Story Ferina

Story Ferina
Bab 4



Ferina berdiri di lapangan upcara dan memutuskan berdiri di baris paling depan. Dia risi diliatin terus.


Sebenar’y Ferina memang terlihat cukup mencolok. Pagi itu dia tampil sangat manis, wajah’y yang sedikit blasteran dengan mata biru yang indah. Belum lagi rambut hitam’y yang tebal dan mengilap digerai begitu saja.


BRUKK…


“Ups, maaf…” cowok penyusun skenario di atas tanpa sadar menabrak cewek yang sejak tadi ditatap’y itu.


“He’eh… nggak pa2 kok.” Kata Ferina.


“Bener lo nggak pa2, kan?” Tanya cowok itu sok perhatian.


“Iya, nggak pa2.” Ferina mulai risi karena orang2 melihat mereka seperti mendapat tontonan menarik.


“Woi, hati2, dia pemangsa cewek tuh!” terdengar sorakan heboh dari kejauhan. Ferina segera berbalik dan mempercepat langkah menuju barisan terdepan. Dia terus menunduk menatap semut2.


Tak lama kemudian lapangan telah dipenuhi siswa-siswi berseragam putih abu2.


Upacara bendera dimulai. Ferina tidak terlalu memperhatikan karena sengatan matahari pagi mengusik ketenangan jiwa’y yang harus berdiri tegap di barisan terdepan.


Ferina mendengar moderator mengumumkan agar pemimpin upacara mengambil tempat di lapangan.


Ferina menatap sosok yang berjalan lurus ke arah’y, lalu memalingkan wajah.


Deg!


Sosok itu semakin familier.


Deg… deg…


Ferina menguatkan hati untuk menatap kenyataan di depan mata’y…


Deg… degdeg… deg… degdegdegdeg…


Cowok itu mengenali gue nggak ya? Batin Ferina.


Deg… deg…


Jgeeerrrr…


Akhir’y cowok itu menghentikan langkah tepat di hadapan Ferina! Saat itulah mereka bertemu pandang lalu terpana. Selama sesaat pemimpin upacara seperti kehilangan kesadaran sebelum akhir’y menyadari posisi’y.


Lagi2 wajah Ferina memanas, dan dia kembali tertunduk, tidak berani menatap cowok itu.


***


Ferina ditempatkan di kelas XI IPA 4.


“Gue boleh duduk di sini?” tiba2 seorang cowok berambut ikal mengusik Ferina dari lamunan’y.


“Mmm… ya, tentu saja.” Jawab Ferina ramah.


Cowok itu duduk di samping Ferina, lalu terdiam tanpa melakukan apa2.


Walaupun merasa agak aneh dengan sikap cowok itu, Ferina diam saja dan melanjutkan kesibukan mencoret-coret buku catatan’y yang masih kosong.


“Hmm, kenalin, gue Haikal.” Akhir’y si cowok bersuara. Dia mengulurkan tangan.


“Gue Ferina.” Sambut’y.


“Oh ya, gue harap lo bisa bantu gue beradaptasi di sekolah ini. Jujur aja, gue agak pendiam kalau berada di lingkungan baru.” Kata Haikal.


Ferina mengangkat alis.


“Tunggu! Jadi maksud lo, elo anak baru di sekolah ini?” Tanya Ferina.


Sekarang giliran Haikal yang memasang wajah heran. “Iya…” jawab’y.


“Memang’y lo nggak kenal teman2 lo sendirii?” tanya’y.


“Hmmph… hahaha… ups, maaf!” Ferina cepat2 meralat sikap’y yang nggak sopan.


“Kenapa sih?” Tanya Haikal hati2.


“Hmmm… nggak kok, gue merasa lucu aja lo ngomong kayak gitu. Jujur aja, sebenar’y ini juga hari pertama gue di sekolah ini.” Jelas Ferina sambil melontarkan senyum manis yang membuat siapa pun terpesona.


“Oh, begitu…” Haikal mengerti. “Kebetulan benget, ya? Gue jadi nnggak canggung karena punya teman senasib.”


“Sama!” balas Ferina ceria.


 Tiga hati pertama di awal tahun ajaran jelas asyik. Meski harus gotong royong membersihkan kelas dan lingkungan sekolah.


“Ternyata di sini asyik juga, ya.” Ujar Haikal sambil duduk di bangku yang menghadap Ferina. Cewek itu memejamkan mata.


“Hmmm…” kata Ferina tanpa membuka mata.


“Lo nggak haus? Gue mau ke kantin beli minuman.”


Haikal tersenyum melihat tingkah Ferina. ‘Ya udah, lo tunggu di sini ya.” Kata’y sambil berlalu.


Ferina meregangkan tangan’y yang lumayan capek setelah merapikan bugenvil di samping taman.


Ditatap’y lapangan sekolah yang luas. Di sana sedang berlangsung kegiatan MOS siswa baru. Ferina menangkap sosok Tama yang sedang mengawasi kegiatan MOS.


Ferina menyisir rambut’y yang kusut dengan jari, kemudian mengikat’y asal’asalan.


“Hai, sendirian?” tiba2 Tama sudah mucul di hadapan Ferina.


“Eh… hai…” Ferina jadi salah tingkah.


Tama duduk di samping Ferina.


“Sibuk ya?” Ferina melontarkan pertanyaan basi.


“Yaaah… lumayan.” Sahut Tama. “Gue nggak nyangka bakal ketemu lo di sini.” Kata’y.


“Gue juga kaget.” Sahut Ferina.


“Tapi gue senang banget lho, soal’y bisa dibilang doa gue terkabul.” Ujar Tama sambil tersenyum. “Oh ya, tangan lo yang luka kemarin gimana?” Tanya cowok itu sambil meraih tangan Ferina dan mengamati’y. “Masih sakit?”


“Ngg… udah nggak lagi.” Kata Ferina sambil menarik tangan’y. Tapi Tama menahan. “Ada apa?” Tanya Ferina. Cowok itu menatap’y.


“Lo mau tutup mata sebentar?”


“Buat apa?”


“Tutup aja. Tiga detik cukup kok.” Sahut Tama.


Akhir’y Ferina menutup mata. Tiga detik berlalu.


“Sekarang, buka mata lo.” Kata Tama.


Ferina membuka mata dan…


“A present for you…” kata Tama sambil meletakkan sebuah kado kecil di tangan Ferina. “Maaf ya, telat.”


“Bener nih buat gue?” Ferina nggak yakin dengan apa yang dilihat’y. Dibuka’y kotak itu. Dia mendapati sebentuk kalung dengan liontin kupu2 kecil yang sangat manis. “Kalung?” bisik Ferina. “Cute bangeeeetttt…!”


“Suka?” Tanya Tama.


“Banget! Sumpah!”


“Gue pasangin ya.” Ujar Tama. “Tadi’y nanti sore gue mau mampir di rumah lo nganter hadiah ini. Eh, kita malah ketemu di sini.” Lanjut Tama lagi.


Ferina mengangkat rambut’y sementara Tama memakaikan kalung itu.


“Cantik.” Kata Tama spontan.


Ferina hanya menatap cowok itu. Tama jadi salting sendiri.


“Nggak heran sih lihat cewek lupa diri kalau udah berhadapan sama gue.


Hehehe…”


“Ih… norak.” Balas Ferina sambil memukul lengan cowok itu.


“Awww!” Tama berteriak sambil mengusap-usap lengan’y yang masih sakit karena ditabrak Ferina beberapa hari yang lalu. “Sakit, tau! Cakep2 tapi sadis…” kata’y.


“TAMAAA!” suara seorang cewek. “Lo ke mana aja sih?! Kami pusing nyariin lo, tau! Elo’y malah ada di sini.” Kata cewek berambut ikal panjang itu melempar pandangan tidak suka pada Ferina. “Tahu orang sibuk malah digangguin!” umpat’y kepada Ferina.


“Lo kalau ngomong bisa sopan dikit nggak sih?” tegur Tama.


Tahu2 Haikal muncul dari arah berlawanan. Dia menghampiri F


Cewek bernama Tiffany itu jelas2 kaget. Dia langsung menarik Tama menjauh secepat mungkin.


“Lo kenal dia?” Tanya Ferina sinis.


Haikal tidak menjawab.


“Hei!” tegur Ferina sambil menepuk lengan Haikal.


“Eh, maaf. Apa?” Tanya Haikal.


“Tuh cewek rese banget!” Ferina menumpahkan kekesalan’y pada Haikal.


“Tadi itu cowok’y, ya?” Tanya Haikal.


“Mana gue tahu?! Gue aja baru dua hari di sini. Sama kayak lo!” jawab Ferina sewot. “Emang lo kenal di mana sama nenek sihir itu?” tanya’y ketus.


“Bisa di mana aja.” Jawab Haikal sekena’y.


***