Tears of Hope

Tears of Hope
arc 13 : Turnabout



Nana mengawali paginya dengan air mata, tangisan yang semakin lama semakin kencang itu sebenarnya sudah dimulai dari tadi malam. Matanya merah dan membengkak, bahkan bangun dari ranjang tempat tidurnya saja sepertinya sulit.


Nana duduk di samping tempat tidurnya, berusaha mengingat apa yang terjadi kemarin benar-benar nyata.





"Kazuya atsutzuki.. Meninggal dunia. "


"H-hah...? A--... Apa... tolong diulang? "


"Kazuya atsutzuki meninggal hari ini pada pukul 15:37 di pengadilan tinggi negeri. "


"Tu-tunggu... Bagaimana--...."


"Diperkirakan tuan Kazuya meninggal akibat keracunan, tapi melalui apa dan dengan racun apa, itu masih diselidiki tim forensik. "


Nana dan eichi membisu, kehabisan kata-kata untuk menjelaskan perasaan mereka sekarang. Perlahan air mata nana mulai mengalir, suaranya tertutup kepalanya yang menunduk. Ia berusaha menahan tangisnya, tapi tak berhasil.


"Kami benar-benar minta maaf. "


"Tu-tunggu.. Apa... Apa ada tersangka.. ? Seseorang.. ? Si-siapapun.. ?"


"Ada, dan kami baru saja menangkapnya."


"Si-siapa namanya?! "


"Namanya... Yamada yuichi. "


"!!! .... "


Kali ini Eichi yang kepalanya tertunduk, segala umpatan-umpatan yang ia rangkai barusan langsung hilang. Pikirannya mendadak kosong, tak bisa merespon polisi tersebut.


"P-pak polisi.."


"Ada apa ?"


".... apa di kantor sudah waktunya penerimaan tamu bagi tahanan ..?"


"I-iya, sudah. Tapi, ada ap--.."


Pip... pip... pip...


Eichi mematikan telepon itu, matanya kosong, tangannya bergetar dan wajahnya mulai pucat. Ia menatap layar hp nana dengan ketakutan, melihat refleksi dirinya sendiri pada hp adik kelasnya itu tidak menambah baik keadaan hatinya. Keringat dingin mulai bercucuran , ia terbungkam keadaan.


"K-kak eichi pergi dulu...."


Eichi meletakkan HP nana di atas meja. Ia bangun dari kursinya dengan perlahan, bahkan  kakinya gemetar begitu berdiri. Tatapannya masih kosong , dan dengan pelan, ia mulai berjalan menuju pintu.


"H-hik... kak--.... hik. Kak eichi..."


Nana memanggil, eichi yang sudah terlalu lemas bahkan tak bisa membalikkan kepalanya. Ia hanya berhenti di depan pintu , menunggu lanjutan kalimat nana.


"Ya-- ... hik... yamada yuichi itu... kakaknya kak eichi, kan ... ?"


Suara nana mengecil , tak menyangka hal seperti ini akan menimpa kakaknya, dan oleh kakak penyelamatnya.


Tapi eichi tak menjawab, ia hanya melanjutkan jalannya keluar dari kamar nana. Tak merespon pertanyaan itu sama sekali.


Begitu melihat eichi yang tak meresponnya, nana meringkuk diatas kasur. Ia mulai menangis dengan keras. Suara tangisnya terhalang, tapi semua rintihan serta teriakan-teriakannya bisa didengar hingga luar kamar.


"Kak.. hiks... kakak.. hiks.. kakak jangan pergi..."





Semua ingatan dari hari kemarin mulai membanjiri pikirannya, tapi keadaan hatinya tak membaik. Ia masih tak bisa menerima kematian sang kakak begitu saja, apalagi mengingat pembunuhnya adalah rekan kerjanya sendiri, yaitu kakak dari yamada eichi.


"Bisa-bisanya--..."


Nana menggumam, air matanya lagi-lagi tak terbendung.


"Kenapa-... "


Nana mulai menangis, suaranya bergetar.


"Apa kalau..... kalau kubiarkan..."


Nana jatuh dari ranjangnya, ia meringkuk dilantai.


"...Kau akan membunuhku juga ?.... kak eichi...?"





Sementara itu, eichi sedang berada dalam perjalanan menuju kantor polisi. Dalam tas selempangnya terdapat begitu banyak berkas-berkas dalam amplop coklat, beberapa foto serta sebuah cawan petri berisi setitik cairan transparan.


Ia duduk dalam bus itu dengan pikiran yang kosong, semua tampak blur baginya. Hari ini, apa yang ia lakukan, apa yang akan ia katakan ke sang kakak, semuanya tidak bisa ia pikirkan dengan jernih.


Mendadak speaker bus berbunyi, eichi yang melamun itu mau tak mau harus mendengarkannya.


"... sebentar lagi kita akan sampai di  pemberhentian selanjutnya."


Eichi mengangkat kepalanya, melihat peta yang berada di seberang pandangannya.


"Distrik....20 ..... kantor... polisi..."


Eichi menggumam tak jelas, sepertinya ini adalah pemberhentiannya. Ia berdiri dari tempat duduknya dan berjalan kearah pintu bus. Dan tepat saat itu, bus sampai pada tujuannya.


" kita sampai di bus stop distrik 20. Silahkan perhatikan barang bawa--...."


Eichi tak mendengar kelanjutan dari pemberitahuan itu, ia melangkah keluar dengan cepat. Bahkan setengah berlari, dan langsung menuju ke kantor polisi.


"Ya ? Ada apa dik ?"


"Pe-... hah... hah.... saya pengunjung."


"Untuk ?"


"Ya-... ha... yamada yuichi.."


"Lewat sini."


Eichi datang dengan nafas yang tak beraturan , kalimatnya terdengar tak jelas karena terpotong-potong. Tangannya masih menggenggam tali selempang tas itu dengan erat dan kakinya bahkan masih bergetar sehabis berlari.


"Yamada yuichi, pengunjung."


Eichi dibawa ke sebuah ruangan yang dipisahkan dengan kaca ditengah-tengahnya, kaca itu dipisahkan menjadi beberapa bilik dengan microphone terpasang di setiap bilik.


Entah sudah berapa kali eichi melihat ruangan ini ketika ia dan sang kakak datang untuk mengunjungi klien, tapi melihat kakaknya sendiri yang berada di sisi lain ruangan ini... semua terlihat salah.


Bilik di kanan kirinya dipenuhi oleh orang lain, ruangan itu terdengar kacau dan sebagian besar orang disana menangis tak karuan. Tapi melihat itu, eichi mengingat semua hal ia lakukan disini kemarin, tangisan serta raungannya yang begitu terdengar hektik, satu-persatu kembali diingat oleh eichi..





"KAK !! KAKAKK !!"


Eichi yang baru sampai keruangan itu sudah menunjukkan ekspresi panik, ia berjalan tertatih-tatih dengan kaki dan tangan yang gemetaran. Wajahnya yang pucat dan berkeringat sudah menjelaskan lebih dari kalimat yang ia ucapkan.


"Tenanglah,eichi. Kau mengganggu orang lain."


Eichi yang baru sampai bahkan tak disambut bahagia oleh sang kakak. Ekspresinya dingin , bahkan lebih dingin dari biasanya.


"K-kak... ini bohong kan ?....ini semua bohong kan ?...."


"Apa menurutmu mereka akan menangkap orang hanya untuk bersenang-senang?"


Eichi benar-benar berharap ini semua hanya mimpi, sekalipun ia tau betul kalau jawaban sang kakak hanya akan menambah buruk keadaan pikirannya.


"K-kakak.... apa yang terjadi... "


"Kazuya meninggal."


"Ka-kau..."


"Lalu.... kenapa.....?"


"seseorang menjebakku."


"Ba-bagaimana....."


"Mereka meracuni kazuya dengan racun tertentu yang aku tidak tau. "


"A.. Apa--...."


"Tolong selidiki kasus ini untukku, eichi."


"Ha-h...?!"


Setelah percakapan penuh potongan-potongan kata itu, eichi akhirnya bisa mengerti apa yang kakaknya ucapkan.Tapi kalimat terakhir yang sang kakak ucapkan membuat eichi membuka matanya lebar-lebar.


"Tu-tunggu ! Menyelidiki kasus?!"


Yuichi mengangguk, adiknya itu makin panik tak karuan.


"Tunggu ! Tunggu! Aku benar-benar tidak punya pengalaman kak! Aku tidak mengerti masalah hukum seperti ini ! Aku dokter, bukan pengacara !"


"Karena kau seorang dokter, makanya aku memintamu."


"Hah... ?"


"Apa kau tau racun yang tak berbau dan tak berasa ? "


"A-ada banyak.. Mungkin puluhan jumlahnya.."


"Kalau yang efeknya bekerja dengan lama? "


"Ada beberapa, atroquinine, sinthexyda, veliodium, dihidraniosis, anoxinthyze...."


"Tidak, tidak. Bukan racun yang seperti itu. "


Yuichi menggelengkan kepalanya dan mulai menjelaskan lewat microphone.


"Aku ingin tau tentang racun yang belum dikenal banyak pihak. Racun spesial yang tidak bisa didapat sembarang orang. "


"... Kenapa..? Kenapa kau bisa yakin racun pada kasus ini adalah racun spesial ?.. "


"Gunakan kepalamu, eichi. Bahkan tim kepolisian dan forensik sudah bilang, kalau racun ini.. 'Racun yang masih diteliti' "


"Racun yang masih--...? Tu-tunggu...."


"Akhirnya kau mengerti juga."


" 'Racun yang masih diteliti'.... Maksudmu.."


Yuichi mengangguk, eichi mendecak, geram dengan kelambatan pikirannya. Akhirnya ia mengerti apa yang dimaksud sang kakak mengenai racun spesial yang ia kira sebagai pembunuh kazuya.


"Racun yang bahkan tidak bisa diketahui tim forensik.. "


"Racun yang belum diketahui tim forensik. "


"...."


"Eichi. Kau mengerti maksudku kan? "


"Ya.. Aku mengerti. "


"Jenis racun yang tidak bisa di identifikasi ..."


"... racun yang belum di ketahui."


"Racun yang belum siap. "


"Racun yang masih diteliti oleh kami. Peneliti dan dokter- dokter seluruh negeri. "


"Aku mengandalkan mu, eichi. "





Tak tak tak


Eichi terbangun dari lamunannya , sang kakak sudah duduk diseberang kaca pembatas itu, mengetuk-ngetuk kaca tersebut untuk membangunkan sang adik.


"Akhirnya kau sadar juga. "


"Ma-maaf.. Aku melamun. "


"Jangan buang-buang waktu, eichi. Kasus ku akan disidangkan nanti siang. "


Eichi tak menjawab, hanya menatap sang kakak dalam-dalam. Tatapannya iba dengan ekspresi khawatir tertulis jelas pada wajahnya.


"Kak. Kau yakin tidak mau menyewa pengacara saja..? Aku bisa mencarikan nya untukmu.. "


"Tidak. Aku tidak memerlukannya. Aku bisa melindungi diriku sendiri. "


"Itu bukan ide yang lebih baik, kak! Biarkan aku mencarikan pengacara untukmu !"


"Eichi--..."


"Kalau kau yang menjadi pengacara mu sendiri, kau pasti akan kalah! Kau bahkan belum membaca berkas- berkasnya!! "


"Eichi... "


"Ada banyak pengacara lain diluar sana yang bisa membantumu! Aku akan mengontak salah satu dari mereka--..."


"Eichi. Berkas nya. "


Yuichi menekan nada bicaranya, sang adik menunduk. Eichi benar-benar memaksa kakaknya untuk memakai jasa pengacara, namun yuichi seperti yang sudah kita lihat, ia menolak dengan tegas.


Yuichi adalah seorang pendendam, tapi ia adalah seseorang berkeyakinan tinggi. Tak heran jika semua kerja keras eichi untuk meyakinkan sang kakak tak membuahkan hasil. Bagi yuichi, menggunakan pengacara sama saja seperti ia takut dengan pembunuh asli Kazuya. Pada kenyataannya, ia sama sekali tidak takut, dan ia tak akan ragu-ragu untuk menunjukkannya.


"Aku akan memenangkan kasus ini, apapun yang terjadi. Jadi kau harus membantuku,eichi. Kau mengerti?"


"I-iya.. Aku mengerti... "


"Bagaimana berkas-berkasnya? "


"Aku sudah membawa semua yang kau minta. Dan... Racunnya juga.. "


"Kau berhasil menemukannya? Racun yang masih dalam penelitian itu ? "


"Aku berhasil, tapi.. ada sedikit masalah."


"Masalah? "


Yuichi mendelik, sedikit tak yakin dengan kalimat sang adik .


"Masalah apa? "


"Racun ini belum pernah dikeluarkan dari laboratorium, tidak mungkin kak Kazuya bisa dibunuh dengan racun ini. "


Yuichi menatap cawan petri yang dibawa eichi, ia melihat benda itu baik-baik, dan mendadak tertawa kecil.


"Heh, kalau begitu..bagaimana bisa racun itu ada ditanganmu sekarang?"


"Aku mencurinya. Bahkan dokter dengan gelar sepertiku, belum bisa membawanya keluar. Apalagi sembarangan orang yang bekerja disebuah kedai kopi. "


"Kalau begitu hanya ada 1 jawaban. "


"... Aku sepertinya tau maksudmu, dan aku tak menyukainya, kak. "


Lagi-lagi yuichi tertawa, tapi tawanya kali ini lebih terlihat seperti tawa sinis.


"Apa perlu ku jelaskan lebih lanjut? "


"Aku akan berpura-pura tidak tau, jadi tolong jelaskan padaku. Yamada yuichi, apa jawabanmu mengenai masalah racun ini? "


"Aku yakin pelakunya adalah salah satu dari tim dokter dan peneliti negeri. Orang- orang yang punya kendali penuh atas racun itu. "


"....."


"Itu tidak mengecualikanmu, Yamada eichi. "


mohon dinote : nama racun -racun diatas semua fiksi, semua karangan author semata. Jangan di search di gugel, gabakal ada. Terima kasih.