
“Lo kenapa, Fer?!” berondong Tiara tanpa ampun di telepon.
Ferina menjauhkan ponsel’y. “Lo bisa jaga suara nggak sih?” omel’y.
“Oke, oke.” Suara Tiara melunak. “Jadi, kenapa lo tiba2 ngilang dari sekolahan saat istirahat, trus nggak balik2 lagi? Dan apa maksud lo nyuruh gue bawa pulang tas lo yang segede karung beras ini, hah?!”
Ferina memijat dahi’y dengan dua jari. “Maaf. Nggak bermaksud apa2. Gue sakit.”
“Sakit? Emang’y gue gampang dibohongin?”
“Ra… please… kepala gue sakit nih… biarin gue istirahat dulu…” Ferina memohon.
“No way!”
“Ra…”
“Ada apa sih dengan lo dan Tama?” tuding Tiara.
Air mata Ferina kembali bercucuran. “Gue nggak ada masalah dengan dia.”
“Jelas ada masalah! Gue liat dia balik bareng si nenek sihir. Sebelum’y dia kan sama elo!”
Hati Ferina mencelos.
“Nggak ada hubungan’y sama gue. Jelas?!” tukas’y kesal.
“Jelas banget.” Sahut Tiara. “Bohong’y.”
“Ra, lo kenapa sih?!” kata Ferina.
“Lo tuh yang kenapa?” Tiara masih ngotot.
“Sori, Ra.” Ujar Ferina dengan sangat menyesal sambil menutup telepon.
***
Ferina menggenggam tangan Faren erat2. Mereka berjalan bergandengan.
Melintasi pasir putih yang sangat halus dan akhir’y sampai di tepi pantai. Kejaran ombak menyambar kaki mereka hingga terbenam sesaat.
“Jangan pergi lagi, ya?” pinta Faren sungguh2. “Jangan tinggalkan aku sendiri. Please…” diraih’y tangan Ferina yang lain, lalu ditatap’y saudara kembar’y itu dengan sungguh2.
Mereka mundur beberapa langkah dari kejaran ombak. Faren duduk di atas pasir, lalu meraih bintang laut yang tertimbun pasir.
“Kamu! Ada2 aja!” kata Ferina.
“Fer, kamu nggak mau minta maaf?”
“Minta maaf? Soal apa?”
“Ah, sudahlah.”
Faren bangkit dan berdiri dan berjalan menyambut ombak, terus melangkah hingga separuh kaki’y terendam air laut.
“Lo ngapain, Ren?” sahut Ferina setengah berteriak.
Faren terus berjalan hingga separuh tubuh’y terbenam. Ferina mengejar Faren.
“REEN!!! LO BISA TENGGELAM!!!” teriak Ferina. “REEEN!” ulang’y putus asa.
Tahu2 ombak yang sangat besar menghantam Ferina hingga tubuh’y seketika tak berdaya. Lalu terdengar suara lain dari kejauhan. Semakin lama semakin dekat dan jelas…
Teriakan bercampur ketukan bertubi-tubi membangunkan Ferina dari mimpi aneh’y.
“Ya.” Jawab Ferina, sambil berjalan menuju pintu dan memutar anak kunci’y.
“Sejak kapan tidur pake ngunci kamar segala? Kalau terjadi apa2 trus kamu nggak bisa bangun, gimana? Seandai’y kebakaran? Gempa bumi? Angin ribut?”
“Ih, Mama! Pagi2 udah ngasih kuliah gratis!” ujar’y seraya ngeloyor ke kamar mandi.
Di sekolah…
Saat Ferina sampai di kelas, tas’y sudah di tempat. Tiara sedang sibuk menulis. Tiara mengabaikan’y.
“Ra, gue minta maaf karena mematikan telepon kemarin.” Ferina mencoba bersuara. “Ya? Ya?” bujuk’y.
Tiara terus menulis.
“Ra, gue akan jelasin kalau lo mau dengerin dan berhenti bersikap kayak gini!”
Tiara tetap saja cuek.
“Lo ngapain sih?” Ferina mencoba teknik lain, tapi sayang Pak Efendy, guru matematika yang sangat jauh dari ramah keburu masuk kelas.
Tiara menoleh sesaat dan menjawab. “PR matematika.”
Astaga! Ferina lupa!
“Yang tidak mengerjakan PR lebih baik keluar dengan sportif sekarang juga, sebelum saya mengusir’y sendiri!” ucap Pak Efendy tegas.
Oke deh, bisa dibilang ini kecelakaan beruntun.
Ferina keluar kelas dengan sangat malu. Dia berjalan gontai menyusuri koridor2 kelas. Baru jam 8 pagi. Tahu2 dia sudah sampai di depan aula, dekat parkiran motor. Sepeda motor Tama tidak ada! Ferina merasa heran sekaligus tajhyd.
Dengan langkah pasti dia berbalik dan nekat menuju kawasan kelas tiga.
Tiba2…
“Nak, tunggu sebentar!” sebuah suara mengejutkan’y. Ferina berbalik dan melihat Bu Yasmin berdiri di pintu masuk ruang guru.
“Ya, Bu?” Tanya Ferina.
“Maaf, Ibu mau minta tolong. Ini.” Kata Bu Yasmin seraya menyerahkan map. “Tolong antarkan ini ke Bu Elmi, dia mengajar di kelas 3IPA4, sampaikan dari ibu,ya? Ibu ada keperluan.”
Yes! Ferina menarik napas lega. Dengan begini dia tidak perlu mengintip. Ferina berjalan ke kelas yang dimaksud.
Tok! Tok! Tok!
“Masuk!” sebuah suara menjawab dari dalam ruang kelas.
Ferina membuka pintu dan merasakan semua mata tertuju pada’y.
“Ada apa?” Tanya seorang guru.
“Ini, Bu, dari Bu Yasmin.” Kata Ferina seraya menghampiri sang guru. Lalu sekilas dia mengedarkan pandang.
Dia tidak ada.
“Sudah lengkap, terima kasih, ya.” Ucap Bu Elmi. Ferina berbalik dan keluar kelas diiringi suit2 jail murid2 cowok.