
"Hahaha!! Sekarang dia bisa istirahat dengan tenang! "
"Benar-benar tenang! Saking tenangnya dia tidak akan bisa bangun!! "
"Selamat tidur selamanya! Bocah cengeng!! "
"Sudah-sudah! Jangan mengajak ngobrol orang yang sudah mati! Nanti dia bangun lagi bagaimana?! "
"Benar! Ayo cepat ! Kubur saja dia! "
"HA !! "
Nana terbangun dengan keringat dingin, nafasnya terengah-engah tak karuan. Jam dinding baru menunjukkan pukul 5 pagi, tapi Nana tak bisa kembali tidur, mimpi tadi terasa begitu nyata. Nana mulai menangis takut, suara bergetarnya terdengar jelas ditengah pagi yang sunyi.
"A-ada apa?! "
Kazuya yang ternyata tertidur disamping Nana mendadak terbangun, suara teriakan dan tangisan sang adik menggelegar tepat disampingnya. Kazuya kaget melihat Nana yang sudah terbangun dengan air mata yang mengucur deras.
"N-Nana, ada apa? Jangan menangis, kakak disini.. " Kazuya memeluk Nana erat-erat, namun tangisan sang adik tak berhenti.
"kak--... Uwa--hh!! Kakakkk!! Na-... Nana! Hik... Nana tadi... Hik-- nana.... Hiks Uwaa.... " Tangisan Nana dibarengi kalimat-kalimatnya yang tak bisa didengar.
Sang kakak mempererat pelukannya, ia bisa merasakan tangan kecil Nana yang berusaha memeluk balik punggungnya itu.
"Maaf... hik-..maafkan kakak ,na... Kakak benar-benar minta maaf--... "
"Huwaaaa--, Kakak--.... "
Tangisan kedua kakak beradik itu menggema, pelukan ini adalah reuni mereka setelah hampir dipisahkan maut. Kazuya makin lama makin tak bisa membendung tangisannya, rasa bersalahnya pada Nana menjadi alasan utama. Berbeda dengan sang kakak, tangisan Nana sepertinya makin mereda, tampaknya pelukan sang kakak lebih dari cukup untuk menenangkan pikirannya.
Setelah cukup lama berpelukan, kedua kakak adik tersebut kembali tidur lelap, acara tangis-menangis tadi sepertinya menghabiskan banyak tenaga mereka. Kamar itupun kembali sunyi, keadaan pagi kembali tenang dan kesedihan diwajah merekapun hilang entah kemana.
•
•
•
•
•
Jam dikamar rumah sakit sudah menunjukkan pukul 8 pagi, terlihat di dalamnya terdapat Nana yang duduk diatas ranjang serta Chizu dan Ling-Ling yang datang menjenguk. Sang kakak menatap 3 serangkai tersebut dari luar kamar, jendela besar itu menjadi satu-satunya cara sang kakak untuk memperhatikan adiknya yang sedang asik mengobrol.
"HA?! TUNGGU-TUNGGU.. MEREKA BERNIAT UNTUK APA ?!"
"Sssstt! Teman-teman! Ini rumah sakit! "
Suara teriakan dari kedua temannya itu sontak membuat Nana kaget, refleksnya adalah menenangkan kedua sahabatnya yang sudah dilanda rasa penasaran.
"Tunggu, apa yang tadi kau bilang itu benar? Kau benar-benar hampir dibunuh ?"
"Telingamu sedang rusak ya, Ling? Aku tidak bisa mengarang soal hidup dan mati!! "
"Na, jawab dulu pertanyaannya! Jangan mengelak terus!! Ku Wing Chun kau nanti !!"
"IYA-IYA!! "
Nana menyerah, kedua sahabatnya itu memang keras kepala. Nana pun menceritakan kejadian kemarin sore, semuanya dari ia yang menabrak para berandal hingga pingsan di koridor sekolah. Tak lupa juga ia menceritakan kakak kelas misterius yang menolongnya. Ling-ling dan Chizu mendengarkan dengan seksama, benar-benar fokus dengan cerita sahabatnya.
"Setelah itu, akhirnya aku pingsan dan bangun-bangun, aku sudah ada disini. " Nana selesai bercerita dengan wajah murung, entah apa yang dipikirkannya sekarang.
"Na, aku kan sudah bilang.... Belajarlah bela diri! Kalau kau belajar melindungi dirimu sendiri, hal seperti ini tidak akan pernah terjadi! "
Chizu menceramahi Nana habis-habisan. Mengetahui seberapa lemah fisik Nana dibanding mereka bertiga, tidak heran Chizu mengkhawatirkan keselamatan temannya yang satu itu.
"Ada baiknya juga kau mulai sekarang pulang dengan kami. Kami bisa mengantarmu ke gerbang depan dan menunggu hingga kakakmu datang, lebih aman kan? "
Ling-Ling memberi ide dengan wajah iba, setelah dipikir-pikir lagi Nana memang jarang mendapat pengawasan. Mengingat sang kakak yang sibuk dan punya jadwal sendiri membuat Nana juga punya jadwal yang berbeda dari anak-anak lain.
Nana yang pulang tergantung kesibukan sang kakak, sering kali membuatnya harus menunggu sendirian. Terkadang 10 menit, 15 menit, bahkan 1 jam. Tak jarang juga Nana harus menunggu hingga matahari terbenam, baru sang kakak bisa menjemputnya.
"Aku bukan anak 10 tahun lagi! Aku bisa menunggu kakak sendirian! Ini hanya nasibku saja yang sial, selalu bertemu dengan mereka!! "
Nana membela dirinya, Chizu dan Ling-Ling saling bertukar tatapan, tak percaya dengan ucapan sahabat mereka yang satu itu.
"Yah, kalau kau tidak mau... Nanti sesuatu seperti ini terjadi lagi bagaimana? "
"Ling-ling benar Na, harus ada yang menjagamu. "
"Aku bisa sendiri! Percayalah!! Lagipula kalian kan biasa langsung dijemput! Nanti kalau kalian dimarahi bagaimana?! "
"Tapi, Chizu, aku tidak tenang meninggalkan Nana sendiri begitu. "
"Kira-kira siapa yang bisa menjaga Nana ya..."
"Aku bisa."
Jawaban singkat itu sontak membuat kaget seisi kamar, tiga sahabat dengan cepat memutar kepala kearah pintu, terlihatlah seorang laki-laki dengan wajah yang familiar bagi Nana.
"Kau kan-- !!"
"Kau kenal dia? Na? "
"Dia--.... Dia kakak kelas yang menolongku kemarin!! "
"Yang tadi kau ceritakan?! "
Ketiga perempuan itu menatap Eichi dari ujung kaki ke ujung rambut tanpa ragu-ragu, Eichi yang merasa terganggu hanya bisa tersenyum tak nyaman.
"Maaf, tapi... siapa kau? "
"Ah, aku belum memperkenalkan diri ya? Namaku Eichi.
"Eh!! E-eichi?! Kau kak Eichi?? "
"H-hei Ling-Ling! Memangnya dia kenalanmu? Siapa dia?"
"Bu-bukan Chizu! Dia murid baru di sekolah!! Katanya dia terkenal lho! "
"Kok aku tidak tau ya... "
Ling-Ling dan Chizu saling berbisik tak yakin, namun Eichi tetap tersenyum. Eichi mengarahkan pandangannya pada Nana, adik kelasnya itu membalas dengan senyum yang sama.
"Ma-maaf, permisi... "
Mendadak seorang perawat masuk dalam kamar, semua pandangan pun teralih pada perawat tersebut.
"A-apa disini ada yang bernama... Chizu dan Ling-Ling.. ?"
"Itu saya dan teman saya disini, ada apa ya ?"
"Ada panggilan dari sekolah anda. "
"Hah... dari siapa ya? "
"Yang menelepon mengatas namakan pak Tomyoka... "
"AH! CHIZU! AKU BARU INGAT! "
"AKU JUGA BARU INGAT!! "
"KITA ADA PELAJARAN KILLER SATU ITU! "
"PANTAS SAJA KITA SAMPAI DITELEPON!! "
"A-apa ada masalah? "
"Ti-tidak ada! Tolong segera jawab pada penelfon, kami akan segera kembali kesekolah! "
"Ba-baik! "
Perawat tersebut berjalan keluar, Chizu dan Ling-Ling pun bersiap dengan kecepatan penuh. Mereka dengan cepat merapikan barang masing-masing dan langsung melesat keluar kamar.
"NA! KAMI DULUAN! "
"CEPAT SEMBUH YA!! "
Chizu dan Ling-ling berlari seakan tiada hari esok. Eichi memperhatikan kedua orang itu yang sudah berlari cukup jauh, ia pun kembali menatap Nana yang masih duduk manis tak bergeming.
"Kak eichi... Terima kasih sudah menolong kemarin!! "
"Ti-tidak, itukan sudah menjadi tugas seorang laki-laki. Nana setuju kan? "
"WAH!! Kak Eichi tau namaku darimana?? Kita kan belum kenalan! "
"Kak Kazuya bercerita banyak tentangmu. "
"Kakak cerita tentangku? Kakak cerita apa saja?? "
"Hahaha, rahasia! Kau penasaran sekali sih, Na. "
"Kak Eichi jahat!! "
"Bercanda, bercanda. Tapi ternyata kakakmu benar ya. "
"Ha? Benar apanya? "
"Kakakmu bilang wajah marahmu lucu, dia benar sekali. "
Nana kaget bukan main, untuk pertama kalinya ia dirayu orang lain selain Chizu, Ling-ling dan kakaknya sendiri. Tapi setelah itu ia malah tertawa lepas, Eichi memperhatikan Nana bingung.
"Apa yang lucu, Na? Kak Eichi tidak mengatakan sesuatu yang lucu. "
"Bukan itu!! Hahahha!!! Kak Eichi pasti perayu perempuan kan? Hahaha! Dasar! Nana tidak bisa dirayu begitu!! "
Tawa kencang Nana masih belum berhenti, menarik perhatian sang kakak yang sedari tadi diluar kamar.
"Na.. " Kazuya menggumam ketika melihat adiknya sedang tertawa puas dengan Eichi.
"Maaf pak, permisi. "
Suara itu membangunkan Kazuya dari lamunannya, ia baru sadar seorang perawat berusaha masuk dalam kamar Nana.
Kazuya minggir, memberikan jalan pada si perawat. Terlihat sang perawat masuk dengan buru-buru dan langsung bicara pada dua orang yang ada disana yaitu, Eichi dan Nana. Ekspresi kedua orang itu langsung berubah, senyum diwajah Eichi menghilang sedangkan Nana terlihat sedih sambil mengatakan sesuatu pada perawat.
Perawat itu menggeleng, Nana kembali mengatakan sesuatu, sang perawat masih menggeleng tegas. Nana pun menunduk, namun Eichi malah tersenyum dan berjalan mendekati adik kelasnya itu. Eichi mengeluarkan jari kelingkingnya, mata Nana mendadak berbinar sambil membalas janji kelingking tersebut.
Eichi berjalan keluar kamar dengan senyum terlebar yang pernah ia pasang diwajahnya, Nana melambaikan tangannya pada sang kakak kelas. Eichi membalas lambaian tangan Nana. Tentu saja hal ini tidak lepas dari pengawasan Kazuya yang sudah menatap Eichi dengan tajam.
"Cepat sembuh, Na! "
"Eichi, ikut sebentar. "
"Eh, kak Kazuya, ada apa? "
"Ikut saja. "
Kazuya menyeret Eichi menjauh dari kamar Nana, sang adik hanya bisa menatap sampai kedua orang itu hilang di ujung koridor rumah sakit.
"Ada apa, kak Kazuya ? "
"Pembicaraanmu dengan Nana tadi seru sekali..."
"Ah, memangnya kenapa? "
"..Kau tidak berniat mengambil Nana, ketika aku tidak melihat kan? "
Kazuya melotot ke Eichi serius, tapi Eichi terkekeh.
"Haha, tidak seperti biasanya kepalamu panas begitu, kak Kazuya. Tenang saja, tidak perlu setakut itu denganku. "
"Bukan, aku hanya-...Lupakan. Biarkan aku bertanya sesuatu yang lebih penting. "
"Apa itu? "
Kazuya meletakkan kedua tangannya dipundak Eichi.
"Kau jadi melaporkan berandalan itu pada sekolah kan? "
"Tentu saja, siap dengan bukti. "
Eichi mengeluarkan HP yang digunakan untuk merekam pemukulan pada sore kemarin. Sepertinya Eichi mencuri HP tersebut ketika berandal itu masih tak sadarkan diri.
"Kau benar-benar mirip seperti kakakmu, Eichi. "
"Kakakku kan juga pengacara ahli sepertimu, aku juga belajar dari seorang profesional. "
"Aku benar-benar berterima kasih."
"Tidak perlu, ini semua kan demi Nana. Demi melindungi pemilik 'darah emas' seperti dia. "
"Ah.. Tentang masalah itu.. "
"Ada apa? "
Kazuya menunduk tak yakin, tak tau bagaimana cara mengatakan ini pada Eichi.
"Tolong... menyerahlah, bilang pada kakakmu untuk jauhi Nana dan jangan pernah bawa topik ini di hadapannya."
"H-hah...? Apa yang kau bicarakan, kak Kazuya ?"
"Aku sudah bilang kan? jangan pernah bawa topik 'darah emas' ini ke hadapan Nana. Kalau dunia ini tau, mereka akan mengejar Nana habis-habisan. "
Eichi terdiam, kalimat Kazuya tadi benar-benar mengagetkannya. Dengan kesal, Eichi mendorong tubuh Kazuya. Kazuya tidak melawan, seakan tau apa yang ia ucapkan tadi terdengar begitu egois.
"Kau gila ya? Kak kazuya, Apa yang terjadi pada kepalamu? Haruskah kupukul agar kau normal lagi? "
"Eichi, aku serius. Kau juga tau kan? "
"Aku akan berpura-pura kalau aku tidak mendengar apapun darimu. "
Eichi berjalan menjauhi Kazuya, benar-benar tidak ingin mendengar kelanjutan kalimatnya.
"Apapun yang kakakmu katakan, aku tidak akan membiarkan kalian! Kalau Nana memang tidak ingin mengikuti langkah keluarganya, kalian tidak bisa memaksanya! "
"JANGAN BERCANDA! Nana adalah satu-satunya keturunan 'darah emas' yang tersisa! Kemampuan itu ada didalam darahnya dan kau ingin menghentikan takdirnya itu ?!"
Kazuya terdiam, Eichi melanjutkan jalannya sambil bergumam.
"Kau mengecewakanku, kak Kazuya. Seharusnya guru tidak pernah memberi Nana padamu. "
Kazuya terbelalak, tak bergeming dan tak bisa berucap apa-apa. Eichi sudah pergi menjauh, Kazuya hanya bisa menyesali apa yang ia ucapkan tadi. Kazuya merenung cukup lama, Apa yang ia lakukan demi Nana.. Selama ini salah? Apakah selama ini.. Ia sebenarnya bukan kakak yang baik ?
"Kak?.. Kakak sedang apa? "
Suara Nana terdengar dari belakang punggung Kazuya, suara itu mengagetkan sang kakak bukan main. Kazuya pun berbalik cepat, melihat Nana yang berjalan telanjang kaki dengan infus yang masih ia bawa ke mana-mana.
"N-nana... Ke-kenapa kau diluar?... Kembali ke kamarmu-.. "
Suara Kazuya bergetar, Nana malah berjalan mendekat.
"Kakak... Kenapa kakak menangis...?"
"Tidak... Ka-kakak tidak menangis... "
"Jangan bohong... Mata kakak berair.. "
Sang adik melangkah semakin dekat, Kazuya menundukkan kepalanya ke arah Nana.
"Kembali... Tolong--... kembalilah ke kamarmu.. Kakak mohon.. "
"A-apa ini gara-gara kak Eichi? Nanti kalau ketemu lagi, akan Nana marahi ! "
"Bukan.. Ini.. bukan salah kak Eichi.. "
Kazuya menitikkan air matanya, Nana mengatupkan kedua tangan kecilnya pada pipi sang kakak.
"Lalu, kakak kenapa menangis??.. "
"Maafkan kakak... hik ..Tidak bisa-.. Menjadi kakak terbaik untukmu.. "
"Siapa bilang !! "
Kazuya mengangkat kepalanya, kaget dengan balasan Nana.
"Kakak adalah kakak terbaik yang Nana punya!! Kakak terbaik yang bisa Nana minta!! Kakak terbaik sepanjang masa!! Jadi, jangan menangis lagi!! "
Nana memeluk kakaknya erat-erat, kau bisa mendengar tawa kecil nana yang dibarengi pelukannya itu. Air mata Kazuya masih belum berhenti, tapi raut wajahnya berubah, senyum sang kakak melebar sambil membalas pelukan sang adik.
"Terima kasih... Nana... "