana katakan. Matanya melebar untuk sesaat melihat nana yang membangunkan tubuh atasnya sambil mengusap kedua matanya.


"Na... "


"Iya..? "


Eichi memeluk nana, kali ini nana yang tidak merespon.


"Kak eichi--.. "


"Biarkan kakakmu pergi dengan tenang."


Eichi makin mempererat pelukannya, nana bisa merasakan kedua tangan eichi bergetar. Apa dia menangis?


"Kak eichi kenapa? "


"Tolong.. Tolong jangan kejar kakakmu. Jangan kejar dia kesana.. Dia juga tidak mau kau mengejarnya.. "


Nana melirik ke arah meja di samping nya, dasi merah sang kakak dilipat dengan rapih di sana. Ia meraba lehernya, dan merasakan beberapa lembar perban.


"Eichi, apa dia sudah bangun? "


Yuichi tanpa basa-basi langsung masuk ke kamar itu, pandangannya dan pandangan nana bertemu.


"Ah.. Su-sudah. "


Eichi melepaskan pelukannya, menyeka matanya yang berair.


"Na.. Kenalkan, ini kakakku. Yuichi. "


"!!!!!"


Yuichi tersenyum, tapi nana tidak membalasnya dengan senyuman juga.


"K-kau!!!!! "


"Kau adiknya Kazuya kan? Senang berkenalan denganmu. "


"JANGAN PURA-PURA BAIK PADAKU!! "


Nana berteriak, keduanya terbelalak kaget.


".... Ada apa, nana? Apa aku melakukan sesuatu yang membuatmu marah? "


"Membuatku marah?! KAU YANG MEMBUNUH KAKAK KAN?! "


".....  Maksudmu Kazuya?... Aku.. Membunuh Kazuya atsutzuki..? "


"SIAPA LAGI ?! POLISI BILANG HANYA KAU TERSANGKANYA!! "


"....... "


"Na.. Tolong hentikan.. "


"KAK EICHI DIAM!! "


Nana benar-benar mengamuk, ia tak pernah marah seperti ini terhadap siapapun, bahkan kepada para berandalan tempo hari yang sempat hampir membunuhnya.


"... Hei na. "


"Apa yang kau inginkan?! Cepat katakan!! "


"... Jangan bicara galak-galak begitu. Aku dan adikku sudah menyelamatkanmu berkali-kali loh. Haha.. "


Bahkan disaat seperti ini, yuichi masih bisa memasang tawa pada wajahnya. Bahkan kata 'profesional' sepertinya terlalu murahan untuknya.


"Hanya kak eichi yang menyelamatkanku! Semua itu tidak ada hubungannya denganmu!!"


"Kalau begitu.. Mungkin kau bisa bilang 'Terima kasih' dulu pada eichi..? "


"Hah ?!... "


"Mungkin..? Atau Kazuya memang tidak pernah mengajarkan sopan santun padamu?"


Yuichi membuat nana harus menelan semua kalimatnya bulat-bulat. Dia tidak mau membuat malu Kazuya, tapi.. Harga dirinya juga menjadi taruhan disini.


"Kak eichi... Terima kasih.. "


Nana menundukkan kepalanya kearah eichi. Tapi apa yang dilakukan eichi selanjutnya benar-benar tak disangka.


Brak!


Kepala nana dilempar sesuatu oleh eichi, barang itu mengenai kepala nana pelan dan jatuh tepat di pangkuannya.


Sebuah koran, dengan headline utamanya berjudul 'Pengacara terkenal Yamada Yuichi dinyatakan tidak bersalah!  Pelakunya? Rekan kerja adiknya sendiri!!'


"Rekan kerja... Kak eichi..? "


Nana membaca judul headline itu baik-baik, memastikan tidak ada kata apapun yang terlewat.


"Kak yuichi.. Tidak bersalah..? "


"... Aku... Tidak mungkin bisa membunuh kakakmu.. Na. "


Nana kehilangan kata-kata untuk diucapkan, setelah semua teriakannya pada yuichi barusan. Kali ini,rasa bersalah yang menelannya bulat-bulat.


"Ma... Maaf.... Kak yuichi... "


"Sudah,sudah. Tidak apa-apa. Jangan menangis.."


"Tapi..Tapi nana barusan..Hiks.. Nana..Hiks.."


"Sudah, tidak apa-apa. Aku tau kau masih tidak bisa menerima kepergian Kazuya. "


"Nana... Hiks... Nana minta maaf.... "


"Hm.. Bagaimana kalau sebagai permintaan maaf ...kau bekerja di kantor hukum milikku?"


"H-hah...?"


"?!?!"


Eichi membuka matanya lebar-lebar, tidak percaya dengan kalimat yang barusan dikatakan kakaknya. Sedangkan nana masih mengusap-usap air matanya, tak tahu harus menerima penawaran itu atau tidak.


"Ba.. Bagaimana nana bisa kerja dikantor hukum..? Nana belum 17 tahun.. "


"Tenang saja! Aku dan eichi akan melatihmu sampai waktunya tiba!"


"Nana juga masih sekolah... "


"Itu bisa kami urus! Kau kan bisa home schooling! "


"Lalu biayanya..? Kakak sudah tidak ada... Nana juga tidak bisa bolak-balik dari kantor ke rumah sendirian.. "


"Kau akan tinggal di rumahku dan eichi! Mudah kan? "


"Lalu... Teman-teman nana bagaimana? "


"......."


"Kak...? Kak yuichi?.. Kenapa kak yuichi mendadak diam?"


"Apa orang-orang seperti ini adalah temanmu?"


Yuichi memberikan nana sebuah HP, layarnya menunjukkan sebuah video yang pastinya bisa dikenali nana dengan cepat.


"Ini... Ini chizu dan ling-ling.. "


"Dengarkan baik-baik apa yang mereka bilang."


Video itu diputar, nana mendekatkan speaker HP itu ke telinganya. Di awal-awal video itu, yang terdengar hanyalah suara ling-ling.


"aku masih penasaran na, kapan kau akan kembali bersekolah? Sudah hampir 1 minggu sejak kau dilarikan kerumah sakit  dan sampai sekarang kau belum masuk juga."


Ini--... Ini panggilan mereka yang tadi pagi.


"Kakakmu yang meminta kami untuk membawakan semua catatan itu. Tapi karena dia sudah tidak ada--.... "


"Ling--!! Ma-maaf na! Kami harus pergi! "


"Ling! Kau sudah gila ya?! Bicara seperti itu! "


"Memang apa salahnya sih chizu? Memang salah kalau kubilang kita lelah  disuruh bolak-balik seperti itu? Hah? "


"Aku tau kita lelah! Tapi apa kau mau kena masalah oleh orang-orang disekitar nana?! Kau tau mereka semua punya jabatan tinggi! Kita bisa dibunuh ditempat kalau ketahuan bicara seperti itu terhadap nana ! "


"Ah sialan! Karena ada orang-orang seperti kak eichi dan kak Kazuya, aku jadi takut dengannya! "


"Sudahlah ling. Sabar saja, untung salah satunya sudah tidak ada. Tinggal tunggu kak eichi saja. "


"Kalau keduanya sudah tidak ada.. Anak itu pasti tidak bisa apa-apa.. Hehehe.. "


Pip.


Video itu selesai, mata nana kosong. Tidak pernah tau begitu banyaknya hal-hal kotor yang sang kakak lakukan untuk membuatnya punya hidup yang bahagia.


"Mereka tidak tau kak eichi punya kakak yang sama berbahaya nya seperti Kazuya. Hahaha."


Lagi-lagi, yuichi tertawa lebar, ia seperti manusia tanpa perasaan. Setelah melihat nana yang kehilangan perasaannya itu, yuichi masih tidak berkomentar apa-apa, bahkan ia malah tertawa.


"Kak yuichi. "


"Bagaimana?"


"Aku menerima tawaranmu."


"Heh, bahkan orang sepertimu bisa kesal juga ya. Aku tidak menyangka."


"....."


"Baiklah. Pulang nanti, kau ikut kami kerumah ya, nana. "


Yuichi tersenyum sangat lebar, ia melirik kearah adiknya yang kehabisan kata-kata. Eichi hanya bisa berdiri disana, menatap nana dengan tatapan kaget.


"Aku akan melindungi nana, Kazuya. "


Yuichi bergumam pada dirinya sendiri, menatap eichi dari belakang dengan tatapan sinis.