
Anak kecil itu masih tertidur lelap, tidurnya tak terganggu cahaya mentari yang menembus celah-celah horden kamar.
"Bangun." Suara tegas terdengar dari luar kamar diikuti dengan pintu kamar yang terbuka. Langkah kaki terdengar keseluruh kamar, mendekat ke sang anak yang tertidur pulas.
"Iya-iya, 5 menit-- DUH !"
"Bangun, kakak tidak mau menunggu."
Dengan kesadaran yang masih setengah-setengah , sang anak dibangunkan secara paksa. Selimutnya ditarik dengan kencang, sang anak berteriak dalam panik.
"Cepatlah bersiap-siap ke sekolah, 30 menit lagi kakak ada kasus di pengadilan tinggi negara."
"Kak, ini jam 6... Sekolah masuk jam 7."
"Apa kau mau kutinggal ?"
"TUNGGU, KAK."
Begitulah keseharian sang anak, Nana, dan kakak laki-lakinya, Kazuya. Setiap harinya, sang kakak yang bekerja sebagai pengacara selalu dihadapi dengan berbagai kesibukan. Sedangkan Nana ? Hanya seorang murid biasa, terkadang membantu pekerjaan sang kakak.
"NA ! SUDAH SIAP BELUM ?!"
"SEBENTAR ! IKAT DASI SUSAH, KAK!"
"TURUN ! KAKAK YANG IKAT !"
Nana turun dengan tergesa-gesa, dasi sekolah nya itu masih belum diikat. Sang kakak tersenyum , lucu melihat kebodohan adiknya.
"kamu harus mulai sering latihan ikat dasi, na." Sang kakak tersenyum sambil mengikatkan dasi sang adik .Nana menatap dasi merah yang kakaknya gunakan, terkagum dengan kemampuan sang kakak.
"Sudah. Ayo berangkat."
Kazuya membawa sang adik dengan sepedanya menuju sekolah. Sudah 3 tahun mereka hidup seperti ini, kehidupan sederhana yang menjadi pilihan mereka.
Kehidupan yang hanya dijalani oleh mereka berdua, tanpa orang tua serta sanak saudara. Dua anak yatim piatu yang hidup dengan kenyamanan ,yang seperti ini, jarang kan?
"Sampai."
Kazuya memberhentikan sepedanya didepan gerbang sekolah, Nana turun dan melambaikan tangan ke kakaknya.
"Nana sekolah dulu kak !"
"Belajar yang rajin !!"
"Hm !!" *Nana mengangguk*
*Nana Point Of View*
Aku melambaikan tangan ke kakak dan bergegas masuk kesekolah, teman-teman pasti sudah disini !
"Nana !"
Begitu masuk ke kelas ,suara itu menyambutku. Suara teman baikku , hasil pertukaran pelajar antara sekolah ini dan negeri China disebrang sana.
"Ling-ling !! Hari ini datangnya pagi sekali. "
Aku menduduki kursiku disebelah Ling-ling dan mulai mengobrol tentang hal2 lucu yang kami temui. Ini adalah rutinitasku disekolah, kami bertiga akan saling bercerita dan menertawai kejadian2 bodoh yang terjadi di kehidupan kami. Bukan hal yang membanggakan, tapi aku tetap bahagia.
'Bertiga ?' Iya, bertiga.
"Ling, Chizu belum datang ?"
"Bukannya telat dan menyelinap sudah jadi gaya bersekolahnya ?"
"Kau benar-benar cari mati. Kalau dia tau kau bisa di wing chun ! " *tertawa kecil*
"Lho ? Aku jujur loh !" * ikut tertawa*
Teman baikku yang satu lagi , chizu, memang bukan tipe murid yang akan datang ke sekolah pagi-pagi. Selain rumahnya yang jauh, ia juga punya adik laki-laki yang harus diurus. Tak heran , hampir setiap hari ia telat masuk sekolah.
"Ling, aku akan ke toilet sebentar."
"Jangan terlalu lama , aku sendirian disini ! "
" 我懂了 !! " (aku mengerti !!) *sambil tertawa*
"Hahaha ! Kau benar-benar ya !" *tertawa kecil*
Aku berjalan keluar kelas menuju koridor. Tampaknya koridor masih sepi, aku bisa melihat siapa saja yang berlalu lalang disekitar sini. Setengah jalanku menuju ruang kecil , aku melihat beberapa orang, mereka....
"Hei , nanti pulang kita mau balapan dimana ?"
"Di sekolah tetangga saja. Mereka sudah cari masalah dengan kita."
"Nyali mereka besar juga ya."
"Kau benar juga !
Mereka, 5 orang anak laki-laki dengan tampang berandal. Aku benar-benar jijik melihat mereka , rasanya hina, seperti melihat sampah masyarakat. Tapi kalau dekat mereka, nyali ku menciut ,tanganku gemetar, nafasku memberat. Aku takut dengan mereka .
'Kenapa ?' Tanyamu ?
"HEI ! NANA !"
Salah satu dari mereka memanggil namaku kencang , aku menunduk, melanjutkan jalanku .
'Jangan hiraukan , jangan hiraukan.' Pikirku
"WOI ! BICARA ! KALAU DIAJAK BICARA YA BALAS !!"
'JANGAN DIHIRAUKAN , JANGAN DIHIRAUKAN .' Masih tak kubalas, kupertegas suara hatiku
"NANA BODOH !! JAWAB !! DASAR GILA !"
Suara itu menggelegar , mungkin hingga 1 gedung sekolah terdengar. Perasaanku campur aduk, tapi aku tak bergeming . Aku benar2 seorang pengecut, melawan saja tak bisa.
"Hei , jangan terlalu kasar padanya. Kakaknya pengacara. Kau bisa dituntut !"
"Benar juga ! Aku lupa !"
"Ah sialll !! Kalau bukan karena kakaknya , sudah lama kupukul wajah menjijikannya itu !!"
Mereka berjalan menjauh , akhirnya meninggalkanku sendiri. Nafasku akhirnya bisa normal lagi , aku benar2 takut dibully oleh mereka , apalagi sampai dipukul. Tubuhku tidak seperti kakak , kakak sangat kuat , sedangkan aku , membuka tutup botol saja susah.
Kakak juga jadi penolong ketika anak-anak itu berusaha menidasku . Wajah kakak yang tegas dan name tag* dengan tulisan 'licensed professional defense attorney' yang selalu tertera di saku jasnya. Kakak selalu berhasil jadi pangeran penyelamat di kala sulit.
*licensed professional defense attorney \= pengacara pertahanan profesional berlisensi*
*name tag \= label penunjuk nama serta jabatan sang pemilik*
Ketika besar nanti , aku ingin jadi seperti kakak ! Tegas , keren , selalu jadi seorang penyelamat ! Aku tidak akan jadi pengecut ! Aku akan melawan ketidakadilan yang ada , seperti yang kakak lakukan !!
'Aku akan membela diriku sendiri !' Pikiranku bermantap pada kata2 itu , senyum diwajahku kembali mekar. Aku akan menunjukkan pada kakak ! Aku juga bisa melawan anak2 tadi !
Kazuya Point Of View
Setelah mengantar nana kesekolah , aku bergegas mengayuh sepedaku ke pengadilan tinggi. Sekitar 20 menit lagi , kasus yang kutangani akan diadili disana.
Dari sekolah nana ke pengadilan hanya berjarak sekitar 10 menit . Tidak jauh, namun aku dikejar waktu. Ada beberapa hal yang harus ku luruskan dengan klienku dan jujur saja aku tak mempercayainya.
Klienku, seorang pengusaha besar yang digugat atas pembunuhan karyawan2nya. Akihiro, salah satu klien dengan kasus terumit yang pernah kutemui hingga saat ini.
"sampai !!"
Aku memarkir sepedaku cepat, dan melesat ke ruang lobi terdakwa dengan berkas2 serta barang bukti. Disana aku bisa melihat Akihiro,klienku yang sedang duduk manis di atas sofa yang disediakan, melihat wajahnya saja membuatku mempertanyakan kepercayaanku padanya.
"Tuan Kazuya ? Tidak biasanya anda telat."
"Tidak usah memikirkan tentangku , tuan akihiro. Lebih baik sekarang kita meluruskan beberapa masalah. Bisa ?"
"Tentu saja ,tuan kazuya ! Silahkan bertanya sepuas anda ."
Dengan sigap kukeluarkan berkas2 dalam amplop cokelat yang kubawa , kuperiksa satu persatu dengan teliti, dan kucocokkan dengan barang bukti yang ada . Mulai dari data-data akihiro , alibinya , hubungannya dengan korban-korban hingga penyebab dan waktu kematian .
Aku mulai melontarkan berbagai pertanyaan ,dan semuanya dijawab dengan mantap oleh akihiro. Aku pun mulai berpikir, seperti apapun sikap seorang klien , aku tak bisa menyerah ditengah jalan seperti tadi , iya kan ?
"Terdakwa dan pengacara ! Silahkan memasuki ruang sidang !"
Seorang penjaga memanggilku dan tuan Akihiro, aku mengangguk dan merapihkan berkas2 tadi. Tapi sebelum masuk...
"Siapa anak perempuan itu ? Tuan kazuya ?"
Suara Akihiro mengagetkanku, kalung dengan foto Nana yang tadi kugenggam jatuh ke lantai.
"Ah, maaf tuan kazuya , saya ambilkan."
"Te-terima kasih."
"Siapa dia ? Lucu sekali ."
"Adikku, Nana."
"Anda sepertinya sangat menyayangi Nana."
Aku melihat lagi foto Nana di kalung itu ,aku tersenyum lebar. Nana adalah alasanku menjadi seorang pengacara, melihatnya tertindas membuat dadaku sesak. Senyumnya, adalah satu2nya cahaya yang tersisa dalam hidupku.
"Ayo, masuk. Tuan Akihiro."
Semangatku membara, aku akan memenangkan kasus ini ! Aku juga akan menjadi cahaya bagi Nana , sama seperti dia menjadi cahaya bagiku !