Tears of Hope

Tears of Hope
Arc 4 : Masalah



Bel pulang sekolah sudah berbunyi, Nana keluar dari ruang kelasnya dengan buru-buru, sedangkan diluar kelas kedua sahabat baiknya sudah menunggu hampir 1 jam lamanya.


"M-Maaf! A-aku diceramahi habis-habisan tadi!! "


"Kau pasti berulah lagi kan, Na? Makanya jangan nakal, jadilah sepertiku! Ling-ling, murid dengan sikap terbaik dikelas !"


"Ling, aku bersumpah kalau kau sombong seperti itu lagi, akan ku wing chun kau."


"TEMAN-TEMAN, SEKARANG SUDAH JAM 4 SORE. TIDAKKAH KITA SEMUA MAU PULANG ?"


Terlihat dengan jelas, Nana mewarisi kemampuan sang kakak. Buktinya Chizu dan Ling-ling langsung berjalan meninggalkan Nana di belakang


"YAH, MAKSUDKU BUKAN DITINGGAL JUGA!! "


Nana tertawa sambil mengejar mereka dan mulai berjalan bersama.


Ketiga sahabat itu berpisah ditengah jalan, Ling-ling dan Chizu memang biasanya pulang lewat pintu samping sekolah, lain dengan Nana yang harus menunggu sang kakak di gerbang depan.


Nana berlari cepat, sang kakak pasti sudah menunggu lama di gerbang. Tapi kelihatannya, ia tak akan sampai ke gerbang semudah itu.


"ADUH!! "


Nana terjatuh, ia menabrak seseorang tanpa sadar. Barang-barang ditangannya semua berserakan dimana-mana.


Nana mengangkat kepalanya, ingin minta maaf kepada orang yang tak sengaja ia tabrak.


Sialnya, mereka adalah anak-anak berandal yang ditemui nana waktu itu. Murid murid yang paling tidak ingin Nana temui disekolah ini.


"Wah, kita dapat siapa disini.."


Salah satu dari mereka memecah ketegangan, Nana masih kaget sampai tak bisa bergerak. Matanya melebar, kau bisa melihat mata Nana yang bergetar takut.


"Kita beruntung sekali.. "


"Kau benar, murid dan guru juga banyak yang sudah pulang. "


"Wah, kita bisa sampai puas dong mengganggunya.. "


"Kakakmu juga sepertinya sudah menyerah menunggumu tadi. Sekarang tidak akan ada yang bisa menemukanmu .. Hehe. "


Nana yang jatuh itu ketakutan setengah mati, berlari saja sulit apalagi melawan.


Anak-anak ini adalah berandalan geng motor, tidak akan ada anak lain yang mau membantunya sekalipun Nana meminta tolong. Jarak dari sini kekantor guru juga jauh, teriakan Nana tidak akan bisa terdengar sampai sejauh itu. Dan kalau apa yang mereka katakan benar, maka Kazuya sudah tidak mungkin ada disekitar sekolah lagi.


"Tunggu--..! "


Air mata Nana mulai menitik. Suaranya pecah tak karu-karuan, memohon ampun dari para berandalan tersebut .


"DASAR BOCAH CENGENG !"


Anak yang paling dekat dengan Nana mulai menjambak rambutnya dan menyeretnya mendekat. Beberapa orang yang lain mulai menendang Nana yang terkapar, sedangkan salah satu dari mereka mengambil HPnya dan merekam video pemukulan itu.


"TUNGGU! KUMOHON! S-AKIT! "


Apakah seorang pelaku ingin mengikuti kemauan korbannya? Tentu saja tidak.


"Iya, ini adalah video pembalasan dendam pada si ber**gsek yang beruntung ini. Kalian bisa lihat kan? Kami tidak main-main! Lihatlah wajah menyedihkan nya itu! HEI ! KATAKAN SESUATU!"


Video itu hanya berisi tawa para pelaku dan tangisan dari sang korban. Nana meringkuk, ia menyerah, seakan bisa keluar hidup-hidup saja sudah menjadi keajaiban baginya


"HOI! JAWAB BODOH! KAU MAU DIPUKUL LAGI YA?! "


Sang kameramen juga tidak ingin melewatkan kesempatan emas ini, ia menendang kepala Nana kencang hingga darah mengucur deras dari dahinya.


"Hahaha! Pelan-pelan! Kalau kau menendangnya terlalu kencang, nanti dia cepat mati ! "


"Iya! Jangan dibiarkan terlalu cepat! Kami juga masih mau memukulnya! "


"Pengganti olahraga yang bagus juga, ternyata bukan hanya balapan motor saja yang seru seperti ini! "


Tawa kejam mereka menggema ditelinga Nana, sekarang Nana baru mengerti. Ia mengerti kalau ini bukan sekedar bully biasa, ini ambang antara hidup dan matinya.


Para berandalan ini tak akan segan-segan membunuh dan mengubur Nana kalau diperlukan, dan Nana tau ia tidak akan berhasil melawan, apalagi 5 orang sekaligus.


"Hei, dia tidak bergerak, apa dia sudah mati? "


"Baguslah, kita tidak perlu repot lagi, tinggal dikubur saja."


"Hei-hei, dibelakang gedung tua yang waktu itu sepertinya bagus. Tidak akan ada yang pernah menemukannya disitu! "


"Kau benar juga! Tumben sekali otakmu bekerja! "


Para pelaku tertawa bersama ,seakan masalah hidup dan mati seseorang adalah topik enteng bagi mereka. Nana hanya bisa membuka salah satu matanya, pandanganya benar-benar buram.


Nana bisa melihat kamera HP yang tertuju kearahnya,tetapi selain itu semuanya tampak berkabut. Seluruh tubuhnya terasa kebas dan telinganya terus berdengung, seakan-akan menjadi pertanda berapa banyak lagi waktu yang ia miliki sebelum kesadarannya hilang.


"K-.... Ak... "


Suara pelan Nana mengagetkan semua yang memukulinya. Nana menyeret tubuhnya sendiri mendekat kearah HP tersebut, kakinya yang sudah mati rasa itu bangun saja tidak kuat apalagi berjalan.


"Hei-hei! Lihat! Si sialan ini masih hidup!"


"Hebat juga dia!! "


"Hei bocah cengeng! Kenapa dewa keberuntungan selalu ada di pihakmu sih?! "


Nana tak bergeming mendengar respon-respon tersebut, ia terus mendekat kearah HP itu. Ia mengangkat salah satu tangannya, seluruh tubuhnya bergetar.


"Hei dia mau melakukan apa sih? Mau memukul kita? HAHAHAH! COBA SAJA KALAU BISA !! "


Sang perekam video dengan penuh rasa percaya diri mendekatkan tubuhnya kearah Nana, HPnya yang ia genggam juga mendekat ke wajah sang korban.


Nana hanya bisa mengangkat wajahnya, ia menatap baik-baik kamera itu dibalik darah yang menetes.


TRAK!!


Dengan cepat, Nana menarik HP yang ditujukan kearahnya dan melemparkannya jauh-jauh kebelakang sang kameramen.


"HP KU!! DASAR BOCAH TIDAK TAU DIRI! KUBUNUH KAU NANTI!! "


Sang perekam video menendang Nana emosi, tubuh Nana terdorong ke dinding. Dengan cepat ia berlari kearah HPnya tadi, berharap agar HP itu tidak rusak setelah dilempar Nana.


"Hahaha! Dosamu banyak sih! "


"Hei, daripada menertawai si bodoh itu. Lebih baik kita berpikir, kita mau menghabisi si cengeng ini dengan apa. "


"Dia sudah sekarat kan? Pukuli saja ! Toh tempat menguburnya juga sudah ada! "


"Tidak bisa! Darahnya sudah berceceran! Nanti kita bisa ketahuan polisi! "


Keempat orang ini berdiskusi serius, seakan membunuh dan mengubur Nana adalah sebuah pilihan yang betul-betul tersedia bagi mereka. Namun diskusi itu harus berakhir, ketika sebuah suara jatuh, terdengar dari belakang punggung mereka semua.


Mereka semua menghadap ke asal suara, tertegun ketika melihat rekan mereka tadi terkapar tak berdaya diatas lantai. Terlihat siluet seseorang yang berdiri tegak di depan tubuh yang jatuh itu. Namun siluet orang itu hanya diam, seolah tak merasa bersalah terhadap apapun yang telah ia lakukan pada berandalan tersebut.


"HEI BAJI**AN!! APA YANG KAU LAKUKAN PADA TEMANKU!! KAU BENAR-BENAR INGIN MATI YA?!"


"DASAR SIALAN! APA KAU TAU SIAPA KAMI ?!?! KAU INGIN MENANTANG KAMI YA?! "


Awalnya orang itu tidak bergeming, menjawab saja tidak. Namun akhirnya ia berjalan mendekat, cahaya jingga mulai menyinarinya. Terlihatlah seorang laki-laki dengan seragam putih abu-abu, sepertinya angkatan kakak kelas.


"T-tunggu.. , s-sepertinya aku tau orang itu.. "


"A-apa dia kenalanmu?!"


Wajah berandalan tersebut mendadak pucat, tubuhnya bergetar dengan suara yang putus-putus, seakan dia tau identitas asli dari kakak kelas misterius ini.


"K-kabur..."


"Eh? "


"KABUR BODOH! PERGI ! SEMUA BERPENCAR !! "


Berandalan yang pucat itu lari terbirit-birit, ia bahkan meninggalkan semua temannya dibelakang.


"HEI! ADA APA DENGANNYA?! KENAPA KAU TAKUT PADANYA?! "


"KUBILANG LARI DASAR GILA ! KAU MAU MATI YA?! "


"S-si bodoh itu bagaimana?! Kita kan tidak bisa--..."


"TINGGALKAN SAJA!! NYAWAMU LEBIH PENTING SAAT INI! "


"Argh!! Sialan!! Akan kubunuh kau ! Dasar sialan! "


Teriak seorang berandal sebelum akhirnya ikut kabur dengan teman-temannya yang lain. Mereka berlari seperti antara hidup dan mati, mereka bahkan masih meninggalkan temannya yang pingsan dibelakang itu.


Kakak kelas tadi hanya berjalan pelan, makin dekat dengan Nana yang terkapar lemas. Dengan tenaga hidup yang mulai menipis, pandangan Nana mulai menghitam.


"Ka--..... Ka-k.... "


Nana berucap pelan, dengan mata berair ia memperhatikan sang kakak kelas barusan memungut barang-barangnya yang tadi terjatuh.


"To-...ong... si..a...pa..--pun.. K--ak..."


Nana mulai meracau tak jelas, kakak misterius itu mendekat kearahnya.


Namun terlambat , pandangan Nana sudah menjadi hitam penuh dan seorang kakak kelas misterius adalah hal terakhir yang dilihatnya sebelum pingsan.


Sedangkan, dirumah, sang kakak sedang berjalan bolak-balik dengan panik. Ia sudah menunggu kepulangan sang adik sejak berjam-jam yang lalu namun tak kunjung pulang juga.


Jam dinding sudah menunjukkan jam 10 malam ,biasanya Nana sudah ada dirumah sebelum pukul 6, namun hari ini Nana bahkan tak terlihat keluar dari gerbang sekolah.


Kazuya terduduk lemas dengan hp yang sudah berada di atas meja. Bisa dilihat sang kakak mencoba menelfon Nana berkali-kali namun tak diangkat, ia juga sudah menelfon kontak lain dengan nama 'Chizu' dan 'Ling-ling' tapi, sepertinya apapun yang ia dapat dari mereka tidak cukup untuk menemukan Nana .


Kazuya mulai menunduk ,ia menyesali keputusannya untuk pulang sendiri tadi sore.


"Sialan, kalau aku lebih sabar saja... pasti-..."


Kazuya membenamkan kepalanya di kedua tangannya, kalau saja ia bisa menunggu sang adik lebih lama, kalau saja kesabaran yang ia punya lebih banyak, kalau saja... dia bisa menjadi kakak yang lebih baik.


"Ini semua tidak akan terjadi.. "


Bisik Kazuya pada dirinya sendiri, sebelum mendadak berdiri dari kursinya.


"Aku tidak boleh menyerah !! Sekali lagi, Kazuya !! Demi Nana !! "


Kazuya buru-buru mengambil kunci rumah dan segera berlari ke pintu depan untuk memulai lagi pencarian sang adik.


Kazuya memang sudah mencari Nana dimana-mana, sejak jam 6 tadi, sang kakak mulai mencari semua tempat dimana Nana mungkin berada. Disekolah, ditaman, perpustakaan, cafe, rumah Chizu dan rumah Ling-ling, bahkan semua rute jalan pulang sudah dilalui oleh sang kakak, namun tanpa hasil, Nana seperti lenyap tanpa jejak.


"Aku akan menemukanmu ! NA!"


Kazuya melesat ke pintu depan, dengan cepat membuka pintu tersebut. Namun yang tiba-tiba ada didepan pintu mengagetkannya dengan amarah dan rasa lega.


"NANA !!"


Teriakan Kazuya menggema begitu melihat Nana yang tak sadar, digendong dipunggung seorang laki-laki. Laki-laki itu tak lain adalah kakak kelas yang tadi menolong Nana, ia sampai terbelalak mendengar teriakan kazuya.


"EICHI!! APA YANG TERJADI PADA NANA ?! "


Kazuya mengambil Nana dari gendongan sang kakak kelas yang dipanggil 'Eichi' tersebut, sepertinya mereka berdua saling kenal.


"Dipukuli, 5 berandal geng motor. Kau tau yang mana, kan ?"


Jawaban singkat Eichi menyadarkan Kazuya.


"5 ... Anak ber**gsek ... Waktu itu ?"


Tanya Kazuya, Eichi mengangguk.


"Akan kubunuh mereka. Aku bersumpah."


"Tenang dulu, kak Kazuya. Ingat apa yang terjadi di pengadilan tadi ketika kau kehilangan kesabaranmu."


Kazuya tak mengindahkan ucapan Eichi barusan, mata sang kakak mendadak melebar seperti baru menyadari sesuatu


"Eichi... Pukul berapa kau menemukan nana? "


"Aku tau kau pasti akan sadar, tapi aku tak berniat bohong."


Eichi menunduk sambil mengusap-usap kepalanya, tau dengan masalah yang akan menimpanya setelah menjawab pertanyaan ini.


"Pukul 5, aku menemukannya pukul 5 sore. "


"DAN KAU TIDAK LANGSUNG MEMBAWANYA KESINI?! KAU KEMANAKAN DIA?! "


"Jangan menendangku dulu, kalau kau menendangku nanti nana jatuh. "


Lagi-lagi, Eichi seperti sudah tau sikap kazuya, ia membuat kaki kanan sang kakak yang baru terangkat setengah itu berhenti dengan mudahnya. Kazuya menurunkan kembali kakinya, takut Nana terjatuh.


"Aku membawanya ke UKS. Perawat di sana sedang tidak ada, jadi aku terpaksa mencari obatnya sendiri. "


"Kenapa kau tidak langsung membawanya kesini?! Kalau memang sangat parah, aku bisa langsung membawanya kerumah sakit! "


"Dengan darah bercucuran dari kepala seperti itu? Aku tidak yakin waktu yang tersedia tadi, cukup untuk membawanya ke rumah sakit. "


Kazuya tertegun, Eichi benar. Tubuh Nana terluka parah, goresan dan memar ada di mana-mana, kepala, tangan dan kaki Nana juga diperban tebal.


"Jangan lupa kak Kazuya, aku adalah seorang dokter profesional. Jangan merendahkanku. "


Eichi tersenyum tipis, Kazuya tidak bisa menjawab apa-apa.


"Aku pulang dulu. "


Eichi berbalik dan mulai membuka pintu, namun sebelum keluar..


"Kak Kazuya, ingat ini baik-baik. "


"Apa... ? "


"Kalau kau tidak menginginkan Nana, aku dan kakakku selalu akan menerimanya dengan senang hati. "


"Jangan harap Eichi. Langkahi dulu mayatku kalau kau menginginkan Nana. "


"Aku hanya ingin bilang itu, selamat malam. "


Eichi keluar, pintu dibelakangnya tertutup pelan. Kazuya masih tak bergeming, ia memeluk Nana erat-erat. Tangisan Kazuya mulai menitik, membasahi pipi sang adik.


"M-ma--af.... Maafkan kakak... Kakak gagal melindungimu... Maaf-..."