Tears of Hope

Tears of Hope
arc 12 : unexpected



"Halo? Ada apa kak? Aku sedang pertemuan OSIS."


"Hah? Menjaga nana dirumah sakit? Memangnya ada apa?"


"Apa maksudmu 'harus'.. ? Apa nana dalam bahaya?"


"Tu-tunggu. Apa.. Apa yang kau bilang barusan? "


"Kau tidak serius kan, kak? Kau tidak baru saja mengatakan 'nana mungkin dibunuh' kan? "


"Kau pasti bercanda.. "


"A-aku.. Aku segera kesana. "


Pip.. Pip.. Pip..


"Aku sudah menyuruh eichi untuk menjaga nana. Jadi kau lebih baik tenangkan dirimu. "


"Apa menurutmu aku terlihat bisa tenang, yuichi? Kau tau sendiri resiko nya meninggalkan nana bersama adikmu."


"aku tidak punya pilihan lain untuk sekarang, kazuya. Eichi adalah orang terdekat dengan nana yang bisa kita andalkan untuk sekarang. "


"Andalkan untuk apa? Untuk membahayakan nyawa nana juga? "


Yuichi menghela nafas , melihat Kazuya yang emosinya tidak stabil seperti ini.. Baginya, sangat jarang. Dulu, juniornya itu bukan orang yang cepat terbawa suasana. Ia bisa bersikap tenang dan logis bahkan dalam keadaan tertekan. Tapi setelah yang terjadi waktu itu..... Ia bisa merasakan sikap Kazuya berubah dengan ekstrim.


"Kazuya aku tau kau sedang terbebani tapi.. "


"Aku masih ada tugas sebagai seorang pengacara pembela? Ya, ya aku tau itu, yuichi. "


Kazuya menenggak cangkir kopi kedua miliknya, yuichi menatapi Sang junior dengan iba.


"Kazuya, kalau kau mau aku, bisa meng--.."


Gluk. Gluk. Gluk.


"Hah-... aku pergi dulu."


Yuichi belum selesai merangkai kalimatnya, namun kazuya tak ingin mendengarkan lagi. Ia meminum gelas kopinya dalam 1 tenggakan dan langsung bergegas menuju pintu keluar.


"Yuichi, aku duluan. Aku masih ada urusan dengan tuan akihiro."


"Tunggu ! Biarkan aku ikut! Setidaknya, biarkan aku meringankan bebanmu !"


"Kalau kau mau membantuku, bantulah aku melindungi nana! Jangan biarkan apapun terjadi padanya! "


"Lalu kau bagaimana ? Apa kau punya keinginan untuk mati di ruang sidang ?! Kau tau dengan jelas semua disana di fabrikasi* ,bukankah lebih baik aku ikut bersamamu?! "


*difabrikasi \= dipalsukan ; dibuat-buat.


Yuichi yakin jika kazuya menyampaikan kebenaran yang terjadi di kasus tuan akihiro, itu sama saja seperti Kazuya membahayakan nyawanya sendiri. Secara tidak langsung, yuichi menganjurkan kazuya untuk membawa dirinya sebagai 'tameng hidup', sehingga apapun yang tuan akihiro akan lakukan, bukan nyawa sang junior yang menjadi taruhan.


"Ini adalah kesempatan terakhir klienmu untuk menutupi semua yang terjadi. Setelah pemanjangan batas sidang kemarin, ia tidak akan ragu-ragu untuk membunuhmu kalau punya kesempatan."


Apa yang dikatakan yuichi memang benar, dengan menghadiri kasus ini saja, nyawa kazuya sudah terancam. Ditambah lagi masalah penelepon yang barusan, sekarang nyawa kedua kakak beradik itu yang jadi taruhan.


"Aku akan memastikan, tuan akihiro mendapat apa yang dia pantas. Jadi tolong, lindungi nana untukku."


"Bagaimana denganmu? Apa kau aman di sidang itu sendirian? "


"Jangan mempedulikanku, sekarang keadaan nana lebih penting. "


Kazuya sudah melesat pergi , meninggalkan yuichi yang masih tertegun.


"Kazuya, kau.. Benar-benar keras kepala."


Yuichi bergumam,suaranya yang ragu-ragu menunjukkan seberapa tidak yakinnya dia pada ide gila milik kazuya ini.


Ia menghela nafas dan memandangi layar hpnya, sebuah foto lama terlihat diarah padangannya. Foto yang berisi dirinya, dan Kazuya ketika masih remaja,serta eichi yang masih balita yang sedang berada dalam gendongan seorang pria dewasa.


"Kematiannya.. Bukan salahmu. Kazuya."


Yuichi menatap pria itu baik-baik, tatapannya, seperti menyayangkan sesuatu.


"Kalau kau memang menginginkannya. Baiklah, aku akan melindungi nana. "


Yuichi menyimpan kembali HP miliknya dan mulai berjalan entah kemana.


"Tapi, mungkin.. Tidak dengan cara yang kau inginkan. "


Ia tersenyum tipis, yakin kalau ia akan menyesali perbuatannya sekarang.





Sementara itu, di rumah sakit....


"NA! "


"Oh! Selamat pagi kak eichi! Tumben datangnya awal sekali.. "


Helaan nafas yang kencang terdengar dari mulut eichi. Kakinya langsung ambruk sebegitunya menyentuh lantai kamar nana.


"K-KAK EICHI! KAKAK KENAPA!? "


"Ti-tidak.. Kakak kira.. Kau dalam bahaya.. "


"N-nana tidak apa-apa kok.."


Eichi harus menyeret kakinya masuk dalam kamar nana, mungkin setelah mendengar apa yang diberitakan oleh kakaknya, separuh nyawanya sudah melayang entah kemana.


Nana yang kedatangan eichi sama sekali tak tahu apa yang terjadi. Ia tak mengetahui bahaya apa yang sedang mengintai nya ataupun siapa yang berada dibalik hal tersebut.


"Memangnya ada apa, kak? Kenapa panik begitu?"


"Ah, tidak. Tidak ada apa-apa. Tapi, apa boleh kakak menanyakan beberapa hal pada nana? "


"Hm? Tentu saja. Memangnya kak eichi mau tanya apa? "


Eichi melirik kearah nana, ia menatap adik kelasnya itu dengan tajam. Seperti, siap dengan apa yang akan terjadi setelah ini.


"Na, apa kemarin... Ada yang menemuimu ? "


"Tentu saja! Ada kakak, kak eichi, ada chizu, ada ling-ling.... "


"Bukan, bukan. Bukan yang seperti itu. "


"Lalu yang seperti apa? "


"Apakah ada yang... Mencurigakan? "


Eichi menekan intonasi kata itu, yakin dengan pertanyaannya.


"Mencurigakan...?? "


Nana mengulang kalimat eichi, ia menggeleng.


"Tidak. Tidak ada. "


Nana menjawab, tapi eichi menyerngit, tak percaya dengan jawaban itu.


"Kalau begitu, apa ada orang yang mengganggumu? "


"Hm... ? Tidak kok. "


"Apa ada orang yang mengawasi mu? "


"Tidak ada. "


"Menyakiti mu? "


"Tidak.


"Mengancam mu? "


"Ti-tidak... "


"Meneror mu? "


"U-um... "


Eichi dengan yakin terus menimbun nana dengan pertanyaan-pertanyaan, sebagian besar diantaranya hanya menanyakan satu hal yang sama. 'Apa yang remaja misterius kemarin lakukan terhadap nana? '


"Na, tolong jawab pertanyaan yang tadi, aku memerlukan jawabanmu. "


"Yang mana kak.... Ada banyak sekali.. "


"Kalau kau memang tau ,segeralah menjawab. Kesabaran kakak tidak banyak. "


"Ta-tapi memang tidak ada kak! Tidak ada yang aneh-aneh pada nana!"


"Pembohong."


Deg.


"Na, jawab. Jangan sampai kakak memaksamu untuk menjawab. "


Nana mulai menggeser tubuhnya menjauh dari eichi, insting bertahan hidupnya menyala. Ia bisa merasakan hawa bahaya disekitar sang kakak kelas, sesuatu sepertinya mendorong eichi menuju kemarahannya, tapi apa?


Mendadak...


Kring.... Kring...


"Ah. Telefon.. "


Eichi mengambil hpnya yang bergetar, ia bangun dari kursinya kemudian berjalan keluar kamar untuk mengangkat panggilan itu.


"Halo. Kakak. Ada apa. "


"Eichi, aku ingin menanyakan sesuatu padamu. "


"Ada apa? Tidak biasanya. "


"Apa kau ingat orang yang kemarin kau tanyakan pada Kazuya? "


"Remaja misterius itu? Ya, aku mengingatnya. "


"Apa kau ingat apa yang dia lakukan setelah kau menemukannya ? "


"Dia lari ke jendela kamar dan lompat begitu saja."


"Kau ingat kearah mana? "


"Aku hanya tau dia berlari kearah belakang gedung rumah sakit. "


Dari seberang telepon, kau bisa mendengar Yuichi mendecak. Sepertinya jawaban sang adik tidak cukup baginya.


"Apa kau tau lagi sesuatu yang lain? Apapun? "


"Maaf. Dia terlalu cepat. "


Yuichi tak langsung menjawab sang adik, suara hening menutupi panggilan itu.


"Kak? Kak apa kau tidak apa-apa?"


"Aku.. Baik-baik saja, eichi. Tapi, aku harus segera pergi. Terima kasih informasinya. "


"Senang bisa membantu. "


"Dan, satu hal lagi, eichi. "


"??"


"Aku tidak ingin melihatmu mengganggu nana. Kalau aku sampai tau kau mengusiknya... kau tau akibatnya kan?"


"..... Ya, Aku tau. "


"*Jaga sikapmu padanya. Aku mengawasimu. Selamat tinggal. "


**Pip.. Pip.. Pip***..


Eichi kehilangan kata-kata untuk dirangkai, semua kalimat yang tadi ingin ia katakan pada Sang kakak sirna begitu saja. Eichi menatapi layar hpnya yang masih menunjukkan histori panggilannya dengan yuichi, merasakan perasan aneh yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.


Ia memasukkan hpnya kedalam saku celananya dan kembali masuk ke kamar nana, tapi.. Sekembalinya ia ke dalam kamar nana...


".. Na?... "


Eichi melihat nana yang duduk di ujung ranjangnya, menjauhi kursi tempatnya duduk barusan. Tatapan nana bergetar, kedua matanya berair menatap eichi yang tadi meluapkan kemarahannya.


"Kau bukan kak eichi.. "


"Hah?"


"Kak eichi tidak pernah begitu! Kak eichi itu orang yang baik! "


"Ma-Maaf. "


"Pergi! Jangan dekat-dekat!! "


Eichi menatap nana dengan tatapan bingung dan kasihan, ia tak tahu harus berbuat apa. Mengingat hal yang tadi ia lakukan juga salah, ia harus memutar otaknya agar nana ingin kembali bicara padanya.


"Na, maaf ya. Kak eichi tadi hanya sedikit marah. Tapi kakak janji tidak akan marah lagi, bagaimana? "


Nana masih menatapnya dengan takut-takut, bujukan eichi sepertinya tidak berhasil.


"Bagaimana kalau sehabis ini, kita main sama-sama? Hm? Nana mau kan? "


Nana mulai terbujuk, ia menyeret kembali tubuhnya mendekat kearah eichi.


"Baiklah, sebelum main, kak eichi ingin menanyakan sesuatu, oke? "


"Kak eichi mau bertanya apa?.. "


"Kemarin nana ditemui orang yang mencurigakan?"


"Ti-tidak.. "


"Orang yang mengganggu? "


"Tidak... "


"Lalu siapa orang yang kemarin bersamamu ? "


"Di-dia teman lama nana..."


Eichi mengangguk-anggukan kepalanya, memasang gimik untuk menjaga agar tingkat kewaspadaan nana tetap rendah.


"Apa saja yang kalian lakukan kemarin? "


"Kami.. Kami hanya bermain kok.. "


"Bermain apa? "


"Permainan lama.. Hanya tebak- tebakan.."


"Apa dia membicarakan sesuatu yang penting denganmu? Mungkin kak eichi bisa tau?"


"Ti-tidak.. Tidak kok.. "


"Benarkah? "


"---!!!"


Nana mendadak terdiam, tangannya bergetar. Tanpa harus bicara, eichi tau, ada yang disembunyikan oleh adik kelasnya ini.


"Ti-tidak! Nana sudah bilang, kita tidak membicarakan apapun yang penting!! "


"Na. Kak eichi minta jangan berbohong. "


"Ung--.... "


Srak!!


Tangan kedua orang itu langsung mengarah ke hp nana yang tergeletak diatas meja. Tapi dengan ukuran serta panjang tangannya yang lebih dibanding nana, ia berhasil mendapatkan hp itu lebih dulu dibanding Sang pemilik.


"I-itu hp nana!! Kembalikan !! "


"Na, aku tau kau ingin menelfon kak kazuya kan? "


"Ti-tidak...! "


"Kalau kau ingin berbohong, na. Pastikan kau bisa memasang ekspresi yang tepat."


"Ke-kembalikan!! Kak eichi ternyata jahat! Nana benci kak eichi! "


"Aku hanya memintamu menjawab pertanyaanku, na. Kalau kau sudah menjawab pertanyaanku, aku akan memberikan lagi hpmu. "


Nana mendengus kesal, kalah dalam permainan sendiri pastinya bukan sesuatu yang disukai oleh kebanyakan orang. Tapi sesuatu menghentikan pertengkaran keduanya, eichi merasakan HP nana yang ia genggam itu bergetar. Panggilan dari nomor yang tidak dikenal masuk dalam HP nana.


"Hm?..halo ? "


Eichi mengangkatnya tanpa seizin dari Sang pemilik, nana yang melihat hal itu menarik-narik tangan eichi untuk menghentikannya.


"Halo ? Apa ini... Nana Atsutzuki? "


Eichi memiringkan pandangannya kearah nana yang masih tak bisa diam, ia menekan tombol speaker dan kembali menjawab.


"Iya, saya walinya. Ada apa? "


"Kami dari pihak kepolisian. "


Percakapan itu menghentikan nana, nalurinya berkata buruk.


"Iya, pak, apa ada yang terjadi? "


"Kami minta maaf. "


"Hah? "


"Kazuya atsutzuki... Meninggal dunia. "