
Malam hari sudah tiba, semua tamu yang berkunjung sudah pulang. Yang tersisa hanyalah Kazuya, tanpa lelah menjaga sang adik yang baru bisa pulang esok sore.
"Na. Tidurlah. Ini sudah lewat jam tidurmu. "
"Bagaimana kalau kakak cerita dulu? Nanti nana langsung tidur kok!! "
"Cerita? .. Nana mau cerita apa? "
"Cerita kakak hari ini di sidang! "
"Ke-kenapa cerita soal kakak? Kakak hari ini cuma sidang biasa, tidak ada yang spesial. "
"Cerita sidang kakak lebih seru dari semua dongeng !! "
Sang kakak tersenyum, mengingat sumber semangatnya yang tidak pernah gagal melakukan tugas. Adik kecilnya yang begitu lugu, sudah seperti cahaya dalam hidupnya.
"Baiklah, tiduran yang tenang. Akan kakak ceritakan. "
"Yey! "
Kazuya duduk disamping ranjang nana, kedua tangan kakak beradik itu bergenggaman erat. Sang kakak bercerita dengan pelan, sesekali menatap mata adiknya yang berbinar mendengarkan ceritanya. Kau bisa melihat rasa kantuk dimata Sang adik, tapi demi mendengar cerita kakaknya,ia merelakan sebagian waktu tidurnya dan mendengarkan cerita Sang kakak sampai habis. Malam yang benar-benar indah.
"Dan.. Selesai. Kasus hari ini berakhir disana. "
"Wahh!! Hoahmm.. Kasusnya... seru... "
Mata Sang adik mulai menutup, ia mulai terlelap berkat cerita pengantar tidur Sang kakak. Tapi Kazuya masih tak bisa tenang, sesuatu memberatkan pikirannya selagi menatap wajah adiknya yang sudah tidur.
"Tolong. Jangan bohong padaku, na. "
Kazuya mendekat ke wajah nana. Ia meletakkan salah tangannya dikepala nana dan menanyakan beberapa hal pada nana yang sudah terlelap.
"Na. Apa hari ini kau.. Terluka? "
Nana yang sudah tidur, pastinya tidak menjawab, tapi raut wajah Sang kakak berubah.
"Apa kau hari ini... Bertemu dengan seseorang? "
Nana masih tak menjawab tapi Sang kakak semakin menekuk wajahnya.
"Apa... Dia memberikanmu sesuatu? "
Mendadak raut wajah nana berubah, ia tampak terganggu dengan apa yang Kazuya lakukan.
"Apa yang dia berikan padamu? "
Kazuya masih dengan ekspresi berharap, tapi ia harus segera menarik tangannya. Nana sudah mengerang, kalau ia melanjutkan apa yang dia lakukan, nana akan terbangun.
"A-ah.. Si-sial. "
Kazuya menggigit bibir bawahnya, ia benar-benar ketakutan.
"Sial.. Sial.. Sial.. "
Kazuya mengeluarkan hpnya, keluar dari ruangan itu dan buru-buru menelpon seseorang.
"Halo?"
Suara dari seberang telepon terdengar.
"Yuichi, ini aku. "
"Kazuya? Bagaimana dengan nana? Apa kau sudah membaca memorinya? "
"Sudah tapi.. Tidak sampai akhir, dia hampir sadar barusan. "
"Aku tidak kaget, pemilik darah emas memang seperti itu. "
"Aku seharusnya lebih berhati-hati. Dia memang nana, tapi dia tetap pemilik darah emas.. "
"Lalu? Apa saja yang kau dapat? "
Pertanyaan yuichi itu sedikit mengguncang Kazuya, dia tau dengan pasti apa yang harus ia jawab. Tapi, ia tidak tau bagaimana cara mengatakannya.
"Halo, Kazuya? Kau masih disana? "
"I-iya, maaf ! Aku..Tidak tau cara mengatakannya.."
" 'Dia' mengunjungi nana ya? "
".... iya.... neuron di otak nana bereaksi setelah ku tanyakan begitu. "
"Heh, kau masih bisa membaca memori ternyata. Aku kagum."
"Ini bukan kemampuan yang bisa ku sombongkan.. Yuichi.."
"Tentu saja, melawan kekuatan 'dia' kau pasti dengan mudah dikalahkan. "
"Terima kasih atas sifat pesimis-mu itu. Kau benar-benar membantu. "
"Kita ada di posisi yang sama, Kazuya. Jangan banyak berkomentar. "
Obrolan itu berlanjut sangat lama, keduanya tampak serius bahkan hingga lupa waktu. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 23:50 , sudah 1 jam mereka berbincang-bincang mengenai 'memori' nana yang barusan dibaca Sang kakak. Serta Sang remaja misterius yang disebut-sebut sebagai 'dia' di percakapan mereka.
"Jadi.. Kau hanya tau mereka bertemu? Tidak lebih dari itu? "
"Nana sadar dipertanyaan terakhir. Kalau ku lanjutkan bisa bahaya. "
"Kita juga dalam bahaya Kazuya. Dia punya lebih dari ratusan benda yang bisa ia berikan pada nana. Apa yang dia berikan? "
"Aku tidak tau.. Nana tidak menceritakan apapun padaku. "
"Tentu saja. Barang apapun itu ia akan meminta nana untuk menjauhkan nya dari kita. "
"Kau benar. Aku hanya... tidak percaya nana bisa menutupi sesuatu dariku. "
"Apapun bendanya, yang boleh tau tentang ini hanya kita. Eichi tidak boleh tau, kau mengerti? "
"Ya. Kalau eichi tau.. "
"Nyawa adikmu dalam bahaya. "
Kazuya menutup telepon itu, ia memandang kearah nana melalui jendela kamar. Tatapannya bergetar, ia khawatir.
"Na.. Tolong.. Jangan sembunyikan apapun dari kakak. "
Untuk pertama kalinya, Kazuya menunjukkan wajah menyerahnya. Semua itu, hanya karena Sang adik, yang terus-terusan berada dalam bahaya.
"Kakak mohon.. Jangan tinggalkan kakak sendirian.. "
--pagi harinya--
"Na.. Nana bangun. Sudah pagi. "
Kazuya membangunkan nana perlahan, nana yang mendengar itu bangun dengan kaget. Ia menyadari ada sesuatu yang salah dengan kazuya , mengingat, Sang kakak tidak pernah membangunkannya secara perlahan.
"Baguslah."
Sang kakak mengambilkan nana makanan serta minuman yang sudah disiapkan. Sikap aneh Kazuya makin menambah rasa curiga di benak Sang adik. Kazuya tidak pernah membawakan sarapan untuk nana secara langsung, biasanya ia hanya akan meninggalkannya diatas meja dan langsung pergi ke pengadilan.
"Makan yang banyak, na. "
"Te.. -rima kasih... "
Nana bingung dengan perubahan sikap Kazuya. Perasaannya benar, ada sesuatu yang salah dengan Kazuya
Nana mulai memakan makanannya, tapi perasaannya tak tenang. Ia terus terpikir sikap aneh Sang kakak yang sangat mendadak tersebut. Apa ada sesuatu yang menimpa kakaknya itu?
"Kak..? Kakak kenapa?... Kenapa hari ini kakak aneh sekali... "
"Aneh apanya? "
"Apa kakak punya masalah?... Apa ada yang bisa nana bantu? .. "
Perasaan nana benar-benar tidak tenang, melihat kakaknya yang memasang akting seperti itu menyakiti perasaannya.
"Tidak- na. Kakak tidak apa-apa. "
"Jangan bohong! Nana tidak bodoh!! "
Sang kakak tertegun. Pertama kalinya Sang adik berani melawan kalimatnya seperti itu.
"Bukan apa-apa, na. Kakak.. Hanya- khawatir. "
"Khawatir tentang apa? Apa nana bisa bantu? "
"Mungkin.... Mungkin kau nanti bisa membantu kakak sedikit. "
"Hehe! Ingat kak! Kalau kesusahan, panggil saja nana! Nana akan berusaha membantu! "
"... Terima kasih, nana. "
Kazuya memeluk Sang adik erat, seperti takut kehilangan adik kesayangannya itu. Nana membalas pelukan Kazuya, berusaha menenangkan Kazuya dari apapun yang di khawatirkan nya. Padahal dia tidak tau, yang Kazuya khawatirkan adalah... Dirinya.
"Baiklah.. Kakak pergi dulu ya, na. "
"Hm! Hati-hati dijalan kak! Semangat di sidangnya ya!! "
Nana melambaikan tangannya, tapi Kazuya bahkan tidak menengok dan langsung melesat ke tempat parkir rumah sakit.
Tapi di tempat parkir..
Kring.. Kring..
"Siapa..? Halo? "
"Hai, kak Kazuya. "
"!!!!!!!!"
Deg.
Jantung Kazuya berdetak kencang, nafasnya tidak beraturan dan mendadak suaranya terdengar bergetar. Ia mengenal suara ini, ia sangat mengenalnya. Suara yang dulu sering ia dengar dan menghilang dalam beberapa tahun terakhir.
"Kau.. Kau--.. !!"
"Sstt.. Jangan berisik. Aku sedang ada misi. "
"Ini benar-benar kau... Dasar bocah sialan. "
"Terima kasih pujiannya, kak Kazuya. Aku benar-benar mengapresiasi nya. "
"Kau.. Apa yang kau berikan pada nana. "
"Hadiah kecil. Untuk teman lama. "
"Jangan panggil adikku temanmu. Kau membuatku jijik. "
"Adikmu? Kau yakin dengan pernyataan mu yang barusan? "
"Tch-... !!!! "
"*Aku akan mengambil lagi apa yang seharusnya menjadi milikku. Sampai saat itu tiba, sampai jumpa. "
**Pip... Pip... Pip***...
"Hei ! Tunggu! Kau-- ugh... Dia benar-benar membuatku muak! "
Kazuya melanjutkan perjalanannya ke pengadilan. Dalam pikirannya hanya mengkhawatirkan keamanan nana yang sendirian di rumah sakit.
Mendadak..
"Kazuya!!"
Kazuya mendengar teriakan dari sebuah kedai kopi, beberapa blok sebelum pengadilan.
"Ah- yuichi!! "
Kazuya mengarahkan sepedanya kearah sepedanya kearah kedai kopi itu, dengan sedikit tergesa-gesa memarkirkan sepedanya dan langsung duduk didepan yuichi.
"Hei-.. Aku tau percakapan kita yang tadi malam membuatmu tidak tenang, tapi kau tidak perlu ter buru-buru begitu. "
"Ha- agh.. Yuichi! A-aku... Hah.. Ada berita penting!! "
"Ya ya... Berita penting apapun itu kau tidak seharusnya se-panik ini. Tunggu biar ku pesan kan minuman untukmu. "
"Yu-yuichi!!! Hah--... Na-nana... Nana dalam bahaya!! "
"Iya kak, kopi hitamnya satu lagi ya. "
"YUICHI!!! "
Teriakan Kazuya itu mengundang tatapan-tatapan orang sekitar kearah mereka berdua. Tentu saja, setelah berteriak dengan suara sekeras itu, siapa yang tidak menoleh ?
"Kau sama sekali tidak tenang.. Tidak seperti kau yang biasanya. Ada apa?"
"Ti-tidakkah... Hah... Kau agak terlambat menyadarinya?... Hah.. "
"Ya.. Aku tidak tau masalahnya sepenting itu. Memangnya ada apa? "
" 'Dia'... Hah.. 'Dia' menelpon ku barusan!! "
"Tu-tunggu. Apa?.. "
"'Dia' menelpon ku!! Dia bilang dia akan mengambil apa yang seharusnya jadi miliknya!! "
"Yang seharusnya jadi miliknya--?? ITU KAN... "
"NANA!!! "