Story Ferina

Story Ferina
Bab 8



“Fer, dia kehilangan lo.” Yanda menkankan kata kehilangan. “Gue tanya kalian ada masalah apa, dia bilang nggak ada. Dia bahkan mengaku bingung. Kalian aneh. Sebenar’y, ada apa sih? Ini nggak biasa bagi gue!”


“Gue…” Ferina menimbang cukup lama. “Entahlah… gue belum siap buat cerita. Semua terasa baru, masih segar. Gue nggak sanggup.”


“Gue tahu kehilangan yang lo alami sangat berat. Itu sebab’y gue nggak mau elo menahan’y sendiri. Gue pengin lo bagi kesedihan itu sama gue. Bukan begini…”


“Tapi… sebenar’y nggak sesederhana itu.” Ferina menarik napas dalam2.


“Trus apa, Fer…”


“Um… gimana ya?” Ferina tahu, di seberang sana Yanda menahan napas menunggu penjelasan’y. “Baiklah.” Akhir’y Ferina menyerah.


Lalu kata2 itu meluncur saja dari bibir’y. Tangis kembali mengiringi setiap untai kata yang di ucapkan’y.


“Sekarang lo udah tahu alasan gue, kan?” Tanya Ferina.


Yanda terdiam cukup lama.


“Gue juga nggak nyangka.” Hanya itu yang bisa di ucapkan’y.


“Tapi lo beneran janji ya, setelah apa yang gue certain ini, sikap lo ke dia nggak bakal berubah. Bersahabatlah seperti biasa.” Kata Ferina.


“Janji.” Kata’y setengah hati.


Ferina pun menceritakan semua’y. Pertahanan’y benar2 runtuh. Dia menarik napas dalam2, merasa lebih lega. “Nda, sekarang lo tidur deh. Perasaan gue udah lebih baik. Makasih ya, lo udah dengerin gue.”


Di seberang sana Yanda mengangguk tanpa suara. “Bagaimana Ferina bisa sanggup menyimpan semua itu selama ini? Batin’y tak percaya.


“Nda? Halooo.” Bisik Ferina.


“Eh, iya, Fer.” Yanda tersentak. “Good night, ya!” tambah’y buru2.


Setelah memutuskan hubungan telepon’y, Ferina turun dari tempat tidur dan bersandar di sisi’y.


Sesaat dia melamun, memandang meja belajar’y lama sekali. Ferina bangkit dan mengambil diary yang nyaris tertinggal di rumah’y dulu. Dia menatap diary itu. Ferina membalik sampul tebal tersebut dan langsung mendapati foto Faren yang tersenyum manis. Mata Ferina kembali berkaca. Apa lo masih bisa tersenyum, Ren? Desis’y pelan.


***


Sejak awal Tama melarang’y mendekati Ferina. Tama benar2 melindungi cewek itu.


Emang apa sih istimewa’y anak baru itu? Entah bagaimana cewek itu menarik perhatian Tama begitu rupa.


Tiffany setengah berlari. Dia baru saja menumpahkan tangis’y di toilet. Tangis yang membuat’y semakin percaya betapa tidak adil’y dunia ini.


Dia teramat membutuhkan seseorang yang selalu menemani’y di saat2 seperti ini. Cuma Tama yang bisa mengerti dan menenangkan’y.


Cewek itu berhenti di ujung koridor laboratorium Kimia. Sekonyong-konyong Tiffany melihat’y. Sosok yang sedang tertawa lepas, tawa yang belum pernah didengar’y. Kenapa Tama tak pernah terlihat begitu gembira bersama’y? Dan kenapa semua itu justru terjadi saat dia bersama Ferina?


Apakah selama ini dia hanya menjadi beban? Air mata’y mengalir hangat. Andai saja…


“Fan! Tiffany!!”


Tiffany melihat wajah cemas di balik air mata’y. Di peluk’y cowok itu erat2.


“Fan, lo kenapa? Ada apa?!”


Tiffany mencoba bersuara. “Mama…”


Ferina menyaksikan sendiri mereka berpelukan. Cowok itu bahkan tidak menoleh ke arah Ferina lagi, seolah-olah Ferina tak pernah ada di sana bersamya.


Satu detik.


Tiga menit.


Apa yang mereka bicarakan?


Lima menit.


Cukup, Ferina menghela napas. Ferina berlari, dia tidak akan menangis di situ.