
"Na, kau merindukanku? "
"Ha!! Kau kan--!! "
"Ssttt!! Jangan banyak bicara.. Aku akan mengajakmu bermain sesuatu, kau mau ikut? "
"Mau! Mau! Nana mau!! "
"Baiklah, ayo ikut aku."
--- beberapa saat sebelumnya ---
Jauh dari sidang yang penuh ke absurd-an itu, nana masih terbaring lemas di atas ranjang rumah sakit miliknya. Pandangannya terarah keluar, rasa bosan yang ada semakin lama semakin menelannya.
"Ah, bosan.. Tidak ada yang bisa diajak main.. "
Nana mulai berpikir keras, matanya melirik kearah hp yang diletakkan diatas meja.
"Nana mau main HP, tapi tangan nana ga nyampe! Huh! Kakak sengaja nih taruh hpnya jauh begitu!! "
Nana mendumal, ia tak mengira apa yang terjadi padanya sehabis ini akan membahayakan nyawanya.
Nana meluruskan tangannya, berusaha meraih HP yang sebenarnya terlalu jauh untuk digapainya. Ia menggeser tubuhnya lebih kesamping dengan harapan bisa meraih HP tersebut.Tangan nana bergetar, ia berusaha keras. Tapi mendadak--..
"AH--!! "
Nana kehilangan keseimbangan ditepi ranjang, tubuhnya oleng dan jatuh ke lantai. Sesaat, sepertinya nana bisa mendengar suara tubrukan antara tubuhnya dengan lantai. Sebelum tubrukan itu bisa terjadi, sesuatu telah menyelamatkannya dari hal mengerikan tersebut.
"Na.... Kau tidak apa-apa..? "
Nana yang barusan menutup matanya karena takut, langsung membukanya lebar-lebar. Ia mengenali suara itu dengan jelas, suara yang sudah lama tak terdengar olehnya.
"Ha !! Kau kan--!! "
"Ssttt.. Jangan keras-keras! Aku tidak seharusnya disini."
Nana yang mengangkat kepalanya, melihat wajah yang familiar. Wajah yang sering ia lihat dulu, dan menghilang sejak beberapa tahun terakhir. Seorang remaja laki-laki dengan wajah yang tertutup topi serta masker. Namun dibalik semua penyamarannya itu, nana tetap mengenalinya seakan mereka baru bertemu kemarin.
"Aduh, kau berat sekali. Aku tidak bisa mengangkatmu ke ranjang lagi. "
"Maaf, nana tidak bisa bangun.."
"Aku sudah dengar beritanya. Maaf aku tidak ada disana untuk melindungimu. "
Remaja misterius itu meletakkan nana diatas lantai dan mulai duduk disampingnya. Kelihatannya mereka berdua adalah teman dekat, teman yang sangat dekat, bahkan terlihat seperti kakak beradik.
"Jadi.. Kenapa kau kesini?"
"Aku sebenarnya ada tugas disekitar sini. Tapi... Sebelum pergi, aku akan mengajakmu bermain dulu, bagaimana?"
Mata nana berbinar, setelah seluruh usahanya untuk bermain, akhirnya dia bisa mendapatkan sedikit hiburan setelah satu hari penuh dengan kebosanan.
"Mau! Mau! Nana mau!! "
"Baiklah, bagaimana kalau bermain permainan lama kita? Kau masih ingat cara bermainnya kan?"
Keheningan memecah percakapan mereka, sepertinya kita sudah tau jawabannya.
"Kau tidak ingat? "
"A-h.... Maaf.. Hehe.. Kita sudah lama tidak main bersama."
"Kalau begitu, aku akan membantumu ingat. "
Remaja itu menggenggam kedua tangan nana erat-erat dan mulai menjelaskan aturan bermainnya.
"Kita akan saling bergenggaman tangan, dan bergantian bicara 1 kalimat. Yang lain harus menebak kalimat itu jujur atau bohong. "
"Kalau tebakannya benar? "
"1 poin untukmu. "
"Kalau salah? "
"Tidak ada penalti di permainan ini, hanya ada waktu dan giliran. "
"Baiklah! Aku mengerti! "
"Kalau kau menang,aku akan memberimu hadiah."
"Wah!! Nana pasti menang! Nana harus menang! "
Mereka mulai bermain,dan setelah beberapa ronde, nana sama sekali tidak mendapat poin.
"Na, giliranmu. "
"I-iya ! Kalimatku... Aku punya 2 teman baik disekolah."
"Jujur."
"Eh? Kok kau bisa tau.. "
"Giliranku, aku tidak punya teman disekolah. "
"Bohong !! "
"Salah."
"EHH??? "
Awalnya nana tidak mengerti kenapa mereka harus saling bergenggaman tangan hanya untuk main tebak-tebakan. Tapi setelah 1 babak penuh tanpa meraih poin sama sekali, nana mulai mengerti kenapa sedikit demi sedikit.
"Na, kau tidak seharusnya hanya menebak-nebak."
"Lalu bagaimana ? Nana sudah lupa.."
"Kau harus fokus pada sikap mereka."
"Sikap? "
"Perhatikan tangan yang kau genggam, semua jawabannya ada disana. "
Nana pastinya tidak mengerti. Kau bisa melihat wajah nana yang penuh kebodohan dan tidak tahu apa yang harus ia lakukan.
"Baiklah, giliranku. Aku suka nana. "
"Ke-kenapa kalimatnya begitu?!
"Fokus,na."
"Ba-baik.."
"Fokus pada genggaman tanganmu. Pada sikap lawan bicaramu."
"Sikap.. Lawan bicara.. "
Nana menggenggam tangan remaja itu makin erat, ia menutup matanya dan berfokus pada nasehat yang diberikan padanya barusan.
'Sesuatu ditangannya.. Berdetak..'
Pikir nana sambil menutup matanya
"Temponya.. Berantakan. "
"Apa lagi yang kau rasakan? "
"Tanganmu dingin. "
"Lalu? "
"Sesuatu di tanganmu bergetar. "
Setelah beberapa menit penuh keheningan..
"Hei.. Kau berbohong kan? "
"Benar."
Nana bernafas lega, entah karena dia menebak dengan benar atau dia tidak jadi menerima pernyataan cinta seseorang.
"Kau sudah mengerti kan? Ini permainan kita dulu."
"Begini ya... "
"Baiklah. Ayo kita mulai lagi. Perhatikan tangan lawan bicara mu, na. "
"Ba-baik!! "
1 babak, 2 babak, 3 babakĀ sudah terlewati. Hasilnya sedikit diluar dugaan.
"Yey!! Nana menang!! Nana menang! "
"Nana menang !! Hadiahnya mana?"
Remaja itu mengambil sesuatu dari saku jaketnya, itu adalah sebuah kalung dengan liontin bola kaca yang setengahnya berisi air.
"Itu.. Itu kalungmu kan? "
"Iya, aku memberikannya untukmu. "
"Ta-tapi.. Ini kan benda kesayanganmu.. Nana tidak boleh ambil. "
"Aku sudah menjanjikan hadiah untukmu kalau kau menang kan? Ambil hadiahmu. "
"Tapi... Kau bilang kalung ini dari ayahmu. "
"Dan aku memberikannya padamu. "
Nana menerima kalung itu dengan berat hati, ia merasa sangat bersalah. Tapi remaja itu memaksanya dan ia tidak punya pilihan lain.
"Apa kau yakin.. Kau mau memberikan ini padaku? Kau bilang kalung ini hanya ada satu- satunya didunia. "
"Aku yakin. Tapi dengan syarat. "
"Syarat ? "
"Kau harus menjaga kalung ini baik-baik. Jangan tunjukkan kalung ini ke siapapun. "
"Ka-kalau begitu kapan aku bisa memakai kalung ini? "
"Kau hanya boleh menggunakannya kalau kau sedang sendiri atau dalam keadaan sangat terdesak. "
"Memangnya.. Apa fungsi kalung ini? "
"Kalung ini.. Sebenarnya bisa-.. "
"Na, bagaimana keadaanmu? "
Kalimat remaja itu terpotong, Eichi masuk kedalam kamar nana tanpa mengetuk pintu. Ketiga orang itu saling tatap-menatap , bingung harus melakukan apa.
"HEI! SIAPA KAU?! "
Eichi memulai pergerakannya lebih dulu, panik mendengar teriakan Eichi, remaja itu langsung bangun dan berlari ke jendela kamar.
"Hei tunggu! Apa yang kau lakukan pada nana!! "
Eichi mengejar, tapi remaja itu tanpa ragu-ragu lompat dari jendela kamar.
"HEI! "
Eichi berlari ke jendela kamar, menengok kebawah dan melihat remaja itu sudah berlari menjauh.
"Ah sialan! Na! Kau tidak apa-apa?! "
Eichi berlari kearah nana, dengan cepat mengangkat tubuh nana ke atas ranjang. Mengecek apa nana baik-baik saja.
"Kau tidak apa-apa kan? Kau tidak terluka kan? "
"Nana tidak apa-apa, kak eichi. Terima kasih. "
"Siapa dia?! Dia tidak memukul mu kan?"
"Enggak kok kak, nana tidak apa-apa . "
"Suara apa itu?!"
"Apa yang terjadi ?! "
Mendadak ling-ling dan Chizu masuk, kedalam kamar. Tapi pandangan yang mereka lihat sepertinya mengundang kesalah pahaman.
"Ah, maafkan kami, na. Aku dan Chizu tidak tau kalian sedang bermesraan. "
"Ya, seharusnya kita biarkan saja mereka berdua. Iya, kan? Ling? "
"Kau benar Chizu. Ayo kita pergi saja. "
"Chizu, ling-ling. Kalian ingin mati ya?"
Balasan nana itu mengundang tawanya serta tawa kedua sahabatnya. Seperti sudah hapal dengan sikap masing-masing. Ling-ling dan Chizu berjalan mendekat ke ranjang nana, menanyakan kabar serta keadaan masing-masing. Sedangkan eichi tidak banyak bicara, ia hanya duduk disamping ranjang nana dan memperhatikan jendela tempat remaja misterius itu melompat.
Tok tok tok.
Seseorang mengetuk pintu kamar nana.
"Akhirnya ada orang yang mengerti cara menggunakan pintu! Masuklah!!"
"Na, jangan menghinaku dan ling-ling dong. Kami tadi mengkhawatirkanmu tau. "
"Seharusnya nana kita biarkan diculik saja tadi ya?"
"Tidak begitu juga! Aku belum mau mati!! "
Selagi 3 sahabat itu saling berbincang-bincang, orang yang mengetuk pintu kamar nana ternyata adalah yuichi. Tapi tanpa masuk, ia memanggil eichi yang masih melamun kearah jendela.
"Eichi, eichi."
"A-eh? Kakak? Na, aku keluar sebentar ya. "
"Iya kak eichi! Terima kasih sudah datang menjenguk! "
Eichi buru-buru keluar dari kamar nana. Matanya menajam pada sang kakak yang ternyata bersama Kazuya.
"Ada apa kak? "
"Kazuya ingin bicara. "
Eichi menatap tajam pada Kazuya, masih marah terhadap apa yang Kazuya katakan padanya pagi tadi.
"Apa yang mau kau bicarakan. Waktuku tidak banyak. "
"Aku minta maaf. "
"A-apa?.."
"Aku minta maaf, eichi.
Eichi tak menjawab, tapi dia tau dalam hatinya ia juga ingin mengatakan hal yang sama. Hal yang mengganggu batinnya sedari pagi. Rasa nuraninya sebagai rekan serta murid satu perguruan.
"A-aku juga minta maaf. Kak Kazuya. Nana pantas mendapatkan hidup normal seperti yang guru inginkan. "
"Terima kasih telah mengerti. "
"Tapi sebelum itu kak, aku ingin menanyakan sesuatu. "
"Ada apa? Tidak biasanya kau mendadak serius. "
Eichi menceritakan hal yang tadi menimpa nana, soal remaja misterius yang masuk kekamar nana. Bagi eichi, remaja tadi terlihat seperti sedang melukai nana dan hal itu membuatnya panik.
"Apa kau tau orang yang mungkin punya dendam pada nana? "
"Selain 5 berandalan ber*ngsek itu? aku tidak tau lagi. "
"Apa mungkin dia adalah rivalmu di pengadilan ? apa kau sedang mencari masalah dengan seorang prosekutor? "
"Apa kau mau nana mati? Tentu saja tidak. Aku bukan kakak yang bodoh. "
Eichi menopang dagunya bingung, tak ada lagi ide yang muncul dari kepalanya.
"Ah sialan, aku benar-benar tidak tau siapa dia. "
"Bagaimana kalau nanti aku tanyakan pada nana? Kau bisa tenang kan? "
"Be-benarkah? Kau akan melakukannya?"
"Tentu saja, aku kakaknya. "
"Terima kasih ,Kak Kazuya! "
Eichi kembali berjalan kekamar nana, Kazuya dan yuichi menatap punggungnya dari belakang. Ada perasaan salah dalam dada mereka masing- masing.
"Kau tau maksudnya kan? Kazuya? "
Yuichi berbisik pada rekannya itu ketika eichi berbalik menjauh.
"Ya. Aku tidak tenang, yuichi. Ini tidak aman."
"Kalau sampai nana masuk dalam masalah ini.. "
"Jangan dilanjutkan. Aku tau persis resikonya. "
"Berhati-hatilah, Kazuya. Nyawa adikmu dalam bahaya. "