
Jam sudah menunjukkan pukul 15:45. Sesi pertama pengadilan untuk kasus Akihiro baru saja selesai. Kazuya segera keluar dari ruang sidang, melesat ke sepedanya yang terparkir didepan gedung.
"Tuan Kazuya !!"
Suara Akihiro menghentikan langkah Kazuya , ia berbalik untuk menghadap ke asal suara tersebut.
"Tuan Akihiro, ada apa ?"
"Tidak, hanya.... Terima kasih."
"Tidak apa2, ini hanyalah tugas kami untuk percaya pada klien hingga akhir." *Sambil tersenyum*
Kazuya tersenyum ,tapi ia berbalik dan melanjutkan jalannya keluar gedung pengadilan. Akihiro menatap punggung Kazuya yang mulai menjauh , Akihiro bergumam.
"Kau benar-benar orang yang baik, tuan Kazuya."
Sedangkan Kazuya sudah menaiki sepedanya dan mulai mengayuh ke sekolah Nana. Sang adik yang sudah pulang sekolah, pasti sedang menunggu Kazuya untuk menjemputnya.
Kazuya menghentikan sepedanya didepan gerbang sekolah , dilihatnya Nana yang bersandar di loker buku.
"Nana !!!"
Teriakan Kazuya menyadarkan nana dari lamunannya, Nana yang sadar dengan panggilan sang kakak langsung berlari ke gerbang.
"Kakak ! "
Nana memanggil dengan senyum, mengangkat kedua tangannya bersiap untuk memeluk sang kakak. Kazuya lagi-lagi melihat kebodohan sang adik, ia tertawa kecil dan ikut melebarkan tangannya.
"Kakakkkkk !!!!"
"Dasar bodoh ! Hahaha." *Kazuya terkekeh*
"Bodoh juga tetap dipeluk !!"
"Kau adikku, tentu saja kupeluk."
Pertemuan dua kakak adik itu sudah seperti reuni setelah bertahun-tahun tak bertemu. Pelukan serta tawa lepas mereka menarik perhatian dari seluruh murid yang sudah berada di gerbang, tak lepas dari para berandal yang Nana temui pagi tadi.
"Si bodoh itu benar-benar beruntung."
Salah satu dari mereka buka mulut, yang lain masih menatap sang kakak beradik yang sudah seperti selebritis.
"Kalau tidak ada kakaknya, dia sudah lama ingin ku pukul."
"Kau bukan satu-satunya yang ingin melakukan itu."
"Semua hanya karena kakaknya itu ."
"Kalau tidak ada kakaknya itu--..."
Mendadak mereka kembali hening , mata mereka tak sengaja bertemu dengan mata sang kakak yang sedari tadi dibincangkan. Kazuya yang melihat mereka memberikan tatapan tajam menusuk, seakan memaksa mereka untuk menjauhi Nana. Mereka merasakan getaran di tulang rusuk masing-masing, keringat dingin turun dari dahi mereka dan akhirnya mereka lari terbirit-birit.
"Kak ? Peluknya lama ,apa kasusnya tadi sulit ?"
Suara Nana membangunkan Kazuya dari ajang tatap menatapnya itu. Baru tersadar, Kazuya pun buru-buru melepas pelukannya.
"Eh , bukan ! Bukan apa-apa , Na !"
"Kakak yakin tidak susah ? Nana bisa bantu. "
"Tenang saja, jangan khawatir soal kakak. Kakak kan pengacara profesional."
"Dasar kakak sombong ! Bwee !!" *Menjulurkan lidahnya*
"Eh, padahal kakak sudah bersertifikat loh, hahaha ! Sudahlah, ayo pulang !"
Nana naik keatas sepeda , sang kakak pun mulai mengayuh menuju rumah tercinta mereka. Angin dan sinar mentari senja menghiasi perjalanan pulang , langit jingga itu melukiskan warna terakhir pada hari kakak beradik ini.
Sesampainya dirumah, Nana dengan cepat menarik kakaknya turun dari sepeda , menyeretnya masuk kerumah dan menyuruhnya duduk di meja makan. Kemudian nana buru-buru mengisi teko air hingga penuh dan memanaskan nya hingga mendidih.
Kazuya yang bingung, hanya bisa menatap sang adik bolak balik menyiapkan sesuatu. Kazuya yang sejak pulang tadi belum melakukan apa-apa , masih mengenakan pakaian formalnya tanpa sadar.
Jas hitam yang lengkap dengan nametag di sakunya itu masih ia kenakan, dasi merah miliknya seperti tak tersentuh , bahkan rambut Kazuya seperti tak pernah terkena angin. Nana memperhatikan sang kakak baik-baik , apa sang kakak selalu terlihat se-profesional ini saat pulang? Kalau memang iya, kenapa ia baru sadar sekarang..
"Kak,apa dasi dan jasnya tidak mau dilepas ?"
Nana mengagetkan sang kakak yang sedari tadi menatap gerak gerik nya,Kazuya yang tersadar dengan buru-buru melepas jas dan dasinya kemudian memberikannya pada sang adik. Nana menggantung benda-benda milik sang kakak di ruang cuci kemudian kembali pada pekerjaannya bolak balik melakukan sesuatu.
"Na, kau sedang apa sih ?"
"Kakak tenang saja , Nana sudah profesional !!" *Sambil tertawa*
"Haha, kau benar-benar..." *tertawa kecil*
Nana menuang air yang sudah mendidih kedua gelas, nana mengisi keduanya dengan bubuk kopi, kemudian mencampurkan salah satunya dengan susu dan gula. Barulah disaat itu Kazuya sadar, apa yang ingin Nana lakukan.
"Kalau kau ingin melihat-lihat data kasusnya , kau bisa bilang saja na." *Kazuya terkekeh*
"Nana bukan mau lihat-lihat !! Nana mau bantu kakak !"
"Kau yakin bisa ? Kali ini kasus nya sulit loh."
"Nana pasti bisa! Nana kan adiknya pengacara profesional ! "
Kakak adik itu tertawa kencang, rasanya lucu melihat masing-masing dari mereka menyombongkan diri secara blak-blakan.
Kazuya menggulung lengan kemejanya dan mulai membuka amplop cokelat tadi. Ia membeberkan isinya didepan nana dan dengan penuh semangat menjelaskan kasus tuan akihiro pada sang adik.
Meskipun sebenarnya ,nana tidak bisa dibilang terkualifikasi untuk pekerjaan seperti ini. Dengan usia yang baru 13 tahun, pikiran nana masih terlalu polos untuk mengetahui kekejaman dari para kriminal. Walaupun begitu, mata nana berbinar , tatapannya tak bisa terpisah dari berkas-berkas yang sang kakak berikan.
"Nana , apa menurutmu tuan akihiro benar-benar membunuh orang-orang itu? "
Kazuya menopang wajahnya dengan salah satu tangannya, ia memperhatikan sang adik yang dengan alis berkerut masih fokus menatap data di berkas-berkas tadi.
"Tidak mungkin! Tuan akihiro pasti bukan pembunuhnya! "
"Eh , kenapa kau bisa bilang begitu? "
"!!!"
Alasan nana tadi benar-benar tak disangka. Kazuya terbelalak mendengar nana, matanya yang melebar masih menatap sang adik tak percaya. Rasanya ia mendapat tamparan keras yang mempertanyakan 'dimana rasa percayamu pada klien-klienmu?'.
Kazuya menyadari sesuatu, ia tersenyum dan mengangkat tangan kanannya kearah nana.
"Na."
Merasa dipanggil, nana mengangkat kepalanya. Tangan kanan Kazuya mendarat diatas kepalanya, nana yang bingung menatap kakaknya dengan tatapan polos, seakan bertanya 'ada apa?' .
"Kak? "
"Terima kasih. "
"Terima kasih ? "
"Karena sudah mengingatkan kakak, alasan kakak menjadi seorang pengacara. "
Setelah mengatakan itu Kazuya tertawa lepas, seakan beban-beban dari kasus yang saat ini ia bawa hilang begitu saja. Nana ikut tertawa , sekalipun ia tak tau apa yang sang kakak katakan , nana hanya ikut tertawa karena melihat kakaknya bahagia.
Kazuya mengacak-acak rambut nana perlahan sambil terkekeh, kalau itu bukan rasa sayang , berarti nana tidak pernah tau rasa sayang itu seperti apa.
"Kakak hari ini aneh! Hahaha!! "
"Kau yang aneh! Dasar!! " *masih tertawa *
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
Kenangan baik memang tak mengenal waktu, tak disadari sekarang jam sudah menunjukkan pukul 7 malam, Kazuya yang sadar cepat-cepat mengingatkan sang adik.
"Na, sudah jam 7. Cepat mandi dan kerjakan tugas-tugasmu, jangan ganggu kakak bekerja. "
Ucapan Kazuya tadi cukup untuk membuat nana menekuk wajahnya, Kazuya yang melihat nana dengan wajah semakin lama semakin ditekuk, malah tertawa makin kencang.
"Na.. Hahaha ! Kenapa.. Hahaha!! kenapa wajahmu manyun begitu? Hahahaha !!! "
Kazuya tak bisa menghentikan tawa nya, wajah manyun sang adik terlihat seperti perpaduan antara kata 'imut' dan 'jijik'.
"Nana masih mau lihat kasus yang tadi !! " *masih dengan wajah manyun *
"Nana.. kalau kau tidak mandi, Pfftt--.."
Tawa Kazuya makin menjadi-jadi , ia mulai terkekeh tak terkontrol. Nana menyilangkan kedua tangannya , sekarang ia terlihat seperti anak kecil yang tak diberikan permen ketika pergi ke supermarket.
"Hmph ! Kalau kau tidak mandi..." *mengikuti gaya bicara sang kakak*
"MANDI!! " *bersiap melempar barang *
"IYA KAK!! "*berlari ke kamar mandi*
Sang kakak malah tertawa puas, nana benar-benar campuran antara bodoh dan keras kepala yang luar biasa. Kazuya menutup kedua matanya dengan tangan kirinya, ia mulai merasa kepalanya akan sakit ketika melihat betapa polos adik kecilnya itu.
Meskipun begitu, pekerjaan tetaplah pekerjaan. Kazuya tidak bisa melalaikan kasus tuan akihiro yang masih berada di tangannya. Ia harus cepat-cepat kembali bekerja jika ia mau membebaskan kliennya itu dari tuduhan yang diberikan.
Kazuya kembali berfokus pada tugasnya sekarang, ia kembali ke mode profesional nya dan langsung berkutat dengan berkas-berkas tadi. Nana pun juga sama, selesai mandi nana langsung melesat ke kamarnya. Tapi... Sepertinya nana berencana melakukan sesuatu..
"Na? Kenapa kesini lagi? Kau tidak mengerjakan tugasmu?"
"Nana mau buat tugasnya disini saja! Biar dekat kakak! " *melirik kearah berkas*
"Kau yakin ? "
"Iya!! Sudah, kakak tidak usah khawatir! Kakak kerja saja! "
Kazuya sadar ,namun tak berpikir dua kali, ia membiarkan nana duduk disebrang nya dan seperti yang nana janjikan, ia tak mengganggu pekerjaan Sang kakak.
Kazuya Point Of View
Sudah berjam-jam rasanya aku berkutat dengan berkas-berkas ini, kalau kau bertanya apa yang masih tidak jelas, aku bisa bilang dengan penuh percaya diri. Semuanya.
Alibi tuan akihiro tidak bisa diverifikasi oleh siapapun, sebagian testimoni dari beberapa saksi mata terdengar palsu dan tidak cocok dengan barang bukti yang ada ,yang terakhir.. Kenapa tuan akihiro berbohong padaku?
*testimoni : kesaksian yang diakui secara hukum*
Aku adalah pengacaranya, apa yang ia dapat jika berbohong padaku ? Cara bicaranya saat tadi kumintai keterangan, terlihat jelas seperti menyembunyikan beberapa hal. Tapi apa? kenapa? Apa yang ia inginkan ? Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang mau ia tutupi ?
Pertanyaan itu terus berputar dalam kepalaku, sampai-sampai kepalaku terasa berat. Tuan akihiro ini benar-benar mencurigakan, ia beruntung nana masih percaya padanya, kalau tidak, sudah kulepas kasusnya sejak tadi.
Ah , rasanya kepalaku sakit sekali, kasus ini sangat sulit. Disaat-saat seperti ini, melihat penyemangatmu adalah obat penghilang lelah paling efektif.
Aku mengangkat kepalaku , berniat melihat wajah nana yang sedang kesusahan mengerjakan tugas. Tapi aku baru sadar, ia sudah tertidur, pantas saja daritadi ia tenang sekali. Aku melihat kearah jam dinding.
'Hah? Sudah tengah malam?' aku baru sadar kalau ini memang sudah melewati jam tidur nana.
Aku menggendong nana yang masih tertidur pulas dipunggungku, dia sepertinya tidak merasa terganggu. Aku membawa nana kekamar dan membaringkannya perlahan ke atas kasur. Awalnya aku berniat untuk langsung keluar agar tidak mengganggunya, tapi....
"Kak..."
Suara nana membuatku kaget, aku mengira dia terbangun karenaku. Tapi ketika aku berbalik menghadapnya, nana masih tertidur pulas.
'eh? apa dia terbangun?'
Aku mendekati nana dalam rasa panik, kukira dia benar-benar terbangun. Untungnya tidak, nana masih tertidur pulas, sepertinya hanya mengigau.
Tapi dalam kepanikan tadi, aku meyadari sesuatu yang tak kusadari sebelumnya. Wajah nana, wajah tidur yang terlihat sangat tenang itu, wajah yang terlihat bebas dari berbagai beban.
Aku menatap wajah tanpa beban itu , benar-benar terlihat polos, seperti anak bayi yang sedang tidur. Semakin lama kulihat wajahnya , aku juga menjadi semakin tenang. Aku terkekeh kecil , senyum itulah yang selama ini ingin kulindungi dari nana. Senyum polosnya yang belum ternoda dunia, senyumnya yang bisa menjadi penyemangat, senyum yang seterang mentari yang bisa menjadi cahaya untuk hidup seseorang.
Aku mendekati nana pelan, tak ingin mengganggu tidurnya dengan suara berisik. Kudekati wajahnya dan dengan perlahan aku mencium kening adik kecilku ini.
"Mimpi indah.."
Bisikku pelan, sebelum keluar dari kamar nana.