
Pagi hari datang, Nana yang baru bangun kaget ketika sadar kalau ia ada didalam kamarnya. Ia berusaha mengingat apa yang terjadi tadi malam, ia tidak ingat kembali kamarnya, ia juga tidak merasa kalau sang kakak membangunkan nya.
"Kau sudah bangun? Tumben sekali. "
Suara Kazuya dari pintu kamar menyadarkan nana dari lamunannya, nana yang melihat sang kakak langsung melompat dari kasur dan berlari ke arah kazuya.
"Kakak! Kemarin malam kakak menyuruh nana kembali ke kamar tidak ?"
"Hm ? Tidak, kakak tidak ingat menyuruhmu kembali ke kamar."
Kazuya menjawab dengan gelengan kepala. Nana yang berwajah bingung masih menatap mata sang kakak tak percaya.
"Apa nana bangun dan berjalan
ke kamar ?"
"Tidak."
Kazuya kembali menggeleng, nana semakin bingung, alisnya mengkerut layaknya orang tua yang mulai menjadi pelupa .
"Um... Apa nana tidur sambil jalan? "
"Itu juga tidak. "
Kazuya lagi-lagi menggeleng, nana menyerah, ia sama sekali tak tahu bagaimana ia bisa berpindah tanpa sadar seperti itu.
"Sudahlah, daripada berpikiran yang aneh-aneh ,lebih baik kau bersiap ke sekolah. "
"Apa kakak tau bagaimana--"
"CEPAT BERSIAP ,NANTI KAU TERLAMBAT. "
"BAIK!! "
Seperti biasa, tatapan serta ucapan maut Kazuya tadi bisa membuat semua orang melakukan apa yang sang kakak inginkan, tak terkecuali adiknya sendiri. Nana berlari terbirit-birit ke kamar mandi, sedangkan Kazuya menuruni tangga sambil menahan tawanya. Ia masih mengingat dengan jelas apa yang terjadi kemarin malam.
"NANA!! SUDAH SIAP BELUM ? "
Setelah menunggu selama hampir 20 menit, suara Kazuya menggelegar dari lantai bawah. Ia mulai tak sabar, biasanya nana tak pernah selama ini bersiap kesekolah. Apa yang sedang nana lakukan?
"SEBENTAR LAGI KAK!! "
Nana membalas teriakan sang kakak, Kazuya yang sudah berpakaian rapi itu menunggu dengan bosan,ia terlihat menghela nafas berkali-kali sambil celingukan saking bosannya menunggu.
"Maaf kak, Nana lama! "
"Apa yang daritadi kau laku--.... "
Kalimat kazuya terpotong, matanya terkunci pada dasi biru tua yang nana ikat sendiri. Bukan ikatan paling bagus , tapi nana tersenyum bangga.
"Bagaimana? Bagaimana? Bagus tidak? "
Dengan mata berbinar, nana memperlihatkan dasinya pada sang kakak. Nana tersenyum sombong, Kazuya bisa mengetahui itu dengan jelas.
"Ikatan dasimu sudah seperti menara Pisa saja, miring begitu. "
"EH?!?! "
Nana kaget bukan main, ini pertama kalinya sang kakak dengan terang-terangan mengejeknya seperti itu. Nana memukul-mukul kan tinjunya pada punggung Kazuya, tak terima dengan hinaan tadi.
"Kak!! Bisa-bisanya kau bilang begitu! Aku sudah berlatih mengikat dasi sejak lama ! "
"Kakak hanya bilang mirip kok, kakak tidak bilang kalau ikatanmu jelek. "
"KAKAKKKK !! "
Nana yang sudah naik keatas sepeda itu masih tetap memukul-mukul punggung Kazuya, perjalanan dari rumah kesekolah hari ini diisi dengan kekesalan sang adik pada kakaknya. Bahkan setelah sampai, nana masih tetap tak memaafkan kata-kata kejam sang kakak.
"Sudah sampai. "
Kazuya menghentikan sepedanya, nana turun dengan wajah cemberut. Sekalipun telah sampai disekolah , nana tidak berhenti mendaratkan pukulan-pukulannya ke lengan kazuya. Pukulan nana memang tidak sakit, tapi semakin lama kazuya melihat nana yang merengek, semakin tinggi juga rasa kasihan pada adiknya itu.
"Na, kau bisa berhenti memukul kakak sekarang."
"BELUM MAU ! NANA BELUM PUAS !!"
Kazuya menarik nafas dalam-dalam, rasanya ia ingin sekali memukulkan sesuatu ke kepala nana untuk meluruskan otak adiknya itu. Kazuya menggeleng, membuang jauh-jauh ide untuk memukul adiknya dengan barang, tapi itu tak menghentikan niatnya untuk tetap memberi hukuman pada sang adik.
"ADUH !!"
Nana berteriak ketika kazuya menyentil dahinya , secara refleks pukulan- pukulan nana pun juga ikut berhenti.
"KEJAM !! DASAR KAKAK KEJAM !!"
"Na, dengarkan kakak baik-baik."
"Hmph ! Tidak mau! Nanti nana diejek lagi !"
Kazuya tidak menghiraukan kalimat sang adik, ia meletakkan salah satu tangannya diatas kepala nana dan mengelusnya perlahan.
"Na, kau harus mengerti sesuatu."
"Mengerti apa, dasar kakak kejam!"
"Yang penting dari sebuah hal bukanlah hasilnya, tapi usaha dibaliknya. "
"!! ...."
Mata nana melebar, tertegun mendengar kata-kata bijak sang kakak. Nana mengangkat kepalanya, menatap kazuya baik-baik.
"Apa nana ingat, apa yang tadi nana bilang pada kakak ?"
"nana.. Sudah latihan mengikat dasi sejak lama.. "
"Artinya? "
"Usaha nana.. Tidak sia-sia? "
"Itu baru semangat seorang nana yang kakak tau!"
Kazuya tersenyum sedangkan nana terkagum-kagum. Nana menatap Kazuya dengan mata berbinar, pasti kata-kata tadi mengembalikan semangatnya.
"Segitu saja ya, na. Kakak masih ada sidang sebentar lagi. "
Kazuya mengangkat tangannya tadi dan melanjutkan perjalanannya ke pengadilan . Nana menatap punggung sang kakak yang perlahan mulai menjauh, nana tersenyum sambil berbisik.
"Terima kasih... Kakak. "
Nana pun berlari masuk ke sekolah.
Wajah nana hari ini sungguh bersinar, terima kasih berkat insiden di gerbang sekolah tadi yang membuat hati nana penuh rasa bangga.
"Na , senyum-senyum saja , ada apa ?"
"Wah, pasti karena kakakmu ! Benar kan ?? "
Chizu, 'yang tumben hari ini tidak terlambat', juga bisa melihat aura nana yang begitu bersinar. Tidak biasanya nana masuk ke kelas dengan wajah yang sudah tersenyum lebar.
"Kalian ini cenayang ya ? Aku belum bilang apa-apa !!"
"Haha !! aku tidak perlu menjadi cenayang untuk tahu isi hatimu , na! "
"Aku setuju dengan chizu ! Wajahmu mudah dibaca seperti pemain sinetron !"
"LING ! KAU INGIN MATI MUDA YA ?!"
Ketiga sahabat itu tertawa kencang , senyum lebar nana sekarang menular ke 2 sahabat baiknya. Hari mereka baru dimulai , tapi sedikit tawa dipagi hari tidak akan melukai siapapun kan ? Layaknya kebiasaan mereka, nana, ling-ling dan chizu memulai pembicaraan dengan hal-hal lucu , kemudian berlanjut ke anime yang sedang ngetrend atau sekedar berita viral disekitar mereka. Sungguh benih ibu-ibu gosip yang luar biasa :D
Nana dengan teman-temannya itu mulai bercanda ria , candaan yang semakin lama semakin garing itu sudah menjadi rutinitas selama disekolah.
Lain halnya dengan sang kakak, kazuya sekarang sedang duduk bersebrangan dengan tuan akihiro. Tatapan matanya menajam sambil memperhatikan berkas-berkas yang ia pegang.
"Tuan akihiro. Aku perlu kau untuk menjawab beberapa pertanyaanku."
"Tentu saja tuan kazuya. Silahkan. "
"Baik, pertanyaan pertama... "
Kazuya mengambil secarik kertas dari amplop cokelat miliknya.
"Dimana kau ketika pegawai perusahaanmu dibunuh ? "
"Bukannya aku sudah bilang berkali-kali ? Aku sedang ada meeting diluar kota, itu juga sudah terkonfirmasi . "
"Lalu kenapa sidik jarimu bisa ada di pistol yang pelaku pakai? "
"Pistol itu adalah pistol yang selalu kusimpan di brankas, tak aneh kalau sidik jariku ada di pistol itu. "
"Apa kau mengatakan, kalau sidik jarimu tidak ada urusannya dengan pembunuhan ini? "
Akihiro mengangguk, kazuya menghela nafasnya. Entah apa yang kazuya pikirkan, ia tampak tak puas dengan jawaban tuan akihiro. Kazuya mencolokkan suatu USB ke laptopnya, kemudian ia membalikkan laptop itu ke arah tuan akihiro.
"Ada apa ini? Tuan Kazuya? Apa ada sesuatu yang salah? "
"Ini mobilmu, benar kan? "
Kazuya memperlihatkan sebuah video pada tuan akihiro,video itu terlihat seperti rekaman CCTV di sebuah jalan raya. Jari Kazuya menunjuk ke sebuah mobil mewah berwarna hitam, tuan akihiro menatap mobil itu baik-baik.
"Hm.. Iya, itu mobilku. Memangnya kenapa? "
"Rekaman ini diambil dari CCTV di persimpangan jalan besar bernama 'shinara hara'. Apa kau tau dimana letak persimpangan ini ? "
"Iya, aku tau. "
"apa kau sering melewatinya? "
"Iya, hampir setiap hari untuk ke kantor."
Kazuya berdiri dari kursinya, dengan wajah geram pada sang klien. Tuan akihiro terkejut dengan gerakan sang pengacara yang tiba-tiba.
"Ada apa , Tuan Kazuya? "
"Rekaman CCTV ini diambil pada pukul 23:55, tanggal 15 November , 3 hari yang lalu. "
"Iya, ada apa dengan informasi itu? "
"H-hah?!"
Kazuya memukul meja didepannya dengan kepala panas.
"A-ada apa?! 'Ada apa?' katamu! Tanggal 16 November, pukul 00:05. Dua belas orang karyawan ditemukan meninggal dengan luka tembakan di sekujur tubuh mereka, kau dijadikan tersangka karena berbagai begitu banyaknya bukti yang menunjuk kearahmu!"
Kazuya melanjutkan kalimatnya dengan penuh emosi, semakin kesal dengan sang klien.
"Sidik jarimu ditemukan di senjata pembunuh ! Banyak orang bertestimoni kalau hubunganmu dengan para korban tidak baik! Dan sekarang.. Mobilmu terlihat dekat dengan TKP*, 10 menit sebelum penembakan massal terjadi, dan yang kau katakan hanya 'ada apa? '?! Apa kau sudah gila?! "
TKP : Tempat Kejadian Perkara*
Kazuya tidak bisa menahan ledakan emosinya tersebut, teriakannya tadi menarik perhatian penjaga yang ada disekitar sana. Semua pandangan mata tertuju pada mereka, sekalipun begitu, tuan akihiro tidak kehilangan wajah tenangnya.
"P-pengacara ! Terdakwa! Apa ada masalah?"
Para penjaga mulai merasakan ketegangan diantara 2 orang itu, Kazuya menggeleng namun tuan akihiro sama sekali tidak membuka mulutnya
"T-tidak ada apa-apa. Maafkan aku. "
Kazuya kembali duduk pada kursinya sambil menunduk. Mata para penjaga tersebut menyipit bingung tentang apa yang barusan terjadi.
"Yang ingin ku tanyakan sebenarnya,tuan akihiro.. "
Kazuya tidak berhenti, ia belum mau menyerah sampai sang klien berbicara jujur.
"Kenapa kau berbohong padaku?"
Kazuya mengangkat kepalanya ke arah tuan akihiro, ingin mendapatkan jawaban masuk akal yang tidak pernah ia dapatkan sejak awal. Namun tuan akihiro tak bergeming, benar-benar tak mengucapkan apapun. Kazuya benar-benar tak mengerti, kenapa sang klien menyembunyikan hal penting seperti ini?
"Terdakwa dan pengacara ! Diharap segera masuk ke ruang sidang ! "
Suara dari seorang penjaga memanggil mereka masuk. Tuan akihiro yang sedari tadi diam mendadak berdiri, seakan-akan sudah sangat siap untuk dihakimi.
"Tunggu! Tuan akihiro! Jawabanmu--... "
"Bukankah kita harus segera masuk? Tuan Kazuya ?"
Tuan akihiro menatap pengacaranya itu dengan senyum, Kazuya terbelalak hingga tidak bisa berkata-kata. Sang terdakwa mengambil langkahnya masuk ke ruang sidang, Kazuya hanya bisa terdiam menatap kliennya itu.
"Tunggu ! Tuan akihiro !! "
Teriakan Kazuya itu berhasil menarik perhatian sang klien, ia berhenti berjalan dengan wajah masih mengarah kedepan.
"Aku benar-benar minta maaf atas sikapku tadi! Tapi aku masih memintamu untuk jujur kepadaku!"
"Kenapa kau sangat ingin memintaku jujur, tuan Kazuya? Dengan kemampuan menyelidik yang seperti tadi, sekalipun aku berbohong kau juga akan mengetahuinya. "
"Karena tugas seorang pengacara adalah mempercayai kliennya hingga akhir! Dan aku berharap apa yang kupercayai sebagai kebenaran adalah kejujuranmu!! "
Kazuya mengingat kata-kata sang adik, kalimat nana itu menjadi satu-satunya dorongan baginya untuk terus mempercayai tuan akihiro.
Tetapi tuan akihiro tidak bicara sama sekali, seperti tidak merespon pada kata-kata Kazuya. Ia malah melanjutkan jalannya, seakan tidak peduli dengan pengacaranya sendiri.
Kazuya hanya bisa menatap kliennya dari belakang, nafasnya masih terengah-engah karena berteriak. Kazuya menggenggam kalung berisi foto nana, ia berbisik pada dirinya sendiri.
"Na, aku tidak akan menyerah. Aku janji..."
Kazuya meyakinkan dirinya sebelum masuk keruang sidang.