Tears of Hope

Tears of Hope
Arc 6 : Prioritas



"Na, kakak pergi dulu ya. Kasus kakak masih belum selesai. "


"Aa-!! Hari ini gak bisa libur dulu kak? "


"Ini masalah hidup dan mati orang Na, masa kakak mau libur? Hahaha. "


Percakapan itu terjadi selagi Kazuya bersiap-siap untuk pergi kerja, Nana yang dibalas dengan penolakan pun hanya bisa bermanyun-manyun ria.


"Na, kan kakak sudah bilang, pekerjaan kakak tidak mengenal libur. "


"Hanya 1 hari kak!"


"Hei, jangan manyun begitu dong. Wajahmu membuat kakak merasa bersalah saja."


Nana dengan cepat menyadari sesuatu yang salah, sang kakak biasanya akan tertawa lepas begitu melihat ekspresi wajahnya. Tapi hari ini, Kazuya terlihat begitu murung, tidak ada semangat yang terpancar dari sang kakak. Nana pun tidak tinggal diam, ia berniat menolong sang kakak mengembalikan semangatnya yang hilang tersebut.


"Kakak !! Lihat Nana!! "


"?? "


Nana mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi, senyum terpasang lebar diwajahnya. Ia mulai melambai-lambaikan kedua tangannya, lengkap dengan teriakan penyemangat.


"KAKAK SEMANGATTTT!! SEORANG PENGACARA HARUS PERCAYA PADA DIRINYA SENDIRI! "


Kazuya melihat Nana dan tersenyum. Tawa serta sikap periang sang adik tak pernah gagal menaikkan kembali semangatnya.


"Kalau kau mendukungku, itu sudah lebih dari cukup, Na. " Gumam sang kakak sebelum keluar rumah sakit dan menuju ke pengadilan.


Sedangkan di tempat lain...


Tuan Akihiro tampak sedang bicara dengan seseorang berseragam polisi, sepertinya pembicaraan serius. Suara kedua orang itu menggema dalam lobi terdakwa, terlihat hanya ada mereka didalam sana.


"Apa kau mengerti apa yang harus kau lakukan ?" Tuan Akihiro menatap polisi tersebut, senyumnya melebar sambil berkata demikian.


"Mengerti, tuan. Tapi-.. "


Polisi itu mempererat genggamannya pada senapan yang ia bawa, tangannya bergetar tak karuan.


"Ada apa? Bukankah kita sudah sepakat?"


"Bu-bukan itu, tuan. Saya hanya... Tidak yakin tentang hal ini.. "


"Tidak apa-apa, kan sudah kubilang. Kalau kau tidak yakin, tidur perlu diselesaikan. "


"Bukan itu! Saya adalah seorang polisi!! Saya tidak bisa asal menem--!! "


"Apa yang kau katakan? Bukankah kita sudah sepakat? Apa kau tidak ingin melihat anakmu lagi? "


Kalimat dari tuan Akihiro membungkam sang polisi dan suasana disana mendadak sunyi. Sang polisi menyerngit kesal pada tuan Akihiro.


"Aku sudah tau kau tidak sebodoh itu. "


BRAK!!


Mendadak, terdengar suara bantingan pintu. Kedua orang tersebut memutar kepala mereka kearah pintu lobi, terlihatlah Kazuya yang sudah sampai disana dengan tatapan tajam.


"Tuan Akihiro, maaf aku terlambat. "


Kazuya berjalan mendekat, sedangkan tuan Akihiro membubarkan pertemuannya dengan sang polisi. Kazuya memperhatikan keduanya bingung, mengira-ngira tentang apa yang barusan mereka bahas.


"Aku sudah melihat pesanmu, tuan Kazuya. Aku turut bersedih. "


"Maaf, tapi aku tidak ingin membahas Nana sekarang. "


"Lalu ada apa? "


"Ada sesuatu yang harus kupastikan. Bisakah aku bertanya sesuatu? "


Tuan Akihiro merasa aneh dengan pengacaranya hari ini, seperti ada sesuatu yang salah padanya. Tuan Akihiro celingukan sebelum akhirnya mengiyakan keinginan Kazuya tadi.


"Baiklah, Apa yang ingin anda tanyakan, tuan Kazuya ? "


"Anda pelaku pembunuhan masal itu kan?"


"!!!"


Kazuya mempertajam tatapannya pada sang klien, tuan Akihiro hanya terdiam dalam kaget.


"Apa aku benar? Kau yang membunuh 12 orang itu ? "


"T-TUNGGU! Tuan Kazuya! A-aku sama sekali tidak tau apa yang kau bicarakan !!"


"Apa itu pertanda kalau dugaanku benar?"


"A-Aku pikir kau pengacara ku!"


"Apa kalau aku pengacaramu, aku tidak boleh tau kebenarannya ? "


Kazuya berwajah masam, tuan Akihiro tak bergeming, tak tahu apa yang harus ia ucap.


"TUAN KAZUYA! ANDA KAN SEORANG PENGACARA!! KENAPA MALAH MENUDUH KLIENMU SENDIRI?!?! "


"Aku tidak menuduh, tuan Akihiro. Aku hanya, sudah tau apa yang terjadi dimalam itu. "


"A-APA APAAN INI?! TUAN KAZUYA!! TUGASMU KAN MEMBELAKU!! "


"Tugasku adalah percaya pada klienku.. "


"AKU ADALAH KLIENMU!! "


".. Yang mau berkata jujur tentang kebenaran yang terjadi. "


Kazuya berjalan keluar ruang lobi, sang klien hanya bisa menatapnya dari belakang, tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar.


"TUAN KAZUYA!! "


Teriakan terakhir yang Kazuya dengar sebelum keluar dari ruangan itu.  Masih dalam kebingungan, Kazuya berdiri diluar gedung, memikirkan pilihan yang tersisa baginya.


"Sial... Apa yang harus kulakukan... Haruskah aku mundur? "


Kazuya menatap data-data kasus yang ia bawa, amplop cokelat bertuliskan 'Akihiro' itu, sekarang jauh lebih tebal dari yang terakhir ia ingat.


"Sejak kapan.... Kasus ini punya data yang banyak sekali? "


Kazuya terkekeh, ia mengecek isi dari amplop tersebut. Di dalamnya terlihat data-data serta testimoni beberapa saksi mata yang tertulis di lembaran-lembaran depan. Di lembaran selanjutnya, ada alibi tuan Akihiro serta beberapa notes yang ia tulis untuk dirinya sendiri.


'Alibi ? Mencurigakan.


Sidik jari ? Di pistol itu.


Testimoni ? Bohong.


Aku tidak yakin tentang ini. Apa dia benar-benar tidak bersalah ? '


"Apa aku selambat itu menyadarinya? .." Kazuya menghela nafas, kecewa dengan dirinya sendiri.


'Tapi ... Aku tidak bisa menyerah!! '


'Nana bilang dia percaya pada tuan Akihiro, jadi aku juga akan percaya! '


"...Perkataan Nana, mempengaruhiku sampai segitunya ya..? "


"Kau bicara dengan siapa, Kazuya? "


Suara itu mengagetkan Kazuya bukan main, dengan rasa malu yang ditahan, ia buru-buru berbalik untuk melihat siapa yang memanggilnya.


"Ah!! Yuichi !! "


Rasa malu Kazuya hilang begitu melihat laki-laki paruh baya didepannya. Laki-laki berdasi hitam dengan name tag yang sama dengan miliknya. Laki laki bernama 'Yuichi' itu mendekat dan memperhatikan data kasus ditangan Kazuya.


"Hm? 'Akihiro'? Kasus itu masih belum selesai ? Ini sudah hari terakhir. "


"Yah, aku ada sedikit masalah dengan klienku.. "


"Ah, apa lagi-lagi Nana membuatmu mempertanyakan rasa percayamu pada klienmu sendiri? "


"To-tolong jangan bahas Nana sekarang.."


Yuichi menatap Kazuya yang sudah memegangi kepalanya, tidak bisa menahan rasa stressnya.


"Kau terlihat tertekan, Kazuya. Memangnya ada apa? "


"Jangan mengkhawatirkanku.. Aku hanya sedang stress.. "


"Bicara tentang stress... tadi setelah pulang dari rumah sakit, Eichi terlihat marah sekali. Apa yang terjadi ?"


"Ti-tidak ada apa-apa... Hanya saja, tolong bilang padanya, aku minta maaf tentang tadi pagi. "


"Minta maaf? Memangnya kau salah apa ke Eichi ?"


"Kau tidak perlu tau, bilang saja ke adikmu itu. "


"He-hei setidaknya beritahu aku! "


"Daripada kau penasaran, lebih baik kau bantu aku tentang kasus ini!! "


Kazuya menghentikan pembicaraan itu dan memberikan amplop cokelat yang ia pegang pada Yuichi. Karena penasaran, Yuichi pun mengambil amplop tersebut dan membolak-balikkannya  dengan wajah yang ditekuk.


"Mana court record* nya. Aku mau lihat."


*court record : laporan resmi berisi seluruh data dalam penyelesaian suatu kasus*


Kazuya memberikan sebuah amplop lain pada Yuichi. Dengan cepat Yuichi menarik sebuah benda dari dalam amplop itu dan memperhatikannya baik-baik. Lebih tepatnya benda itu adalah sebuah pistol dalam kantung plastik klip dengan label bertuliskan 'bukti 2'.


"Kau tau kontradiksi* nya kan? Jangan bilang padaku kau hanya malas membaca, Kazuya. "


*kontradiksi : bagian dari sebuah testimoni yang berlawanan dengan data di court record. *


"Name tag ini bukan sekedar iming-iming, Yuichi. Aku tau kegunaan kontradiksi. "


"Dengan kontradiksi, kau bisa menimbulkan keraguan pada pihak yang memberi testimoni. "


"Dan dengan keraguan itu, kita bisa menyelidiki kemungkinan apakah suatu kejahatan mungkin dilakukan oleh pihak lain... Iya-iya, Aku sudah bilang padamu Yuichi, masalahnya bukan padaku."


Kazuya memperhatikan temannya yang masih berkutat dengan berkas yang ia berikan. Yuichi belum juga mengerti apa masalah Kazuya.


"Aku tidak mengerti, Kazuya. Kau sudah menemukan kontradiksi sebagus ini, apa yang jadi masalahnya?"


"Lihat halaman depan. "


"Halaman.. Depan..? Ah-! "


"Iya, ini testimoni klien ku, Akihiro. "


Yuichi tersenyum masam, seakan-akan masalah yang seperti ini, sudah biasa baginya.


"Kontradiksi yang mematikan sekali.. Kalau memperlihatkan ini saat sidang, sama saja bunuh diri... "


Yuichi terkekeh kecil, ia mengembalikan amplop-amplop itu pada Kazuya.


"Apakah kau sudah mengecek lagi? Mungkin ada kontradiksi lain yang bisa kau gunakan. "


"Percayalah Yuichi, aku sudah membaca kasus ini puluhan kali dan testimoni dari saksi mata tidak ada yang salah. "


"Kalau begitu.. ,apakah klienmu...."


"Pelakunya? Iya, aku juga berpikir begitu. "


Keduanya mendadak diam, tak tau apa yang harus dikatakan selanjutnya. Yuichi membuka suaranya, ia bicara ragu-ragu dengan suara kecil.


"Lalu.. Apa yang akan kau lakukan? Mundur? "


"Aku sudah sempat memikirkan itu.. "


"Lalu ? "


"Tidak, aku tidak akan menyerah. "


"APA?! "


Yuichi menganga terkaget-kaget, tak bisa berkata apapun. Ia menatap Kazuya bingung, otak temannya yang satu ini memang terkadang patut dipertanyakan.


"TUAN KAZUYA!! SIDANG UNTUK TUAN AKIHIRO AKAN SEGERA DIMULAI! DIMOHON SEGERA MASUK!! "


Mendadak pemberitahuan itu memanggil Kazuya yang sibuk bicara, dengan refleks ia pun membalas panggilan tersebut.


"Baik!! Saya akan segera kesana!! Maaf Yuichi, aku pergi dulu !"


"Tunggu, Kazuya !"


Yuichi menarik bahu Kazuya , tak sabar dengan temannya itu.


"Kau mau mati ya ? Kau tau resiko dari melindungi seorang pembunuh masal, kan? "


"Iya, aku tau. "


"Kau bisa dibunuh, kazuya. DIBUNUH."


"...... "


"Lebih baik kau mundur saja, di keadaan seperti ini, melindunginya sama seperti mencari mati. "


Kazuya tidak menjawab apa-apa, resiko yang diperjelas sang teman seperti tak dapat menakutinya. Yuichi hanya bisa diam, menunggu jawaban dari Kazuya.


"Kalau masalah membunuh dan dibunuh itu.... Kita lihat saja nanti. "


"Apa?! "


"Ya sudah, aku sidang dulu, Yuichi. Sampai jumpa!! "


Kazuya sudah  berjalan masuk ke ruang sidang, meninggalkan Yuichi yang tak bergeming dari tempatnya.


"Kazuya.. Apa kau masih merasa... Kematian guru saat itu... Adalah kesalahanmu? "