
“Dia nanggepin omongan gue banget lho. Trus kalau ketawa… duh, makin cakep! Trus, besok gue mau ke rumah’y. Hebat, kan, gue?”
“Hebat bener! Tapi ngapain sih lo ke rumah’y?” Tanya Ferina.
“Gue bilang aja pengin belajar Fisika sama dia. Senin kan kita ulangan, jadi alasan gue tuh urgent banget. Masuk akal banget, kan?” kata Tiara. “Ternyata Haikal tuh kalau diajak ngomong heboh juga ya, gue pikir anak’y pendiam banget.”
“Wah, selamat deh!” kata Ferina. “Makin deket sama target dong!” goda’y.
“Nggak secepat itu, kali, Fer.” Kata’y malu2. “Lo bisa aja.”
“Fer!” sebuah suara mengalihkan perhatian kedua’y. Mereka melihat Tama masuk kelas dan berjalan mendekat.
“Gue ke toilet dulu, ya!” kata Tiara.
Tama duduk di bangku Tiara sambil menghadap ke belakang, sehingga mereka berhadap-hadapan.
“Ada apa, Tama?” Tanya Ferina.
“Ntar malam lo nggak ada acara barbekyu lagi, kan? Gue mau ajak lo keluar.” Kata Tama.
“Mmm, masa barbekyuan tiap hari sih?” Ferina tertawa manis.
“Jadi lo mau gue ajak keluar?” Tanya Tama.
Ferina mengangguk manis.
“Ya udah, gue balik ya, ntar Tiffany uring2an lagi, nyariin gue!” kata Tama seraya berbalik cepat.
Mendengar itu, kebahagiaan yang tadi sempat mengsisi dada Ferina sertamerta lenyap. Kenapa sih selalu Tiffany, Tiffanny, Tiffany!
***
Ferina terjebak dalam suasana kafe yang heboh.
“Fer, dari tadi kok diam aja?” tegur Tama. Sejak berangkat Ferina memang sudah pasang tampang bête.
“Lagi ada masalah ya, Fer?” Tanya Tama. “Gue ngajak keluar di waktu yang salah, ya?”
“Enggak kok.” Sahut Ferina. “Biasa aja.” Jawab’y tak acuh.
“Tapi tadi lo kayak nggak mau ngomong sama gue tuh. Kayak lo nggak ada di sini aja, kayak gue nggak ada di samping lo. Ada apa sih, Fer?” Tama mulai jengkel.
“Siapa yang nggak sewot? Lo nggak jelas gitu.”
“Ya udah!”
“Ya udah apa?”
“Pulang.”
“Fer, lo kok jadi begini sih? Kalau ada masalah, lo cerita dong. Jangan kayak begini… gue jadi bingung mesti gimana.” Tama melunak sambil meremas tangan Ferina.
“Nggak ada masalah kok.” Ferina menarik tangan’y. “Ya udah, maafin gue ya.”
Ferina sungguh kesal karena Tama buru2 meninggalkan’y begitu teringat pada Tiffany.
Tapi kalau di pikir2 dia kan bukan siapa2’y Tama.
“Pusing ah!” sergah Ferina.
“Pusing? Jadi dari tadi lo diam2an karena pusing?” Tanya cowok itu. “Kenapa nggak bilang dari tadi? Kita kan bisa batalin pergi’y, trus lo bisa istirahat di rumah.”
“Eh, nggak. Bukan pusing kayak begitu. Pusing aja sama suasana ribut2 begini. Mana orang’y banyak, lagi!” Ferina mencoba ngeles.
“Oh… gitu ya? Kalau bilang dari awal kan gue nggak perlu ngadepin lo yang nggak betah gitu.” Kata Tama lega. “Mumpung masih banyak waktu, kita pindah aja yuk!”
“Eh, nggak usah.” Tukas Ferina.
“Udaaah… yuk!” ujar Tama seraya menarik tangan Ferina.
Ferina merasa bersalah. Ini cowok baik banget. Pengertian banget.
“Ke mana?” Tanya Ferina saat mereka beranjak meninggalkan kafe.
“Ke tempat yang bisa bikin kita berpikir jernih dan menenangkan pikiran.” Jawab Tama. “Mmm… karena lumayan jauh, kayak’y kita ngebut dikit ya. Nggak pa2, kan?”
“Ngg… tapi lo hati2, ya.” Ujar Ferina.
“Oke!”